
Pemandangan langit-langit yang berwarna putih bersih berhasil ditangkap oleh netra milik Shan. Bocah itu tau, kini dirinya tengah berada di kamar tamu, kamar yang telah dia tempati bersama sang papa.
Shan mengerjap beberapa kali, mencoba memusatkan pandangannya yang masih mengabur.
"Shan udah bangun?"
"Uti...." panggil Shan dengan suara yang lemah.
"Iya Shan uti disini sayang."
Lelehan air mata sang nenek seketika membuat Shan bingung. Kenapa utinya itu menangis? Ada apa?
Shan hendak menanyakan itu semua, tapi Dewi mencegahnya. "Kamu istirahat dulu aja ya sayang."
Shan pun mengangguk.
Dewi menemani Shan dalam lelapnya kembali. Hingga akhirnya perempuan paruh baya itu menyadari bahwa wajah sang cucu membengkak. Perlahan tangan rentanya menyentuh kening Shan.
"Shan demam..." lirihnya. Dewi kemudian bergegas menuju dapur, mencari piranti untuk mengompres kening cucunya itu.
"Uti sebenarnya Shan kenapa?" Jimmy menghadang sang nenek di depan pintu pas.
"Sudah sana kamu minggir. Telepon saja mama sama papamu, suruh mereka cepat pulang."
"Gak diangkat ti."
"Coba lagi Jimmy."
__ADS_1
"Om Chandra juga gak diangkat."
"Astaga Chandra." ucap Dewi dengan putus asa.
...****...
Di kediaman Wanda yang terlampau sepi dan sunyi, seonggok tubuh bongsor laki-laki itu tidak bergerak sama sekali di atas empunya ranjang. Dia masih dalam posisi yang sama sedari subuh menjelang. Masih tidur terlentang sangat pulas, dengan diselimuti oleh kedua lengan yang memeluk erat. Lengan milik siapa lagi kalau bukan milik Wanda.
Hingga akhirnya suara alarm yang berada di atas nakas berbunyi sangat nyaring. Chandra terkejut, dengan sepasang kelopak matanya yang masih terasa berat, dia mencoba melirik ke arah penunjuk waktu tersebut.
"Jam 12?" Gumamnya. Dan sedetik kemudian matanya langsung melotot karena baru tersadar. "Astaga sinting gue!"
Chandra bergegas menyingkirkan tubuh Wanda yang masih menempel di atasnya. Wanda-pun langsung terbangun dan protes. "Chandra aku masih ngantuk..."
Chandra tidak menggubrisnya. Dirinya semakin kelabakan ketika tahu ternyata sekarang ini telah pukul 12 siang. Dia pikir tadinya masih pukul 12 malam karena kamar Wanda yang penerangannya temaram. Dan setelah Chandra menyingkapkan gorden jendela, denyut jantung Chandra langsung berdebar tidak karuan.
"Gila! Gue bener-bener gila!"
Wanda mencegah Chandra yang tergesa memakai pakaiannya itu. "Mau kemana Chan? Ini weekend. Disini aja."
"Lo sinting! Gue harus pulang! Gara-gara lo ya gue jadi lupa waktu gini!" Wanda akhirnya tidak luput dari luapan emosi Chandra.
"Ckk! Shan-ku pasti udah nungguin di rumah!" Laki-laki itu kini meraih ponselnya. Melihat spam telepon yang tertera pada layar benda pipih itu. Dan benar, semua orang rumah telah mencarinya sedari kemarin.
......***......
Chandra's POV
__ADS_1
Aku melajukan mobilku dengan kecepatan di atas biasanya. Sial, apa yang sudah aku lakukan kemarin. Aku benar-benar sudah tidak waras. Chandra gila!
Citttttt....
Mobilku akhirnya sampai di depan rumah, tapi...
"Kenapa pagarnya dikunci?" Aku mendongakkan kepalaku, mencoba melihat ke arah dalam pagar.
"Pintu rumah juga tertutup semua. Sebenarnya orang-orang pada kemana? Tidak biasanya..."
Aku lalu mengeluarkan ponselku dari kantor. Aku memutuskan untuk menghubungi nomer mama untuk membukakan pintu untukku.
Hihh, mama juga kemana. Kenapa teleponku tidak kunjung diangkat. Aku coba menghubungi nomer yang lain. Nomer kakakku, Yolla.
Dan sial, dia juga tidak kunjung menjawab teleponku. Tidak menyerah, akan kucoba lagi.
"Chandra!" Sebuah suara akhirnya mengagetkanku. Yolla datang dari arah belakang. Aku melihat mobilnya dia berhentikan di belakang mobilku.
"Lo dari mana aja Yol?" tanyaku yang langsung mendapatkan sentakan dari perempuan itu. "Gue yang harusnya tanya lo dari mana aja Chan!"
"Apa sih?"
"Shan sakit! Dia ada di rumah sakit sekarang!"
Deg.
Seketika aku rasanya seperti terserang serang jantung.
__ADS_1
~tbc....