
"Loh Shan kenapa harus puasa sih pa? Emangnya sekarang ini lagi bulannya puasa ya?"
Bagaimana menjelaskannya, Chandra terdiam bermenit-menit untuk berpikir. Haruskah Chandra mengatakan yang sebenarnya saja atau membungkamnya?
"Gini sayang, nanti... Nanti Shan mau dioperasi." ucap Chandra dengan suara yang berakhir lirih.
"Apa pa? Shan gak denger? Shan mau diapain nanti??"
Kedua mata Chandra menatap lekat mata kecil nan bening itu. Jika saja Shan sudah dewasa pasti Shan sangat tahu jika sekarang ini papanya sedang sangat sangatlah khawatir.
"Shan nanti dioperasi. Makanya Shan harus puasa dulu."
"Op-operasi? Operasi itu diapain pa?"
Chandra perlahan mendudukkan pantatnya di atas bed yang sama yang diduduki oleh putrinya.
Satu tangannya meraih tangan kecil Shan, lalu menggenggamnya sangat erat. Shan yang punggungnya bersandar pada tumpukan bantal itu tidak mengerti, sebenarnya kenapa papanya tiba-tiba berubah menjadi sangat mellow seperti ini.
"Papa are you fine?" tanya Shan, pelan.
Chandra mengangguk, namun senyuman yang ditunjukkan seolah mengatakan yang sebaliknya.
"Shan masih gak ngerti apa itu dioperasi pa." Shan meminta penjelasan lagi.
Baiklah Chandra akan menjelaskan arti dari kata yang terdengar sangat asing bagi Shan tersebut. Selesai menjelaskan, reaksi anak itu pada akhirnya hanya...
"Oh ya gak papa. Shan siap kok. Shan gak takut sama sekali."
Seluruh pasang telinga yang mendengarnya menjadi amat lega. Rosa, Dewi yang berada di dalam ruangan tersebut menghela nafas lega, namun ada satu orang yang masih sangat khawatir, yaitu Chandra.
Chandra untuk menghirup napas saja saat ini sangatlah kesulitan. Masih berat hatinya. Sangat, sangat berat. Chandra tenggelam dalam ketakutannya. Chandra takut melepas Shan untuk dioperasi malam nanti.
Puasa yang harus dijalankan Shan berjalan dengan sangat pelik.
Anak kecil itu rewel bukan main.
"Papa, sampai kapan sih Shan gak dibolehin makan? Shan laper banget pa."
"Sabar dulu ya sayang, tunggu bentar lagi." ucap Chandra, walupun kenyataannya jam di dinding masih menunjukkan pukul 11 siang.
Chandra sebenarnya juga heran. Pasalnya kemarin-kemarin saat Shan tidak diharuskan puasa, pola makannya anak itu berantakan. Shan bahkan sering tidak sarapan pagi, dia juga tidak mengeluh kelaparan seperti ini walaupun skip sarapan. Tapi kenapa saat disuruh puasa sekarang ini dia merengek minta makan? Aneh sekali memang.
Oh mungkin saja ini memang cobaan puasanya Shan.
"Shan pengen mik cucu. Kasih Shan cucu aja. Shan haus pa. Gak papa kan kalo cuma mik? Puasa itu kan yang penting gak makan, iya kan pa?"
"Shan, tapi tetep aja gak boleh. Makan atau mik tetep gak boleh kalo puasa itu. Sorry ya Shan."
Shan menekuk wajahnya. Bibirnya mengerucut dan mulai terisak.
"Eh jangan nangis, puasa itu gak boleh nangis juga."
"Aduh kok banyak sekali sih pa yang gak dibolehin. Shan gak suka puasa ah!"
"Sabar sayang." Chandra meraih tubuh mungil itu untuk dipeluk. Sungguh Chandra sangatlah gemas dibuatnya. Shan kesayangannya Chandra, kenapa kamu begitu menggemaskan sekali?
"Ayo main aja sama uti." Dewi membawa sekotak lego milik Shan, lalu membukakan meja lipat kecil dan meletakkannya di atas bed nya Shan.
Shan dengan segera meraih kotak itu kemudian mengeluarkan seluruh potongan-potongan kecil lego tersebut dari kotaknya.
Chandra menggeser tubuhnya karena tidak cukup ruang untuk mamanya duduk.
"Yaudah deh kalian main berdua aja ya, sempit nih." Chandra akhirnya berpindah tempat menuju sofa.
Kini hanya ada Shan dan utinya yang menghadap ke meja lipat tersebut.
"Kita mau buat bentuk apa nih Shan? Rumah-rumahan atau kendaraan?" tanya Dewi pada Shan.
Shan menjawab dengan sangat antusias layaknya utinya. "Shan mau buat train!"
"Boleh. Uti mau buat em... Apa ya? Emmm..."
__ADS_1
"Elahh buat yang mudah aja deh, kelamaan mikirnya tauk." celetuk Chandra. Dewi hanya melemparkan senyuman sekilas pada putranya itu.
"Ayo uti kita balapan. Siapa cepat yang jadi, dia yang menang!"
"Okee."
"1, 2,.....ti..........ga!"
Dewi dengan semangat berkobar mempercepat pergerakan tangannya. Shan apalagi, jemarinya yang kecil itu teramat lincah menyusun dan menggandengkan setiap potongan lego yang berada di hadapannya.
Bermenit-menit berlalu, kedua nenek dan cucu itu masih beradu cepat.
"Punya uti hampir jadi."
Shan melirik ke arah rivalnya sebentar setelah mendengar kalimat yang dilontarkan tersebut.
Shan semakin termotivasi untuk mempercepat ketertinggalan. Step by step dia telah kerjakan. Bentuk lego yang bergandeng memanjang telah tercipta. Sudah sangat mirip dengan gerbong kereta, tinggal menambahkan beberapa aksen kecil untuk memperindahnya.
Namun.....
'Aduh tangan Shan kenapa ya?'
Shan mendadak terdiam. Anak kecil itu memandang ke arah tangan mungilnya sendiri. Hingga akhirnya, Shan memanggil Chandra.
"Papa, bisa bantuin Shan nggak?"
Chandra bangkit dari posisi duduknya. "Iya Shan kenapa?"
"Sini pa."
Chandra mendekat, Chandra sendiri juga tidak tahu sebenarnya apa yang terjadi.
"Uti, Shan boleh ya minta bantuan papa sedikit. Shan gak curang kan ti?"
Dewi mengangguk. "Boleh sayang, boleh. Shan gak curang kok. Emm memangnya Shan mau minta bantuan apa ke papa?"
Dewi saling pandang memandang dengan Chandra. Kedua orang tersebut benar-benar tidak mengerti. Sebenarnya kenapa.
Shan mulai menggerakkan tangannya ke arah potongan lego kecil yang tersisa. Jemarinya bergerak, hendak mengambil, akan tetapi...
Jantung Chandra seakan dihantam dengan balok yang keras. Denyutnya semakin mempercepat.
'Tidak, tidak mungkin...' suara hati Chandra mengelaknya.
Chandra segera meraih tangan Shan, lalu memeriksanya. Setiap detail Chandra lihat, Chandra raba, dan Chandra elus.
Chandra sendiri sebenarnya juga tidak tahu, namun kekhawatirannya semakin memperbesar.
"Enggak sayang, enggak. Kayaknya jari-jari Shan cuma capek aja." Chandra mengarahkan semua jemari kecil tersebut ke mulutnya. Chandra mengemut satu persatu bagian tubuh kecil itu secara bergantian berharap kemungkinan buruk yang dipikirkannya tidak akan terjadi.
"Rosa, tolong panggilkan dokter Hans." perintah Dewi yang langsung dicegah oleh Chandra.
"Gak! Mama ini apa-apaan sih? Orang Shan-nya gak papa ngapain manggil dokter itu? Shan gak papa! Jarinya cuma keram!"
Semuanya kini hening. Semuanya memilih untuk menuruti perintah dari Chandra. Akan tetapi, sekuat tenaga Chandra berusaha untuk berpikir positif, Shan malah meluluhlantakkannya.
"Shan sebentar lagi gak bisa pegang-pegang lagi ya pa?"
...***...
Puluhan orang yang lalu lalang di koridor nyatanya tidak membuyarkan lamunan Chandra. Chandra masih larut dalam laumananya. Laki-laki itu bengong. Di kursi ruang tunggu, di hadapan banyak pengunjung rumah sakit yang berjalan melewati koridor.
Chandra sibuk sendiri di dalam pikirannya. Memikirkan berbagai banyak kemungkinan yang selalu menghantuinya.
Jam nyatanya masih terus berdetak. Waktu nyatanya tidak bisa dihentikan sedikitpun. Masih tetap terus berjalan. Hari sekarang ini telah memasuki waktu sore. Ini membuat Chandra semakin gelisah.
"Chandra..." panggilan yang disematkan membuatnya menoleh.
Rosa keluar dari pintu ruangan kamar Shan. Berjalan menghampiri Chandra kemudian duduk di sebelah laki-laki itu.
"Apa yang kamu pikirkan?" tanya Rosa.
__ADS_1
"Gak ada. Aku gak lagi mikir apa-apa, kamu gak usah sok tau."
Bohong, wajah Chandra tidak bisa berbohong sama sekali.
Chandra malah mengalihkan perhatiannya. "Shan sudah mandi apa belom? Buruan bangunin aja, sekarang soalnya udah sore."
Aneh, jika Chandra dalam kondisi pikiran yang tidak semrawut, maka Chandra akan berjalan sendiri menuju ruangannya Shan, lalu membangunkan sendiri anak kecil itu. Chandra tau bukan, membangunkan Shan itu bukanlah perkara yang mudah.
"Chandra kamu tidak usah khawatir."
Chandra rasanya ingin mengumpat sekarang juga. Ucapan Rosa bukannya membuat dirinya menjadi tenang malah membuat menjadi berapi-api.
"Rosa, udah gue bilang lu gak usah sok tau." suara Chandra bak sebuah perhitungan yang mengancam, namun Rosa, baginya itu bukanlah apa-apa.
"Dokter Hans sudah janji sama aku, Shan akan baik-baik saja. Shan akan sembuh ditangannya."
Chandra mempertajam tatapannya pada Rosa. "Itu memang keharusan. Kalo Shan-ku sampai kenapa-napa, hidup dokter itu sendiri jaminannya."
Rosa diam, yang berarti semua yang Chandra katakan itu adalah silahkan. Semuanya terserah Chandra. Semuanya terserah Chandra akan mengambil jalan apa kedepannya, karena itu adalah keputusan seorang ayah atas putrinya.
.....
"Halo halo halo, tetteretet...." Suara terompet ditiup memenuhi ruangan. Shan yang baru saja selesai mandi itu langsung memusatkan perhatiannya pada gerombolan orang yang datang.
Ternyata mereka adalah sepupunya.
Shan tersenyum kesenangan melihat keluarganya datang hari ini. Berbeda dengan Shan yang senang, Chandra yang sedang memakaikan Shan pakaian itu malah mengernyit.
'Ngapain sih kesini? Bikin berisik telinga gue aja.'
"Kita dateng buat nyemangatin Shan tersayang. Shan! Semangat ya, Shan hebat, Shan kuat!" seru Yolla yang kemudian meniup terompetnya lagi.
"Woi berisik!" teriak Chandra, namun tidak ada yang menggubrisnya sama sekali. Keluarga kecil Yolla malah membunyikan terompet secara bersamaan dan kompak. Satu sisi ada yang pemarah, dan sisi lain adalah pembuat onar.
Ini membuat semua larut dalam gelak tawa.
"Shan mau tiup terompet juga?" Jimmy mengulurkan sebuah terompet untuk Shan. Shan sangat senang, dan langsung mencobanya.
Tereteteteteteeeeeettttt
Chandra refleks menutup telinganya. "Aduh Shan! Ya jangan pas di kuping papa juga kaliiii."
"HAHAHHAHAHA...." Semua orang tertawa lagi.
Sore hari ini rasanya sangat berarti bagi Shan. Bagaimana tidak, dirinya saat ini merasa sangat spesial karena semuanya hadir hanya untuknya.
Semuanya memperhatikan dirinya. Memanjakannya, memeluknya, dan membuatnya senang. Shan dapat dengan jelas merasakan hangatnya kasih sayang dari semua keluarganya.
Ini hari terbaiknya Shan. Hari diantara hari-hari lainnya yang paling menyenangkan. Shan bahagia.
Baru kali ini Shan merasa tubuhnya sangat ringan. Shan terlupa akan rasa sakit yang sedang dideritanya. Semuanya tertutupi untuk saat ini, berkat keluarganya.
"Shan ayo kita mainan yang lain." Salsa berlari ke arah kontainer transparan yang digunakannya untuk menyimpan semua mainan miliknya. Ya, Salsa dan Jimmy sangat penuh niat, mereka membawa semua mainannya dari rumah untuk dimainkan bersama dengan Shan di rumah sakit.
"Shan mau main apa??" tanya Salsa.
"Apa aja kak Shan mau."
"Okee..."
Jimmy ikut memilih mainan di dalam kontainer. Para orang-orang dewasa saat ini sedang menyempatkan diri untuk pergi ke kantin guna mengisi perut mereka yang kosong. Shan, Salsa, dan Jimmy tinggal di dalam ruangan. Anak-anak tidak ikut, biarkan anak-anak tersebut bermain bersama.
Sebelum pergi Chandra menurunkan Shan dari atas bed-nya. Shan kini duduk di lantai agar lebih mudah bermain dengan kedua sepupunya dan juga menghindari jatuh dari atas bed.
Karpet telah digerai. Tidak akan ada yang kedinginan jika harus bermain di atas pemukaan lantai.
"Shan, gimana kalo kita main zoo-zoo an aja!" pekik Jimmy sembari mengangkat mainan berbentuk menyerupai harimau di tangannya.
"Shan?"
"Hei Shan??"
__ADS_1
"Oh tidak! Shan!!!!"
~tbc...