
"Ehh... papa... hiks..."
"Iya sayang iya, papa disini.... Kenapa sayang hm??"
Ini sudah entah kali ke berapa Shan merengek. Tengah malam ini bocah kecil ini terus-terusan merengek dalam tidurnya. Kedua matanya masih terpejam, tapi mulutnya terus-terusan mengeluarkan suara. Dia ini ngelindur ataukah apa akupun tidak tau. Dia bahkan sampai mengeluarkan air mata ditengah lelapnya ini.
Aku akhirnya memutuskan untuk menggendongnya. Menimang-nimang tubuhnya di atas gendonganku.
Kebetulan sekali malam ini mama tidak pulang. Jadi aku ada teman untuk bangun tengah malam seperti ini.
"Chandra sini gantian sama mama. Kamu istirahat dulu aja." ucap mama tapi aku menolaknya. Aku tidak akan membiarkan tubuh yang telah tua renta itu harus menggantikan menimang-nimang Shan.
Shan ini walaupun kecil tapi ya lumayan berat. 12 kg bobotnya. Ya, Shan memang terlihat mungil daripada anak-anak seusianya, namun badannya ini loh sangatlah padat.
"Chan, Shan kok panas ya?"
Aku seketika terkejut ketika mama mengatakan seperti itu. Aku lalu melakukan hal yang sama dengan mama, yaitu ikut mencoba menyetuh kening milik Shan.
Dan benar, suhu tubuh Shan naik.
"Mama tolong panggilin dokter."
Dengan segera mama langsung pergi sesuai dengan titahku. Dan tak lama kemudian seorang dokterpun datang.
"Pasien demam sudah sejak kapan pak?" tanya dokter itu.
"Baru aja dok."
"Gak Chan enggak." Mama langsung menyangkal. "Sepertinya sudah dari tadi pak dokter. Soalnya anak ini gak bisa tidur dengan nyenyak. Dia terus-terusan ngerengek."
Terlihat dokter tersebut langsung menghela napas panjang.
Kenapa?? Sebenarnya ada apa? Apa yang terjadi pada Shan-ku???
"Saya resepkan obat penurun demam sebentar ya pak." ucap dokter itu lalu pergi keluar.
Aku dibuat semakin penasaran dengan keadaan ini. Aku merasa janggal. Dan ini sangat mengganggu pikiranku.
Kenapa dokter itu tidak memberitahukan yang sebenarnya. Aku sangat yakin jika demam Shan ini bukan demam yang biasa, tapi kenapa??? Kenapa dokter itu tidak memberitahukanku semua kejelasannya.
"Mama, besok aku mau bawa Shan pergi cari rumah sakit lain."
"Chan—"
"Gak usah cegah aku ma!"
......***......
Keesokan harinya...
"Papa Shan mau sekolah."
"Alah sekolah apa?!" Aku langsung mencegah keinginan bocah itu. Apa dia lupa soal semalem? Dia kan masih demam.
Shan mulai merengut, kelopak matanya mulai digenangi air mata.
Mama kemudian mendekat pada bocah itu. Mama membelai rambut bocah nakal itu sambil berkata, "Shan sayang, kan sekarang Shan masih kurang enak badan. Besok aja ya sekolahnya nak..."
Ahh lembut sekali! Kenapa gak langsung dicubit aja sih ma?!
"Tapi tapi tapi Shan pengen sekolah ti, kata gurunya Shan kemarin hari ini tuh ada kelas menggambar."
Shan mulai meraih tangan mama lalu menggoyang-goyangkannya tanpa ampun.
"Shan pengen sekolah ti, Shan pengen sekolahhh. Ayo anterin Shan ke sekolah tiii."
Nah kan dia ngelunjak kalo disabarin.
Aku akhirnya tidak tinggal diam. Aku memutuskan untuk berdiri lalu mengambil tas sekolah Shan yang berada di dalam lemari.
Brukk
Aku membanting benda itu tepat di hadapannya pas.
"Keluarin buku gambar sama pensil warnanya! Bisa kan gambar sendiri disini gak usah pergi ke sekolah!" ucapku dan Shan akhirnya bisa diam.
Setelah situasi sudah kondusif, aku lalu pergi menuju bed Shan yang tidak ditempatinya. Aku mau tidur. Lelah sekali diriku.
Beberapa saat berlalu...
"Papa bangun papa..."
__ADS_1
"Ih apaan sih Shan!" Aku membuka mata dan melihat ke arah jam dinding. Ternyata sudah pukul 1 siang sekarang.
Aku bangun dan mencoba untuk mendudukkan tubuhku agar semua nyawaku terkumpul sebelum melakukan kegiatan.
"Maaf maaf papa ketiduran. Papa siapin dulu makan siangnya ya Shan." Aku terlambat 30 menit untuk memberikan Shan makan siang.
"Tapi Shan tadi sudah makan pa." ucap Shan.
"Hah kapan?"
"Tadi sama uti."
Aku beralih melihat ke arah mamaku yang tepat sekali baru masuk dari pintu.
"Bener? Shan-nya udah dikasih makan sama mama?" tanyaku pada mama.
"Udah Chan, tadi mama beliin dia bakso diluar."
"HAHHH BAKSO???" Seketika emosiku meluap-luap. Bagaimana bisa?!!!!
Aku langsung memarahi mama habis-habisan.
"Mama ini sengaja atau bener-bener gak tau sih ha? Kenapa Shan dikasih bakso? Shan ini lagi sakit ma! Kata dokternya dia gak boleh makan sembarangan. Apalagi makanan yang dimasak dengan gak bersih! Ada micinnya! Ah bodoh deh!!"
"Huaaaa!!!" Suara tangisan Shan yang memekakan telinga berhasil menambah tingkat emosiku.
Dia kenapa juga ikut memperparah keadaan ha??? Memang benar-benar ya anak ini minta di....
Aku akhirnya menghela napas panjang. Aku lalu memutuskan untuk menaikkan anak ini ke atas gendonganku. Shan akhirnya kugendong.
Dengan sebelah tanganku yang satunya aku menghapus air matanya sembari menyuruhnya untuk lekas berhenti menangis.
"Udah cup cup... Iya iya sorry papa gak akan marah-marah lagi Shan. Sorry."
Shan masih tak kunjung mau berhenti menangis. Aku tau mungkin dia masih sebal karena diriku. It's okay.
Aku lalu membawa Shan keluar. Menggendongnya sambil jalan-jalan diluar, sekaligus mencari udara segar.
Kini sampailah kita di taman belakang rumah sakit. Aku yang merasa sedikit pegal karena menggendong beban seberat 12 kg kemari akhirnya mencoba untuk mendudukkan diri di salah satu bangku taman disana.
"Bunga." Shan menunjuk ke arah belakang sembari tubuhnya yang ingin melompat dari gendonganku.
Shan turun, dan langsung menghambur ke arah belakang. Dia memetik bunga yang tumbuh mekar disana. Entahlah aku tidak tau itu bunga jenis apa. Yang pasti itu bunga sengaja ditanam disana oleh rumah sakit untuk mempercantik kawasan tanam. Satu pasien memetik satu bukankah tidak apa-apa kan?
Shan dengan girang menunjukkan bunga itu kepadaku. Dia terlihat sangat menyukainya. Dia kini berlari kesana-kemari tanpa menggunakan alas kaki.
Aku membiarkannya, selagi dia tidak merengek ataupun menangis seperti tadi.
"Ehh! No no no!" Aku meneriakinya tatkala Shan hendak merebahkan tubuhnya di permukaan rumput. Memang rumput taman rumah sakitnya sangat bagus, tapi tidak harus ditiduri seperti itu Shan.
Shan merengut akan laranganku, tapi dia menurut. Dia memilih untuk berlari-larian kembali.
Aku akhirnya memiliki waktu untuk memanjakan diriku sendiri. Sudah lama sekali aku tidak bermain game di ponsel. Baiklah sepertinya ini saat yang tepat, lagipula Shan tidak jauh lepas dari pengawasanku.
Baru saja akan memulai permainan tiba-tiba rintik hujan turun dari langit. Aku sedikit mengumpat lalu segera meraih Shan untuk kemudian ku gendong.
"Tapi Shan masih mau bermain."
"Shan gak liat apa?? Hujan iniloh."
Shan merengek lagi. Dia minta diturunkan untuk lari-larian di tengah guyuran hujan. Oh jelas aku tidak mengijinkannya.
Dengan gendongan yang kuat aku membawa Shan untuk berteduh ke emperan yang berada tak jauh dari taman.
"Shan gak mau kembali ke kamar. Shan maunya di sini."
"Iya iya bawel." Aku menurunkannya di atas lantai yang bersih. Tidak peduli kakinya Shan kini mengotorinya. Biarkan saja, nanti juga ada petugas kebersihan rumah sakit yang mengepel wkwk. Mau cuci kaki masih jauh bro kama mandinya!
Kini aku dan Shan hanya terdiam, melihat ke arah taman yang dihiasi oleh rintik-rintik hujan. Bukan rintik-rintik lagi, melainkan sudah sangat deras.
Shan semakin mendekat ke arahku. Kini tubuhnya menempel di kakiku. Sepertinya dia merasa dingin sekarang. Tapi dia masih ngotot untuk bertahan disini. Okelah, kita tunggu saja sampai kapan dia akan menyerah dan mau dibawa kembali ke kamarnya.
"Papa meow."
Aku terkejut ketika ada hewan kecil menerobos melewati celah kedua kakiku. Itu adalah anak kucing, dan entah dari mana datangnya tiba-tiba sudah ada disitu.
"Shan no no no! Jangan sentuh!" Aku menahan tangan kecil Shan yang hendak menyentuh anak kucing itu.
"Kotor Shan!" ucapku yang tanpa mendapat atensi sama sekali oleh bocah itu.
Shan tetap fokus pada anak kucing. Memang Shan baru kali ini bertemu dengan hewan bernama kucing. Jadi ya maklum.
__ADS_1
"Papa kenapa dia meow meow meow terus." tanya Shan.
"Ya papa mana ngerti Shan, papa itu manusia gak kayak dia."
"Kayaknya dia dingin deh pa. Shan pengen peluk."
"Ishh, jijik Shan. Dia itu sumber penyakit. Husss huss husssss!" Aku akhirnya mengusir anak kucing itu.
Shan menjerit-jerit. "Papa jangan ditendang!"
Heii aku tidak menendangnya sama sekali. Hanya mendorongnya menggunakan kaki agar menjauh.
"Ah udahlah Shan, ayo balik ke kamar." Tanpa ba-bi-bu-be aku langsung menggendong Shan dengan satu tanganku lalu pergi dengan segera menuju koridor, akses menuju kamar rawat.
Shan melambai ke arah belakang. Ke arah siapa lagi kalo bukan ke arah ANAK KUCING!
...***...
Sesampainya di kamar...
Shan langsung kulucuti pakaiannya. Dia harus mandi dulu sebelum naik ke atas bed.
"Tapi Shan gak mau mandi pa." ucapnya ketika tubuhnya sudah telanjang.
"Shan... Kamu kotor tau Shan, abis main dari taman."
"Shan kan bisa cuci kaki aja."
"Gak, mandi sekalian aja lagian ini udah jam 3 sore."
Shan malah menggeleng.
Tapi aku tidak peduli. Aku lalu menggelandangnya menuju kamar mandi. Eh bocah ini malah berpegangan erat ketika sampai di pintu kamar mandi.
Aku memejamkan kedua mataku dalam-dalam. "Shan please..."
"Shan maunya mandi sama uti!!!" teriak Shan bersamaan dengan utinya yang langsung menghampiri.
"Ya oke deh, terserah."
Aku berbalik badan dan sudah tidak perduli lagi dengan nasibnya sekarang.
Aku keluar dari ruangan lalu memutuskan untuk duduk di bangku yang disediakan di ruang tunggu.
Hingga tiba-tiba seorang dokter memanggilku. Itu salah satu dokter yang biasa menangani Shan.
Aku menurutinya, aku kemudian diarahkan menuju ruangan milik dokter itu.
"Ada apa ya dok? Emm... Bagaimana perkembangan dari kesembuhan putri saya?"
Dokter yang berada dihadapanku malah menampilkan ekspresi yang membingungkan.
Dia melepas kaca matanya lalu mengusap wajahnya berkali-kali. Saat bibirnya mulai terbuka, seketika itu jantungku langsung berdebar.
Dia akan mengatakan apa...
"Mohon maaf pak, karena terbatasnya dokter yang bertugas disini."
"Hah maksudnya??"
"Begini pak, biar saya jelaskan. Kami dari pihak rumah sakit tidak bisa melakukan tindakan lebih untuk putri bapak."
"Te-terus nasib putri saya gimana dok???"
"Tenang dulu pak tenang. Kita masih mengusahakan yang terbaik. Kita akan mendatangkan dokter dari rumah sakit lain, dokter yang lebih kompeten dalam menangani bidang ini. Tapi kita perlu waktu pak."
"Jadi putri saya harus menunggu lagi? Nunggu nunggu nunggu dan nunggu lagiii? Sampai kapan ha dok????"
"Sabar pak..."
Brakkk!
"Jangan nyuruh saya sabar ya dok!!!" Aku langsung berdiri kemudian beranjak dari hadapan dokter tidak kompeten itu.
Sial!
Rumah sakit bagus ternyata tidak menjamin dokter-dokter disini juga bagus. Ternyata disini tempatnya dokter-dokter jelek. Buang-buang waktu dan duit aja disini!
Fix, Shan pindah rumah sakit habis ini!
~tbc....
__ADS_1