
Chandra memakai jaketnya tanpa menimbulkan suara. Rosa mengetahui jika Chandra sudah seperti itu berarti laki-laki itu hendak pergi sebelum Shan terbangun.
Kali ini Rosa menghentikan langkah Chandra. "Nanti kalo Shania nyariin kamu gimana? Shania tidurnya udah lama banget, pasti bentar lagi bangun. Oiya obatnya, gimana nanti minum obatnya? Aku gak bisa minumin sendiri obatnya."
Chandra mendesah sekilas. "Ada mama, minta tolong aja ke mama suruh pegangin Shan nanti pas minum obat. Aku ada urusan penting banget nih."
"Ta—tapi kemana kamu?"
Chandra langsung melemparkan tatapan sinis. Sudah tau Chandra tidak suka jika harus ditanya-tanya akan tujuannya, tapi Rosa malah menantangnya.
Rosa merasa keselamatan dirinya sudah berada di ujung tanduk. Sebentar lagi Chandra murka... Sangat murka...
Tapi....
Ternyata tidak. Chandra menarik lengan Rosa untuk berpindah tempat. Dia membawa Rosa keluar ruangan. Pokoknya yang jauh dari hadapan Shan, karena Chandra tidak mau Shan terbangun karena aktifitas mereka.
"Rosa tolong ya jaga Shan pas aku pergi. Lagi pula ada mama, kalo ada apa-apa mama juga pasti akan turun tangan."
"Sebenarnya kamu mau kemana Chan? Kenapa seperti akan sangat lama?"
"Tidak lama, mungkin pulangku nanti sore, atau gak gitu malam."
"Lama itu Chan."
"Ck, gausah berisik. Udah deh jagain Shan aja aku mau ngurus surat jaminan kesehatan biar bisa ngelunasin biaya pengobatan Shan!" Tanpa sadar nada bicara Chandra meninggi. Chandra sudah tidak bisa menyembunyikan lagi kesusahan dan kegundahan hatinya. Semuanya lepas bagitu saja.
Tatapan Rosa kini berubah menjadi sendu. Bibirnya yang bergetar mulai bersuara. "Kenapa kamu gak bilang sama aku, aku bisa bantu Chan. Aku punya uang."
Chandra memutar kedua bola matanya lalu menggertakkan deretan giginya berkali-kali.
Rosa masih bersuara lagi.
"Aku akan kasih berapa kurangnya. Aku akan bilang ke ayah suruh transfer langsung ke rumah sakit ini."
"GAK USAH!" teriak Chandra spontan.
Suara Chandra yang lantang seketika mengundang seluruh penjuru pasang mata. Kini Chandra dan Rosa menjadi pusat perhatian para penghuni rumah sakit.
Chandra mengumpat di dalam hati. Saat ini dia sangat ingin memukul Rosa karena dialah penyebabnya. Sekarang Chandra-lah yang malu.
"Aku akan telfon ayah." ucap Rosa yang masih belum mau mengalah.
Chandra menahan lengan Rosa yang hendak pergi. Bukan menahan lagi, melainkan mencengkeram dengan sangat keras.
Rosa seketika meringis kesakitan. Tapi perempuan itu masih juga belum menyerah. "Aku gak peduli Chan, mau lenganku lepas pun setelah ini aku akan tetap nelfon ayah."
Terlihat jelas bagaimana rahang Chandra yang semakin mengeras. Tapi pertahanan Rosa pun juga demikian. Rosa memiliki tekad yang lebih besar, yang tidak dapat dihancurkan hanya karena kemarahan Chandra seperti ini.
Chandra akhirnya melepaskan cengkeramannya. Rosa langsung menyentuh bagian lengannya itu yang begitu terasa menyakitkan. Pasti sebentar lagi meninggalkan bekas lebab membiru.
"Telfon aja ayahmu. Lagi pula percuma, ayahmu gak akan mau ngelunasin biaya pengobatan seorang anak haram Sa."
Deg.
Ucapan Chandra sangat menohok. Air mata Rosa terjun bebas begitu saja.
Chandra hanya menyeringai melihat benteng pertahanan Rosa yang akhirnya runtuh dalam sekejap. Chandra menang, dan dia sangat bangga bisa menjatuhkan perasaan perempuan yang berada di hadapannya itu.
__ADS_1
Rosa menundukkan wajahnya dalam-dalam. Pundaknya terlihat bergetar hebat, dia menangis terisak dengan sangat pilu.
Chandra masih berada di tempat. Hatinya tidak merasa kasihan sama sekali melihat tetesan air mata yang terus-terusan berjatuhan di permukaan lantai.
Hingga akhirnya Chandra memutuskan untuk pergi meninggalkan sosok terisak tersebut.
"Tidak adakah kata maaf untukku Chan?"
Deg.
Baru melangkah tiga langkah kaki Chandra seketika tercekat di tempat karena pertanyaan Rosa.
Chandra enggan berbalik namun anehnya kedua kakinya pun juga enggan untuk melangkah ke depan. Sebenarnya kenapa laki-laki itu?
"Chan, aku memang manusia yang sangat berdosa tapi... tapi aku tetap mamanya Shania."
"Cukup!" teriak Chandra. Laki-laki itu langsung balik badan dan menghampiri Rosa. Dia mendorong Rosa dengan kasar sampai punggung perempuan itu menghantam tembok di belakangnya.
"Diem lo Sa. Gak usah sebut diri lo mamanya Shan. Lo gak pantes. Lo gak pantes sama sekali jadi mamanya Shan terlepas apa yang pernah lo lakuin di masa lalu!"
Emosi Chandra meledak-ledak. Chandra benar-benar tidak peduli jika semua orang kini menyaksikan aksinya memaki-maki Rosa. Di hadapan umum. Di koridor rumah sakit yang lumayan ramai. Dirinya benar-benar tidak peduli.
"Rosa asal lo tau, Shan gue itu adalah anak yang sangat sial karena terlahir dari rahim lo."
Deg.
Tangisan Rosa semakin menjadi. Rosa tidak percaya jika Chandra akan mengatakan hal itu. Lidah Chandra layaknya anak panah yang langsung menghunus hatinya. Sakit, sangat sakit....
Rosa kini bersimpuh. Dengan sesenggukan hebat Rosa menyentuh sepatu Chandra dan bersujud disana.
"Maaf Chan, maaf. Aku gak tau kalo akan berakhir seperti ini. Chan aku menyesal. Aku sangat menyesal. Aku menyesal seumur hidupku. Tolong maafkan aku Chan..."
"LEPAS!!!!"
Duggghhh.
Chandra menendang tubuh Rosa.
"Kak Elsa!"
Shan bisa melihat sendiri bagaimana tubuh kakak kesayangannya itu terpental karena tendangan dari sang papa.
"Papa ini apa-apaan???"
Chandra sangat kaget kenapa Shan tiba-tiba muncul dari pintu. Shan digendong oleh mamanya. Pasti mamanya lah yang sengaja membawa Shan kesini.
Rosa bangun dengan sendirinya tanpa ada yang membantu. Perempuan itu membersihkan pakaiannya, menghapus air matanya sekilas lalu bersikap biasa saja seolah tidak pernah terjadi apa-apa.
Rosa membaur ke arah Shan, sedangkan Chandra masih mematung di tempat karena syok dengan kedatangan putrinya di momen yang tidak tepat.
"Papa jahat." ucap Shan dengan suara lemahnya.
"Enggak Shan, Shan tadi salah lihat. Bukan papamu, kita tadi gak seperti itu. Itu tadi salah paham—"
"Diem kak Elsa." cegah Shan. Shan beralih melihat sekujur tubuh Rosa dari atas hingga bawah. "Mana yang sakit kak? Mana yang ditendang papa?"
Rosa masih bersikeras menggeleng. Ini membuat Shan emosional. Shan kini menjerit dan menangis.
__ADS_1
"Kenapa gak ada yang jujur sih sama Shan??? Shan tanya mana yang sakit kak Elsa gak mau jawab! Papa juga nendang kak Elsa! Jadi selama ini papa sering nyakitin kak Elsa dibelakang Shan ya?!"
"Sudah Shan, sudah..." Dewi mengusap dada Shan, mencoba meredam emosi Shan.
"Utii, kenapa dua orang ini seperti ini uti?? Mereka ini sebenarnya orang baik atau tidak sih ti hiksss??"
Ucapan Shan begitu menyayat hati, ditambah dengan tangisannya yang memilukan membuat siapapun yang mendengarkan akan ikut teriris.
Chandra sudah menitihkan air mata entah sejak kapan. Sebagai seorang papa Chandra lagi-lagi mengecewakan Shan. Dan sekarang, image Chandra pasti sudah sangat turun di mata Shan.
Payah, payah, payah...
Selalu saja karena ketololan yang diperbuat Chandra.
......***......
Malam hari menjelang...
Sudah malam seperti ini namun Shan masih juga belum mau tidur. Anak kecil itu diam membisu seribu bahasa. Dia hanya memiringkan tubuhnya ke arah tembok. Melihat tembok yang dingin tanpa bersuara sama sekali.
Shan masih sangat kecewa dan enggan berbicara kepada siapapun.
Orang-orang lain di dalam ruangan pun senyam. Semuanya bingung harus melakukan apa sekarang.
Chandra sedari tadi, semenjak kejadian tadi belum berani mendekat ke arah putrinya. Shan pasti menolaknya, anak itu pasti tidak mau bersama papanya.
Kini tidak ada yang dilakukan oleh Chandra, Rosa ataupun Dewi. Ketiganya hanya diam sembari memantau Shan dari kejauhan.
Chandra melepas jaket yang melekat di tubuhnya sejak tadi siang. Niatnya yang hendak pergi ke kelurahan untuk mengurus surat jaminan kesehatan tidak terealisasi karena halangan tadi. Jadi harus kapan Chandra mencari surat tersebut, mengingat tagihan obat sudah menunggu sejak kemarin untuk dibayarkan. Ini rumah sakit milik umum, jadi Chandra harus bertanggungjawab akan kewajibannya.
Chandra merogoh ponselnya dari kantong. Laki-laki itu akhirnya memutuskan untuk mencari pinjaman online saja.
Rosa yang mengetahui gelagat Chandra yang mencurigakan lantas keluar dari ruangan.
"Mau kemana Rosa?" tanya mama Dewi.
"Ke kantin sebentar ma." jawab Rosa yang ternyata adalah kebohongan.
Rosa kembali setelah 5 menit kepergiannya. Dia datang dengan membawa sebuah struk di tangannya. Struk tersebut lalu dia serahkan tepat di hadapan Chandra.
Chandra seketika melongo mengetahuinya.
Tagihan rumah sakit telah lunas sekarang.
"Papa..."
"I-iya." Masih larut dalam keheranannya akan tagihan yang sudah lunas tiba-tiba Shan memanggilnya.
Chandra lekas mendekati sang putri.
"Kenapa sayang?"
"Shan pengen poop."
Akhirnya Shan sudah mau berbicara dengan Chandra.
~tbc...
__ADS_1