
Author's POV
Shan kini tengah bermain bersama Salsa dan Jimmy di ruang TV, tanpa pengawasan dari Chandra. Laki-laki itu memilih untuk tidur di kamarnya karena merasa ngantuk. Mungkin akibat semalaman tidak tidur karena mengurus Shan yang suhu tubuhnya naik.
Dewi sang nenek datang dari arah ruangan lain. "Hei ayo kak Salsa sama kak Jimmy ganti baju dulu, besok seragamnya masih dipakek lagi loh."
Jimmy, si anak laki-laki usia 8 tahun menurut. Dia langsung pergi menuju kamarnya. Sedangkan Salsa...
"Entar ti, aku masih main ini loh."
Dewi bisa melihat sendiri dua anak perempuan kecil itu tengah memainkan balon, menggerakkan benda berisi udara itu seolah bernyawa dan dapat berbicara.
"Ayoo Elsa kita akan meluncur dari bukit bersalju. Ciaaaaa!"
"Wuss wuss wusssh..." timpal Shan.
Dewi hanya bisa menggelengkan kepalanya, baiklah perempuan paruh baya ini akan menunggu hingga cucunya lengah dan mau berganti pakaian.
Memang seperti itu jika Shan dan Salsa telah bermain, mereka akan lupa akan segalanya. Apalagi jika sudah membicarakan tentang film kartun favorit keduanya, Frozen. Hmm bisa sampai besok lusa selesainya.
Tapi yang namanya anak kecil, tidak setiap waktu mereka akan akur terus seperti ini. Pasti akan ada...
"Aaakh kak Salsa!"
Hmm saat yang dibicarakan telah dimulai.
"Hayoo ada apa nih?" Dewi mulai menengahi kedua cucu perempuannya.
"Kak Salsa minta Elsa-nya Shan ti. Dia maksa." ucap Shan, mengadu.
"Ihh enggak kok ti. Shan bo'ong ti." elak Salsa.
"Udah... Udah ayo main lagi aja."
Kedua anak ini lantas bermain kembali. Akan tetapi tidak seperti beberapa saat lalu. Pertengkaran membuat mereka saling membatasi diri mereka masing-masing. Mereka saling memunggungi, asik pada balon milik mereka sendiri. Kedua anak ini tengah perang dingin istilahnya.
Dewi tersenyum melihat aksi menggelitik yang dilakukan mereka itu, "Sudahlah yang penting gak bertengkar...", gumamnya.
Jimmy yang telah berganti pakaian kini juga ikut bergabung di ruang TV. Mendudukkan pantatnya di sebelah sang nenek. Anak itu mulai meraih sehelai benang yang diikat pada pinggiran kursi. Itu benang dari balon spiderman-nya.
__ADS_1
Ya tadi Chandra membelikan 3 balon sekaligus. Chandra sebenarnya tidak ingin, dia ingin membeli satu saja untuk Shan. Tapi Shan menggeleng, dia meminta Chandra untuk membeli untuk Salsa dan Jimmy juga. Shan benar-benar sangat memaksa. Bocah kecil itu selalu ingat akan dua sepupunya yang tinggal satu rumah dengannya. Selalu ingat.
"Adek ganti baju dulu dong, nanti seragamnya bau kecut." ucap Jimmy.
"Yaudah deh aku ganti baju dulu." Seperti biasa Salsa hanya menurut jika yang memerintah adalah kakaknya.
Seperginya Salsa kini Dewi menghampiri Shan yang masih terus asik bermain. "Shan... Mik obat dulu yuk, terus lanjut main lagi, oke?"
"Tapi tadi pagi habis dari dokter Shan sudah mik obat loh ti."
"Mik obat itu tiga kali sehari Shan. Kamu gak dengerin ya tadi pas dokternya bilang? Ihh asik makan permen mulu tadi ya." Dewi menoel pipi bocah kecil itu dengan gemas.
"Udah yuk mik obat dulu, biar cepet sembuh Shan."
Shan menurut lalu meraih tangan sang nenek yang diulurkan. Dewi kemudian menggandeng cucunya itu menuju ruang makan.
Karena obatnya sirup dan rasanya jeruk jadi Shan suka meminumnya. Dua tidak perlu harus dipegangi erat ataupun sampai harus dicekoki gadis itu telah meminum obat dengan mudahnya. Yang penting obatnya tidak pahit, begitu kata Shan.
"Aku main lagi ya ti!" seru Shan yang langsung berlari ke arah ruang TV lagi. Namun belum sampai ke tempat yang dituju langkah kaki kecil itu seketika tercekat.
"Aaakkh Elsa-ku!" teriaknya.
Shan berubah jadi sangat marah melihat balon Elsa-nya telah berada di tangan Salsa. Tidak, Salsa tidak sedang meminjamnya, pasti Salsa akan...
"GAK!" jerit Shan. Shan hendak mengambil kembali balonnya tapi Salsa tidak mengijinkannya. Hingga akhirnya terjadi aksi rebutan diantara keduanya.
Jimmy yang berada ditempat itu tidak peduli sama sekali. Popcorn yang berada dipangkuannya dan tayangan TV yang berada di depan sana jauh lebih menarik.
"Aakkh..." Seketika genggaman tangan Shan pada benang itu lepas begitu saja. Kini balonnya telah dimiliki oleh Salsa sepenuhnya.
Shan meringis merasakan perih sekaligus panas yang bersemayam di telapak tangannya. Shan mendongak memeriksa ke arah telapaknya dan ternyata... Telah memerah.
Shan sangat ingin menangis saat ini juga, tapi dia akhirnya mengurungkan niat itu. Dia tidak mau terlihat lemah dihadapan Salsa dan Jimmy. Mereka nanti pasti akan mengolok-oloknya.
Anak kecil itu akhirnya hanya bisa berdiam. Dia perlahan meraih balon Anna yang telah ditinggalkan oleh Salsa, lalu memilih untuk pergi ke pojok ruangan. Duduk menyendiri disana sembari memeluk erat balon itu. Hingga tanpa sadar dia tertidur dengan posisi seperti itu.
Keberadaan Shan tidak akan ada yang mengetahui. Salsa, Jimmy kedua sepupunya itu tidak akan melihat karena terhalang sofa.
Kurang lebih 30 menit berlalu, Shan akhirnya terbangun. Bukan terbangun karena keinginannya sendiri melainkan karena terkejut mendengar suara keras dari dua sepupunya.
Dua sepupunya itu sedang apa? Apa yang tengah mereka bicarakan sebenarnya?
__ADS_1
Shan bangkit dari posisinya. Dan ternyata kedua sepupunya sudah tidak berada di ruang TV. Entah mereka tengah berada dimana sekarang, Shan semakin penasaran.
Shan terus mengikuti arah suara, dan ternyata suara itu berada dari ruang makan. Shan tidak langsung ikut bergabung disana. Dia hanya mengintip di balik tembok.
Terlihat ada Salsa dan Jimmy disana. Ada Yola juga, mama kedua anak itu. Shan lantas bergumam, 'Tante Yola udah pulang...'
Pandangan Shan teralihkan pada sesuatu yang berada di atas meja makan. 'Apa itu? Oleh-oleh ya? Keliatannya enak...'
"Wahh enak sekali ma, rasa strowberry kesukaanku. Ada rasa coklat juga kesukaan kakak!" pekik Salsa sembari memakannya.
"Lain kali beliin kita martabak lagi ya ma."
'Oh namanya martabak...' Shan akhirnya mengetahui nama makanan itu setelah mendengar ucapan Jimmy.
Shan sebenarnya sangat ingin bergabung disana. Mencoba mencicipi martabak yang lezat itu juga. Tapi sayangnya tidak ada yang menyuruhnya. Akhirnya Shan hanya bertahan di tempat. Terus mengintip kedua sepupunya yang sangat lahap menyantap makanan itu.
"Mama beli martabak ini tadi dimana?"
"Beli di mall sayang."
"Hah mama pergi ke mall? Ish kok aku sama kak Jimmy gak diajak sih?"
"Haha, kan kalian masih sekolah. Besok deh besok, emm hari minggu kalian akan mama ajak ke mall. Janji."
"Yeayyy!!" pekik Shan dari tempat keberadaannya.
Yola, Salsa dan Jimmy seketika mengernyit kemudian saling melemparkan tatapan satu sama lain.
"Shan gak sabar hari minggu buat ikut ke mall."
"Tapi kamu gak diajak Shan! Huss sana pergi!" usir Salsa.
'Loh kok gitu...' Shan tidak menyerah, kini dia melangkah menghampiri sang tante.
"Tante tante, Shan dibolehin ikut ke mall kan?" tanyanya dengan sorot mata yang sangat memelas.
"I-iya boleh kok boleh..."
"YEAYYY!" Shan lantas memeluk tubuh Yola. "Makasih ya tante..."
Salsa seketika mendengus sebal, tapi Shan tidak peduli sama sekali, dia malah menjulurkan lidah kearahnya sebelum pergi.
__ADS_1
"Udah udah, makan aja makan. Abisin martabaknya." suruh Yola pada kedua anaknya.
~tbc...