Putri Kecil Papa

Putri Kecil Papa
Ulang Tahun


__ADS_3

Balon-balon bernuansa warna pink memenuhi langit-langit ruangan. Dengan pita yang menjuntai meliuk-liuk sangat indah. Hiasan-hiasan khas ulang tahun berjejer estetik di setiap sudut ruangan. Ruangan rumah sakit telah disulap menjadi sangat bagus. Identik dengan warna pink dan elsa. Kesukaannya Shan.


"Bangun sayang...." Chandra mengusap lembut wajah pucat itu. Perlahan kedua mata sayu itupun terbuka.


"Surprise...." Bisik Chandra dengan penuh kelembutan.


Chandra dapat melihat bibir mungil itu menyimpulkan senyumnya. Shan tersenyum, meskipun sangat lemah.


"Selamat ulang tahun, Shan-ku sayang...." Kecupan Chandra sematkan pada kening putri kesayangannya.


Seorang berdandan bak elsa datang dari arah pintu. Itu Rosa, mamanya Shan sekarang cosplay menjadi karakter favoritnya Shan.


Rosa datang dengan kue ulang tahun di tangannya. Kue yang ada miniatur elsa nya disana.


Chandra membantu Shan untuk duduk. Chandra memangku tubuh yang sudah tidak mampu menopang tubuhnya sendiri itu.


Sebuah meja kecil Dewi bawa, lalu ditaruhnya di atas bed tempat Shan berada. Meja itu sebagai tempat untuk kuenya Shan. Sekarang Shan bisa menikmati kuenya. Kue yang sangat bagus dan tentunya rasanya sangat enak. Tapi sebelum itu semua, ketiga keluarganya menyanyikan lagu ulang tahun untuk dirinya.


"Selamat ulang tahun kami ucapkan... Selamat panjang umur kita kan doakan... Selamat sejahtera, sehat sentosa... Selamat panjang umur, dan bahagia..."


Lagu dan iringan tepuk tangan yang hanya untuk Shan membuat anak kecil itu perlahan menitihkan air mata. Chandra menyeka buliran bening yang membasahi pipi putrinya itu yang tanpa dia sadari bahwa air matanya sendiri juga telah menetes.


Perasaan haru biru benar-benar merayapi setiap lubuk hati yang menghuni kamar itu. Tapi mereka tidak boleh menampilkan tangisannya. Hari ini hari istimewa Shan, tidak boleh ada raut kesedihan sedikitpun. Tidak boleh!


Nyanyian telah usai. Chandra menyuruh Shan untuk meniup lilin angka 4 dihadapannya.


"Tiup lilinnya sayang."


Shan dengan lemah mendongakkan kepalanya untuk menatap sang papa. Entah apa yang berada didalam pikirannya saat ini. Namun senyuman yang tidak luntur sedikitpun dari bibir kecilnya mengisyaratkan bahwa Shan sangat bahagia saat ini. Shan seolah berterimakasih.


Lagi-lagi mata Chandra berkaca. Genangan air mata langsung memenuhi pelupuk matanya. Hati orang tua mana yang tidak terenyuh. Chandra pun segera memeluk Shania. Dengan pergerakan yang cepat Chandra menolehkan kepalanya ke arah lain, ke arah yang tidak dapat Shan jangkau karena air mata akhirnya terjatuh juga.


Rosa hanya bisa mengusap punggung lebar itu. Menenangkan Chandra yang mencoba untuk tidak mengeluarkan suara isakan walaupun air matanya bertubi-tubi berjatuhan.


Sangat sakit menangis tanpa bersuara. Lidah Chandra benar-benar sampai kelu.


Sang penyelamat datang. Keluarga Yolla datang dari arah pintu sebagai pengalihan topik.


"Selamat ulang tahun Shan!" seru Yolla dengan riang. Kedua anaknya langsung membaur menuju ranjang Shan berada. Dua kado besar berada di tangan Ken. Untuk siapa kado tersebut? Tentunya untuk Shan.


"Kok lilinnya belum ditiup, ayo tiup Shan." ucap Salsa.


Chandra yang sudah menghapus air matanya lalu mendongakkan tubuh kecil itu sedikit ke depan. Ke arah kue. Dan pada hitungan ke-3 Shan meniupnya.


Namun...


Api tidak berhasil padam.


Orang-orang mencoba menghitung lagi. 1, 2, dan... 3


Hingga akhirnya benda itu padam. Tetapi dengan bantuan Chandra. Chandra lah yang meniupnya karena Shan sudah tidak mampu.


Rosa tidak bisa menyembunyikan perasaannya. Raut wajah Rosa menyiratkan kesedihan yang amat mendalam. Hingga akhirnya Dewi yang menyadarinya langsung mengalihkan perhatian.


"Ayo Shan mau makan kue atau buka kado dulu?" Dewi mengangkat kotak berukuran sedang yang dibungkus dengan kertas kado motif polkadot. Itu hadiah Dewi untuk Shan.


Chandra bertanya kepada Shan. "Kamu mau yang mana sayang?"


Jemari Shan menunjuk ke arah kue.


"Oh Shan mau makan kue ya. Oke uti ambilin pisaunya sama piringnya dulu ya."


Sebelum kue benar-benar dipotong. Yolla menyeru, "Eits kalian gak lupa kan buat foto? Udah apa belum tadi fotonya??"

__ADS_1


"Oiya belom foto." ucap Chandra.


Hampir saja sesi foto terlupakan. Yolla lalu menyuruh Ken untuk kembali ke parkiran mobil, untuk mengambil tripod.


Seluruh anggota keluarga merapat, mengambil posisi masing-masing. Dan pada hitungan ke tiga gambar pun akhirnya terekam.


Foto keluarga yang lengkap di momen yang sangat istimewa.


"Langsung kirimin ke wa ku ya kak." pinta Chandra dan langsung diiyakan oleh Yolla.


Shan melihat ke arah kue terus menerus. Beberapa kali Rosa mendapati anak kecil itu meneguk salivanya. Sepertinya Shan sangat ingin mencicipi kue ulang tahunnya. Dirinya sudah sangat tidak sabar.


Namun didalam pikiran Rosa berkecamuk. Rosa teringat ucapan dokter bahwa Shan tidak boleh makan makanan yang manis. Rosa teringat lagi bahwasannya Shan sudah tidak bisa makan lagi. Hanya melalui selanglah Shan dapat makan.


"Bagus ya Shan kuenya? Shan suka?" Chandra mengambil sepotong kue lalu menaruhnya di atas piring. Satu sendokan Chandra arahkan ke mulut Shan.


"Aaakk..."


Rosa menatap dengan sendu, menunggu reaksi yang selanjutnya akan terjadi.


Apakah Shan bisa makan? Apakah Shan boleh memakan kue itu?


Sungguh hati Rosa sangat teriris.


Namun ketika melihat suapan kue itu benar-benar masuk ke dalam mulut Shan. Rosa seketika bisa tenang.


Shan berhasil menikmati kue ulang tahunnya.


...***...


Rosa's POV


Ulang tahun Shania berjalan dengan sangat baik. Shan sangat senang dengan kejutan yang kami berikan. Senyuman yang dia tampilkan membuat kami semua bahagia.


Shania pasti sembuh. Shania pasti sehat. Mama ingin bersama dengan Shania lebih lama...


Kini hari telah berganti sore, keluarga kak Yolla pamit untuk undur diri. Kak Yolla menyalamiku dan memelukku.


"Terimakasih kak, sudah datang. Terimakasih atas kado-kadonya. Shania sangat senang." ucapku dan mendapat balasan senyuman oleh perempuan yang sangat cantik itu.


"Sama-sama. Segera istirahat Sa. Kamu jangan capek-capek ya." ucapnya sebelum dirinya benar-benar meninggalkan ruangan. Mama Dewi hari ini juga ikut kak Yolla pulang.


Kini hanya menyisakan kita bertiga. Aku, Chandra, dan putriku.


Aku menutup pintu perlahan tanpa menimbulkan suara. Shania sedang terlelap di dalam dekapan papanya. Shania sepertinya kelelahan karena acara. Papanya pun demikian. Chandra semalaman tidak tidur, mendekor ruangan ulang tahun Shania.


Kini aku sendirian yang membuka mata. Tidak ada yang aku lakukan. Aku hanya membersihkan riasanku dan menggerai rambutku yang masih terkepang layaknya elsa.


Saat aku sedang larut dalam kegiatan bersih-bersih diri tiba-tiba aku melihat Shania yang mengigau.


Shania mengeluarkan suara-suara kecil, seperti isakan dengan keadaan kedua mata anak itu masih terlelap.


Aku menghambur menghampirinya. Saat kudekati sudah banyak sekali peluh yang membasahi seluruh wajahnya. Perlahan lalu aku menyentuhnya.


Dingin.


Shania berkeringat dingin.


"Shania? Ada apa? Kamu kenapa sayang?" tanyaku lirih. Aku tidak ingin membangunkan Chandra, begitupun mengganggu tidur Shania. Namun setelah melihat Shania seperti ini, aku langsung mengguncang-guncangkan kedua tubuh orang yang sangat kucintai itu.


Chandra membuka matanya dan langsung panik. "Hei Shan kenapa??" pekiknya dengan kesadaran yang belum sepenuhnya terkumpul.


Chandra mencoba untuk bangun dari posisinya lalu memangku tubuh kecil itu. "Heii bangun sayang, kamu mimpi ya? Ayo bangun Shan. Heiii...."

__ADS_1


Shania tak kunjung bangun. Tanpa pikir panjang aku langsung berlari keluar ruangan. Mencari-cari pertolongan dokter.


Aku kembali dengan beberapa dokter. Dokter-dokter itupun sigap memeriksa kondisi Shania. Sekitar sepuluh menit akhirnya Shania sadar. Anak kecil itu akhirnya membuka mata.


Nafas Shania ngos-ngosan. Shania seperti mimpi buruk, tapi bagiku itu bukan mimpi buruk. Itu lebih dari mimpi buruk.


"Shan kenapa dok? Putri saya kenapa?" tanya Chandra yang masih memangku Shania.


Pertanyaan Chandra tidak kunjung dijawab oleh dokter. Entahlah dokter-dokter itu sangat lama berpikir.


"Dok?" Aku akhirnya bersuara.


"Kita akan pantau kondisi Shan lebih lanjut." ucap dokter. Lalu beberapa petugas medis lainnya masuk ke dalam ruangan. Tapi mereka tidak sendiri, mereka membawa beberapa alat-alat medis yang sangat familiar di dalam penglihatanku.


Dokter meminta ijin kepada Chandra untuk membaringkan Shania kembali ke tempat tidur.


Chandra begitu pasrah. Dengan kooperatif Chandra menuruti setiap permintaan dokter.


Pakaian pasien Shania dibuka, dokter kemudian memasangkan alat-alat yang entah aku tidak tau namanya ke sekujur tubuh Shania. Sekarang di dada Shania menempel banyak kabel-kabel yang beraneka warna. Kabel yang terhubung ke arah monitor. Disana kita bisa lihat bagaimana irama detak jantung Shania.


Dokter bilang, saturasi oksigen Shania juga berada di level yang rendah. Dada Shania naik turun, Shania sesak napas. Shania harus memakai masker oksigen.


Apakah harus seperti ini kah? Apakah putriku harus memakai semua serangkaian peralatan medis ini?


Oh Tuhan, satu selang makanan yang masuk ke hidung Shania saja sudah membuat Shania sangat risih. Kenapa harus dipasangi berbagai macam alat lagi Tuhan?


Aku sangat tidak tega...


"Untuk kedepannya kalo ada apa-apa segera panggil saya ya. Atau bisa tekan tombol emergency itu." ucap dokter yang kemudian berlalu meninggalkan ruangan.


Aku tidak bisa menahan air mataku. Aku memilih untuk pergi menuju kamar mandi dan menangis disana. Benar-benar tidak kuat rasanya. Baru saja Shania merayakan ulang tahun. Baru saja Shania bahagia namun kenapa kondisinya menurun seperti ini.


Tuhan... Kenapa Engkau mempermainkan putriku seperti ini? Tuhan... Kenapa Engkau tidak mengasihani Shania? Kenapa??


Kenapa lagi-lagi Engkau membuatku sedih? Terlebih Chandra.... Perasaan Chandra pasti sekarang sangat kacau.


Bermenit-menit berlalu. Aku merasa sudah sedikit tenang sekarang. Perlahan aku membuka pintu kamar mandi lalu keluar.


Kudapati Chandra tengah menggenggam tangan kecil itu. Chandra menunduk, menatap anak perempuan yang terlelap di hadapannya.


Kedua mata Chandra akhirnya bertemu denganku. Laki-laki itu menatapku. Tatapan lelah dan sembab. Tatapan seolah meminta tolong kepada siapapun.


Ya Tuhan, aku tidak tega. Hatiku menjerit sangat keras.


Perlahan aku menghampirinya. Aku berjongkok di dekatnya. Tanganku ikut menggenggam genggamannya tersebut. Di dalam tanganku ada tangan Chandra dan putri kecil kita.


Dalam waktu yang lama kita bertahan seperti ini. Bergelut dengan pikiran dan jeritan di dalam hati masing-masing. Tidak ada suara sama sekali, hanya suara nyaring yang dihasilkan dari monitor bergelombang zig-zag di samping ranjang Shania.


Hingga akhirnya Chandra mau bersuara. "Rosa, aku takut..."


Seketika aku mendongak untuk menatap wajah Chandra. Aku bisa melihat sendiri bagaimana rautnya yang penuh dengan kekhawatiran.


Kedua mata itu putus asa.


"Chandra, tidak..." Aku menggeleng dengan lemah. Genggamanku semakin erat kulakukan.


Chandra tidak boleh pasrah. Jalan kita masih panjang. Aku sangat yakin Shania harapannya masih ada.


Tapi perkataan Chandra seketika meluluhlantakkan segala keyakinanku.


"Kalo Shan pergi, aku udah ikhlas..."


~tbc...

__ADS_1


__ADS_2