
"Memang seperti itu efek sampingnya pak Chandra... Selain mual dan muntah, terkadang juga terjadi perubahan mood pada pasien yang baru saja menjalani kemoterapi."
"Ta-tapi itu tidak apa-apa kan dok?"
"Iya, anda tenang saja. Efeknya kemungkinan akan segera hilang keesokan hari."
Aku mengangguk mendengar penjelasan dokter walaupun dalam hati masih merasa trauma sekali karena tadi Shan itu muntahnya sangat banyak.
Sampai banjir tadi di kamar, sampai jadi lautan susu formula.
"Baiklah dok kalau begitu saya kembali dulu ya, takutnya nanti Shan kebangun dan nyariin saya."
"Oh iya pak, silahkan..."
Aku lalu keluar dari ruangannya dokter Hans. Kemudian menuju kamar rawat tempat Shan berada.
Anak kecil itu sekarang ini tengah tertidur. Kondisinya lemas dan kecapekan karena habis muntah-muntah hebat. Dan mungkin efek lain dari habis kemo adalah kantuk juga.
"Shan?" Aku mencoba membangunkannya karena Shan sudah tidur sangat lama, hampir 6 jam. Dan kini hari telah berganti sore, waktunya dia mandi.
"Sayang kamu gak bangun? Bangun dulu yuk mandi, abis itu boleh tidur lagi Shan..."
Shan hanya menggeliat sebentar, lalu mengubah posisinya menjadi berbaring ke arah sebaliknya. Dia benar-benar tidak ingin bangun.
"Shan belum makan juga loh. Setidaknya makan Shan..."
Aku sampai mengguncang-guncangkannya, mendudukkannya dengan paksa walaupun kedua matanya masih tertutup rapat.
"Ah papa Shan kan masih ngantuk." ucapnya yang kini kembali merebahkan diri.
Aduh, bagaimana ya?
Yasudah kuturuti saja. Biarkan dia melanjutkan tidurnya itu.
Aku kemudian beranjak ke arah kamar mandi. Aku menyiapkan air hangat dan juga handuk. Untuk kali ini Shan ku seka saja tubuhnya, tidak perlu mandi. Ingat, hanya kali ini saja ya. Jangan sampai jadi kebiasaan.
"Papa geli hihihi..." Shan tertawa di tengah tidurnya, dia ngelindur.
Setelah membasuh seluruh tubuhnya, aku lantas menggantikan dia baju yang bersih dari lemari. Karena cuaca hari ini lumayan gerah jadi aku memakaikan dia pakaian yang tipis saja.
Aku tidak lupa menyisir rambutnya juga. Tapi...
A—apa ini Shan? Rambutmu rontok?
...***...
Keesokan paginya...
"Papa bangun! Shan mau sekolah pa!" teriakan Shan seketika memekakan telingaku. Aku bangun sambil mengorek-orek telingaku yang rasanya peng peng peng, sakittttt!
"Ih apasih Shan? Kamu mau kalo papamu budek ha?"
"Budek itu apa pa?"
"Budek itu gak bisa dengar!"
Ish Shan, pagi-pagi sudah berhasil membuat mood ku rusak saja. Dasar anak bandel, mau tau mulu deh.
__ADS_1
"Assalamu'alaikum..."
"Ehh utiii!!!" seru Shan dan langsung berlari ke arah pintu. Utinya telah datang, dan dia sepertinya membawa sesuatu ditangannya.
"Jawab salam dulu sayang..."
"Waalaikumsalam uti. Eh uti itu apa?" Shan menunjuk bungkusan tersebut.
Si Dewi lantas membuka bungkusannya diatas meja.
"Wahh telur dadar! Shan mauuu!" pekik anak kecil itu setelah mengetahui isi dari dalam rantang yang terbungkus rapat sebelumnya.
"Iya ini memang buat Shan, Shan belum sarapan kan?"
Shan mengangguk kemudian berlalu menuju nakas. Dia membuka laci disana dan mengambil sendoknya sendiri.
Shan kini telah siap akan menyantap telur buatan mama. Namun...
"Eitss stop!" Cegahku. "Bentar biar papa cicipin dulu."
Aku memakan dahulu telur dadar itu. Oke bagus, mama gak pakai penyedap ini. Minyaknya juga tidak banyak. Oke Shan boleh makan.
Shan langsung menyantapnya tanpa sempat mandi ataupun sikat gigi dahulu. Yasudah kubiarkan saja, aku sudah sangat senang kok melihat dia makan dengan lahap seperti ini.
Haha, sepertinya anak ini setengahnya kelaparan karena sejak kemarin skip makan dan memilih tidur terus.
"Abis ini sekolah ya pa!"
"Iya iya kunyah dulu Shan, kalo makan gak boleh sama ngomong."
"Iyaa."
"Enggak, hehehe."
Shan makannya lumayan cepat, entahlah mungkin dia juga mengejar jam sekolahnya. Anak ini benar-benar sangat memikirkan sekolahnya, dia tidak mau terlambat walaupun hanya semenitpun.
Aku sebenarnya sedikit khawatir dan bimbang. Emang boleh ya Shan masuk sekolah padahal kemarin habis kemo? Emm mungkin boleh ya, lagian Shan-nya juga sudah sangat fit.
Semoga tidak terjadi apa-apa nanti di sekolah.
"Eh eh eh jangan disisir!" Aku refleks mengambil alih sisir yang berada di tangan mama, lalu menyingkirkannya.
"Ke—kenapa Chan?"
"Emm rambutnya Shan kan udah rapi. Emm... Ini udah jam setengah 7 yaampun Shan, kita bisa terlambat. Ayo cepat kita berangkat!"
Aku langsung menggendong Shan beserta tasnya kemudian keluar melalui pintu.
'Maaf ma, aku harus berbohong. Aku hanya gak mau rambut Shan semakin rontok. Aku gak mau Shan botak...'
...***...
"Papaaa!" Shan melambai dari arah kejauhan. Aku pun langsung mempercepat langkahku, bahkan sedikit berlari untuk segera menaikkannya ke atas pelukanku.
"Cup..." Aku menciumi kening yang tertutupi poni basah bekas keringat itu. Hemm Shan, bau kecut.
"Gimana sekolahnya hari ini sayang? Seru??"
__ADS_1
"Seru sekali paa! Shan dapet 5 bintang dari bu guru!"
"Oh ya?"
"Iya pa, sini Shan kasih lihat." Shan hendak mengeluarkan suatu benda dari tasnya tapi aku menahannya.
"Nanti saja sayang kalo udah sampai di rumah oke?"
"Jadi nanti kita pulang ya pa?"
"Eng-enggak. Maksud papa, kalo nanti sampai di kamar rawat."
"Ohh..."
Aku melihat sendiri bagaimana perubahan ekspresi Shan. Dia sangat senang ketika aku mengucapkan kata rumah, namun rautnya seketika hilang ketika aku meralat perkataanku.
Shan, untuk sementara ini rumah kita adalah kamar rawat. Rumah sakit, Shan. Tapi tenang, ini cuma sementara Shan...
Aku kembali menciumi kening Shan dan seluruh bagian wajahnya. Sayang sekali aku rasanya pada anak ini.
"Papa Shan mau jalan sendiri."
"Gak Shan, papa mau gendong kamuu..."
Shan akhirnya hanya pasrah sampai ke kamar rawatnya, ya walaupun di sepanjang jalan dia terus-terusan menghela napas karena minta diturunkan. Haha Shan, kamu tidak mau dimanja-manja sama papa ya.
"Loh uti kemana pa?" tanya Shan yang kini tengah kugantikan pakaian sekolahnya.
"Ada kok, mungkin masih keluar kemana gitu. Entar juga balik. Kenapa nyariin uti hm? Kan udah ada papa disini?"
"Gak papa, kangen uti aja."
"Tumben sekali. Dah..." Aku lalu melepaskan Shan karena telah selesai menggantikannya. Anak ini lalu turun dari bed nya, kemudian mencari keranjang mainannya yang berada di sudut ruangan. Dia langsung mau bermain.
"Eh kok aku main sih? Kan aku masih mau kasih tunjuk papa bintang 5 ku tadi yang dikasih bu guru. Gimana aku bisa lupa sih??"
Shan beralih mencari tas sekolahnya kembali. "Papa lihat!"
Aku mendekat kearahnya. Sebuah buku dia tunjukkan kepadaku. Buku dengan deretan tulisan angka-angka 1 sampai dengan 5.
"Itu Shan yang nulis angkanya?"
"Iya pa."
"Wahh pinter sekali Shan sekarang udah bisa nulis angka sampai lima. Bagus sayang. Cup." Aku memberikannya sebuah reward kecupan hangat di sebelah pipinya.
Anak ini sangat senang, dia melompat-lompat ke udara tanpa berhenti. Baru mau berhenti saat aku menghentikannya.
"Udah udah nanti capek."
Shan masih menampilkan senyuman lebarnya, dan kini dia beralih menunjuk ke bentuk bintang yang berada di sudut bawah bukunya.
"Lihat, ini bintang dari bu guru pa! Shan dapet 5 bintang. Temen-temen Shan aja gak ada yang dapet 5, cuma Shan aja yang dapet 5 pa!"
Aku mendekapnya sangat erat. Memberikan pelukan penuh kebanggan pada Shan. Sumpah ya aku tidak habis pikir ternyata memiliki anak sepintar ini.
Amalan apa yang sebelumnya kulakukan ya Tuhan. Oh aku sangat bersyukur sekali...
__ADS_1
~tbc....