
"Papa kita mau kemana?" tanya Shan ketika aku mengemasi baju-bajunya dari lemari ke dalam koper.
"Chan..." panggil mama namun aku tidak peduli sama sekali. Aku terus melanjutkan aktifitasku. Kalau bisa harus lebih cepat selesai agar cepat juga angkat kakinya dari sini.
"Shan gak mau pergi."
Deg.
Satu perkataan yang terucap dari mulut Shan seketika berhasil membuat tubuhku membeku.
"Shan gak mau pergi dari sini. Shan gak mau pindah ke rumah sakit lain pa..."
Ba—bagaimana bisa dia tau??
Aku langsung melemparkan tatapan kepada mama yang berada tak jauh dari tempat Shan berdiri.
Mama menggeleng pelan.
Lantas... Siapa yang memberitahukan bocah itu kalau memang benar kita akan pindah.
Shan tiba-tiba menghambur kearahku. Dia lalu memeluk kedua kakiku dengan sangat erat.
"Please pa, disini aja. Shan suka dirawat disini. Disini enak, ada teman-teman sekolah Shan juga. Nanti nanti nanti kalo Shan dibawa ke rumah sakit lain, Shan gak bisa sekolah dong."
Aku mulai berjongkok, menyamakan tinggiku dengan bocah mungil ini. Satu tanganku membelai rambutnya, dan satu tanganku yang lain memegang pundaknya.
"Shan tetep bisa ke sekolah nanti. Disana malah sekolahnya lebih bagus, anak-anaknya juga lebih banyak. Shan pasti bakalan punya temen lebih banyak daripada disini."
"ENGGAK!"
Aku seketika mengernyit.
"Shan maunya disini huaaaaa hiks hiks hiks..." Bocah kecil ini akhirnya menangis.
Huft...Lalu bagaimana dengan keputusanku untuk pindah kalau dia bersikeras menolak seperti ini hmmm? Sumpah aku bingung sekali sekarang.
Sore hari berlalu, kini hari telah berganti petang. Shan masih berada di dalam gendonganku, dan sepertinya dia kini terlelap.
Shan tadi tidak bisa berhenti menangis karena perkara ngotot tidak ingin pindah rumah sakit dan akhirnya kugendong sembari kutenangkan tangisannya. Berjam-jam berlalu dan sekarang tubuhnya mendadak berat sekali, ini menandakan kalo bocah ini ketiduran.
Memang tidak baik tidur disaat jam seperti ini. Saat adzan magrib. Tapi apa boleh buat, dia sepertinya kelelahan karena menangis. Ya sudah kubiarkan saja dia dalam posisi ini.
"Eh pak dokter."
Aku mendongak, melihat ke arah mama yang ternyata menyapa seorang dokter. Dokter itu masuk ke dalam ruangan kita. Dan sepertinya ini saatnya Shan untuk check up.
"Chandra Shan-nya mau diperiksa dulu."
Nahkan, benar kan.
Aku merebahkan tubuh Shan ke atas bed. Tubuh kecil itu akhirnya mendarat di atas kasur rumah sakit yang sangat tidak nyaman. Lebih nyaman kasur di rumah, sumpah.
Melihat Shan tertidur seperti itu tiba-tiba hatiku rasanya berkecamuk. Aku dirundung rasa kasihan yang luar biasa pada bocah itu.
Shan masihlah sangat kecil, tapi harus menanggung sakit yang seperti itu. Kalau boleh kenapa kita tidak bertukar saja. Biarkan papamu ini saja Shan yang menggantikan sakitmu. Papa rela, 100% sangat rela.
"Bisa bicara sebentar pak?" Dokter yang telah selesai memeriksa Shan lantas menghampiriku. Mengajakku untuk berbicara ke ruangannya lagi.
Aku pun menurutinya. Kali ini tanpa ada rasa emosi seperti yang tadi sore.
"Pak, saya sudah menghubungi dokter dari Singapura. Dan syukurlah dokter tersebut bersedia mengobati Shan."
__ADS_1
"Ja—jadi saya membawa Shan ke Singapura begitukah dok?"
"Tidak pak. Pihak rumah sakit akan mendatangkan khusus dokter tersebut kesini."
Ahh syukurlah. Tidak bisa dibayangkan bagaimana jika aku harus membawa Shan ke Singapura. Tidak hanya Shan saja, mama juga. Aku harus memboyong utinya Shan juga ke sana. Mana aku mampu? Uang darimana lagi untuk itu semua??
"Lalu dok? Dokternya sampai disininya kapan?"
"2-3 hari pak, dokter tersebut siap untuk merawat Shan."
Aku tidak henti-hentinya mengucapkan kata syukur. Perasaanku sangat lega. Entah keajaiban dari mana ini datangnya. Padahal tadi sore dokter mengatakan kalau kita masih perlu menunggu, tapi sekarang sang dokter penolong kita sudah jelas keberadaannya.
Syukurlah...
......***......
"Papa ayo main princess-princess an. Shan jadi Elsa papa jadi mermaid Ariel. Sini kuku papa Shan kutekin dulu biar cantik."
Shan pukul 11 malam lebih masih belumlah tidur. Masih sibuk bermain tanpa ada tanda-tanda ngantuk sedikitpun.
Haduhh ini nanti tidurnya jam berapa haa??
Ponselku yang berada di atas meja tiba-tiba bergetar. Sepertinya ada panggilan masuk. Buru-buru aku mengambilnya, untuk mengangkatnya agar tidak mengganggu mama yang sudah terlelap di sofa.
"Ih papa kuteknya belum kering!" seru Shan tapi aku tidak mempedulikannya.
"Iya halo?"
Loh eh kok mati. Oh dari Wanda. Hah Wanda??? Wanda tiba-tiba menghubungiku lebih dahulu setelah kita hilang kontak selama berminggu-minggu.
Kupikir dia telah melupakanku dan berpaling hati kepada laki-laki lain. Tapi ternyata tidak. Dia masih ingat aku.
SENANG DONG.
Rasa kesenanganku semakin meningkat tatkala sebuah pesan masuk pada ponselku.
'Ayo besok ketemu. Aku kangan banget sama kamu.'—wanda.
...***...
Keesokan harinya...
Hmm hari sudah berganti saja. Rasanya sangat cepat sekali. Ah mungkin karena aku sudah tidak sabar akan bertemu dengan Wanda, maka semesta merestuinya dengan memberikan waktu yang berganti begitu cepat. Hahaha bisa aja.
Setelah mengantar Shan ke sekolah aku lantas menuju ke sebuah taman yang berada di tengah kota. Aku dan Wanda sepakat untuk bertemu disana.
Nahh, itu dia berada disana!
"Ndaa!" Aku memanggilnya berulang kali dan akhirnya dia tau keberadaanku.
Wanda langsung menghampiriku. Dan kita mencari tempat duduk yang disediakan di sana.
Tibalah kita berdua di salah satu bangku marmer yang disediakan di taman. Bangku yang menghadap ke arah kolam air mancur dengan hiasan tanaman-tanaman yang menyejukan mata. Wahh benar-benar menambah kesyahduan kemesraan kita berdua.
"Kamu selama ini ke mana aja Chan?"
Satu pertanyaan yang terlontar dari Wanda seketika membuatku menoleh. Aku menatap perempuan itu.
"Lahh bukannya aku udah kasih tau kan Nda." ucapku dan Wanda malah mengernyit.
__ADS_1
"Kasih tau apa?"
Ini Wanda lupa atau benar-benar tidak membaca chatku yang waktu itu?
Oke-oke akan kujelaskan lagi.
"Shan kan sakit Nda. Dia sakit kanker otak."
"Hah? Kanker otak?"
"K-kok reaksimu seperti itu? Kamu beneran lupa ya? Aku udah kasih tau loh."
Kita berdua saling diam beberapa saat. Saling mengalihkan atensi ke arah pemandangan lain. Hingga akhirnya aku mencoba untuk membuka mulut kembali.
"Aku udah gak bisa lagi kembali kerja kayaknya. Gak tau deh harus resign secara terhormat atau enggak. Soalnya Shan juga gak bisa ditinggal."
Hening, tidak ada tanggapan dari Wanda.
"Emm... Dan kayaknya sebentar lagi pengeluaranku akan banyak sekali. Pengobatan dan perawatan Shan. Tabunganku benar-benar habis. Aku udah bingung nih mau jual apa lagi biar punya duit, hehehe."
Wanda masih diam dan diam.
"Nda, emm... Kalo boleh ya... Emmm duh jadi canggung gini. Kalo boleh Nda, aku mau pinjem uang dari kamu?"
Kini aku bermonolog sendiri. Tidak ada tanggapan sama sekali dari Wanda. Aku tau Wanda itu mendengar semua perkataanku, tapi dia.... Dia membisu seribu bahasa.
Hingga akhirnya sebuah getaran dari dalam ponselku muncul. Ponselku bergetar, menandakan ada yang menelponku sekarang.
Dan setelah aku mengeceknya, panggilan itu dari gurunya Shan.
Aduh, Shan-ku kenapa???
"Halo, iya selamat siang. Ada apa ya bu? HAHH SHAN MUNTAH-MUNTAH!"
Aku langsung berlari pergi menuju sekolahnya Shan. Namun baru menjajaki beberapa meter tiba-tiba Wanda menahanku. Dia memelukku erat dari belakang.
"Chan kamu masih sayang gak sih sama aku?"
Hah??
Aku berbalik untuk menatap Wanda. Maksud dia itu apa hah?
"Chan! Aku atau Shan?!" teriak Wanda.
"M-maksud kamu apa?"
"Jawab Chan! Kamu pilih aku atau anakmu yang penyakitan itu???"
Deg.
Aku seketika membeku ditempat. Bagaimana Wanda bisa mengatakan hal itu di depan wajahku tepat.
"Chan... Anakmu sakit. Sakit kanker otak. Dia gak akan sembuh, kalaupun sembuh dia gak akan bisa normal seperti anak lainnya. Aku gak mau ya punya anak tiri cacat kayak dia."
"WANDA CUKUP!" Emosiku benar-benar sudah memuncak sekarang. Aku ingin menampar mulut perempuan tidak punya hati itu sekarang juga. Tapi aku sadar, aku tidak mau mengotori tanganku hanya untuk menyetuhnya.
Aku langsung berbalik lalu pergi. Melanjutkan belari untuk segera sampai di sekolahnya Shan.
"Shan sayang, papa datang..."
~tbc....
__ADS_1