Putri Kecil Papa

Putri Kecil Papa
Membuat Salju


__ADS_3

"Shan, papa berangkat kerja dulu." pamitku.


"Tapi pa..."


"Shan, kamu udah lumayan sehat sayang. Papa harus kerja, papa udah 4 hari gak masuk kerja karena nemenin kamu di rumah."


"Papa..."


"Please, papa bisa dipecat kalo ijin terus Shan."


Bocah kecil itu mengatupkan bibirnya rapat-rapat. Dia sudah tidak merengek lagi sekarang.


"Hari ini hari Jum'at jadi papa akan pulang lebih cepat Shan. Kamu gak usah khawatir ya. Oke papa tinggal dulu ya sayang. Hati-hati di rumah."


Aku sebenarnya juga sedikit berat hati akan meninggalkan Shan sendirian di apartemen. Tapi apa boleh buat, ini demi kebaikan kita bersama.


Kedua netra Shan yang tampak sendu membuatku semakin merasa bersalah. Berkali-kali aku menguatkan tekadku, dan akhirnya aku berhasil keluar dari pintu apartemen lalu bergegas berangkat bekerja.


Apakah Shan akan aman ditinggal sendirian?


Akan aman kok, aku berani jamin. Aku sedari kemarin-kemarin telah mengajarinya bagaimana caranya bertahan di apartemen sendiri. Mulai dari bagaimana cara menyalakan televisi, bagaimana cara mengambil makanan di dalam kulkas dan bagaimana cara menggunakan kamar mandi yang benar. Satu lagi, hal yang sangat aku wanti-wanti, jangan mendekati kabel listrik dan juga kompor.


Shan itu anak yang pintar, buktinya dia sangat paham dengan semua yang aku ajarkan. Sedari kemarin dia telah mempraktekannya walaupun masih dalam pengawasanku. Dan sekarang, aku sangat yakin anak itu akan mengimplementasikan pengajaran yang telah ku ajarkan.


...***...


Author's POV


Shan duduk di atas ranjang selama berjam-jam. Melihat tayangan kartun pada televisi benar-benar membuatnya lupa akan waktu. Tidak ada kata bosan sedikitpun, pasalnya tayangan kartun di televisi hari ini semuanya bagus-bagus.


"Hoamm... Kok Shan ngantuk ya?" Entah diserang angin dari mana, mendadak kedua kelopak mata Shan terasa sangat berat dan ingin terpejam. Gadis kecil itu kini mengantuk.


Shan seharusnya menidurkan saja tubuhnya, toh dia sudah berada di atas kasur yang empuk. Tapi ternyata dia menolak serangan ngantuk yang menimpanya ini.


Sepasang kaki kecilnya beranjak, kemudian melenggang pergi menuju arah dapur.


"Shan pengen mik jus aja deh biar gak ngantuk." ucapnya sembari membuka pintu kulkas yang berada dihadapannya. Jemari mungilnya mulai meraih satu minuman dengan wadah karton dari dalam sana.


Shan sangat tahu kalau itu adalah jus jambu. Dia bisa menerkanya dari gambar yang tertera pada luar wadah minuman itu. Shan sudah hafal gambar berbagai macam buah.


"Lohh dimana gelas hello kitty-nya Shan ya?" tanyanya, bermonolog.


Gelas kepemilikan yang dimaksud itu biasanya di taruh oleh sang papa di atas meja makan. Tapi sekarang, gelas itu tidak ada. Sepertinya Chandra tadi itu lupa.


"Shan mimiknya pakek apa dong kalo gitu..." Bibir mungil itu kini mengerut. Ada perasaan kecewa yang bersemayam dihatinya karena tidak menemukan gelas untuk minum jus sesuai keinginannya.


"Eh itu gelas Shan!" pekiknya tatkala melihat benda keramik berwarna pink mencolok berada di wastafel.


Shan sangat tahu jika gelas kesayangannya belum dicuci. Dengan inisiatif yang tiba-tiba muncul dalam benaknya, bocah kecil itu meraih spons cuci piring yang terletak tak jauh dari tempatnya berada.

__ADS_1


"Gini kan caranya nyuci gelas. Shan bisa sendiri." ucapnya dengan bangga.


Bocah kecil itu sangat asyik mencuci. Menuang sabun terus menerus karena dirasanya masih kurang. Busa mendadak mengembang teramat banyak. Shan seketika kegirangan bukan main.


"Wahhh kayak salju!"


Shan memainkan semua busa yang dihasilkannya itu. Melambung-lambungkannya ke udara dengan senangnya.


Shan masih merasa kurang, dia bisa menciptakan busa yang lebih banyak lagi karena sabun cuci piringnya masih tersedia banyak di dalam botol.


"Hihihihihihi!" Tawa cekikikan Shan tidak pernah padam. Saling beradu cepat secepat tangan kecilnya menghasilkan banyak busa lainnya.


Shan benar-benar sudah basah kuyup sekarang. Tapi itu tidak membuatnya berhenti, baginya inilah permulaan.


"Yeayyyy!!!"


......***......


Di kantor Chandra...


"Pak Chandra, tolong nanti sebelum pulang menemui pak bos dulu di ruangannya."


Chandra mematung di tempat. Tiba-tiba jantungnya berdegup dengan kencang. "A-ada apa ya bu?" tanyanya pada manager bosnya itu.


"Datang saja. Pak bos yang minta."


Jam kerja pun akhirnya telah usai, dan seperti yang disampaikan oleh manager tadi, kini Chandra memenuhi panggilannya. Chandra bergegas menuju ruangan yang dimaksud.


"Hei Chandra!" Di tengah perjalanan, dia bertemu dengan Wanda.


"Eh Nda..." balas sapanya.


"Loh Chan kok gak pulang? Kok malah kesini?" tanya Wanda, pasalnya Chandra bukannya menuju keluar gedung seperti karyawan lainnya, namun malah melangkah lebih masuk.


"Iya, mau nemuin bos nih."


"Kok tumben?"


"Iya, tumben. Apa gue pulang aja ya Nda, perasaan gue gak enak. Pasti gue mau kena omel nih gara-gara 4 hari ijin."


"Yaudah yuk ke rumah gue aja."


"Gak bisa, gue harus pulang cepet. Shan sendirian di rumah."


"Hmm Shan lagi Shan lagi."


"Kan anak gue Nda..."


"Ya ya ya." ucap Wanda dengan wajah ketusnya.

__ADS_1


Drrrttt drrrttt drrrrrttttttt.


Ponsel Chandra tiba-tiba bergetar. Dan ternyata itu dari manajer yang tadi.


"Oh iya iya bu saya kesana sekarang." ucap Chandra kemudian berlalu melanjutkan tujuan awal.


......***......


Chandra's POV


Aku membanting pintu mobilku dengan kasar. "Sial!" Sudah tidak terhitung lagi ini umpatan ke berapa yang keluar dari mulutmu.


"Semoga kantor bobrok itu bangkrut! Flop! Bosnya stroke! Mati!"


"Aaarrrrggghhhh!" Aku mengacak-acak rambutku asal. Sumpah serapah apalagi yang harus aku lontarkan pada tempat itu. Dipecat secara tidak hormat benar-benar membuatku kehilangan akal sehat. Sial!


Aku berjalan lunglai menaiki anak tangga yang menuju apartemenku berada. Sudah tidak ada hasrat lagi untuk melakukan apapun, karirku telah selesai. Semuanya sudah tamat.


Aku sangat ingin menangis sekarang ini juga.


Tapi tidak boleh. Aku harus terlihat baik-baik saja di hadapan Shan.


Ting...


Pintu apartemenku terbuka. "Shan papa pula—"


Deg!


Aku seketika tidak bisa menyelesaikan kata-kataku.


"Papa sudah pulang. Lihat pa Shan buat boneka salju!"


"BOCAH SETAN!!!!" Tas yang berada di tanganku melayang cepat. Melesat menghantam sebuah cermin yang terpajang di dinding. Pyarrrr!!!!


Pecahan kaca seketika jatuh berhamburan di lantai, bercampur dengan benda putih sialan yang bocah itu sebut sebagai salju.


"Kamu apa-apaan sih Shan! Ini semua apa?!!!!" Aku meneriaki bocah itu. Aku benar-benar tidak habis pikir dengan apa yang dia lakukan selama aku tinggal bekerja.


Keadaan rumahku sangat hancur. Benar-benar seperti kapal pecah.


"Shan hiks... Shan tadi cuma main pa—"


"CUKUP! MENDING GAK PERNAH ADA KAMU DI DUNIA INI!" Dengan penuh amarah aku menyeret bocah itu menuju kamar mandi. Menguncinya dari luar lalu kumatikan lampu ruangan itu.


Shan menjerit-jerit histeris dari dalam sana. Dia menggedor-gedor, meminta untuk kubukakan pintunya.


Aku berbalik badan. Melangkah keluar dari apartemen, memutuskan untuk berkendara menuju rumah Wanda.


~tbc....

__ADS_1


__ADS_2