
Author's POV
"Cukup!"
Teriakan menggelegar itu seketika memekakan seluruh pasang telinga yang berada di dalam ruangan.
Semuanya menoleh ke sumbernya, Shan.
"Ke-kenapa sayang?" Chandra mencoba mendekati putrinya itu, namun...
"Keluar kalian semua! Keluar!!!" jerit Shan. Anak kecil itu melempar boneka yang berada di tangannya ke arah sang papa.
"Shan, hei kenapa?"
"Keluar! Shan bilang keluar!!!"
Shan kini menangis histeris, meronta di atas sofa, melempar semua mainan yang berada di dekatnya.
Salsa dan Jimmy langsung bergegas pergi menuju mamanya. Mereka takut dengan Shan yang tiba-tiba mengamuk seperti itu.
Chandra yang masih mencoba untuk berkomunikasi guna meluluhkan hati Shan sampai terkena lemparan mainan berkali-kali. Robot Jimmy yang ukurannya lumayan berhasil membuat keningnya terasa berdenyut karena mengenainya.
"Pergi kalian semua pergi!!!" Shan menendang-nendang. Chandra menjadi sangat kesusahan untuk memeluk dan meredam emosi bocah ini.
"Kamu ini kenapa Shan?"
"Papa pergi! Shan gak mau sama papa! Papa bodoh, papa bodoh, papa bodoh!"
"Hei Shan tidak boleh seperti itu." ucap Dewi mencoba melerai, tapi usaha perempuan paruh baya itu malah mendapatkan balasan...
"Uti juga bodoh! Uti gak sayang Shan! Uti cuma sayang kak Salsa sama kak Jimmy!"
Dewi seketika tertegun mendengarnya. Bibirnya bergetar dan lidahnya kelu, "S-Shan uti minta maaf..."
"Pergi! Pergi sana uti!" Shan mengusir utinya.
"Tante Yolla juga kenapa masih diem disitu? Pergi sana tante! Tante pulang aja sana! Shan gak mau ketemu sama tante! Tante jahat! Kak Salsa sama kak Jimmy juga jahat! Ayo cubit Shan lagi! Ayo cubit kayak waktu di mall itu tan! Kalian juga! Ayo nakalin Shan lagi! Ayo kak Salsa, kak Jimmy! KALIAN SEMUA JAHAT!!!"
Shan menangis menjerit-jerit. Tidak ada yang bisa menghentikannya. Dia memarahi semua orang. Mengusir semuanya, termasuk Chandra...
"Pergi kalian!!"
Yolla dan anak-anaknya perlahan meninggalkan ruangan, begitupun Dewi. Tersisalah Chandra yang masih berusaha menenangkan Shan.
Tapi Shan tidak mau ditenangkan.
Shan turun dari sofa, lalu menarik tangan papanya. Dia mengarahkan papanya menuju pintu. Sesampainya di ambang pintu, dia mendorong papanya untuk keluar.
"Shan, enggak Shan, jangan sayang. Biarin papa tinggal sayang. Biarin papa temenin kamu."
"ENGGAK! PAPA JUGA JAHAT!" ucap Shan, final.
Chandra terdorong keluar dan Shan langsung menutup pintunya dengan keras.
Shan mengurung dirinya sendirian di dalam ruangan. Dia tidak ingin bertemu dengan siapa-siapa, tidak dengan Chandra juga.
Chandra sangat khawatir dibuatnya. Dia ingin menerobos masuk, dia tau pintunya tidak dikunci. Shan tidak bisa mengunci pintu. Tapi... Setelah mendengar isakan dari balik pintu itu, Chandra mengurungkan niatnya untuk masuk.
Chandra tau Shan tidak pergi dari posisinya. Anak kecil itu masih berada di depan pintu tepat dan menangis.
Chandra mencoba mengetuk secara perlahan.
Tok tok tok
"Sayang papa pengen masuk, papa pengen peluk kamu. Boleh ya Shan?"
__ADS_1
Tidak ada jawaban, hanya suara isakan yang terdengar.
"Shan, papa minta maaf..." ucap Chandra, sangat memohon.
"PAPA DIEM! Shan gak mau dengar suara papa! Shan benci papa! Papa jahat! Papa suka marahin Shan! Papa selalu marahin Shan padahal Shan gak nakal juga papa marahin! Papa jahat! Pokoknya papa jahat!"
Shan menangis tersedu-sedu kembali di dalam sana. Ini benar-benar membuat hati Chandra teriris.
Kedua mata Chandra perlahan terasa sangat panas. Ada air mata yang mendesak keluar dari pelupuknya.
Chandra mendongak ke bawah, ke arah celah pintu. Dia bisa melihat kain dari pakaian Shan yang sedikit keluar melewati celah itu. Itu brarti Shan sekarang ini sedang mendudukkan tubuhnya dan bersandar di pintu.
Shan pasti lelah, Shan lemas, tidak ada tenaga untuk berdiri lagi setelah meluapkan segala emosinya. Chandra sangat ingin mendekap tubuh kecil itu, memeluknya sangat erat. Chandra tidak tega, sangat tidak tega jika putrinya kecapekan seperti itu.
Dibalik pintu Shan masih terisak. Shan melihat ke arah langit-langit kamar dengan linangan air mata yang masih keluar deras membasahi kedua pipinya. Dalam pikirannya dipenuhi pertanyaan, "Apa hanya Shan sendiri yang sungguhan tidak memiliki seorang mama?"
Anak kecil itu memikirkannya sendiri.
Setelah melihat disekelilingnya, setelah melihat anggota keluarga lainnya. Salsa dan Jimmy adalah anak dari Yolla. Yolla mama mereka. Kedua keponakannya memiliki seorang mama.
Papanya, Chandra memiliki Dewi, sang mama. Yolla dan Chandra adalah kakak beradik. Dan mereka memiliki seorang mama, yaitu Dewi.
Apa hanya Shan yang tidak memiliki seorang mama?
Kenapa semua terasa tidak adil untuk Shan?
Kenapa tidak ada satu orang pun yang menjelaskannya untuk Shan? Kemana sebenarnya mama Shan?
Tidak mungkin Chandra yang melahirkannya. Tidak mungkin seorang laki-laki mengandung dan melahirkan. Shan sangat tahu. Shan kerap pergi jalan-jalan keluar dan selalu melihat yang perempuan lah yang perutnya membuncit karena berisi bayi.
Jadi sangat bohong sekali jika Shan hanya memiliki Chandra saja. Pasti ada seorang mama yang menghadirkan Shan di dunia ini. Lantas ada dimana mama Shan itu?
Shan sangat ingin bertemu.
"KEMANA MAMA SHAN???!!!" jerit Shan.
Chandra menyerah...
Laki-laki jangkung itu akhirnya memutuskan untuk pergi. Pergi menjauh dari pintu, melewati koridor rumah sakit yang sepi dan sunyi, membawa perasaannya yang berkelut sesuatu. Sesuatu yang sangat sulit dijelaskan untuk saat ini...
......***......
Udara malam yang terasa dingin sampai menembus mengenai tulang nyatanya tidak berhasil membuat Chandra berbalik badan dan masuk ke dalam suatu tempat yang hangat. Orang ini masih setia menikmati jutaan bintang yang tersebar di atas langit. Spot yang dia tinggali ini sekarang menjadi favorit terbarunya. Di rooftop rumah sakit.
Entah sekarang ini sudah jam berapa Chandra tidak tau. Dia enggan menoleh ke arah jam tangannya. Terdengar sangat sia-sia bukan jam tangan yang dia kenakan. Apalagi harga jam tangannya itu juga tidak terbilang murah.
Buang saja Chan, benda itu kehilangan fungsi.
Tes tes tes.
"Sial!" Chandra mengumpat tatkala tetesan air perlahan turun dari langit. Chandra akhirnya turun dari tempat keberadaannya untuk berteduh karena hujan.
Belum sempat pijakan kakinya menginjak anak tangga yang terakhir tiba-tiba ponselnya yang berada di dalam kantong berbunyi.
Chandra berhenti lalu mengeluarkan ponselnya untuk mengecek siapakah gerangan yang meneleponnya itu.
Tertera nama mamanya disana.
Alih-alih menjawab, Chandra malah mengusap tanda panggilan merah. Dia menolak panggilan suara dari mamanya.
Detik berlalu, berganti Yolla sang kakak yang meneleponnya. Chandra hendak menolaknya lagi, namun entah mengapa sekarang ini perasaannya diliputi firasat tidak enak.
"Halo ada apa kak?" tanya Chandra dengan benda pipih itu menempel di telinganya.
Yolla sang penelepon tidak kunjung bersuara, ini membuat Chandra kalut dalam emosinya.
__ADS_1
"Woi kenapa sih Yoll lo nelpon??"
Tidak terdengar suara Yolla, yang dapat ditangkap pada indra pendengaran Chandra hanya kebisingan. Suara derap langkah banyak orang dan...
Mereka memanggil-manggil nama Shan.
"Shan bangun, Shan bangun..."
Sontak Chandra langsung mempercepat langkahnya. Dia berlari menuruni banyak anak tangga lain. Sudah tidak terpikir lagi untuk menaiki lift. Dia memilih pakai tangga darurat hingga sampai di lantai tempat anak perempuannya di rawat.
Dari kejauhan terlihat suasana mencekam di luar ruangannya Shan. Banyak perawat lalu lalang keluar masuk melalui pintu.
"Ya Allah Shan-ku kenapa?"
Chandra menerobos masuk, menyingkirkan semuanya yang menghalangi pergerakannya.
Sampai di dalam hatinya seketika remuk melihat Shan terkulai lemas di atas bed dengan berbagai peralatan medis telah melekat di tubuhnya.
Yolla memukul punggung Chandra dengan keras. "Dari mana aja lo?!" tanyanya dengan isakan. Semuanya menangis, Yolla dan Dewi yang menggenggam erat tangan Shan keduanya menangis pilu.
Chandra mengambil alih tangan kecil Shan dari genggaman Yolla. Laki-laki itu kini berlutut di tepi ranjang Shan.
"Hei sayang, papa disini Shan. Ayo lihat papa..."
Shan membuka kelopak matanya perlahan, lalu melihat ke arah Chandra. Sebuah lelehan air mata keluar dari sudut mata Shan yang sayu itu. "Papa..."
"Iya sayang, Shan Shan kenapa? Mana yang sakit sayang?"
"Papa Shan minta maaf..."
Deg.
"Enggak, Shan gak salah. Shan gak perlu minta maaf sama papa. Papa yang banyak salah sama Shan."
"Maafin Shan pa..."
"Shan, no. Jangan buat papa takut plis. Shan anak kuat kan, Shan pasti bisa. Ayo Shan harus berjuang. Mana janji Shan waktu itu?"
Lelehan air mata kedua perlahan turun kembali.
Mulut Shan terbuka, dadanya kembang kempis berusaha mengambil napas sekuat tenaga. Walaupun telah menggunakan oksigen, tapi terlihat teramat berat bagi Shan untuk bernapas saja.
Chandra benar-benar tidak tega.
"Papa, Shan udah gak akan nanyain mama kemana lagi. Papa jangan pergi ya, tolong temenin Shan sebentar aja."
Chandra menggeleng. "No. Sebentar apanya Shan? Gak boleh sebentar, papa akan temenin kamu selamanya. Pokoknya yang lama, sampai kamu tua, sayang."
Perlahan tapi pasti kedua kelopak mata Shan memejam.
"Shan sayang sama papa." lirih Shan yang suaranya semakin menghilang.
"Papa juga sayang sama Shan. Sangat, sangat sayang. Shan bertahan ya, demi papa sayang. Papa mohon..."
Chandra mengeratkan genggamannya. Shan membalas genggaman Chandra sangat erat. Chandra dapat merasakan itu.
Entah apa yang sebenarnya terjadi. Kenapa Shan sudah se-drop ini.
Chandra dapat merasakan betapa dinginnya telapak tangan Shan.
"Dokter Hans, Shan kenapa? Apa yang terjadi dok?? Tolong jelaskan!"
Dokter Hans seolah dikunci mulutnya. Sang dokter sibuk mengecek kondisi Shan, menyuntik selang infus Shan dan lainnya.
Situasinya berubah semakin mencekam tatkala tubuh Shan mendadak kejang.
__ADS_1
...~tbc... ...