
"Makan yang manis-manis, asin-asin, asem-asem, dingin-dingin, dan makanan cepat saji gak boleh ya Shan."
"Oiya satu lagi..." Dokter Hans menunjuk sebuah minuman kotak berwarna pink yang berada di atas nakas. "Itu juga tidak boleh." lanjutnya dengan senyum mengembang.
Shan langsung mengangguk dan tanpa babibubebo langsung membuang susunya yang aku sangat yakin masih banyak ke dalam tempat sampah.
Wahh gila, kenapa Shan begitu patuh ya sama dokter barunya itu. Heran akuuu...
"Shan sini." suruh dokter yang berperawakan tinggi dan atletis itu. Tapi gak sih, masih lebih tinggi dan bagusan tubuhku aslinya.
Shan kini duduk di sebelah dokter Hans tepat. Bocah itu menatap ke wajahnya dengan seksama. Dihh si Shan kenapa sih? Dia terkesima ya sama dokter Hans? Ada-ada aja sih bocah itu.
"Shan kita bisa mulai perawatannya dari sekarang ya. Tolong selama proses pengobatannya Shan nanti Shan harus semangat dan ceria. Janji ya?" Dokter Hans mengangkat jari kelingkingnya pada Shan.
"Siap dok! Shan janji!" ucap Shan dan langsung menautkan jari kelingkingnya pada jari kelingking milik dokter Hans.
Ternyata jauh sekali dari bayanganku sebelumnya. Aku pikir dokter yang didatangkan jauh-jauh dari luar negeri itu dokternya tua, dingin, dan tidak bisa berbahasa Indonesia. Namun ternyata tidak, dokter Hans berbeda. Dia masih sangatlah muda, mungkin hanya selisih setahun-dua tahun dariku. Kepribadiannya yang menyenangkan dan ramah sangat disenangi oleh anak-anak. Dan ternyata dia itu asli orang Indonesia, hanya saja bekerjanya di Singapura. Hebat sekali ya dia, semoga kehebatannya sebanding dengan dia bisa menyembuhkan Shan seperti sedia kala.
"Pak Chandra..." Kini dia memanggilku. Akupun mendekat untuk menghampirinya.
"Iya gimana dok?"
"Tolong Shan disiapkan ya, sebentar lagi saya mau melakukan CT Scan dulu untuk melihat perkembangannya."
"Oh oke dok, saya akan segera persiapkan Shan."
Dokter Hans mengangguk lalu pamit undur diri lebih dahulu menuju ruangan CT Scan.
"Papa Shan mau diapain?" Tiba-tiba Shan bertanya demikian padaku ketika aku sedang membersihkan tubuhnya.
"Gak diapa-apain sayang. Cuma mau dilihat aja isi otak Shan pakek suatu alat yang nanti ngeluarin sinar terang banget. Tapi gak papa, gak akan kerasa apa-apa kok Shan, nanti Shan juga ditutup matanya, jadi gak kesilauan."
"Kok Shan takut ya..."
"Hehh gak papa, kenapa takut sih Shan? Shan kan pemberani, gak perlu ada yang ditakutin Shan..."
"Nanti-nanti-nanti papa temenin ya, Shan jangan ditinggal, oke?"
"Iya sayang, papa temenin Shan selalu kok. Papa gak akan kemana-mana."
Namun ternyata semua rencana itu tidak berjalan dengan semestinya. Aku tidak berhasil menepati ucapanku. Aku tidak berhasil menemani Shan karena ruangan CT scan itu tidak boleh dimasuki oleh orang yang tidak memiliki keperluan.
Shan akhirnya menangis meraung-raung di dalam sana. Entahlah mungkin sekarang pada petugas medis dan dokter Hans susah payah untuk melakukan CT scan pada otak Shan.
Hingga selang beberapa menit akhirnya pintu ruangan tersebut terbuka, menampilkan sosok dokter Hans dan Shan yang tengah berada dalam gendongannya.
"Papaaa!" panggil Shan yang masih berlinang air mata. Shan merentangkan kedua tangannya, memintaku untuk segera meraihnya.
Akupun lantas menggapainya dan kini Shan telah berpindah ke atas gendonganku. "Sttt gak papa sayang, cup cup. Udah..."
Dokter Hans hanya tersenyum, kemudian membantuku untuk melerai tangisannya Shan.
"Shan kamu mau lihat hasilnya tadi? Hasil dari gambar otakmu tadi? Ayo kita lihat gambarnya yuk."
Shan yang mendengar kata gambar seketika langsung terdiam. Dia langsung berhenti menangis, apalagi dokter Hans bilang kalau gambar otak kan. Nahh, Shan mana pernah lihat gambar otak. Dia sangat penasaran sekali sekarang.
...***...
"Itu itu apa dok? Kok kayak mie?"
Hah mie apanya sih Shan? Mie dari mana coba?
"Haha itu yang meliuk-liuk keriting namanya otak. Otak itu Shan, bentuknya otak itu seperti itu. Bener kayak mie katamu."
Apa hanya aku saja disini yang gak setuju dengan pendapat mereka?? Ah dahlah, yaudah iya bentuknya otak itu kayak mie. Iyain aja biar Shan seneng!
Dokter Hans mulai mengambil pena-nya yang berada di kantong jas. Dia mulai menjelaskan kepadaku.
"Pak Chandra bisa lihat sebelah sini?"
__ADS_1
Aku mengangguk. Dan berfokus pada sebuah titik hitam yang ditunjuk oleh dokter Hans dengan pena-nya. Titik yang ukurannya tidak kecil namun juga tidak besar.
"Ini posisi kankernya pak."
Diriku seketika tercekat. Bagaimana tidak, aku bisa melihat sendiri penyakit sialan yang berani-beraninya bersarang di dalam kepala anakku. Sangat ingin marah rasanya, tapi pada siapa??
"Pak kankernya ini memang ukurannya masih kecil, namun kita tidak bisa main-main dengan yang namanya kanker otak. Kita harus segera menyingkirkannya."
"Tapi dengan apa dok? Apakah Shan harus melakukan operasi?"
Dokter Hans terlihat berpikir sebentar. "Kalau kasusnya seperti ini sangat beresiko pak. Ini karena posisi kankernya sangat dekat bahkan kalau dilihat-lihat malah menempel dengan bagian otak yang terdapat saraf-saraf penyeimbang tubuh. Kalau terkena saraf-saraf tersebut bisa berakibat fatal."
Aku terdiam beribu bahasa. Sangat syok mendengarnya, ini berarti dokter Hans pun tidak berani untuk mengoperasi Shan.
"La-lalu dengan apa dok?"
"Jangan patah semangat dahulu, kita bisa coba untuk lakukan kemoterapi secepatnya. Dan kalaupun semisal ukuran kankernya bisa mengecil seiring berjalannya kemo, nanti bisa diupayakan untuk operasi pengangkatan. Yang penting posisi kankernya memungkinkan dan tidak beresiko maka saya bisa mengoperasinya."
Aku menghela napas lega segera mendengarnya. Syukurlah Shan, masih ada cara yang bisa kita tempuh.
......***......
Hari pertama Shan kemo akhirnya datang...
Cepet banget emang. Dokter Hans menyarankannya segera soalnya katanya lebih cepat lebih baik. 2 hari setelah diskusi kemarin akhirnya hari ini Shan dikemo.
Jujur saja aku sangat dag-dig-dug karena belum pernah mengalami situasi ini. Tapi aku tidak boleh menampilkannya di depan Shan. Aku harus kuat, ingat!
Pagi ini Shan sudah kumandikan, sudah ku pakaikan pakaian yang nyaman juga untuk kemo sebentar lagi. Memang ya sejak berada disini aku tidak pernah memakaikan Shan pakaian rumah sakit. Karena apa? Emm gak papa sih, biar dia ngerasa lagi gak sakit aja. Biar dia ngerasa kayak biasanya aja pakai baju biasa. Kadang juga pakai baju sesuka dia. Aku tidak membatasi keinginannya. Yang penting dia seneng.
"Papa kita mau kemana sih? Tumben banget hari minggu Shan pagi-pagi mandi."
Aku sedikit tertawa mendengarnya. Benar yang Shan bilang, memang tumben sekali dia mandi di minggu pagi, biasanya mah masih molor.
Aku lalu menuntun Shan keluar ruangan untuk menemui dokter Hans.
Selama 2 hari ini Shan telah menjalin hubungan yang baik dengan dokter Hans. Bocah ini sudah akrab banget loh.
Shan kini berlari dan langsung memeluk dokter itu. Sang dokter juga langsung menyambut pelukan Shan.
Ya gimana gak lengket banget anak gue kalo diperlakukan seperti itu haa?
"Gimana Shan? Shan sudah siap?"
"Emang kita mau kemana sih dok?"
Dokter Hans seketika melihat ke arahku, seolah bertanya, 'Lohh Shan-nya belum dikasih tau ya pak?'
Ya maaf, habisnya bingung sih mau ngasih tau Shan gimana. Takut kalau anak itu nanti takut.
Dokter Hans kini menggandeng tangan Shan. Dia melangkah mengajak Shan ke suatu ruangan, akupun turut mengikuti dari belakang.
Begitu sebuah pintu dibuka, langsung terpampang nyata sebuah tiang infus besar dengan berbagai macam cairan infus yang bergelantungan disana. Belum apa-apa ya Shan langsung loncat ke arah kakiku.
"Papa Shan takut!"
"Eh Shan, gak papa sayang. Itu bukan buat kamu. Kamu salah sangka Shan." ucapku, mencoba meminimalisir kegelisahan Shan, tapi ya, gak mungkin akan berhasil.
"Papa hiks..." Benar kan, tidak mungkin berhasil. Shan kini sudah menangis sambil memeluk erat kedua kakiku.
Dokter Hans mulai membujuk Shan, dia membelai puncak kepala Shan berulang kali. "Shan, kenapa Shan nangis hm? Apa yang Shan takutin?"
"Shan gak mau, Shan mau pulang. Ayo paa kita kembali ke kamar aja. Shan gak mau disini."
Aduhh...
Dokter Hans belum menyerah, kini dia menangkup kedua pipi Shan. Mengarahkan wajah Shan untuk mau menatap matanya.
"Shan gak inget ya sama janji Shan yang kemarin?"
__ADS_1
Entah ada keajaiban dunia darimana tiba-tiba tangisan Shan langsung berhenti dalam sekejap. Tidak tau-taunya loh anak ini begini.
"Ma-maaf dokter Hans..."
Lohhhh???
Aku semakin dibuat pusing tujuh keliling oleh Shan sekarang.
Dokter Hans mulai menjulurkan tangannya pada Shan, anak itupun akhirnya mau melepaskan pegangannya pada kakiku dan sekarang dia meraih tangan pak dokter.
Shan kini dibawa sama dokter Hans menuju sebuah kursi. Bukan kursi, melainkan sofa yang terlihat sangat nyaman dan empuk.
"Shan mau duduk sendiri apa dipangku sama papanya?" tanya dokter Hans.
Shan melihat ke arahku sekilas lalu menjawab. "Duduk sendiri."
Oh, oke. Bagus, anak mandiri. Sekarang papanya gak ada gunanya ya nak.
"Emm lebih baik dipangku papanya aja ya Shan." Donter Hans tiba-tiba bilang seperti itu. Yasudah aku dan Shan menurut.
Shan kini sudah berada dipangkuanku dengan nyaman. Dan tak lama beberapa perawatpun datang menghampiri tempat kita sembari membawa sebuah kotak yang terbuat dari besi atau aluminium, entahlah aku tidak tau. Aku bukan petugas medis.
Beberapa jarum oleh dokter Hans dikeluarkan dari sana. Seketika tubuh Shan yang berada dipangkuanku terasa menegang.
Aku mencoba mengelus punggung mungilnya perlahan. Tenang Shan, tenang...
Dokter Hans mengambil kursi lain lalu duduk di kursi tersebut yang mengarah ke arahku dan Shan.
"Shan saya boleh pinjam tangannya sebentar?"
Shan mau memberikan tangan kirinya pada dokter Hans, namun sebelah tangan satunya yaitu tangan kanan meremas kuat-kuat ujung kaos yang kukenakan. Dia benar-benar takut, sangat takut.
Aku akhirnya memilih untuk menyandarkan kepalanya pada dadaku dan menutup kedua matanya dengan telapak tanganku karena sebentar lagi Shan akan disuntik.
"AAAAAKKKKHHH PAPA SAKITTT!!!!" jerit Shan saat jarum suntik itu sudah berhasil masuk menembus pembuluhnya.
Tangis sudah tidak dapat dihindarkan lagi. Shan bahkan memberontak, meronta minta dilepaskan dengan segera. Anak kecil ini tenaganya benar-benar sangat kuat. Aku sampai kewalahan walaupun dengan bantuan dua perawat lain yang ikut menahannya.
"Shan please... Ini cuma sebentar sayang. Papa mohon..."
Tangisan dan rintihan Shan berhasil membuat mentalku lemah seketika. Rasanya aku ingin putus asa. Aku ingin berteriak untuk menghentikan semua ini.
Dokter Hans bahkan ikut menguatkanku. Dia tidak berhenti mengucapkan kata-kata penyemangat untukku dan Shan juga.
Selama 1 jam penuh dihabiskan Shan dengan menangis saat kemo. Kini semua obat-obatannya telah masuk ke dalam tubuh Shan, jarum suntik sudah bisa dilepas sekarang.
Shan masih menangis sesenggukan. Kedua matanya sangat bengkak, air mata yang dikeluarkannya kini hanya tinggal sedikit karena mungkin di dalam sana penampungannya telah terkuras habis.
"Sudah Shan. Shan hebat sekali, Shan anak pintar." ucap dokter Hans setelah menempelkan plaster berwarna merah muda dengan motif bunga-bunga pada bekas suntikan di lengan Shan.
Shan masih juga menangis. Aku akhrinya pamit kembali ke kamar rawat untuk menenangkan tangisan Shan.
"Sudah sayang cup cup..." Aku merebahkan tubuh Shan di atas ranjang lalu mengeloninya.
Tak henti-hentinya aku memeluknya dan menciumi terus bagian lengannya yang baru saja disuntik itu, berharap Shan segera lupa akan letak kesakitannya.
"Shan mau mimik susu? Papa buatin ya sayang?"
Aku lantas beranjak menuju nakas lalu membuatkan Shan susu dari tremos karena kasihan melihat anak itu yang sepertinya sangat kehausan sekali.
"Ini sayang..." Shan yang masih menangis bangun dari posisinya dan kini duduk sendiri.
"Pinter sayangnya papa." Aku membantunya untuk minum dari gelas. Dan benar, Shan benar-benar kehausan, dalam sekali tegukan saja susu segelas sudah habis tak bersisa.
Aku lalu membaringkan tubuhnya kembali. Sebelum aku ikut naik untuk mengeloninya, aku menjauhkan dulu gelasnya ke meja agar tidak tersenggol. Belum sempat satu langkah kujangkau, tiba-tiba...
"HUEKKKKKK!"
~tbc....
__ADS_1