Putri Kecil Papa

Putri Kecil Papa
Dosa Terbesar


__ADS_3

Rosa's POV


Terhitung sudah 1 bulan ini aku tinggal di rumah sakit. Selama 1 bulan juga aku tidak melangkah pulang ke rumahku sekalipun.


Aku sebenarnya sangat rindu dengan ayah, namun... Rasa ingin bersama dengan Shania lebih besar daripada itu.


Lupakan tentang ayah dan juga rumah. Aku lebih nyaman disini, di sekitar keluargaku yang sebenarnya.


Aku menoleh ke arah bed, melihat sosok kecil yang kian hari kian mengurus. Kedua pipi yang tirus dan juga cekungan hitam di bawah mata itu menjadi saksi betapa kerasnya perjuangan Shania untuk sembuh. Walaupun meskipun sampai saat ini pertanda baik belum terlihat sedikitpun.


Chandra semakin kesini pun juga semakin kacau. Seringkali laki-laki itu meluapkan emosinya pada siapapun. Laki-laki itu kecewa, kecewa akan segalanya. Terlebih akan takdir yang begitu curang pada Shania.


Laki-laki yang sedang kubicarakan dalam hati itu akhirnya muncul dari ambang pintu.


"Dari mana?" tanyaku.


Bibir terkatup, tidak ada tanda-tanda akan menjawab pertanyaanku. Chandra hanya berlalu, kemudian duduk di samping anak perempuannya.


"Shan mau jalan-jalan? Ayo sayang kita jalan-jalan yuk." Chandra sangat pandai merubah ekpresinya. Dia aktor yang handal dalam menyembunyikan jeritan hatinya yang sebenarnya.


Shania mengangguk, lantas merentangkan kedua tangannya yang lemah kepada Chandra.


Shania sekarang semakin tidak memiliki tenaga untuk beraktifitas. Dia sangat letih dan lesu. Dia lebih sering menghabiskan waktunya di atas bed atau di atas pengkuan Chandra, ayahnya.


Aku selalu merasa sedih jika mengetahui kenyataan sekarang ini. Aku sangat rindu akan Shania yang aktif, energik, dan banyak suara.


Shania kapan kamu akan kembali seperti itu lagi sayang?


"Kak Elsa... Ayo ikut kita jalan-jalan."


Aku mengangguki ajakan Chandra.


Kini kita bertiga keluar dari kamar rawat. Jalan-jalan kita tidak jauh, hanya di sekitaran area rumah sakit. Selalu seperti ini.


Aku sangat tahu jika Shania pasti jenuh dengan pemandangan yang selalu dilihatnya ini, tapi mau bagaimana lagi, Dokter Hans tidak mengijinkan Shania untuk pergi kemana pun. Terlalu beresiko.


Kita semua tidak ingin Shania sampai kelelahan.


"Eh sayang, lihat deh itu ada butterfly. Shan suka butterfly kan?"


Shania tidak mengangkat kepalanya sedikitpun. Anak itu tidak memiliki hasrat untuk mendongak ke arah telunjuk ayahnya yang menunjuk arah kupu-kupu.


Chandra menekuk jemarinya kembali. Dia memilih untuk mengeluk punggung Shania dengan lembut.


"Kita duduk aja ya kalo begitu." Chandra membawa Shania ke tengah-tengah taman. Duduk di antara bangku panjang disana, di bawah sinar matahari langsung.


Aku pun juga ikut duduk disana. Tanganku menyentuh kaki Shania. Mencoba memberikan rangsangan untuk bagian tubuh itu.


"Kata dokter Hans, sinar matahari bagus buat kesehatan. Apalagi di jam sekarang ini." ucapku sembari memberikan pijatan perlahan pada kedua kaki Shania.


"Percuma, Shan gak bisa ngerasain apa-apa."


Satu kalimat yang terlontar dari mulut kecilnya dalam sekejap berhasil membuatku dan Chandra tercekat.


Kita berdua mematung seketika.


Aku melihat sendiri bagaimana sorot mata sendu itu akhirnya muncul. Chandra menutupinya dengan cara menundukkan kepalanya dalam-dalam.


Ini benar-benar kesalahanku. Aku sangat bodoh dalam berucap. Seharusnya aku diam saja. Diam dari tadi adalah hal yang baik. Lihat, kekacauan apa yang sekarang kuperbuat. Rosa bodoh! Dasar Rosa bodoh!


"Kenapa semenyerah ini Shan?"


Deg.

__ADS_1


Degup jantungku mendadak cepat. Kedua bola mataku pun terasa panas. Aku menatap Chandra dengan air mata yang sudah menggenang di pelupuk.


Tidak Chandra... Tolong, jangan...


"Shan papa udah ngusahain apapun untuk kamu, tapi kenapa dengan mudahnya kamu bilang apa-apa itu adalah percuma. Papa sedih Shan..."


Terdengar nada bicara Chandra bergetar. Chandra bahkan terlihat sulit untuk mengatur helaan napasnya.


Aku tidak mau jika Chandra akan menangis.


"Chandra ayo bawa Shania kembali, sekarang ini sudah sangat panas mataharinya."


"Jangan mencoba mengalihkan topik pembicaraan Rosa. Lebih baik kamu diam saja, aku masih mau berbicara dengan putriku."


Kini, aku sudah tidak bisa melakukan apapun...


"Shan, jawab papa. Kenapa kamu sekarang seperti ini? Kenapa kamu tidak memiliki semangat seperti dulu? Kenapa Shan? Mana janji kamu untuk sembuh dulu?"


Satu lelehan bening jatuh melintasi pipi Chandra. Sekuat tenaga menahannya, Chandra tetap kalah juga.


"Maaf papa, tapi Shan udah capek."


Air mata Chandra menetes bertubi-tubi. Pundaknya bergetar hebat.


Aku sangat tidak tega melihatnya. Aku memutuskan untuk mengambil Shania dari pangkuannya. Aku mendekap Shania sangat erat, memalingkan wajah anak ini dari ayahnya yang terisak.


"Shania kamu tidak seharusnya berbicara seperti itu. Itu tidak baik."


"Mau bagaimana lagi kak, Shan gak bisa sembuh kan? Sakitnya Shan ini parah kan? Shan... Shan akan pergi kan?"


"ENGGAK SHAN!"


Tubuhku langsung tersentak, begitupun dengan tubuh Shania. Aku sesegera mungkin membawa Shania untuk pergi.


"Kak Elsa..." Masih dalam keadaan berjalan, Shania tiba-tiba memanggilku.


"Hmm? Ada apa Shania?" Aku memusatkan pandanganku pada gadis kecil ini.


Tangan kecil itu menyentuh wajahku perlahan. Akhirnya langkah kakiku terhenti di koridor karenanya.


"Kenapa Shania sayang?"


Shania yang berada di dalam dekapanku melihatku dengan sorot mata yang tidak kumengerti.


Perasaanku menjadi tidak tenang.


"Kenapa sayang?" untuk kali ketiganya aku menanyainya lagi.


Hening sangat lama. Hingga akhirnya...


"Rosa... Nama kak Elsa sebenarnya Rosa kan? Kak Rosa... Kak Rosa mau nggak menikah sama papa? Kak Rosa mau nggak jadi mamanya Shan?"


...


Rosa's POV END


~Flashback...


Tas sekolah berwarna pink menggantung di punggung. Seragam kusut dan sepatu yang sudah tidak aturan bentuk talinya. Rambut acak-acakan, noda tanah dan entah apa itu terlihat dimana-mana.


"Rosa kamu ini kenapa?" Baru saja datang perempuan belia itu langsung mendapat tatapan terkejut dari lawan bicaranya.


Chandra. Chandra tidak percaya dengan yang terjadi pada perempuan itu.

__ADS_1


"Hiks... hiks..." Tangis sudah tidak dapat terelakkan lagi. Perempuan bernama Rosa itu kalut dalam kesedihannya.


Takut akan ada orang lain yang mengetahui atau mendengar tangisan memilukan itu, Chandra menggelandang tangan Rosa untuk menjauh ke tempat yang sepi.


Gudang belakang sekolah akhirnya mereka jajaki.


Chandra menenangkan tangisan Rosa. Memeluk gadis itu dengan tulus.


"Cup cup udah jangan nangis. Kan aku udah bilang berulangkali kalo dibully itu lawan Sa. Jangan diem aja."


"Ta-tapi aku gak berani. Mereka berlima Chan, hiks..."


Chandra mengeratkan pelukannya kembali. Chandra sebenarnya marah dengan apa yang menimpa sahabatnya itu, namun Chandra tidak memiliki kuasa apapun untuk memberikan perhitungan pada para si pembully.


Bukan Chandra tidak berani, hanya saja... Perempuan bukanlah lawan yang pas untuk seorang laki-laki sejati.


"Yaudah gini aja, besok biar aku bilang ke ayahmu."


Rosa segera menggeleng. "Enggak Chan, enggak. Jangan ayah. Ayah lagi sibuk banget, dia masih ngurusin partainya. Lagi pula, kalo kejadian ini sampai didengar sama ayah... Ayah pasti akan marah di sekolahan ini. Ayah tempramen. Aku gak mau citra ayah buruk."


Chandra berpikir sangat dalam, mencoba mencari alternatif lain yang brilian.


"Aku bilang ke mama papaku aja ya."


Rosa akhirnya menyetujuinya.


"Sekarang bersihkan tubuhmu. Bentar lagi ada ujian praktek kesenian kan kelasmu?"


"Iya, jam 10."


Chandra memekik. "Sekarang udah jam 9 lebih 55 Sa!"


Rosa panik, begitupun dengan Chandra. Chandra dengan cepat membantu Rosa. Menata rambut Rosa yang berantakan, memberikan sikut dan dengkul Rosa yang ada tanahnya. Dan yang terakhir menalikan tali sepatu Rosa.


"Aduh, kotor banget lagi seragammu."


Kedua mata Rosa berlinang kembali. Perempuan itu menangis kembali. "Bagaimana dong Chan?"


"Ck, pakai seragamku aja. Ayo kita tukeran."


Chandra dan Rosa masuk bersamaan ke dalam gudang yang tidak terkunci itu. Kesalahan kecil yang terlewatkan yaitu harusnya mereka bergantian masuk. Kesalahan kecil tersebut akhirnya menciptakan dosa yang teramat besar bagi keduanya.


"Absen 20, Rosa Widyatama silahkan maju."


....


Seluruh ruang kelas hening.


"Ayo Rosa Rosa, mana Rosa? Sekarang gilirannya praktek!"


"Gak ada bu Rosa-nya."


"Kemana? Ada surat ijinnya atau tidak? Saya coret ya, biar si Rosa gak lulus."


"Hadir bu..."


Sosok tertunduk dengan langkah gontai yang bergetar itu memasuki ruangan. Rosa, perempuan itu tidak berani mengangkat wajahnya sedikitpun.


Sementara itu di tempat lain... Masih di dalam gudang yang sepi dan berdebu, Chandra menangis dengan sangat frustasi.


Chandra menyesal, sangat sangat menyesal.


~tbc....

__ADS_1


__ADS_2