Putri Kecil Papa

Putri Kecil Papa
Shan Mau Kemana?


__ADS_3

"Eummhh..." Aku mengucek mataku sekilas, merasakan sinar matahari yang menerobos masuk melalui celah kaca jendela.


Ternyata hari sudah berganti pagi lagi. Ngomong-ngomong tidur dengan posisi duduk seperti ini membuat punggungku sangatlah pegal. Dan aku tidak tau akan seperti ini hingga sampai kapan?


Tapi aku tidak ingin pulang. Iya, memang aku merindukan rumah dan juga ayahku, namun... Aku tidak tega meninggalkan tempat ini walau hanya sejengkal langkahpun. Jujur, aku tidak tega meninggalkan Shania...


"Bangun lalu sarapan sana sama Chandra." Aku refleks menoleh ke arah belakang.


Mama...


Mama menyuruhku untuk sarapan dengan Chandra, menyantap makanan yang telah beliau masak.


Aku mengangguk dan segera melipat selimutku. Ah tunggu... Se-selimut? Sejak kapan ada selimut yang menyelimuti tubuhku? Siapa yang menyelimutiku semalam?


Te—terimakasih mama...


Aku menuju pantry yang berada di balik tembok. Sudah ada Chandra disana, duduk di salah satu kursi dengan sebuah piring di tangannya. Dengan satu kakinya yang naik di atas kursi juga.


Chandra melirikku sekilas lalu melanjutkan makannya itu. Aku melihat ke arah meja yang berada di hadapan Chandra, sebuah piring lengkap dengan nasi dan lauk pauknya telah siap. Seseorang telah menyiapkannya untukku. Mama lagi.


Terimakasih mama...


Aku menunggu Chandra selesai baru untuk gilira—


"Udah makan aja!" perintah Chandra.


Baiklah. Dengan langkah kikuk aku menghampiri makanan tersebut. Aku duduk di kursi lain yang berada di dekat meja makan.


"Ti-tidak ada garpu kah disini?"


"Uhukk uhukk uhukkkk!"


Aku langsung terkejut karena Chandra tiba-tiba tersedak.


"Sa, ini bukan di rumahmu yang peralatan makannya lengkap bak hotel bintang lima itu. Udahlah pakai aja seadanya, gak udah pakai manners segala."


"I-iya..."


Aku menyantap makananku. Makanan yang dimasak mama sangat enak, rasanya tidak pernah berubah. Rasanya masih sama seperti yang kurasakan dahulu.


"Shan hari ini ikut temenin Shan ya?"


Sontak aku melihat ke arah Chandra. "Sh—Shania mau kemana?"


"Hari ini waktunya Shan kemo lagi."


"Ke-kemo?"


"Iya kemo, aku tau kamu pinter. Jadi gak usah kujelasin pasti kamu udah tau sendiri tentang itu. Tolong nanti ikut temenin Shan ke sana."


Aku mengangguk lalu mempercepat makanku karena melihat Chandra yang telah selesai dan berlalu menuju wastafel.


"Chandra biar aku aja yang cuci piring."


Laki-laki itu menolehkan pandangannya sekilas. Tidak ada perkataan apapun, sunyi. Hanya ada suara dentingan piring yang diletakkan lalu disusul dengan langkah kaki yang melenggang pergi.


......***......


"Shan mau pakek ikat rambut warna biru biar sama kayak yang dipakai kak Elsa pa."


"Iya iya sayang iyaa..." Chandra menggulung rambut Shania. Pergerakan tangannya begitu lihai, hingga tidak sadar fokusku beralih pada helaian rambut yang berjatuhan ke permukaan lantai.


Kaki Chandra tidak bisa diam, terus bergerak menyingkirkan rambut-rambut itu ke dalam kolong bed.


"Kak Elsa sini."


Perhatianku teralihkan pada panggilan gadis kecil itu. Aku segera mendekat, sesuai dengan permintaannya.


"Iya Shania..."


"Nanti temenin Shan ya. Papa papa nanti kak Elsa ikut kan pa?"

__ADS_1


"He'eh ikut dia Shan."


"Horeee temennya Shan banyak! Shan gak kesepian deh."


"Udah yuk, udah siap nih. Sekarang ayo ke ruangannya dokter Hans, udah ditungguin dari tadi."


Chandra menggandeng tangan mungil itu. Dan tanpa kuduga, sebelah tangan mungil yang lain meraih tanganku. Shania memintaku untuk menggandengnya.


Ruangan yang kita tuju ternyata telah sampai di depan mata. Kita bertiga masuk bersamaan.


"Selamat pagi dokter Hans!" sapa Shania dengan penuh ceria.


Dokter Hans tersenyum dan menyambut ucapan dari Shania tersebut tak kalah hangat. "Selamat pagi Shan! Gimana kabar Shan pagi ini?"


"Shan seneng dok!"


"Ih salah tau Shan. Kalo ditanya gimana kabarnya jawabnya alhamdulilah sehat, bukan seneng. Shan kamu gimana sih." ucap Chandra yang langsung membuat gelak tawa menggema ke penjuru ruangan. Perawat-perawat pun ikut turut tertawa.


Namun ternyata seluruh gelak tawa itu menghilang selang beberapa saat kemudian. Gelak tawa kini tergantikan dengan suara jeritan Shania yang begitu mengiris hati.


"Hei Shan tenang sayang, cup gak papa Shan, cup." Chandra menahan tubuh Shania yang memberontak hebat.


Shania menangis menjerit-jerit. Bukan tanpa penyebab, dia menangis karena jarum infus yang disuntikkan oleh dokter Hans tidak sengaja patah dan tertinggal di dalam lapisan daging Shania.


Darah mengucur banyak sekali. Shania ketakutan, ditambah dengan rasa nyeri yang teramat sangat tentunya.


"Dokter Hans gimana sih? Bisa kerja apa gak?!" Chandra marah-marah. Emosinya tidak dapat dibendung lagi.


Situasi yang terjadi benar-benar kacau. Semuanya kalut dalam masalah masing-masing. Dan aku... Aku tidak tau apa yang harus kulakukan sekarang.


"Sus ambilkan pinset dan gunting, saya akan melakukan pembedahan kecil."


"AKKKKKHHH!" teriak Shania tatkala lengannya terpaksa harus dikoyak dengan berbagai peralatan dokter Hans.


Chandra terlihat mulai goyah. Aku melihat bagaimana Chandra berkeringat sangat banyak di wajahnya. Dia meneguk air ludahnya sendiri berkali-kali seperti orang yang sangat gugup. Dia terlihat sangat tidak tenang.


Darah semakin membanjiri pakaian Shania. Pakaian Chandra pun tidak luput terkena cipratan.


"Dok kenapa tidak disuntik bius dulu?" Jujur aku sangat tidak tega melihat Shania mengerang kesakitan dengan kedua mata yang ditutup oleh Chandra menggunakan tangannya.


"Rosa tolong..."


"Chandra." Aku tersentak melihat Chandra yang mendadak lemas di atas sofa. Shania yang berada di pangkuannya sampai merosot ke bawah, hampir terjatuh.


"Chandra kamu kenapa?" dokter Hans turut panik melihat Chandra yang seperti itu.


"Aku phobia darah..."


Hanya itu perkataan terakhir yang dikatakan Chandra sebelum akhirnya laki-laki itu tidak sadarkan diri.


......***......


Author's POV


"Domikado eska... Eskado bera-beri..."


Shan bermain dengan riang bersama Rosa. Sesekali Shan menoleh ke belakang, ke arah bed yang di tempati oleh Chandra.


Ya, Chandra belum siuman juga setelah pingsan beberapa saat lalu karena lemas melihat darah.


"Eummm papa kok belum bangun ya kak?" Ekspresi Shan berubah menjadi sedih. Rosa seketika dibuat kelimpungan olehnya. Harus diajak main apalagi ini agar Shan tidak sedih?


"Shania ayok kita main petak umpet." ajak Rosa dengan raut penuh antusias. Akan tetapi Shan menggeleng.


"Shan gak bisa ngumpet kalo papa masih pingsan kak..."


Memang tidak ada hubungannya, tapi begitulah akal anak kecil...


Rosa masih mencoba memutar otak, mencoba berpikr untuk mencari cara yang lain.


Rosa mengambil ponselnya. Bukan karena Rosa lelah dan menyerah meladeni Shan lalu memilih untuk bermain ponselnya saja, bukan! Rosa mengambil ponselnya untuk membuka youtube.

__ADS_1


Kali ini bukan cocomelon.


"Shania lihat deh, kakak kalo sedih suka liat video melukis." ucap Rosa sembari menunjukkan layar ponselnya.


"Haaa melukis???" Shan dengan segera langsung mendekat ke arah Rosa. Bocah kecil itu turut ikut memperhatikan apa yang Rosa tonton pada ponselnya.


Mata Shan tidak bisa lepas sedikitpun dari layar tesebut. Dia sangat takjub, seperti belum pernah melihat apa yang tengah dilihatnya itu.


Untuk urusan seni, Shan sangat bersemangat.


"Shania suka melukis ya?" tanya Rosa.


Shan mengangguk tanpa memandang ke arah sang penanya. Fokusnya benar-benar terpusat oleh video itu.


"Kakak juga suka melukis, kayaknya hobi kita sama Shania."


"Oh ya..." Pandangan Shan akhirnya mengarah kepada Rosa.


"Iya Shania."


"Berarti kak Elsa pernah pakai emm—apa tuh namanya—emm..." Shan tidak berhasil menemukan kata-katanya. Akhirnya anak itu memilih menunjuk ke arah video yang masih diputar.


"Oh kuas ya?"


"Nah itu! Kuas, Shan baru inget."


Rosa tersenyum, tersenyum dengan sangat lembut. Senyum yang hanya untuk Shan seorang.


"Shania ingin pegang kuas ya? Shania ingin melukis?"


Sontak kedua mata Shan mendadak berbinar. "Iya kak, Shan ingin sekali melukis." ucap bibir kecilnya.


"Bai—"


"Papa bangun!" Belum sempat Rosa menyelesaikan perkataannya, perhatian Shan teralihkan begitu saja tatkala mendengar Chandra menggeliat.


Chandra akhirnya sadar.


"Papa!" Shan langsung memeluk laki-laki bertubuh besar itu. Walaupun masih terbaring tapi Shan tidak peduli, anak itu langsung loncat dan menempel erat ke tubuh papanya.


"Hiks..."


"Hei, kok nangis sih Shan? Cup cup..." Chandra yang masih sedikit lemah itu terkejut melihat putrinya yang kini menangis. Kenapa reaksi Shan menangis seperti ini? Tidak suka kah Shan melihat papanya bangun? Apa Shan ingin papanya tertidur terus?


TIDAK!


"Papa tidurnya lama banget. Shan takut, Shan pikir papa kenapa? Papa gak kenapa-napa kan pa?"


Chandra menggeleng. "Papa gak kenapa-napa Shan..."


Chandra mengusap wajah Shan, menghapus air mata Shan yang sangat banyak itu padahal hanya menangis beberapa detik.


Chandra lalu mencoba untuk duduk. Tubuhnya yang masih lemah ditambah dengan Shan yang nangkring tidak mau lepas menimpa tubuhnya membuat Chandra begitu teramat kesusahan untuk duduk.


Rosa hendak membantu, tapi... Pasti Chandra menolak.


Akhirnya Chandra sudah memposisikan tubuhnya untuk duduk.


Shan masih mewek-mewek, sepertinya tangisannya belum dia tuntaskan.


Chandra meraih lengan Shan, mencari sesuatu yang sedari tadi sangat membuatnya tidak tenang.


Sebuah plaster warna merah muda bertengger disana. Di lipatan siku Shan.


"Sakit ya Shan?" tanya Chandra sembari menyentuh lembut bagian tersebut.


Shan malah menggeleng. Jauh dari prediksi Chandra anak kecil itu malah mengatakan yang sebaliknya. "Gak sakit kok pa, kan Shan kuat. Shan udah lupain kejadian yang tadi."


"Putri kecil papa ini pinter banget... Cup." Chandra lantas mengecupi lengan bekas jarum suntik yang tersangkut itu. Chandra berharap semoga kejadian yang seperti ini tidak terulang lagi.


Chandra berharap Shan-nya tidak kesakitan lagi.

__ADS_1


Tanpa sadar, seseorang yang berjarak 2 meter dari mereka telah menitihkan air mata. Rosa menangis dalam posisinya yang diam...


~tbc...


__ADS_2