Putri Kecil Papa

Putri Kecil Papa
Alasan


__ADS_3

"Rosa! Jika kamu masih terus memikirkan hidupnya, ayah akan menghukummu!"


"Ta—tapi ayah, dia anakku... darah dagingku..."


Pranggg...


Beling berhamburan di atas permukaan lantai. Laki-laki paruh baya itu mengambil salah satu keping dari gelas yang dibantingnya tersebut.


"Kamu pilih anak itu atau ayah?"


"Ayah jangan!"


Rosa memeluk ayahnya dengan sangat erat. Menangis di dalam dekapan sang ayah.


"Rosa minta maaf yah. Tolong hentikan, Rosa takut kehilangan ayah. Rosa tidak mau kehilangan ayah. Rosa janji ayah, mulai saat ini Rosa tidak akan mencari tahu kehidupan anak itu dan juga Chandra. Rosa berhenti, Rosa lebih memilih ayah. Rosa lebih menyayangi ayah. Rosa tidak bisa hidup tanpa ayah..."


~Flashback end...


Rasanya masih sama. Rasanya seolah kembali ke masalalu dimana pelukan terhangat yang diberikan oleh seorang ayah.


Rosa larut dalam dekapan ayahnya tersebut.


"Ayah, Rosa tidak tahu lagi harus berbuat apa..." semua curahan hati Rosa telah diterima oleh tuan konglomerat Widyatama.


Orang terpandang itu telah mendengar segalanya. Segalanya. Sedari awal mula Rosa berada di rumah sakit ini hingga berbulan-bulan tidak pulang.


Sebagai ayah yang sangat sigap, Widyatama langsung meluncur ke lokasi ketika nomer telepon milik putrinya akhirnya diaktifkan kembali.


Rosa anak yang nakal. Kabur tanpa pamit. Pergi selama itu tanpa kabar sama sekali. Jika bukan karena separuh hatinya, Widyatama pasti sudah akan meremukkan tulang belulang Rosa.


Ruangan yang berbatasan dengan kaca, yang siapapun dapat melihat dengan jelas sosok kecil yang tengah terbaring lemah dengan berbagai peralatan medis di dalam sana membuat Rosa semakin mengeratkan tangannya pada tubuh sang ayah.


"Dia memiliki mata yang sangat cantik yah. Sama kayak mataku. Ayah jangan pergi dulu, tunggu disini ya, sampai dia bangun. Ayah harus lihat dia waktu membuka mata."


Senyuman terulas di wajah yang telah tidak terbilang muda itu. Widyatama mengusap puncak kepala putrinya dengan lembut.


"Baik, ayah akan menemani Rosa disini terus."


"Terimakasih ayah, terimakasih banyak."


Rosa lantas mendongak untuk menatap wajah ayahnya.


"Ayah..."


"Iya sayang?"


"Maafkan Rosa.... Ro—Rosa, Rosa sangat banyak salah kepada ayah. Rosa selalu menyusahkan ayah. Tapi Rosa janji ayah, setelah ini Rosa akan menuruti semua perintah ayah. Kampus luar negeri, Rosa akan bersedia berkuliah di luar negeri yah. Rosa sudah berubah pikiran."


Widyatama tertegun beberapa saat. "Tapi Rosa, jika kamu tidak menginginkannya tidak apa-apa. Ayah tidak akan memaksamu sayang. Tetaplah tinggal di Indonesia saja, ayah sudah melupakan semua itu. Lakukan saja apa keinginanmu Rosa."


Rosa tersenyum. "Iya ayah, Rosa tetap akan berkuliah di luar negeri. Karena itu bukan hanya keinginan dari ayah, tapi sekarang juga keinginan dari dalam hati Rosa sendiri yah."


"Inggris, Rosa akan pergi ke Inggris yah. Rosa akan menjadi lulusan terbaik, lalu bisa menjadi penerus ayah. Rosa sangat mengidolakan ayah. Rosa sangat ingin menjadi seperti ayah. Ayah orang hebat, Rosa akan mengikuti jejak ayah. Rosa janji yah..." ucapan Rosa begitu menggetarkan hati Widyatama.


Rosa telah bersungguh-sungguh. Wajahnya yang begitu serius ketika mengatakan semua itu menandakan bahwa tekadnya telah benar-benar bulat. Kedua matanya yang membesar dan berbinar seolah menggambarkan hati yang polos dan sungguh-sungguh. Layaknya seorang anak yang memegang sumpah dihadapan orang tuanya.


Rosa sekarang seperti anak kecil lagi. Bukan... Bagi Widyatama memang putrinya ini masihlah tetap anak kecil di matanya.


Widyatama segera menarik Rosa ke dalam pelukannya kembali. Menyuruh Rosa untuk menumpukan kepalanya pada dadanya.


"Chandra kemana sayang?" tanya Widyatama.


Rosa menggeleng dengan lemah.


Pelukan semakin dieratkan. Widyatama tidak mau putrinya itu sedih. Dengan cara apapun dia akan membuat Rosa kembali membaik.


"Ajudan! Tolong cari anak itu. Katakan pada anak itu bahwa aku menunggunya disini."


"Baik, tuan."


"Tunggu—" Cegah Rosa. Ajudan itupun berbalik.


"Katakan putri kecilnya menunggunya..." ucap Rosa.


......***......


Keberadaan sosok Chandra layaknya buronan yang menghilang entah kemana. Semua orang mencarinya namun manusia itu masihlah belum diketahui posisinya secara pasti.


"Iya, tadi ada orang lewat pakai topi, baju kayak jaket putih gitu. Lalu—lalu di bajunya ada darahnya. Acak-acakan banget. Saya ngiranya orang gila itu tadi." ucap salah satu pengunjung rumah sakit yang ditanyai oleh Rosa.


"Bapak gak berhentiin orang itu?" tanya Rosa lagi dengan mata yang telah basah.


"Ya enggak, saya nya takut mbak."


Rosa semakin menangis. Ayahnya segera menenangkannya. Ayahnya menyuruh ajudannya untuk menyisir ke setiap tempat agar Chandra segera ditemukan.


"Kamu nyari yang bener!"


"Si—siap pak!"


"Ayah, Rosa tahu dia dimana." Tanpa pikir panjang lagi Rosa segera belari.

__ADS_1


Rooftop, rooftop rumah sakit menjadi tujuan Rosa. Perempuan itu baru teringat, sedari dulu, sejak dahulu, sejak masa kanak-kanak dulu Chandra selalu mencari tempat yang luas, sejuk dan sepi untuk dijadikannya sebagai pelarian atas segala masalahnya. Rooftop adalah tempat yang mewakili ciri-ciri tersebut. Dan ternyata benar adanya.... Sosok itu, sosok itu tengah berada disana.


"Chandra. . ." panggil Rosa pada sosok yang sedang duduk meringkuk memeluk kedua kakinya tersebut.


Chandra benar-benar terlihat sangat kacau. Apa yang diperbuat oleh laki-laki itu di atap rumah sakit malam-malam begini. Disini sangat dingin dan gelap. Angin malam pun bertiup sangatlah kencang.


Rosa mendekat pada manusia itu, ikut mendudukkan diri di sebelahnya.


Suara isakan sayup-sayup terdengar di telinga Rosa. Laki-laki itu sedang menangis. Menangis dengan sangat memilukan.


Rosa segera merengkuh tubuh itu. Hatinya ikut terluka sama seperti Chandra, namun Chandra harus tahu bahwasannya Shan berhasil bertahan.


"Chandra, Shania sangat kuat. Dia berhasil melewati masa kritisnya."


Chandra mengangkat wajahnya untuk menatap Rosa. Kalimat yang diucapkan Rosa seketika membuatnya berhenti menangis.


Chandra lantas bangkit dari duduknya. Dengan pergerakan yang cepat, dia segera turun dari rooftop rumah sakit itu.


Namun...


"Ck! Terkunci!" Chandra mengumpat saat mengetahui bahwa pintu rooftop rumah sakit terkunci.


"Siapa sih yang ngunci sialan!"


"Sepertinya bukan terkunci, tapi macet. Maaf ini salahku, karena tadi aku yang terakhir menutup pintunya." ucap Rosa. Rosa sekarang menjadi cemas. Cemas tidak bisa turun dari tempat itu.


"Minggir!" Chandra menyenggol tubuh Rosa agar menyingkir sejenak karena laki-laki itu akan mencoba mendobrak pintu besi tersebut.


Brakk brakk..


Percuma. Lengan Chandra hanya akan berakhir cidera jika lawannya adalah besi.


"Aku coba telpon ayah." Rosa merogoh kantong yang berada di celananya.


"Aduh ponselku ketinggalan di bawah."


Chandra mendengus sebal pasalnya ponselnya pun juga tidak dia bawa. Apa ini artinya Chandra dan Rosa akan menghabiskan sepanjang malam di tengah udara dingin ini?


Tidak!


Chandra berlari ke segala arah. Mencari barangkali ada pintu lain atau apapun lubang yang dapat ditemukan.


Rosa melihat yang dilakukan Chandra merasa begitu ngeri. Bagaimana tidak, Chandra tidak ada takut-takutnya berdiri di pinggiran. Sangat pinggir. Chandra juga mendongakkan tubuhnya ke bawah seolah-olah menantang bahaya.


"Sa, sini cepet!" panggil Chandra. Rosa pun menghampirinya.


Chandra menunjuk ke arah bawah. "Itu ada jendela salah satu kamar yang kebuka. Gue mau kesana."


"Chandra jangan, bahaya!"


"Ta—tapi Chandra."


"Udah diem. Gue mau panjat turun sekarang."


"Chandra itu gak semudah yang kamu pikir. Licin Chan, itu kaca."


"Gue gak peduli. Gue cuma mau cepet-cepet ketemu sama anak gue."


"STOP BILANG DIA CUMA ANAK LO!"


Teriakan Rosa seketika membuat Chandra tercekat. Chandra terkejut. Baru sekali ini Rosa berteriak sangat keras tepat di wajahnya.


Rosa lantas meminta maaf karena dirinya hilang kendali.


"Ma—maaf... Tapi, Chandra please dia itu adalah anakku juga. Shania adalah anakku juga." Lelehan air mata menetes dari sudut mata Rosa.


Chandra dapat melihat sendiri bagaimana hati Rosa yang begitu rapuh karena perkataannya.


"Rosa, sorry..."


Akhirnya mulut arogan dan kasar itu dapat mengucapkan kata minta maaf. Chandra telah menyadari kesalahannya.


Air mata Rosa semakin deras tatkala Chandra menghamburkan pelukan pada tubuhnya. Tidak disangka-sangka ternyata Chandra mau mendekap tubuhnya sehangat ini. Senyaman ini. Terasa sangat tulus masuk ke relung hati.


Belum sempat Rosa melingkarkan tangannya untuk membalas pelukan tersebut, laki-laki itu sudah melepaskannya. Chandra beralih menuju tujuan utamanya yaitu Shan.


Chandra akan turun untuk menemui Shan dengan memanjat dinding dan masuk melalui jendela salah satu kamar yang terbuka.


"AAAAKKKHH CHANDRA!" Rosa menjerit ketika tubuh Chandra terhempas dan hilang dari jangkauan penglihatannya. Kedua kaki Rosa lemas seketika.


...


....


"Arrgghh..."


Namun ternyata, Chandra masih sanggup bertahan. Dengan satu tangannya, laki-laki itu bergelantungan berpegangan erat di ujung pinggiran gedung.


Rosa segera mengulurkan tangannya, namun...


"Minggir aja Sa. Gue bisa sendiri. Gak usah pegangin gue woi. Yang ada lo nanti malah ikut jatuh." teriak Chandra dengan napas yang menggebu-gebu.

__ADS_1


Rosa bingung kelimpungan setengah mati. Tidak tau harus berbuat apa lagi. Rosa harus melakukan apa sekarang.


Raut wajah Chandra yang telah berpeluh sangat banyak dan memerah. Semua urat di wajahnya terlihat, ditambah erangan yang dikeluarkannya. Chandra sangat berusaha bertahan dan itu membuat Rosa semakin ketakutan.


"Chandra..." Rosa hanya bisa menggumamkan nama laki-laki itu sembari menangis.


Tapi Chandra adalah laki-laki yang tangguh.


"Gue akan berayun buat ngeraih jendela itu."


"Enggak!" Tolak Rosa dengan keras. Keputusan Chandra sangatlah tidak masuk akal. Apakah dia pikir dirinya itu adalah karakter di film detektif yang bisa beradegan ekstrem diluar nalar?


Chandra semua itu hanya di film! Dirimu bukanlah James Bond!


Tapi Chandra tetaplah memaksa.


"1, 2,....."


"CHANDRA JANGAN!"


ceklekkk....


Tanpa disangka-sangka ternyata ada seseorang yang membukakan sebuah jendela lain yang lebih dekat dengan posisi Chandra.


Sepertinya seseorang tersebut melihat Chandra yang bergelantungan hampir jatuh lalu akhirnya membantunya.


Tubuh Chandra akhirnya telah masuk ke dalam jendela di tempat ruangan seseorang yang menolongnya tersebut.


Rosa akhirnya dapat bernapas dengan lega.


Rosa sangat berterimakasih kepada seseorang yang baik itu.


...***...


"Shan... Shan-ku... Shan-ku papa datang sayang." Chandra berlari terseok-seok menuju ruang ICU berada.


Sesampainya di depan ruang ICU, dokter Hans menahannya sebentar.


"Pak Chandra tenang dulu, pak Chandra harus pakai pakaian steril dulu sebelum masuk."


Chandra mengangguk. Dengan cepat dia menuruti semua protokol yang ada.


Setelah semuanya siap, dengan jemari gemetar Chandra mulai mendorong pintu kaca yang berada dihadapannya tersebut.


Air mata Chandra langsung menetes saat itu juga. Jarak semakin terkikis, walaupun dengan langkah yang gontai, Chandra akhirnya berhasil meraih tangan mungil putrinya yang tertancap jarum infus disana.


"Shan..." panggil Chandra dengan lirih.


Shan memang belum sadar, tapi Chandra sangat yakin jika anak kecil itu bisa mendengar suaranya.


Chandra menciumi seluruh wajah Shan yang dapat dijangkaunya lalu mengusap kepala anak itu dengan teratur. Berharap Shan merasakannya dan segera bangun karena sentuhan yang diberikan.


"Shan papa sudah disini. Papa gak akan ninggalin kamu lagi. Papa janji..."


Chandra tidak seharusnya meninggalkan Shan. Baik di kondisi apapun Chandra seharusnya selalu berada disampingnya. Tindakan Chandra tadi benar-benar payah, bagaimana bisa dirinya meninggalkan putrinya yang sedang berjuang diantara hidup dan mati.


"Maafkan papa sayang. Papa hanya tidak tega melihat kamu mendapat tindakan dari para dokter. Papa juga tidak tega jika melihat kamu pergi. Hati papa sakit..."


Alasan Chandra yang sebenarnya meninggalkan Shan adalah karena demikian. Chandra kini merutuki dirinya sendiri. Mau bagaimanapun alasannya, tidak seharusnya Chandra melakukan hal tersebut.


Hanya Chandra lah yang Shan inginkan untuk selalu berada disampingnya. Chandra pun sangat tahu akan hal itu.


Chandra kini menunduk, membiarkan air matanya jatuh dengan leluasa.


"Bangun sayang. Papa kangen..." Tidak terhitung sudah berapa banyak tetesan air mata yang jatuh ke permukaan. Rasanya benar-benar remuk melihat putri satu-satunya yang dimilikinya dengan kondisi seperti ini.


Ini bukan sekali Shan masuk ruang ICU. Namun hati Chandra tetap saja tidak tegar.


Masih tetap teriris.


"Bangun Shan, papa gak suka kamu disini. Ayo kita keluar dari ruangan ini sayang."


Suara derap langkah perlahan terdengar dari belakang. Chandra enggan berbalik untuk melihatnya, hadirnya disini hanya untuk putrinya seorang, tidak peduli dengan siapapun itu dibelakang sana.


Dan ternyata dokter Hans yang masuk ke dalam ruangan ICU.


Dokter Hans merangkul pundak Chandra dengan hangat. "Pak Chandra jangan khawatir, kondisi Shan sekarang ini stabil."


"Kapan Shan-ku bangun?"


"Kita belum tahu pak. Kita berharap Shan segera sadar."


Indera pendengaran dokter Hans menangkap helaan napas berat yang dikeluarkan oleh Chandra. Dokter Hans sangat tahu, sebagai dokter sudah banyak pengalaman bahwa menghadapi seorang wali pasien memanglah seperti itu. Dirinya harus banyak-banyak bersabar. Yang terpenting adalah menguatkan hati mereka, para wali pasiennya.


Tap tap...


Dokter Hans menyentuh pundak Chandra lagi. Chandra mendongak. "Ada apa?"


"Maaf saya cuma mau bertanya, dimana ya Rosa sekarang?"


Kedua mata Chandra seketika membulat. Dirinya baru teringat....

__ADS_1


Rosa masih terjebak di rooftop.


~tbc...


__ADS_2