
Chandra's POV
Aku mempersiapkan Shan terlebih dahulu sebelum melakukan kemo. Seperti biasa, persiapannya ya memandikan dia lalu memakaikan baju yang nyaman, dan menyuapinya sarapan untuk isi tenaga agar tidak lemes, ya walaupun nanti setelah kemo efeknya tetap lemes.
Alhamdulillah sekali Shan kemo kedua ini sudah tidak serewel yang pertama. Dia sudah memiliki keberanian yang besar, dan tentunya semangat yang besar juga. Katanya biar cepet sembuh terus pulang ke rumah main sama kak Salsa dan kak Jimmy. Amin ya, Shan.
Aku menuntun Shan menuju ruangan kemo. Kita akan langsung menemui dokter Hans disana. Sepertinya pak dokter lumayan sibuk, buktinya saja dia sampai tidak sempat menjemput Shan seperti kemo yang sebelumnya.
"Halo Shan..."
Nah, sampailah kita di ruangan yang dimaksud. Langsung disambut dengan sapaan ramah dokter Hans.
Aku lalu menaikkan Shan ke atas sofa sesuai arahan dokter Hans. Shan gemes sekali, dia memeluk erat boneka beruangnya, sampai-sampai bonekanya menjadi mengkerut kecil.
Aku sudah menawarkan berkali-kali untuk ku pangku, tapi Shan-nya tidak mau. Dia mau duduk sendiri ya walaupun dirinya terlihat sangat gugup seperti itu.
Seorang perawat datang dengan mendorong tiang infus. Shan kelihatan semakin tegang dan berpeluh. Aku lalu berjongkok di dekatnya. Ku raih tangan mungilnya itu untuk kugenggam. "Rileks sayang, Shan pasti bisa. Ini kan bukan kali pertama Shan. Shan pasti udah lebih kuat sekarang. Cupp..."
Aku mengecup punggung tangannya sekilas. Terasa sangat dingin tangan milik Shan. Dia benar-benar takut dan gugup. Aku bingung harus menguatkannya bagaimana lagi...
Aha aku tau!
"Shan mau liat youtube?" Aku mengeluarkan ponselku dari kantong lalu menyetel youtube dari sana.
Cocomelon kesukaan kedua Shan setelah Frozen.
Tayangan kesukaannya telah kuputar disusul dengan rintihan Shan yang memilukan karena jarum infus itu kini berhasil menembus pembuluhnya.
Aku sendiri bergidik ngeri. Sedewasa apapun manusia, sebesar apapun tubuhnya pasti akan tetap merasakan sakit jika ditusuk dengan jarum suntik.
Tapi keren, Shan tidak menangis.
Dia benar-benar telah tumbuh menjadi gadis kecil yang kuat.
Papa sangat bangga denganmu Shan sayang...
Beberapa jam berlalu, entah ini kantong infus yang ke berapa, sepertinya 3. Semuanya telah kosong isinya.
"Horeee Shan berhasil. Akhirnya kemonya sudah selesai, Shan!" ucap dokter Hans lalu perlahan melepaskan jarum infusnya. Dokter Hans membersihkan bekas tusukan menganga yang bersemayam di punggung tangan Shan, lalu menutupnya menggunakan plaster warna merah muda.
Shan sendiri yang request mau warna itu.
"Baru kali ini dokter ketemu sama anak yang sangat hebat. Shan benar-benar anak ajaib. Toss dulu Shan!"
Prokk
Setelah kemo kedua usai, Shan lalu diperbolehkan untuk kembali ke kamar rawatnya.
Efek kemo langsung kelihatan pada fisik Shan. Padahal langkah kita masih sampai di koridor, belum ada 30 menit sejak pengobatan tadi.
"Papa, Shan pengen muntah..." keluhnya.
Aku langsung menggendongnya. Dan benar kan, bukan hanya tampilan fisiknya saja yang lemas, tubuhnya benar-benar lemas. Mengangkat kepalanya saja Shan tidak berdaya.
Aku melarikan Shan menuju kamar mandi terdekat. Yang terdekat saja karena aku tidak yakin muntahannya itu dapat ditahan sampai ke kamar mandi ruangannya.
__ADS_1
Sesampainya di dalam kamar mandi, aku langsung mengarahkan Shan ke arah kloset. Memijit tengkuknya perlahan.
"Muntah saja sayang. Ayo muntahin..." suruhku.
Shan udah mencoba untuk huek-huek tapi ternyata tidak bisa. Tidak ada yang berhasil dia keluarkan dari dalam lambungnya.
Aku menghabiskan waktu kurang lebih satu jam di kamar mandi, terus berusaha membantu anakku untuk muntah namun sayangnya masih tetap saja. Shan tidak muntah apa-apa.
Aku akhirnya mengajaknya untuk keluar.
"Jangan keluar dulu nanti kalo Shan muntah gimana? Hiks..."
Shan menolak untuk kuajak keluar. Dia memiliki ketakutan jika muntah di tengah perjalanan sebelum sampai di kamarnya.
"Tapi Shan, ini kayaknya cuma perasaan Shan aja mau muntah, padahal cuma mual sayang."
"Enggak pa, Shan mau muntah ini tuh..." Shan terus mengelak sembari menangis.
Mungkin rasanya memang sangat tidak nyaman. Antara ingin muntah ataupun mual dia sendiri juga bingung. Shan eneg. Eneg yang sangat parah. Dia sangat ingin memuntahkannya saja agar lega, tapi sayangnya tidak bisa.
Itu pasti sangat membuatnya menderita.
Seketika aku menjadi sedih melihat putriku yang seperti ini.
Shan akhirnya berhenti. Dia berhenti menangis dan mengakhiri percobaannya untuk mengeluarkan isi lambungnya. Dia menyerah karena sudah sangat capek terus berada di kamar mandi ini dengan kondisi yang tidak jelas antara mau muntah atau tidak.
Aku lalu menggendongnya dan meyakinkannya kalau kita akan cepat sampai di kamarnya. Dan kalau rasa ingin muntahnya yang sungguhan datang tidak apa-apa, Shan bisa muntah di baju papanya ini.
Tidak apa-apa Shan. Papa tidak akan marah.
Shan tidak ada hasrat untuk mendongak. Dia sedari tadi menggantungkan janggutnya pada pundakku. Dia menghadap ke belakang karena aku menggendongnya dengan posisi seperti bayi koala.
"Yeayy udah nyampek sayang—Eh!"
"SURPRISEEE!!!" pekik banyak orang.
Aku terkejut ketika membuka pintu. Begitupun dengan Shan.
Ternyata semua keluargaku berada di kamar rawat Shan. Mama, kak Yolla, kak Ken dan anak-anaknya yaitu Salsa dan Jimmy ada disini.
Mereka memberikan kejutan untuk Shan!
Shan sudah menoleh ke arah depan sedari refleks tadi. Dia mengamati seluruh keluarganya satu persatu.
"Hayoo siapa yang dari kemarin gak sabar mau main sama kakak-kakaknya?" bisikku dan seketika itu Shan langsung sumringah.
Shan minta diturunkan dari gendongan tapi dia tidak langsung menghambur ke arah dua kakak sepupunya itu.
Dia malah bersembunyi di belakang kedua kakikku.
"Loh kenapa malu-malu gitu? Ayo Shan sayang, mainlah." ucap kak Yolla. Kakakku itu lalu mengambil sebuah kantong kresek berukuran besar yang berada di atas sofa. Dan ternyata kantong itu isinya mainan semua.
"Salsa sama Jimmy ngemas mainannya dari semalam. Ayo buruan kalian main bareng dong anak-anak."
Salsa dan kakakknya langsung menghambur ke arah suara sang mama. Salsa yang telah menaiki sofa akhirnya melambai ke arah Shan.
__ADS_1
"Ayo sini Shan..."
Aku menoleh ke bawah untuk melihat Shan. Shan mendongak ke atas melihatku sejenak, lalu akhirnya dia mau menuju ke arah Salsa.
Ah dasar bocah ini, pakai acara malu-malu kucing lebih dahulu sebelum bermain.
Hari ini ternyata memang sangat sengaja semua anggota keluargaku berkunjung kesini. Kata mereka mau memberikan semangat untuk Shan karena hari ini hari kemo Shan yang kedua.
Ahh aku jadi tersipu dibuat mereka. Terimakasih ya telah meluangkan waktu untuk Shan seperti ini. Aku sangat bersyukur memiliki keluarga yang sangat perhatian seperti ini.
"Chandra."
"Iya ma?"
"Tolong kesini sebentar nak, bantu mama buka wadah gula ini ya, susah sekali. Mama mau bikinin teh nih."
"Oh oke mama." Aku bergegas menuju mama yang berada di pantry.
"Mama mama, Salsa pengen pipis. Ini resletingnya susah di buka."
"Sini mama bukain sayang."
"Mama mama! Jimmy pengen makan snack."
"Iya ambil sendiri kakak sayang. Buka sendiri ya, ini mama masih bantu adek."
"Tapi mama Jimmy gak bisa buka. Gak ada gunting. Papa kemana sih?"
"Papa masih keluar. Minta tolong uti aja ya. Mama tolongin Jimmy mau buka snack gak bisa. Ma!"
"Iya iya uti dateng."
"Ma wadah gulanya udah kebuka nih." ucapku, memberitahu mama.
"Ma saklar kamar mandi yang mana ya?!" tanya Yolla.
"Ma wadahnya taruh mana nih? Nanti ke senggol tumpah!" tanyaku.
"Ma buruan lampunya ini yang mana, Salsa udah kebelet." Yolla lagi.
"Ma ini keburu disemutin." Aku lagi.
"Ya Allah ma anakku keburu ngompol."
"Ma!"
"Ma!"
"Mama!"
"Maaa!"
"Cukup!" jerit Shan hingga akhirnya seluruh ruangan menjadi hening.
~tbc...
__ADS_1