
Terhitung sudah lengkap seminggu ini Joly berkerja sebagai pengasuh Shan. Seharusnya Joly semakin hari semakin terampil dalam mengasuh dan merawat Shan, akan tetapi kenyataannya tidak...
"Kak Jol, Shan pengen eek."
"Hahh?! Eek lagi???!" pekik Joly yang seketika meradang.
Shan ingin buang air besar, dan itu berarti akan menjadi pekerjaan yang amat sangat menyusahkan bagi Joly.
Bocah kecil itu sudah berlari menuju ke arah toilet. Shan menaikkan sendiri roknya lalu melepas ****** ******** sendiri.
"Kakkk ayo cepat, Shan udah gak tahan ini." seru Shan dari sana.
"Ish!" Joly menyusul Shan, lalu mengangkat tubuh anak itu untuk duduk diatas kloset karena Shan tidak sampai jika naik sendiri.
"Tangan kak Jol?" Shan meminta Joly untuk mengulurkan jemarinya. Shan selalu seperti ini jika sedang buang air besar. Berpegangan.
Joly hanya bisa memutar kedua bola matanya dengan malas saat tangannya telah digenggam erat oleh Shan.
"Eeerrrggghh... Sepertinya eek Shan keras kak."
"Iuwww itu jorok Shan!" pekik Joly sembari menjepit lubang hidungnya menggunakan sebelah tangan.
"Cepetan dong Shan, bauuuu."
Shan tidak menggubris Joly, kini fokusnya hanya untuk mengejan dengan sekuat tenaga.
plung.
"Iuwwwh!!!!" pekik Joly lagi, sedangkan Shan menampilkan wajah leganya.
Sekarang saat yang sangat-sangat Joly paling benci. Mencebokki Shan.
Kloset apartemen Chandra memang sudah canggih, sudah ada semprotannya, akan tetapi Shan tidak suka jika disemprot. Shan sudah terbiasa sedari kecil diceboki, dan tidak lupa ceboknya pakai sabun juga.
"Diem dong Shan, jangan gerak mulu!"
"Shan gak gerak kak Jol." Shan sedari tadi diam, tubuhnya bahkan diam seperti patung menunggu tangan Joly yang dirasa-rasa tidak kunjung menyentuhnya.
"Wluekk... Ishh... Iuww.... Wluekkk!" Joly mual-mual hebat ketika menyebokki Shan. Dia bahkan nyaris muntah sungguhan.
Kini akhirnya pekerjaan terberatnya telat usai.
"Shan, besok-besok kalo mau eek itu pagi aja! Pas papamu masih ada di rumah." ucap Joly yang tengah memakaikan Shan ****** *****.
"Tapi kerasanya Shan kalo lagi sama kak Joly."
"Emang kampret ya kamu Shan!"
......***......
"Chandra, nanti malem jadi gak dinner yang kita bicarain waktu itu?" tanya Wanda.
"Loh nanti malem ya? Kirain masih besok Nda."
"Kan gue udah bilang, malem minggu..."
"Oh iya! Sorry-sorry Nda, gimana gue bisa lupa sih. Tolol banget ya gue, hehehe." Chandra menggaruk tengkuknya yang padahal tidak gatal.
Wanda hanya menampilkan senyumnya sekilas. Jika Chandra memang laki-laki yang peka, maka seharusnya Chandra tau jika perempuan itu tengah kecewa sekarang.
Tapi sayangnya tidak. Chandra tidak peka.
"Eh iya halo, kenapa Jol?" Chandra mengangkat sebuah telepon, dan dapat diketahui bahwa telepon itu dari Joly, karena Chandra mengucapkan namanya.
__ADS_1
Wanda kini dibuat semakin kecewa.
"Apa?! Jadi lo tiba-tiba telepon gue begini cuma mau tanya password wifi??? Kirain tadi anak gue kenapa-napa anjir!" Chandra mengomel-ngomel pada Joly.
Senyum Wanda seketika mengembang mendengarnya.
"Password wifi gue 'pala lo kotak'! Puas lo!" seru Chandra dan langsung menutup teleponnya.
Wanda pun langsung terkekeh seketika. Chandra yang tadinya marah dengan orang dibalik telepon, kini beralih ikut tertawa menyamai Wanda.
"Ih kenapa sih kok ketawa-tawa?"
"Abisnya lo lucu banget kalo lagi emosi Chan."
Lagi-lagi Chandra dibuat terpikat oleh senyuman Wanda. Chandra bahkan tidak henti-hentinya menatap lengkungan manis itu sampai Wanda akhirnya menyadarinya.
"Paan sih ngeliatin mulu." ucap Wanda, memasang wajah sewotnya.
Chandra terkekeh, lalu menarik Wanda ke dalam pelukannya.
"Chan... Ini masih dikantor hei." Wanda sedikit panik.
"Gak papa, gak ada yang ngeliat juga kok. Cuppph."
Chandra memang sudah sering melakukan ini. Memeluk Wanda, mencium Wanda, semua perlakuan yang diberikannya semakin hari semakin menghangat.
"Chan, pindah ke gudang aja yuk." ajak Wanda.
Chandra dengan senang hati menurutinya.
......***......
Tengah hari ini cuacanya sangat terik. Joly yang mendadak ada urusan itu turun dari lantai 5 apartemen elit.
"Kak Jol, Shan ikut!" pekik Shan dari arah belakang. Ternyata bocah kecil itu juga telah keluar dari tempat peraduannya, hendak mengikuti kepergian Joly.
"Gak papa, Shan pengen nemenin kak Joly aja. Lagian kata papa Shan gak boleh ditinggal sendirian di apartemen loh kak."
Joly menghela napas panjang. "Yaudah deh, ayo!" Joly meraih tangan kecil Shan lalu menggandengnya. Jangan sampai anak kecil ini menghilang secara tiba-tiba.
"Kak Joly sebenarnya mau kemana?" tanya Shan di tengah perjalanan.
"Beli kuota internet, papamu kampret gak ngasih tau password wifinya."
"Loh bukannya tadi udah dikasih tau ya. Passwordnya pala—pala—palalo—"
"Salah Shan! Papamu tadi bohong! Passwordnya disalahin."
"Oh gitu ya..."
"Ya."
"Emm yaudah nanti kalo papa pulang biar Shan aja yang nanyain passwordnya."
"Ya ya ya. Terserah Shan." ucap Joly dengan malas.
Setelah berjalan kurang lebih 200 meter dari apartemen, kini Joly dan Shan sampai di sebuah alfamart. Mereka pun masuk ke dalam sana, seperti rencana awal yaitu membeli kuota internet.
"Pulsa 20 ribu." ucap Joly pada kasir.
"Nomernya kak?"
"08—" Joly lupa akan nomernya sendiri. Dia kini mencari ponselnya yang berada di dalam tas. Joly yang sibuk merogoh-rogoh isi tas selempangnya itu bahkan lupa dengan genggaman tangannya pada Shan.
__ADS_1
Shan terlepas, dan anak kecil itu langsung berlari menuju arah kotak freezer yang berada di sudut ruangan.
"Es krim..." Kedua mata Shan seketika berbinar melihat tumpukan es krim dengan berbagai macam bentuk dan rasa yang berada didalam freezer.
"Hei Shan!" Joly menghampiri Shan. "Kamu ngapain sih???"
"Kak Joly, boleh nggak kalo Shan minta dibeliin es krim. Satuuu aja, please..." ucap Shan, sangat memohon.
"Aku gak ada duit Shan, udah ayo kita pulang."
"Shan minta yang paling murah aja juga gak papa loh kak."
"Enggak Shan, ayo pulang."
Shan menatap ke arah kaca freezer itu dengan sendu. Dan tanpa Joly duga bocah itu tiba-tiba menjilat permukaan kacanya.
"Hei jangan dijilat!" cegah Joly sambil melotot.
Shan lalu beralih menatap Joly. Pelototan mata Joly tidak membuat Shan takut sedikitpun. Ini karena Joly sudah sering memelototinya.
Joly meraih tangan Shan. "Ayo pulang." Tapi Shan menepisnya.
"Please satu aja kak."
"Enggak."
"Kak..."
"Ayo pulang Shan."
Shan malah memeluk kotak freezer itu dengan erat. Shan tidak ingin pulang, dia ingin dibelikan es krim.
"Heii ayo pulanggg." Joly susah payah mencoba melepaskan pegangan Shan pada benda itu. Bahkan sampai ditarik-tarik pun Shan tidak mau melepaskannya.
"Duh Shan jangan bikin aku malu."
"Kak Joly pelit."
"Aku bukannya pelit Shan, tapi emang aku gak punya duit!" Suara melengking Joly seketika membuat seluruh penjuru mata yang berada di tempat itu menoleh. Joly langsung mendapat tatapan aneh dari orang-orang yang berbelanja.
"Sial." umpat Joly lirih. Perempuan itu pun akhirnya memutuskan untuk menggendong Shan keluar secara paksa. Joly sangat malu, sungguh.
Ketika sampai di luar alfamart Joly memarahi Shan habis-habisan. Joly juga mencubit bocah itu karena sangking geregetannya.
"Besok-besok gak usah ikut. Bikin malu aja ya kamu." ucapnya lalu menggelandang lengan Shan untuk pulang.
Sesampainya apartemen....
"Coba liat mana yang tadi aku cubit?" tanya Joly. Tanpa menunggu jawaban dari Shan, Joly langsung memeriksa sendiri bagian tubuh Shan yang menjadi target cubitannya tadi.
Kedua paha milik Shan masih putih bersih. Tidak tampak ada bekas cubitan disana.
"Oke, gak keliatan. Aku bisa lega." ucap Joly. Perempuan itu lalu merebahkan dirinya diatas sofa. Kemudian seperti biasa terpaku pada ponselnya yang telah terisi dengan kuota internet.
Hingga perhatiannya mendadak teralihkan pada sosok Shan yang tanpa dia duga tiba-tiba ambruk di atas lantai. Shan jatuh terduduk dengan napas yang terengah-engah.
"Shan!" seru Joly seketika sangat panik.
"Kak Jol, Shan pusing." keluh anak itu. Tak berselang lama ada cairan kental mengalir dari kedua lubang hidungnya.
"Shan, kamu mimisan!" teriak Joly dengan heboh. Joly kebingungan bukan main, dia bingung harus melakukan apa sekarang. Dan dia semakin bingung ketika perlahan tubuh Shan tidak kuat lagi menopang untuk duduk. Shan terbaring lemas di atas lantai sekarang.
"YaAllah Shan." Joly meraih tubuh kecil itu lalu memangkunya. Tangannya sibuk menyeka darah Shan dengan tisu dan tangan satunya lagi menahan ponselnya di pipi. Joly mencoba menghubungi Chandra secepatnya.
__ADS_1
"Anjing ditolak!"
~tbc...