
Hari benar-benar terus berlalu. Aku sudah sampai lupa ini hari ke berapa anakku tinggal di rumah sakit. Entahlah, aku lupa menghitungnya.
Sejauh ini untuk pengobatan yang ditempuh masih sama. Shan masih hanya mengkonsumsi obat-obatan. Aku sendiri juga tidak tau kenapa seperti itu. Aku tidak tau kenapa anakku hanya harus minum obat, tidak melakukan pengobatan yang lainnya seperti terapi radiasi ataupun kemo layaknya penderita kanker pada umumnya.
Berkali-kali aku bertanya kepada dokter, namun dokter tetap mengatakan hal yang sama. Masih menunggu waktu....
Entahlah sampai kapan. Tapi aku yakin, dokter-dokter itu telah mengupayakan yang terbaik untuk kesembuhan Shan, tidak mungkin sebaliknya.
"Papa papa, itu anak-anak kecil itu mau kemana?" Shan menunjuk barisan anak kecil yang mungkin usianya tidak jauh dari Shan sedang menyusuri koridor. Shan sampai mendongak keluar dari balik kaca jendela saat anak-anak itu semakin menjauh dan bahkan sekarang sudah tidak terlihat lagi mereka.
"Anak-anak kecil itu ngapain pa? Mau kemana sih anak-anak kecil itu?"
Hahaha, perutku terasa seperti digelitik setelah mendengar ucapan Shan.
Shan... Kamu menyebut mereka anak kecil? Asal kamu tau ya, kamu itu juga masih anak kecil. Bahkan lebih kecil dari mereka.
Seorang perawat tiba-tiba masuk ke dalam ruangan tempatku dan Shan berada. Seperti biasa ini jam kunjungan pagi untuk cek kondisi Shan.
"Sus, sus, itu anak-anak kecil mau kemana? Kok pada jalan ke arah sana?" Shan masih sangat penasaran dengan objek yang dilihatnya beberapa saat lalu.
"Oh itu, mereka sekolah Shan." ucap perawat.
Seketika kedua mata Shan langsung berbinar. Sebuah kata yang sangat ajaib itu berhasil membuat Shan terkesima. Sekolah. Iya, aku tau itu keinginan Shan sedari dahulu.
Sudah tidak kaget lagi jika Shan langsung merengek kepadaku. "Papa, Shan pengen sekolah kayak mereka."
Sudah sangat bisa aku tebak.
......***......
"Shan mau tasnya warna pink terus ada gambar elsa-nya pa. Kalo gak gitu yang unicorn. Shan mauuu. Terus terus terus, nanti sepatunya Shan yang kayak punyanya kak Salsa, yang bagus itu loh pa."
"Iya iya iyaaa..." Aku hanya bisa menanggapi semua request-an Shan itu dengan kata iya sembari jariku bergerak lincah menggulir layar ponsel yang berada di tangan. Aku memutuskan untuk mencari semua kebutuhan sekolah Shan itu lewat toko online. Ya karena aku tidak punya waktu untuk keluar pergi ke mall atau kemana pun.
__ADS_1
Aku tidak bisa meninggalkan Shan untuk tinggal di rumah sakit sendirian. Walaupun hanya sebentar.
"Nah ini tasnya udah ketemu." seruku.
"Mana pa mana? Shan mah lihat!" Bocah kecil ini mendongakkan wajahnya mendekat. Wajahnya nyaris memenuhi layar ponselku.
"Gimana? Shan suka yang ini?" tanyaku.
Satu anggukan penuh semangat dia berikan. Diikuti dengan suara riang dan juga lompatan-lompatan tidak jelas di atas bed. Aku segera menghentikannya. Anak ini memang seperti ini jika sudah terlanjur senang.
Duhh Shan, ranjang rumah sakit ini bisa ambruk nanti.
"Pa, lalu kapan Shan bisa sekolahnya? Besok ya?"
Hah besok??
Tapi, tapi, tapi, aku belum mendaftarkan Shan. Aku bahkan belum tau pengelola sekolahnya siapa.
"Minggu depan aja gimana Shan? Kan tas sama sepatu yang dibeli juga belum dateng sayang."
Seorang perawat lagi-lagi datang dari arah pintu. Aku sedikit bingung karena ini bukan jam kunjungan lagi.
"Ada apa ya?" tanyaku pada perawat itu.
"Saya mau memberitahukan kalau Shan besok bisa sekolah."
"Hahhh???" Kaget dong aku. Bagaimana bisa?
"Tadi siswa atas nama Shan sudah didaftarkan oleh salah satu pengunjung RS. Dari datanya, yang mendaftarkan Shan itu adalah emm..." Perawat itu membalik lembaran kertas yang dia bawa. "Atas nama ibu Yolla."
What?? Yolla????
Oh berarti dia tadi pagi mendengar pembicaraanku dengan Shan bahwasannya bocah itu merengek minta sekolah.
__ADS_1
......***......
Hari yang sangat ditunggu-tunggu oleh Shan akhirnya tiba. Shan dengan dua kuncir kuda kini menenteng tasnya di punggung. Bukan tas miliknya sendiri melainkan tas pinjaman milik Salsa karena tas Shan sendiri masih disortir di gudang pengiriman lintas provinsi. Begitupun dengan sepatunya, sepatunya pun pinjam dari Salsa. Sepatu yang telah kekecilan di ukuran kaki Salsa, namun masih sangat bagus. Jelas baguslah, Yolla mana mau membelikan anaknya barang murah? Yang ada malah alergi.
"Papa aku sudah cantik belum?"
"Sudah sayang." Aku menyisir poninya, mencoba merapikan poninya itu walaupun aku sangat yakin jika rambut-rambut itu tidak akan bertahan lama akibat tingkah petakilan yang akan dilakukannya nanti.
Walaupun Shan sakit, tapi dia masih sangat hiperaktif. Sudah berkali-kali aku memberitahukan hal ini bukan. Shan benar-benar tidak ada bedanya, masih sama seperti dulu.
Shan sekarang sudah siap. Aku menggandeng tangannya dan menuntunnya menuju sekolah. Sekolah yang dimaksud ini masih berada dilingkungan rumah sakit, tepatnya masih satu gedung dengan rumah sakit.
Disini memang sangat canggih. Semua sarana dan prasarananya sangat lengkap. Aku baru tau kali ini ada suatu rumah sakit khusus anak yang menyediakan tempat untuk bersekolah. Hmm... Pendirinya benar-benar sangat peduli dengan hak para anak-anak yang sakit.
Shan dalam jenjang sekolahnya ini masih dalam jenjang yang paling dasar. Atau yang biasa kita sebut dengan playgroup. Menurut di buku panduan yang telah kubaca semalam, sekolah playgroup ini nanti isinya cuma bermain, melatih motorik, dan seni. Enak banget kan ya...
"Papa, Shan gugup."
"Lah kenapa?" Aku memandang Shan yang berada jauh di bawah. Posturnya yang masih kecil dan pendek sangat kontras dengan tinggi tubuhku hingga akhirnya aku memutuskan berjongkok untuk menyamainya.
Aku memegang kedua pundak kecilnya dan menatapnya dalam-dalam. "Kenapa sayang? Gak usah gugup, kan ada papa."
"Shan takut temen-temen Shan nanti nakal-nakal."
"Gak akan... Gak akan ada yang berani nakalin Shan nanti."
Shan malah menundukkan kepalanya. Entahlah kenapa dia tiba-tiba terlihat lesu seperti ini. Kenapa dia yang tadinya sangat bersemangat tiba-tiba sampai di depan tempat sekolahnya langsung berubah sendu seperti ini?
"Shan, gini deh. Nanti papa ikut masuk. Papa akan temenin Shan terus, oke? Gak ada yang perlu ditakutin sayang karena papa ada di dekat Shan terus."
Shan akhirnya mau mengangkat wajahnya kembali. Dia kini menatapku. Kita berdua saling beradu pandang sangat lama, hingga akhirnya kedua lengan kecilnya menghambur dan memeluk leherku.
"Terimakasih ya papa." bisiknya dengan sangat lembut tepat di telingaku.
__ADS_1
Sama-sama Shan-ku sayang...
~tbc...