
"Shan sayang, ayo makan dulu nak. Ini uti udah bikinin telur dadar loh. Liat ini enak banget nih, apa Shan gak pengen hmm?"
Shan tidak bergeming sama sekali. Bibirnya terkatup rapat dan pangandangannya... Entah mengarah kemana, tatapan matanya terlihat kosong. Dia bahkan tidak mau menatap utinya sedikitpun. Tembok yang berjarak beberapa meter di depan sana, seperti menjadi objek yang lebih bagus jika dilihat dari tempat Shan yang berada diatas ranjang ini, ketimbang melihat sosok Dewi.
Dewi mulai khawatir. Perempuan paruh baya itu tidak tau harus melakukan apa sekarang jika Shan mogok makan seperti ini. Dewi benar-benar tidak tau mengapa Shan tiba-tiba seperti ini. Dewi datang dari pasar tadi keadaan Shan sudah membisu seperti ini. Bocah kecil itu tidak bisa ditanyai apapun sama sekali. Dan Dewi menjadi sangat bingung.
"Shan, mau ganti telur ceplok ya? Oke boleh sayang..." Dewi sekarang bermonolog.
"Shan..." panggilnya lagi.
"Hei sayang nanti kalo gak makan perutnya sakit gimana, Shan?" ucap Dewi dan lagi-lagi tidak mendapat tanggapan apa-apa dari bocah itu.
Shan kini mulai merubah posisinya. Dia yang tadinya duduk kini berbaring, menghadap ke arah yang sebaliknya yaitu menghadap ke tembok. Dia memunggungi neneknya, mengacuhkannya.
"Iya kalo Shan mau tidur dulu silahkan Shan, uti bolehin. Tapi bentar aja ya dek, karena udah sore. Kamu harus mandi juga nanti..."
Setelah mengatakan itu Dewi keluar dari kamar Shan. Mungkin ini yang terbaik agar suasana hati Shan segera membaik jika diberi ruang untuk sendiri.
Selagi menunggu Shan tidur, Dewi menyiapkan air panas untuk cucunya itu.
"Uti!" Tiba-tiba Salsa memanggilnya dari arah tangga.
"Ada apa sayang?"
"Uti mandiin aku yuk."
"Aduh... Memangnya mamamu kemana Sal?"
"Mama lagi sibuk ti, live medsos jualan jadi gak bisa diganggu. Ayo mandiin aku ti. cepet. Entar aku malah dimarahin loh ti kalo jam segini belom mandi."
Dewi kini bingung. Harus memandikan Shan dahulu atau Salsa. Apalagi sekarang sudah mepet waktunya jam Chandra pulang kerja. Jika Salsa tidak segera dimandikan maka Yola akan marah, begitupun Chandra, laki-laki itu juga akan marah kepada Shan. Ditambah suasana hati Shan sekarang ini juga sedang tidak bagus. Ahh Chandra akan semakin marah jika melihatnya.
"Itu air buat aku kan ti?" tanya Salsa sembari menunjuk ke arah panci yang masih bertengger di atas kompor.
Dewi akhirnya menganggukinya.
Memandikan Salsa ternyata membutuhkan effort yang lebih. Salsa meminta dipakaikan sampo, digosok punggungnya, dan juga berendam. Keinginan bocah itu sangat memakan waktu yang lama. Lalu waktu untuk giliran Shan mandi nanti bagaimana?
Dewi akhirnya memutuskan untuk memanggil Shan saja, mengajaknya untuk mandi bersama dengan Salsa sekarang. Ya, jika dia mau...
"Eh Shan..." Dewi sedikit terkejut mendapati Shan ternyata telah berada dilantai bawah. Bocah kecil itu berada di meja makan, telah duduk manis disalah satu kursi sembari melihat sepiring nasi dan telur yang telah ditawarkan Dewi beberapa saat lalu.
"Oh Shan mau makan ya, sayang? Iya boleh nak. Shan makannya mau sendiri apa uti suapin?" tanya Dewi.
Shan tidak langsung mengangguk ataupun menolak. Bahasa tubuhnya terlihat masih ragu-ragu untuk mengatakan apa. Anak yang baru saja mengambek memanglah seperti itu.
"Shan minta disua—"
"UTIIII!"
"Eh iya Salsa!" Dewi berlalu kembali menuju ke arah kamar mandi karena panggilan Salsa itu. Disisi lain, padahal Shan ingin disuapi olehnya.
"Shan bentar ya sayang!" ucap Dewi dari dalam kamar mandi.
Shan pun mengangguk perlahan, walaupun tidak dapat terlihat oleh Dewi karena mereka terhalang tembok.
Suara guyuran air dan obrolan Dewi bersama Salsa terdengar riuh disana. Shan dengan sabar menunggu, seraya memegangi perutnya sendiri yang bergemuruh riuh pula karena lapar. Hingga tanpa sadar, sosok seseorang jangkung yang berada di ambang pintu mengalihkan pandangannya.
Orang itu telah datang... Papanya.
Shan tercekat beberapa detik, lalu akhirnya memilih untuk berlari pergi dari tempat itu. Dia mengacuhkan Chandra yang telah pulang dari kantor.
"Eh Shan!" panggil Dewi, yang bersamaan telah keluar dari pintu kamar mandi. Dewi tidak bisa menghentikan langkah gesit bocah itu yang telah menaiki tangga.
"Loh Shan katanya mau makan ti???" celetuk Salsa yang seketika membuat fokus Chandra terpusat pada sepiring makanan di atas meja makan.
Dewi sontak kelabakan. "Emm anu Chan, gini—emm.. Shan tadi mo—"
"Biar aku aja." ucap Chandra, tanpa menunggu perkataan Dewi terselesaikan, laki-laki itu segera meraih sepiring makanan dan melenggang pergi menyusul keberadaan putrinya.
"Chan..."
Langkah Chandra terhenti sebentar karena panggilan Dewi.
"Tolong jangan kasar." pesan Dewi.
...***...
Chandra's POV
Aku melangkah menuju pintu kamar tidurku dengan membawa sepiring makanan di tangan. Telur dadar, Shan pasti sangat menyukainya.
Saat aku menginjakkan kaki di rumah tadi, saat Shan menatapku rasanya.... Benar-benar menyakitkan. Perasaanku hancur, karena tatapan yang Shan berikan.
Ya, ini memang salahku sedari awal. Aku memukulnya, memarahinya. Aku tidak bisa mengontrol emosiku dan akhirnya aku mengecewakan Shan lagi.
Ya Tuhan Shan... Papa benar-benar khilaf. Papa ingin berdamai denganmu, sayang.
Ceklek.
Langkah kakiku akhirnya sampai di tempat yang ku tuju. Ku buka pintu kamarku perlahan. Pertama kali masuk, kudapati Shan telah meringkuk di atas tempat tidur. Lengkap dengan boneka teddy dan selimut warna merah muda kesayangannya.
__ADS_1
"Shan, papa tau kamu tidak tidur..." ucapku kemudian meletakkan makanan di tepi ranjang, didekatnya. Aku pun lantas duduk di ruang yang tersedia.
Aku mengelus kepala Shan perlahan. Aku memang tidak bisa melihat wajahnya karena dia menghadap ke tembok.
"Sayang makan dulu yuk..."
Shan malah menarik selimutnya semakin ke atas, menutupi seluruh wajahnya.
"Shan..." panggilku lirih. "Papa minta maaf..."
Perlahan ku lihat selimut itu bergetar. Terdengar lirih suara isakan juga dari balik sana.
"Papa gak seharusnya kayak tadi Shan. Papa minta maaf. Papa tadi benar-benar salah. Tolong maafin papa, Shan..."
"Papa bohong!"
Seketika aku tercekat di tempat.
Shan mulai membuka selimutnya. Dia akhirnya mau memperlihatkan wajahnya. Dengan sesenggukan dia menatapku masih dengan sorot penuh kekecewaan.
"Papa bohong." ucapnya lagi.
Aku berusaha untuk memeluknya, tapi dia menolak.
"Papa selalu ngulangin lagi walaupun papa udah minta maap. Papa selalu marahin Shan, ngehajar Shan padahal Shan gak salah. Itu... Itu semua sakit pa."
"Shan..."
"Papa bohong waktu papa bilang minta maaf!" jerit Shan.
Perasaanku rasanya tidak karuan sekarang. Aku benar-benar sangat amat menyesal. Aku merutuki diriku ratusan kali. Aku sungguh gagal menjadi seorang papa. Aku gagal menjadi contoh yang baik untuk Shan.
"Papa, Shan capek...."
Aku menggeleng dengan cepat dan segera mendekap tubuh kecil itu. Aku akhirnya menitihkan air mata detik itu juga.
"Shan, papa harus apa sekarang? Papa harus apa untuk menebus kesalahan papa. Shan, papa sangat menyesal Shan..." ucapku dengan sekuat tenaga menjaga suaraku agar tidak terdengar sedang menangis.
"Papa, Shan pengen sama papa terus tapi Shan takut kalo papa terus-terusan marahin Shan, pukul Shan. Apa papa sebenarnya gak sayang sama Shan?"
"Enggak sayang, papa sangat sayang sama Shan. Papa sayang banget sama Shan. Tolong Shan jangan ngomong seperti itu."
"Tapi papa bikin Shan bingung."
"Papa minta maaf Shan..." Aku semakin mengeratkan rengkuhanku. Merasakan air mataku yang kian mengalir deras jatuh membasahi rambut Shan.
Hatiku benar-benar berkecamuk sekarang. Ucapan demi ucapan yang Shan lontarkan berhasil menamparku hingga remuk.
Hanya itu.
Aku memang laki-laki pecundang. Shan sangat tidak beruntung mendapatkan papa seperti diriku ini. Shan pasti sangat kecewa dengan nasibnya.
Tangisan Shan perlahan mereda. Dia ingin mengeluarkan wajahnya dari dalam dekapan ku. Aku pun dengan segera menghapus air mataku, sebelum wajahku terlihat di penglihatan Shan.
"Papa..." panggilnya masih dengan sisa-sisa air mata disana.
"Iya, Shan." Aku hanya bisa menghapus buliran itu, seraya menatapnya dengan intens. Lagi-lagi kedua matanya berhasil membuat hatiku kembali teremat.
Aku membelai rambutnya perlahan, menyingkapkan poninya yang telah memanjang ke balik daun telinga. Hingga tiba-tiba...
"Ini kenapa Shan?" tanyaku setelah melihat ada tanda kemerahan pada bilah pipi kanannya. Dan terlihat sedikit bengkak. Bukan... Itu bukan karena efek menangis. Aku sangat yakin.
Aku mulai mengamati lebih cermat lagi. Dan detik berikutnya aku langsung melotot.
"Kamu ditampar?!"
Shan menundukkan kepalanya rendah-rendah. Kedua mata yang tadinya menatapku, kini sudah tidak terlihat lagi, tertutup oleh poni yang menjuntai ke bawah.
"Siapa yang nampar kamu Shan? Siapa? SIAPA?!!!"
Aku mengguncangkan tubuhnya berkali-kali, memaksanya agar mau memberitahuku siapa pelakunya.
Hati seorang papa mana yang tidak sakit jika melihat pipi putrinya ada bekas telapak tangan disana?
Aku tidak akan hanya berdiam seperti ini....
Brakkkkkk!
Aku menggebrak pintu kamar Yola. Yola seketika kaget, dia segera mematikan siaran langsungnya di ponsel, lalu menghampiriku.
"Lo apa-apaan sih Chan?! Gak liat apa gue lagi—"
"CUKUP YOL!" sentakku. Aku lantas menarik lengan Shan supaya anak itu mendekat. Rambut Shan aku singkapkan dan kutunjukkan padanya atas ulahnya pada Shan.
"Lo kan yang udah nampar Shan?!"
Yola tidak langsung menjawab, dia malah menatapku dengan tatapan penuh amarah juga.
"NGAKU LO!"
"Apasih lo Chan!"
__ADS_1
Jadi benar dialah pelakunya!
Aku melepaskan genggamanku pada lengan Shan, kemudian bergegas mencari keberadaan Salsa. Anak Yola itu... Aku harus membalas ulah Yola pada anaknya juga! Aku tidak terima!
"Chan apa yang lo cari?!"
"Chan keluar dari kamar gue!"
"Chan gue bilang keluar!!!!!"
"Dimana lo sembunyiin anak bangsat lo—"
Plakkkkk
Wajahku tertoleh seketika. Yola menamparku sangat keras, menjadikan pipi kananku kini terserang rasa panas.
"Papa..."
Yola menamparku tepat di hadapan Shan. Ya, Shan masih berada disana.
Rahangku seketika mengeras.
"Berani-beraninya ya lo ngatain Salsa gue kayak gitu..." ucap Yola dengan nada yang bergetar. Tapi itu tidak menyurutkan emosiku sedikitpun. Aku langsung meraih lengan bajunya, mendorongnya hingga punggungnya membentur tembok.
Aku tidak peduli dia perempuan. Aku tidak peduli bahkan dia saudara kandungku sekalipun. Aku benar-benar tidak peduli dengan apapun. Jika dia menyakiti Shan, maka aku akan menghancurkannya saat ini juga.
Tanganku terkepal kuat-kuat. Aku mengambil ancang-ancang ke udara dan....
Hap
Ken entah datang dari mana. Dia datang dan langsung menahan tanganku yang sudah hampir mengenai wajah Yola.
Ken menghempaskan tanganku dengan kasar. "Lo harusnya cari lawan yang sepadan Chan." ucapnya sembari menyunggingkan senyum di wajah jeleknya itu.
Aku seketika naik pitam dan langsung meninjunya tanpa ampun. Ken pun membalas, dia menyerang balik diriku tidak kalah. Yola menjerit-jerit meminta kita untuk berhenti, tapi kita menolak....
Suara jeritan Yola, suara jeritan mama pun tidak berhasil menghentikan aksi adu jotosku bersama Ken. Ken kini terjatuh di lantai. Dia telah bersimbah darah dan kelelahan. Aku kembali mencengkeram kerah pakaiannya, menarik tubuhnya agar bangkit kembali karena aku belum puas menghajarnya.
Hingga akhirnya aku memilih untuk mengakhiri perkelahian ini sepihak ketika merasakan sepasang tangan kecil memeluk erat sebelah kakiku. "Papa tolong berhenti, Shan takut..."
...***...
"Papa kita mau kemana?" tanya Shan yang tengah kupakaikan jaket.
Aku tidak bisa langsung menjawabnya, aku hanya bisa menatapnya, mengisyaratkannya bahwa kita berdua akan baik-baik saja. Papa janji, Shan.
Mama terlihat sibuk dengan ponsel yang menempel di pipinya. Entahlah dia mungkin sedang menghubungi papa sekarang. Padahal papa sedang ada carteran, dia pasti tidak mendengar telepon mama.
Aku mulai menaikkan Shan ke atas gendonganku. Dua buah koper telah ku masukkan ke dalam mobil beberapa saat lalu. Satu koper untuk pakaianku, dan satunya lagi untuk pakaian Shan.
"Mama tolong mainannya Shan besok dikemas ya, biar aku ambil pas waktu pulang kerja."
Mama seketika menangis, aku semakin menenggelamkan kepala Shan ke arah ceruk leherku. Shan tidak boleh melihat neneknya menangis seperti ini.
"Tolong jangan pergi. Ini bisa diselesaikan secara baik-baik Chan, mama mohon..."
Sudah tidak bisa ma, ini sudah terlalu jauh. Memang sedari awal sudah salah. Sangat salah memiliki dua orang yang berbeda pandangan dalam satu rumah. Dan lebih baik kini aku dan Shan saja yang pergi. Aku dan Shan saja yang mengalah dan memilih mengakhiri segalanya.
Agar psikis kita berdua tetap sehat.
Aku merasakan tubuh Shan telah lunglai di gendonganku. Sepertinya anak ini telah tertidur. Maklum, sekarang ini sudah hampir pukul sepuluh malam. Aku segera menuju mobil dan meletakkan tubuh putri kecilku ke kursi sebelah kemudi. Mama masih mengikutiku, lengkap dengan deraian air matanya.
"Chandra tolong pikirkan baik-baik. Tolong jangan pergi, dengerin mama nak. Tolong..."
Aku memeluk mama sangat erat. Menenangkan tangisannya yang entah mungkin tidak bisa langsung tenang sepertinya. Tapi aku tidak punya waktu lagi, aku harus segera menyudahi perpisahan ini. Apalagi aku belum menemukan tempat untuk yang dituju selanjutnya, padahal malam sudah akan semakin larut.
Aku salim dan mencium punggung tangan mama sebentar lalu masuk ke dalam mobil dan memulai perjalanan. Lagi-lagi mama masih terlihat menangis di luar sana.
Maafkan aku ma.... Andai saja semua ini tidak terjadi. Andai saja Yola tidak memukul anak yang katanya dahulu juga akan dianggap sebagai anaknya sendiri, pasti kejadian ini tidak akan terjadi.
Tapi ternyata apa? Yola berbohong. Dia ternyata tidak menepati perkataannya itu.
Rasa hormatku sudah benar-benar hilang pada manusia itu...
"Eunggh papa sebenarnya kita akan kemana?" Shan tiba-tiba terbangun dan bertanya kepadaku.
"Shan dulu inget gak katanya pengen tinggal berdua aja sama papa di apartemen?"
"A-apartemen pa?"
"Iya sayang, kita akan tinggal di apartemen. Gedung bertingkat yang bagus itu. Hanya kita berdua Shan."
Aku pikir Shan akan bersorak senang setelah mendengar perkataanku, tapi ternyata tidak. Dia hanya terdiam, sembari menatapku dengan tatapan yang.... Ahh sangat sulit untuk dijelaskan.
Aku membelai bilah pipinya dengan satu tanganku. Pipi Shan, pipi dimana tamparan Yola dia dapatkan. Lagi-lagi hatiku mencelos. Sangat kecewa dengan diriku sendiri. Apalagi tadi aku sempat mengira Shan lah yang membohongiku, bahkan aku sampai memukulnya. Padahal faktanya disinilah Shan yang tersakiti.
Aku benar-benar papa yang bodoh Shan. Aku sangat menyesal, sayang.
"Shan papa minta maaf sudah meragukanmu. Papa harusnya percaya sama kamu sejak awal..."
~tbc...
__ADS_1