Putri Kecil Papa

Putri Kecil Papa
Berpelukan


__ADS_3

"Chandra tenang..."


"SHAN!!! SHANNN!!!"


Chandra terus meneriakkan nama Shania. Laki-laki itu kalut dalam kesedihannya. Aku tidak bisa menenangkannya sama sekali. Dia benar-benar semakin kehilangan kendali ketika brankar Shania didorong menuju ruang ICU oleh beberapa petugas.


Keadaan Shania memburuk. Anak kecil itu mimisan lagi sangat banyak, dan mendadak kehilangan kesadaran. Chandra menangis histeris tatkala dokter Hans memutuskan untuk melarikan Shania ke ruang ICU.


Saturasi oksigen Shania pun menurun drastis.


"Chandra please, tenanglah..." Aku sama takutnya dengan Chandra, tapi aku... Aku masih mencoba sekuat tenaga untuk menguatkan hatinya.


Aku akhirnya memeluk tubuh jangkung yang bergetar hebat karena menangis itu.


"Shania akan baik-baik saja Chan... Percayalah padaku." lirihku.


Perlahan tangisan Chandra merenda. Tubuhnya mendadak terasa sangat berat bertumpu padaku.


"Chan... Chandra?? Chandra?!!!!" Aku menjerit-jerit ketika mengetahui bahwa Chandra kini tidak sadarkan diri. Dia pingsan secara tiba-tiba.


Beruntung dokter Hans dengan sigap datang dan membopong tubuh Chandra agar tidak terjatuh.


Untuk sementara Chandra harus diopname. Ternyata kondisi kesehatan Chandra juga menurun. Laki-laki itu menderita anemia dan kurang gizi. Dokter menyarankan agar Chandra dirawat inap sampai kondisinya membaik.


"Shan..."


Chandra tiba-tiba mengigau di tengah tidurnya.


Aku mengusap sudut matanya perlahan. Menyeka air mata yang keluar dari sana.


"Shan... Shan-ku mana?" Tanya Chandra yang masih memejamkan mata.


"Shania bersama utinya. Kamu istirahat dulu Chan."


Kedua kelopak mata Chandra terbuka secara perlahan. Dia melihatku dengan sepasang mata sayunya.


Bibir keringnya terlihat mengkerut. Hingga akhirnya terdengar isakan yang keluar dari sana.


Chandra menangis.


Seluruh pertahananku sekarang luluh lantah. Aku tidak kuat jika harus melihat Chandra menangis seperti ini.


Hatiku sangat terluka.


"Ke-kenapa? Jangan menangis Chan. Kalo kamu nangis kayak gini nanti Shania juga akan nangis. Please berhenti Chan..."

__ADS_1


"Shan-ku semakin memburuk ya?"


Deg.


Tidak Chan, tidak. Shania akan baik-baik saja. Aku sangat yakin.


Dengan segera aku menggeleng walaupun berderai air mata. Aku bahkan tidak sadar sejak kapan air mataku sudah mengalir sebanyak ini.


Emosiku benar-benar diaduk sekarang. Hatiku terluka, pikiranku kacau. Aku sebenarnya sama halnya dengan Chandra, takut akan kemungkinan-kemungkinan buruk yang terjadi pada Shania.


"Chandra kita harus kuat, demi Shania."


Entah kebodohan yang datang darimana. Aku untuk kedua kalinya kembali merengkuh tubuh laki-laki ini. Aku memeluknya lagi, dan kini berbagi air mataku pada dada bidangnya.


...***...


Author's POV


Chandra menatap sendu sosok putri kecilnya yang terbaring tidak berdaya di atas bed dengan berbagai macam alat medis melekat di tubuhnya.


Shan terlihat sangat lemah. Dadanya kembang kempis kecil seperti tersengal. Apakah sesulit itukah untuk menghirup oksigen saja?


Chandra setiap menit dan detik menangis dibuatnya. Tidak tega. Dia selalu berteriak dalam hatinya, kenapa bukan dirinya saja yang menggantikan posisi Shan? Kenapa? Kenapa Tuhan tidak mengijinkan permintaannya ini?? Kenapa????


Rosa hanya bisa mematung melihat dua orang yang sangat disayanginya itu dari balik kaca luar ruangan ICU. Sesekali Rosa juga menangis melihat keadaan keduanya yang begitu memilukan tersebut.


Kenapa hidup begitu penuh cobaan seperti ini? Rosa tidak tau harus bagaimana?


Sebuah usapan lembut dirasakan Rosa dari belakang. Dan ternyata usapan yang didapatkannya itu dari Dewi.


"Mama..." Panggil lirih Rosa. Perempuan itu langsung menghamburkan pelukan pada sosok tersebut.


"Istirahatlah, duduk. Sudah 3 jam kamu terus-terusan berdiri seperti ini. Istirahat dulu, makan atau minum. Jangan sampai kamu juga sakit Rosa..."


Rosa mengangguk pelan didalam dekapan Dewi. Air matanya pun mengalir. Tidak terduga ternyata kehangatan yang dia rindukan sudah sejak lama akhirnya kembali dia rasakan lagi.


Dewi, asal dirimu tahu bahwa Rosa telah sangat sangat sangat merindukan akan pelukanmu yang hangat.


Pukul 12 malam lewat, Chandra berjalan keluar dari ruangan tempat Shan berada. Chandra keluar karena Shan tak kunjung membuka mata. Chandra ingin bertanya kepada dokter Hans, kenapa Shan sangat lama tidurnya?


Dengan langkah gontai Chandra menyusuri koridor.


Rosa yang barusaja kembali dari kamar mandi terkejut mendapati ruangan ICU yang hanya menyisakan Shan saja disana. Akhirnya Rosa mencari-cari keberadaan Chandra. Rosa pun menemukan laki-laki itu tepat di depan pintu ruangan dokter Hans.


"Chandra?" panggil Rosa namun seseorang yang dipanggil tersebut tidak menghiraukan sama sekali.

__ADS_1


Chandra kini sudah masuk ke dalam ruangan dokter Hans. Rosa hanya terdiam di tempat. Dia menunggu sampai Chandra keluar saja.


Akan tetapi....


Bugggg—Pyarrrrr!!!


Sebuah dentuman keras diikuti dengan sesuatu yang pecah dari dalam sana membuat Rosa seketika terkejut.


Ada apa di dalam sana? Apa yang terjadi?


Posisi Rosa menjadi tidak tenang. Rosa merasa ada sesuatu yang tidak beres terjadi di dalam sana.


Kegelisahan Rosa semakin menjadi ketika dirinya mendengar suara erangan kesakitan.


"Arrrrgggghhh!"


"CHANDRA!!!!" Rosa langsung berlari menerobos pintu itu. Dan yang dia dapati adalah... Dokter Hans telah terkapar di lantai dengan penuh luka bonyok di wajahnya.


Sosok lain berdiri tidak jauh dari keberadaan dokter Hans, sosok siapa lagi jika bukan Chandra.


"Chandra apa yang kamu lakukan?!" jerit Rosa secara spontan.


Chandra ternyata belum berhenti, laki-laki gila itu masih mau melanjutkan aksinya.


Rosa dengan cepat mendorong tubuh Chandra agar mengurungkan niatnya.


"Chandra stop! Hentikan semua ini!"


"Minggir! Jangan ganggu gue!" Kini beralih Chandra lah yang menyingkirkan tubuh Rosa.


Rosa terpelanting dan tubuhnya menghantam nakas yang berada di sudut ruangan karena kerasnya dorongan Chandra.


Buggggh.


Rosa syok, dokter Hans syok, tapi bukan hanya mereka berdua saja yang syok, sang pelaku pun demikian. Chandra juga syok.


Perubahan ekspresi seketika terjadi pada raut Chandra. Tatapan tajam yang tadinya begitu mematikan kini berganti menjadi tatapan yang penuh dengan penyesalan.


Chandra melangkah menuju keberadaan Rosa, satu tangannya terulur namun...


Rosa mengangkis tangan itu kemudian segera bangun untuk melenggang pergi.


"Rosa... Sorry, Rosa..." ucap Chandra tanpa dihiraukan sama sekali oleh perempuan itu.


~tbc...

__ADS_1


__ADS_2