Putri Kecil Papa

Putri Kecil Papa
Melepas Kerinduan


__ADS_3

"Manusia bodoh!"


"Chan sorry..."


"Lo bilang cuma cafe deket-deketan tapi apa yol?? Lo ajak Shan ke cafe yang jaraknya 20 menit dari sini. Lo emang stress!"


Blengg


Chandra membanting pintu, meninggalkan Yolla yang menangis tersedu-sedu di luar.


Chandra sudah benar-benar sangat kecewa dengan kakak perempuannya itu. Bisa-bisanya dia membahayakan kondisi Shan.


"Papa.... Hiks." Shan mengulurkan kedua tangannya ke arah Chandra. Gadis kecil ini walaupun sudah berada di dalam dekapan sang nenek, tapi dia ingin bersama papanya.


Chandra menghambur ke arah putri kecilnya itu. Dengan penuh kasih sayang Shan dia naikkan ke atas gendongannya.


Pakaian Shan masih dipenuhi bercak noda darah mimisan tadi, Chandra belum sempat menggantinya, terlebih karena Shan masihlah sangat rewel.


"Shan pusing ya?" Chandra mencoba meletakkan telapak tangannya pada kening bocah itu. Shan menggeleng, suhu yang dirasakan Chandra pun juga normal. Sepertinya semuanya baik-baik saja, sesuai dengan yang dikatakan Dokter Hans barusan.


Pasien kanker memang akan mengalami mimisan secara tiba-tiba. Ini sudah dua kalinya Shan mimisan. Pertama, saat dirumah dulu, dan yang kedua baru saja ini.


"Dokternya bilang jangan khawatir, tapi aku khawatir ma..." keluh Chandra pada sang mama.


Dewi mengelus lembut punggung putranya itu. Dalam hatinya juga diliputi perasaan cemas yang teramat sangat akan cucunya.


"Kita percaya sama dokter Hans saja Chan, selebihnya kita juga berdoa saja. Serahkan pada yang diatas."


Dewi tidak yakin perkataannya itu berhasil menenangkan hati Chandra. Terlebih Chandra yang sedari tadi rahangnya tetap terlihat mengeras.


Chandra masihlah sangat marah.


Jemari kecil itu mulai bergerak. Shan menggerakkan jemarinya untuk menyentuh wajah sang papa. Seketika itu raut tegas Chandra berubah.


Laki-laki itu telah luluh sekarang.


"Kenapa sayang?" tanya Chandra sembari menciumi tangan mungil mirip putrinya.


Shan tidak kunjung menjawab. Anak kecil yang menyandarkan kepalanya pada pundak sang papa itu hanya memainkan jemarinya. Masih di wajah sang papa.


"Hehehe Shan geli tauk." Chandra tertawa kecil merasakan sentuhan Shan yang terasa menggelitik.


"Ih papa bales ya." Kini Shan mendapat serangan balasan dari papanya. Chandra menghujani Shan dengan gelitikan di seluruh perutnya.


"Papa Shan mau muntah."


"Eh..." Bergegas Chandra melarikan Shan ke arah wastafel kamar mandi. Dan benar saja Shan langsung mengeluarkan seluruh isi perutnya disana. Makanan yang Shan makan dan juga... Darah.


"Shan..." Bibir Chandra seketika bergetar. Dia tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Linangan air mata akhirnya tumpah, namun dengan segera dihapusnya.


Chandra dengan cepat memutar keran yang berada di wastafel dan mengguyur semuanya hingga tak bersisa.


"Pa kok muntahnya Shan merah gitu ya?"


"Gak papa Shan, itu gak papa sayang. Itu cuma..." Chandra tidak mampu meneruskan perkataannya. Jujur saja karena dirinya sendiri tidak tau akan mengatakan apa lagi.

__ADS_1


"Papa Shan takut... Shan sebenarnya kenapa sih? Kok sakit terus. Hiks.."


"Cup sayang cup...


"Kapan Shan sembuhnya pa?"


"Kita tanya dokter Hans aja yuk nak. Ayo kita nemuin dokter Hans."


Chandra menggendong keluar Shan. Sebenarnya Chandra berbohong akan menemui dokter Hans, Chandra sangat tau jika dokter itu sekarang ini sedang tidak ada. Dokter Hans ada pertemuan di luar rumah sakit.


Chandra hanya mengajak Shan berkeliling, dengan cara ini diharapkan bisa melipur rasa penasaran Shan yang ditanyakannya tadi.


"Ayo liat meow." ajak Chandra.


"Gak mau pa. Shan gak kepengen."


"Lah kok tumben?"


Shan hanya mengedikkan kedua bahunya bersamaan. Anak ini benar-benar tidak memiliki mood untuk melakukan apapun sekarang.


Chandra memilih untuk membawa Shan kembali ke ruangannya. Mungkin Shan mau untuk diajak rebahan saja.


"Shan!" panggilan tiba-tiba terdengar dari jarak yang lumayan.


Ternyata itu Yolla.


Chandra pikir Yolla telah pulang ke rumahnya tapi ternyata belum.


Lantas kemana saja dia tadi, kenapa Chandra tidak melihatnya saat keluar dadi pintu tadi?


Chandra jelas tidak bisa menepis tangan sang kakak. Dia akan dinilai jahat karena ini dihadapannya Shan.


"Shan, tante Yolla minta maaf ya."


Chandra mendengus sejenak. Seharusnya Yolla tidak usah mengatakan itu disaat suasana hati Chandra sudah membaik. Ini sama saja mengingatkan Chandra akan kejadian beberapa saat lalu.


"Gak papa tante..." ucap Shan, pelan. Entahlah anak ini selain kehilangan moodnya, daya bersuaranya pun menurun.


"Biarin Shan masuk, dia pengen istirahat." ketus Chandra. Yolla akhirnya melepaskan genggamannya itu.


Yolla mengikuti langkah Chandra memasuki ruangan tempat Shan dirawat.


"Bawa mama pulang. Kalian kesini lagi besok aja." perintah Chandra yang terdengar seperti sebuah kalimat mengusir untuk kakak dan ibunya.


Dewi mengerjap beberapa kali, namun akhirnya dia menurut. Perempuan paruh baya itu pun segera mengemasi barang-barangnya lalu memakai sweater.


"Ayo Yolla." ajaknya ketika dia sudah siap.


Yolla malah mengeluarkan ponselnya dari saku. "Tunggu ma."


Yolla mendekat ke arah Chandra dan Shan yang telah berbaring bersama di atas bed.


"Ch—Chandra... Aku boleh nggak ngomong sama Shan sebentar aja?" pinta Yolla dengan nada bergetar. Dia sebenarnya takut dan ragu, tapi memaksa.


"Shan mau tidur, jangan ganggu."

__ADS_1


"Plis Chan..."


"Mau ngapain sih? Ngomong apa? Ke gue aja kan bisa? Lo gak liat anak gue udah ngantuk?" Chandra tersulut emosi. Namun...


"Shan belum ngantuk kok pa." Shan merubah posisinya. Gadis kecil itu kini duduk. "Ada apa tante? Tante Yolla mau ngomong apa sama Shan?"


Kedua mata Yolla seketika berkaca-kaca, tapi dia tidak ada waktu untuk menumpahkan air matanya. Keburu Chandra marah dan melarangnya, dia harus cepat.


"Shan, ayo kita video call sama kak Salsa dan kak Jimmy."


Sontak senyum Shan merekah. Ekspresi anak kecil ini berubah dalam sekejap. Dia sangat senang.


Shan yang antusias langsung mendekat ke arah tantenya. Puk puk, tangan kecilnya mengisyaratkan Yolla untuk duduk di tepi bed bersamanya.


Keduanya kini memunggungi Chandra dan menghadap ke arah ponsel yang berada dalam pegangan Yolla.


Shan menyimak setiap pergerakan yang terpampang di layar itu. Mendengarkan dengan seksama bagaimana benda itu terus berdering tanda panggilan yang tertuju tidak kunjung diangkat.


Dia sabar, sangat sangat sangat sabar.


"Halo ma."


Mata beningnya seketika berbinar. Mulut mungilnya secara otomatis tidak bisa tekatup. Dia masih sangat tidak menduga kini bisa melihat kembali sepupunya itu. Salsa, teman sepermainannya, wajahnya kini memenuhi layar ponsel.


"Kak Salsa..."


"Shan?"


Shan tersenyum mendengar suara kakaknya yang memanggilnya. Sebenarnya dia sangat ingin bersuara banyak. Dia ingin bercerita banyak, namun lidahnya terasa sangat kelu. Dia tidak tau akan memulai dari mana.


"Shan apa kabar? Aku kangen sama kamu Shan."


Tampilan layar ponsel mengalami guncangan. Salsa yang berada diseberang melakukan pergerakan, bukan pergerakan biasa, melainkan aksi rebutan.


"Hee siapa sih? Hah Shan??! Mana mana aku mau lihat Salsa!"


Kini terpampang wajah Jimmy pada layar.


"Oh halo Shan! Cepet pulang ya, kita kangan sama kamu Shan!"


"Sama, Shan juga kangen banget sama kak Salsa, kak Jimmy hehehe."


Chandra terbangun dari posisinya. Dia kini turut menyimak video call yang dilakukan putrinya itu.


Shan yang menyadari ada pergerakan dibelakangnya langsung menoleh. Dengan penuh semangat dia lalu merebut ponsel dari tangan tantenya untuk ditujukan kepada sang papa.


"Papa papa lihat! Shan video call sama kak Salsa, sama kak Jimmy!"


Chandra mengangguk. Dia membelai puncak kepala sang putri sekilas. "Iya lanjutkan sayang."


Chandra turut senang akhirnya Shan bisa melepas kerinduan dengan dua sepupunya tersebut.


Semoga ini bisa menjadi langkah penyembuhan juga untuk Shan. Terimakasih Salsa dan Jimmy, berkat karena kalian berdualah mood Shan bisa membaik seperti ini.


~tbc...

__ADS_1


__ADS_2