
"Apa? Mahal sekali..." Chandra dengan tangan gemetar merogoh saku celananya. Sembari merogoh, pikirannya turut berputar-putar menerka apakah uangnya akan cukup atau tidak untuk melunasi tagihan rumah sakit.
Dua hari saja Shan tinggal di ICU, tagihannya sudah sebanyak ini.
"Maaf pak, ini hanya cukup untuk melunasi perawatan, belum dengan obat-obatannya." Perawat yang berlaku sebagai administrasi rumah sakit itu kini menyodorkan kapada Chandra sebuah struk yang memuat nominal deretan obat-obat.
Rasanya kedua kaki Chandra seolah tidak menapak di permukaan lantai. Chandra lemas, begitupun dengan isi koceknya.
Setelah bernegosiasi dengan administrator tersebut untuk meminta tambahan waktu pelunasan kini Chandra melenggang pergi dengan langkah gontai.
Beruntung sekali Chandra masih diberi kesempatan untuk melunasinya di lain waktu. Tidak harus hari ini. Kini yang menjadi masalah adalah... Kemana Chandra harus mencari dana yang berjumlah lumayan tersebut?
"Tidak penting, tidak penting. Uang bisa dicari, yang penting kesembuhan Shan-ku yang utama." Chandra mempercepat langkahnya menuju ruang ICU.
Ketika melihat ke kaca yang langsung mengarah ke dalam ruangan langkah Chandra langsung berhenti.
Chandra seketika enggan masuk setelah mengetahui bahwa Rosa berada disana. Perempuan itu menggenggam erat tangan kanan putrinya. Rosa sepertinya tengah berbicara pada Shan yang masih belum sadar 2 hari lamanya.
Chandra tidak mau mengganggu mereka.
Setelah kejadian kemarin malam, Rosa masih belum mau bertemu dengan Chandra. Perempuan itu kecewa, sudah pasti. Chandra memang sangat bodoh dalam mengendalikan emosi. Chandra selalu mengedepankan kekerasan di atas segalanya. Dan kini laki-laki itu menyesal setengah mati.
Haruskah Chandra meminta maaf pada Rosa sekarang?
Ceklek...
Chandra memutuskan hal tersebut.
Setelah berganti pakaian dengan dengan pakaian steril, Chandra masuk ke dalam ruangan tempat Rosa dan putrinya yang terlelap berada.
Rosa tidak menoleh sama sekali. Untuk menggerakkan lehernya saja perempuan itu enggan. Fokusnya masih kepada Shan. Dia tidak peduli jika ada Chandra yang membersamainya kini.
Chandra mengambil kursi lain lalu duduk di sisi kiri Shan. Chandra meraih tangan kiri putrinya yang terpasang infus disana dengan sangat hati-hati.
Kini Shan berada diantara dua orang yang membuatnya hadir di dunia ini. Andai Shan tau akan hal ini, mungkin rasa penasaran yang selalu mengganjal dalam benaknya bisa terjawabkan.
"Shan bangun, apakah kamu gak kangen sama papa sayang? Udah 2 hari papa gak dengar suara kamu. Papa sedih sekali Shan..."
Terdengar perlahan suara napas Rosa yang berhembus panjang. Rosa seolah menahan napasnya sedari tadi, dan sekarang dirinya tidak dapat menyembunyikan kebohongannya bahwa dirinya ingin mengakhiri perang dinginnya dengan Chandra.
Rosa bukan tipe orang yang tahan akan pertengkaran. Dirinya tidak tenang jika terus seperti ini. Dirinya ingin damai.
"Shania, dengarkan ayahmu... Tolong bangun Shania..."
Chandra seketika memandang Rosa yang berada diseberang. Sedikit terkejut akhirnya Rosa mau bersuara.
Apakah berarti kita sudah berbaikan?~Tanya Chandra dalam hati.
Chandra beralih mengusap kepala putrinya dengan teratur. Mencoba memberikan rangsangan agar Shan mau membuka mata.
__ADS_1
"Shan, papa sangat tau kamu bukan anak yang lemah. Ini bukan kali pertamanya sayang kamu masuk ke ruangan ini. Jadi papa yakin Shan pasti bisa melewati ini semua."
"Shan dengar papa kan, hmm?" lanjut Chandra.
Nada suara Chandra berubah menjadi bergetar.
"Bangun please Shan... Papa kangen...."
*Tes
Tess*
Rosa terperangah di tempat. Dirinya tidak tau harus melakukan apa sekarang. Chandra menangis. Menangis yang sangat memilukan.
"Shan inget waktu itu pengen makan es krim? Ayo kita beli Shan. Papa udah janji akan beliin kamu es krim yang banyak, tapi kalo kamu gak bangun kayak gini gimana? Please bangun Shan, bangun..."
"Chandra sudah... Tenanglah...." Rosa menyentuh pundak Chandra dengan sebelah tangannya. Rosa berusaha menenangkan tangisan laki-laki jangkung itu.
"Shan masih pengen banyak hal Sa. Ta—tapi aku belum bisa kasih. Aku emang papa yang payah Sa! Pengecut! Gue ini pengecut!"
Rosa semakin panik tatkala tangisan Chandra yang menjadi histeris. Chandra menangis meraung-raung, menghamburkan tubuhnya pada tubuh kecil Shan.
"Chandra jangan kayak gitu. Tolong tenang... Kasihan Shania Chandra..."
"Shan bangun... Shann papa mohon bangun sayang... Bangun Shan..."
Rosa berdiri dan hendak memindahkan tubuh Chandra menjauh dari Shan, namun...
"Chandra, Shania bangun."
...***...
Rosa's POV
Syukurlah Shania kini sudah sadar. Dokter Hans dan para petugas medis lainnya langsung melakukan pemeriksaan terhadapnya.
Dan syukurlah lagi kondisi Shania dipastikan sudah membaik. Jadi Shania bisa langsung dipindahkan ke ruangan rawat inapnya sebelumnya.
Shania yang berada dalam pangkuan Chandra itu sedari tadi menatap dokter Hans. Hingga akhirnya anak kecil itu bersuara.
"Wajah dokter Hans kenapa kok banyak plesternya?"
Aku seketika mematung di tempat. Aku sangat yakin dokter Hans dan juga Chandra pun demikian.
"Gak papa Shan, kemarin cuma kesandung aja di tangga, hehehe..." ucap dokter Hans yang jelas berbohong. Tapi untungnya Shania langsung 'meng-ohh'. Anak sekecil itu memang polos-polosnya.
Setelah pemindahan selesai kini dokter Hans beserta rekan-rekannya pamit undur diri untuk menunaikan tugas yang lain. Sekarang hanya menyisakan aku, Chandra, dan Shania di ruangan.
Shania masih berada dalam dekapan ayahnya. Aku sebenarnya ingin bergantian posisi dengan Chandra, aku ingin memeluk Shania juga, tapi apa boleh buat aku tidak berani meminta.
__ADS_1
Cup cup cup...
Chandra terus menciumi Shania berulang, menjadikan Shania tertawa dan merasa geli.
"Sudah papa, Shan jadi pengen pipis kan jadinya." ucap Shania dengan suara yang lirih. Baru kusadari suara Shania sekarang sangat pelan. Entahlah, mungkin karena tubuhnya yang masih sangat lemas setelah tidak sadarkan diri selama 2 hari.
"Papa, Shan kebelet pipis."
"Oh ya? Shan gak bohongin papa kan?"
"Enggak pa, Shan sungguhan pengen pipis."
Chandra segera beranjak dari posisinya. Dia menyingkapkan selimut yang menutupi tubuh Shania, dan ternyata....
Genangan air terbentuk disana.
Shania sudah pipis saat Chandra belum sempat menggendongnya ke kamar mandi.
Aku melihat genangan itu yang masih kian bertambah membesar. Sepertinya pipisnya Shania benar-benar masih baru saja. Belum ada hitungan detik berganti menit.
"Ayo pa ke kamar mandi." ucap Shania yang membuat kita berdua membisu di tempat.
Bagaimana bisa? Apakah Shania tidak sadar jika sebenarnya pipisnya sudah keluar? Apakah Shania tidak meras—
"Ayo sayang."
Di luar akal Chandra malah mengangkat tubuh Shania lalu menggendong anak itu menuju kamar mandi seolah tidak pernah ada genangan di atas kasur. Seolah Shania benar-benar belum pipis.
Aku hanya bisa mematung di tempat. Kaget. Sangat kaget.
Apakah hanya aku yang tidak mengerti dengan situasi ini???
Chandra keluar dari kamar mandi, lalu dengan cepat menggulung sprei dan segalanya yang terkena pipis Shania.
"Rosa bantu aku cepat." bisiknya.
Akupun menurutinya kemudian mengambil sprei dan selimut yang baru dari dalam lemari. Kita segera memasangnya seperti sedia kala.
"Papa Shan pipisnya udah." ucap Shania dari dalam kamar mandi.
"O iya iya sayang, papa kesitu. Jangan bergerak nanti jatuh." Chandra melangkah cepat menghampiri Shania di kamar mandi.
"Loh pa, selimut pink Shania mana?" tanya Shania ketika digendong keluar dari kamar mandi.
Aku dan Chandra langsung kelabakan bingung harus memberikan jawaban apa.
Tapi beruntung, pertanyaan Shania teralihkan oleh kedatangan mama Dewi dan juga kak Yolla beserta suaminya.
"Shan sayang!"
__ADS_1
~tbc...