
"Let it go! Let it go! Wswuswswswssyoo...."
"Let it go! Let it gouwoo! Nanananananana...."
"Aduh Shan kecilin, berisik tauk." seruku dari sofa sudut kamar. Aku sedang mengerjakan sesuatu yang sangat penting sekarang. Dan Shan, lihatlah... Dia bernyanyi sangat keras, berkolaborasi dengan Elsa karakter kesukaannya itu di televisi.
Aaarrrgghhh aku menyesal membelikannya kaset frozen!
Bagaimana bisa ya bocah ini tidak pernah bosan dengan film tidak masuk akal itu? Padahal Shan telah menontonnya ribuan kali. Dan bodohnya aku... Aku membelikannya kaset yang sama lagi.
Ini gara-gara Shan sendiri. Dia menipuku dan Wanda kemarin. Tidak ada yang namanya film frozen terbaru. Adanya hanya yang ke-1 dan ke-2, yang telah keluar beberapa tahun yang lalu. Dan Shan-pun juga sudah punya kasetnya sejak awal. Tapi ya mau bagaimana lagi, daripada kita pulang tanpa membawa apa-apa di tangan kita. Lagipula anak kecil ini sangatlah mudah dikelabui.
"Papa papa, kok filmnya yang ini mirip sama yang ke-1."
'EMANG!' Aku sangat ingin sekali berteriak seperti itu, tapi...
"Ah masa sih Shan? Beda loh Shan. Coba kamu liat betul-betul." ucapku dengan memasang wajah serius. Shan-pun percaya, lalu kembali memfokuskan pandangannya pada tayangan filmnya itu.
Dia menyaksikannya dengan sangat seksama.
Oke baiklah, situasi sekarang telah kondusif. Aku bisa kembali lagi mengerjakan dokumen-dokumen sialan yang berada didalam laptopku ini. Ahhh sekarang tanggal merah, tapi aku harus tetap bekerja. Memang terkutuk kantorku itu. Bahkan hari Sabtu yang seluruh karyawan perusahaan lain itu libur, tapi di tempatku itu tidak. Memang kantor bangsat!
"Eh iya halo?" Aku terkejut karena tiba-tiba ada panggilan masuk di ponselku. Aku pikir tadi itu kantorku yang tiba-tiba meneleponku karena merasa bahwa aku baru saja mengumpatinya dengan kata-kata yang buruk. Tapi ternyata bukan, panggilan suara itu bukan dari kantorku, melainkan... Wanda.
"Loh nomer lo ganti Nda?"
"Hehe iya, hapus aja yang dulu Chan udah gak aktif itu. Sekarang pakek yang ini, baru aja gue beli terus langsung ngabarin ke elo."
Ke-kenapa aku yang nomer 1 dihubungi? Mendadak kedua pipiku terasa menghangat.
__ADS_1
"Papa papa, pipi papa merah!" pekik Shan, aku sampai kelabakan menutup lubang speaker yang berada di bawah ponselku.
Aduh Shan, kalau Wanda dengar bagaimana ha?? Papa malu...
Aku akhirnya memutuskan untuk keluar saja dari kamar. Mencari tempat yang tepat untuk melanjutkan bertelepon dengan Wanda. Dan balkon adalah tempat yang sangat tepat bagiku.
"Halo Wanda, lo masih ada disana kan...." Kegiatan bertelepon kita pun berlanjut.
...***...
"Shan percuma, ini frozen yang paling lama yang lagi kamu tonton ini." ucap Salsa sembari memegang kotak kaset dari film yang masih berputar di televisi.
"Ih bukan, ini tuh yang terbaru kak. Aku baru beli semalem. Belinya di toko gede, disana lengkap banget. Kaset apa aja ada, ada frozen 1, 2, 3, 5—"
"WHAHAHAHA..."
Ucapan Shan sampai terpotong karena tawa keras yang keluar dari mulut Salsa.
"Gak ada Shan frozen 3 itu, apalagi 5. Kamu ngaco deh."
"Tapi tapi tapi, kamu bilang kemarin..."
"Apa? Aku bilang apa ha?" Salsa mulai mengangkat janggutnya.
Seketika kedua pundak Shan langsung terlihat lesu. "Jadi kak Salsa bo'ongin Shan ya kemarin?"
"IYA! WLEKK DASAR SHAN BODOH!" ejek Salsa, kemudian langsung berlari keluar dari kamarnya Shan. Shan pun tidak tinggal diam, dia turut mengejar kepergian bocah menyebalkan itu.
Di tengah larinya yang kencang, Shan juga berpapasan dengan Chandra yang tengah berjalan, hendak menuju kamar.
__ADS_1
"Hei jangan lari-larian Shan!" teriak Chandra tanpa mendapat respon sama sekali dari Shan.
Glubug!
"Huaaaaa!!" Suara tangisan langsung menggema diseluruh ruangan. Tangis siapa lagi kalau bukan Shan.
"Nahkan papa bilang juga apa?!" ucap Chandra yang kini menghampiri tempat Shan terjungkal. Rahang Chandra yang telah mengeras ditambah kedua tatapannya yang melotot berhasil membuat Shan langsung berhenti menangis.
Lebih baik segera berhenti menangis atau Chandra benar-benar akan menerkamnya. Dalam pikiran Shan seperti itu.
"Berdiri!" tegas Chandra.
Shan yang masih tergeletak di permukaan lantai itupun langsung berdiri tegak. Rasa sakit yang bersarang pada pergelangan kakinya dia tahan mati-matian. Ingat tidak boleh mengeluh apalagi keluar air mata lagi, karena ini salah Shan sendiri. Shan sadar jika dia menuruti cegahan papanya tadi, pasti hal ini tidak akan terjadi padanya.
"Coba liat." Chandra menyentuh kedua kaki Shan. Diawali dari atas sampai kebawah, dan...
"Akkhh!" Rintihan kesakitannya tidak bisa dia pendam lagi ketika tangan Chandra menjangkau pergelangan kakinya. Itu bagian Shan yang kesakitan. Pasti Shan tadi saat jatuh pergelangan kakinya sedang tidak siap, dan akhirnya tertekuk.
"Udah dibilangin kalo di dalem rumah itu gak boleh lari-lari Shan!" Chandra langsung memberondong gadis ini dengan berbagai macam omelan.
"Kan jatoh jadinya. Terus kalo udah kayak gini gimana? Kamu mau kakimu gak bisa digunain lagi ya? Mau diamputasi, dipotong sama dokter?"
"Ini tuh bagian tubuh berharga tauk Shan. Jangan sembarangan kamu ya."
"Ma-maaf papa..."
Chandra membuang napas dengan kasar. Dia yang tadinya berjongkok kini berdiri. "Sekarang pergi ke kamar." perintah Chandra.
Shan menurutinya. Shan melangkahkan kakinya. Walaupun terseok-seok tapi dia tetap berjalan ke arah kamarnya berada.
__ADS_1
"Papa mau kamu tidur siang. Jangan main mulu, istirahat!" seru Chandra yang berada jauh di belakang Shan.
~tbc....