Putri Kecil Papa

Putri Kecil Papa
Shan Minta Cat Air


__ADS_3

Aku menggandeng tangan Shan memasuki salah satu mall terbesar di ibukota. Kita tidak hanya berdua, melainkan bertiga dengan Wanda juga. Aku memang sengaja mengajaknya, karena kupikir jika hanya berdua dengan Shan saja aku nanti pasti akan bosan.


Jangan salah ya, aku bukan bermaksud agresif. Iya, iya aku memang menyukai Wanda, tapi aku tidak akan bertindak berlebihan sat-set-sat-set seperti itu. Tidak. Aku akan tetap memikirkan tentang perasaannya juga. Jikalau memang dia juga menyukaiku maka biarkan dia mengutarakan perasaannya terlebih dahulu. Aku tidak haus akan dicintai dan aku tidak buru-buru akan itu.


"Shan! Hei!" Shan tiba-tiba melepaskan gandengan tanganku dan memilih untuk meraih tangan Wanda yang dirinya telah berjalan di depanku.


Wanda hanya menolehku dan tersenyum, kemudian menggenggam erat tangan kecil bocah nakal itu. Aku akhirnya menyamakan langkahku dengan langkahnya, lalu meraih tangan Shan yang satunya lagi. Kini kita bertiga saling bergandengan dengan Shan yang berada ditengah.


"Papa, papa, ini kok kayak bukan mall yang waktu itu Shan kunjungin sama tante Yola ya?"


"Ya emang bukan." jawabku.


Tibalah kita di depan tangga eskalator yang sangat tinggi memanjang. Aku hendak menggendong saja Shan daripada anak itu ribet tidak bisa naik. Eh, tapi Shan menolak. "Shan pengen coba naik sendiri pa."


Shan lantas meraih tangan Wanda kembali. Aku hanya menganggukinya, dan mengambil tempat dibelakang dua orang ini karena jika berjejer tiga maka tidak akan muat eskalatornya.


Ketiga kaki kita melangkah menginjak tangga eskalator dan... Gandengan tangan Shan pada Wanda tiba-tiba terlepas. Tapi beruntung aku langsung menahan tubuh Shan yang hampir terjungkal ke belakang.


"Nahkan! Nahkan!" omelku sambil memelototinya. Shan langsung memeluk tubuhku sangat erat, seperti bayi koala.


"Besok-besok Shan minta gendong papa aja kalo naik es—es—esklotor."


"Eskalator sayang..." ucap Wanda dengan sangaaaaaat lembut. Aku sampai terpukau mendengar suaranya itu. Wanda pasti kalau bernyanyi sangat merdu. Ahh kenapa aku menjadi membayangkannya bernyanyi? Hahaha... Aku pasti sudah gila.


"Loh Chan, Shan mana?!" pekik Wanda tiba-tiba dengan kondisi panik. Aku pun sontak ikut panik juga. Shan, bocah itu menghilang!


"Shan! Shan! Shan!" Panggil Wanda di tengah kerumunan orang-orang.


Aku turut memanggilnya juga, tapi tidak ada sahutan sama sekali dari Shan. Aku semakin panik karena gerombolan orang-orang yang datang semakin banyak, jejak Shan benar-benar hilang sekarang.


"Ck! Kemana bocah itu sebenarnya."


"Chan!" panggil Wanda tiba-tiba. Tangan Wanda lalu menunjuk kearah sebuah toko peralatan alat tulis yang teradapat lukisan pemandangan besar terpampang jelas dari balik kaca. Dan anak kecil nakal yang kita cari-cari tengah berjongkok tepat dihadapan lukisan itu.


Aku langsung berlari memasuki toko itu.


Ctut...


Satu cubitan keras langsung aku sematkan pada paha Shan. Dia meringis kesakitan kemudian berdiri dari posisinya.


"Kamu ya! Kenapa main pergi gitu aja gak bilang sama papa dan tante Anda dulu?! Kalo kamu ilang gimana ha?!


"Shan... Shan cuma pengen liat ini pa. Lukisan."


Aku kembali mencubitnya, kali ini lebih keras lagi dan tidak hanya sekali. Tapi banyak kali. Aku sangat geram dengan anak ini. Bisa-bisanya ya...


"Udah Chan..." lerai Wanda. Baiklah aku berhenti. Aku lantas menarik tangan Shan, menggandengnya dengan kuat-kuat. Kalau perlu akan aku ikat dengan tali agar dia tidak main kabur lagi.


"Sebentar Shan masih pengen liat lukisan itu pa." kata Shan.


"Kita gak ada waktu Shan. Tante Anda capek, papa juga capek. Cepet kita cari toko baju terus beli baju yang kamu inginkan itu lalu pulang."


"Ihh papa..." Shan sekarang mulai merengek. Tubuhnya menjadi berat sekarang, aku amat kesulitan menariknya keluar. Aku memelototinya lagi dan lagi, tapi Shan tidak menyerah, dia semakin menarik dirinya ke arah berlawanan. Wanda hanya bisa melongo melihat kita. Dia pasti sangat heran.


"Shan cukup!" Satu bentakan akhirnya terlontar dari mulutku. Ya, aku membentaknya di hadapan para pengunjung toko yang lumayan padat. Di hadapan Wanda juga.... Sekarang mungkin nilaiku sebagai seorang papa yang sempurna menjadi merosot drastis di mata Wanda. Sorry, Nda. Tapi memang aku sudah tidak bisa menahannya lagi.

__ADS_1


"Hiks... Hiks..." Jurus andalan Shan dia keluarkan sekarang. Semua penjuru mata pun menjadi berpusat kepada kita. Malu? Sudah jelas, tapi ya mau bagaimana lagi.


Aku sontak menganga karena Wanda tiba-tiba berjongkok. Dia berlutut dan lantas menarik Shan ke dalam pelukannya.


Kaget, syok, tidak menyangka, dan... Jujur aku tersentuh.


Kenapa dia keibuan sekali?


Tangisan Shan langsung mereda. Sungguh tidak biasanya-biasanya anak itu seperti ini. Itu semua berkat perlakuan yang diberikan Wanda.


Apakah aku harus berterimakasih sekarang?


"Shan, ayo kita keluar terus cari toko baju yang kamu mau. Kita harus hemat waktu Shan, katanya tadi kamu mau main ke rumahku juga kan? Nah kalo lama-lama disini nanti keburu sore. Kalo sore waktunya apa Shan? Mandi kan? Ya, Shan, kita butuh mandi juga sayang." ucap Wanda, memberi pemahaman kepada Shan.


"Tapi... Tapi.. Tapi tante, Shan masih pengen liat-liat. Kasih waktu Shan sebentar, lima meniiiit aja. Ya tan?"


Wanda menganggukkan kepalanya. Aku yang melihatnya hanya kagum saja, tidak bisa bertindak apa-apa. Aku hanya akan menuruti perintah Wanda saja, bukan Shan.


Wanda mulai melangkahkan kakinya mengitari toko peralatan tulis ini dengan tangan Shan yang selalu dalam gandengannya. Mereka melihat-lihat benda apa saja yang berada disana. Aku yang tidak telaten untuk mengikuti hanya memilih mendudukkan diri di sofa yang disediakan dipojok ruangan, tapi masih tetap dengan mengawasi mereka.


Hingga beberapa saat kemudian aku melihat mereka berdua tengah berhenti di suatu spot rak yang terjejer rapi. Aku tidak tau spot apa itu, dan kenapa Shan terlihat merengek pada Wanda disana. Sepertinya aku harus segera menghampiri mereka.


"Ada apa ini?" tanyaku.


Shan langsung mendelik di belakang tubuh Wanda, tangannya menggenggam erat ujung dress yang dikenakan wanita itu. Shan sepertinya masih ketakutan denganku karena kubentak tadi.


"Ini Chan, Shan minta dibeliin cat air."


"Ih tante, kenapa tante kasih tau papa sih?" Shan terlihat tidak terima. Dia kemudian menjauh, pergi ke pojok ruangan yang kosong lalu berjongkok dan memeluk lututnya sendiri. Dia kesal dengan Wanda juga sekarang.


"Minta dibeliin cat air, emang buat apa Shan?" tanyaku yang tidak mendapatkan tanggapan sama sekali dari Shan. Bocah itu bahkan tidak mau menatapku sedikitpun.


"Oh oke kalo gitu gak jadi papa beliin cat air."


Shan langsung mendongak, kemudian menahan tanganku yang hendak pergi setelah mengatakan itu.


"Shan pengen melukis pa." ucapnya dengan sorot mata yang sangat dalam. Aku tau dia sangat sungguh-sungguh mengutarakan itu. Tapi kembali lagi kepada usianya yang masih sangat kecil.


"Cat air itu untuk yang udah gede Shan, kalo yang seusia Shan itu pakek pensil warna aja atau krayon."


Ya, perkataanku itu benar. Terlebih Shan itu belum bisa terlepas dari pengawasan orang dewasa. Jadi bagaimana jika saat dia sendirian nanti dan mencicipi cat air? Shan belum bisa membedakan apa itu selai dan cat air. Apalagi kalau warnanya coklat, pasti Shan mengiranya itu adalah selai coklat jika tengah lupa.


Dan satu lagi, apa kabar dengan keadaan tembok rumah nanti? Ahh uti dan kakungnya pasti akan pingsan jika Shan tiba-tiba mengecat seluruh tembok rumah.


"Jadi Shan boleh minta cat air kalo udah SD ya?" Akhirnya setelah lama berdebat anak itu mengerti.


"Iya Shan, maaf ya."


"Okelah pa. Shan akan menunggu kalo begitu."


Aku langsung mengecup keningnya. Merasa bangga dengan putriku ini yang pemikirannya akhirnya bisa ku lunakkan. Terimakasih Shan anak baik...


...***...


"Wahh bagus banget Shan. Shan jadi makin lebih cantik sekarang!"

__ADS_1


"Oh ya pa?"


Aku pun mengangguk. Bocah itu lantas berlari menuju cermin yang terpasang di lemari. Melihat pantulan dirinya sembari berputar-putar dan menjembreng baju barunya itu.


"Let it go! Let it go! Aku udah kayak elsa kan pa?" tanyanya yang tak lupa dengan cosplay menjadi karakter kartun favoritnya. Aku hanya bisa mengangguk dan mengangguk. Berusaha membuat hatinya agar semakin senang.


"Eh oiya, punyanya kak Salsa sama kak Jimmy kita kasihin sekarang aja pa!" seru Shan yang langsung menggeretku menuju kamar dua sepupunya itu yang berada tepat di depan kamar kita.


Tok tok tok...


Shan mengetuk pintu kamar mereka dan mereka pun akhirnya keluar. Bahkan ada Yola juga yang keluar dari sana.


"Kak Salsa, kak Jimmy ini aku sama papa beliin kalian baju baru." ucap Shan sembari menyerahkan paperbag ke hadapan mereka.


"Cobain ya, Shan pengen liat."


Hahh? Perkataan Shan itu benar-benar tidak bisa ku prediksi. Ah aku menjadi canggung sekarang.


"Shan ayo kita kembali." ajakku sembari meraih tangannya untuk ku gandeng.


"Nanti kasih tunjuk Shan ya kalo kalian udah pakek!" seru Shan yang sudah kuajak masuk kembali ke dalam kamar.


Sekarang sudah pukul 9 lebih sedikit. Shan telah tertidur pulas sejak beberapa saat lalu dengan kondisi masih lengkap mengenakan baju barunya. Dia bilang kepadaku ratusan kali bahwa dia sangat menyukai baju berwarna merah muda itu. Anak kecil itu tidak mau melepaskan baju bermodel gaun dengan penuh renda-renda yang sangat ramai itu. Padahal aku sangat gatal melihatnya. Ish awas saja Shan, malam ini aku tidak mau mengelonimu.


Tiba-tiba aku mendengar pintu kamarku diketuk oleh seseorang. Aku pikir itu mama, tapi setelah aku membukakan pintu, pemikiranku itu ternyata salah. Seseorang itu ternyata adalah Yola.


"Ada apa?" tanyaku pada sosok yang kini tengah bersandar pada pintu.


"Gak ada apa-apa cuman mau bilang makasih aja."


"Soal?"


"Soal baju anak-anak. Thank you udah beliin mereka."


"Ya."


"Gitu aja?"


"Terus gue harus ngomong apalagi?"


Yola terdiam seribu bahasa. Dia tidak bisa menanggapi ucapanku itu. Sepertinya dia kalah telak.


"Bilang terimakasih ke Shan, kalo bukan karena Shan yang maksa, gue gak akan mau beliin baju buat Salsa sama Jimmy. Shan selalu inget akan mereka, tapi mereka... Haha gue gak yakin."


"Jadi lo mau bandingin anak-anak gue sama anak lo gitu? Mau bilang kalo anak lo yang paling terbaik gitu ya?"


"Gak. Lo sepertinya gak pernah paham sama apa yang gue maksud ini. Pikiran lo terlalu sibuk dengan hal-hal yang gak penting. Bahkan lo sampek gak bisa tau gimana cara mahamin hal yang sangat sederhana sekalipun."


Yola menyipitkan kedua matanya. "Jadi mau lo apa sekarang?" Lanjutnya. "Lo mau gue beliin Shan juga kalo gue beli sesuatu buat Salsa sama Jimmy?"


"Chan... Lo cuma punya anak satu, sedangkan gue dua. Lo gak pernah ngerti sama apa yang gue rasain selama ini."


"Yang lo rasain? Maksutnya yang lo rasain itu semua uang hasil kerja papa carter mobil? Atau uang arisan mama yang bahkan mama gak pernah pegang lima menit pun di tangannya? Haha Yola, lo emang licik dari kita kecil."


Bleng...

__ADS_1


~tbc....


__ADS_2