
"Chandra? Kok udah pulang?"
Aku seketika tercekat di tempat. Segera menyembunyikan kedua tanganku di balik punggung. Jangan sampai mama lihat, jangan...
"Emm Shan mana ma? Kok sepi?" tanyaku sembari melirik ke arah sekeliling. Kosong. Tidak ada siapapun disana, hingga terdengar suara cekikikan anak-anak dari arah luar. Dari arah halaman belakang.
Oh Shan memang tidak bisa belajar dari kejadian kemarin, dia benar-benar anak yang sangat bandel. Dia pasti tengah—
"Dia tidur Chan..."
"Hah?" Aku langsung mengernyit keheranan. Apa Shan tidur? Tidur di siang hari seperti ini? Hahaa mama pasti bercanda. Eh sebentar, aku kan memastikannya sendiri.
Aku mulai melangkahkan kaki menuju lantai dua. Dan sesampainya di kamar ternyata benar, bocah kecil itu tengah terlelap seraya memeluk boneka beruangnya.
"Shan sayang..." Aduhh! Aku ini apa-apaan? Kenapa aku malah memanggilnya?
Shan menggerakkan kelopak matanya, sepertinya dia mendengar suaraku itu. Dia sekarang terbangun karena diriku.
"Papa?" panggilnya. Shan mengalihkan pandangannya ke arah jendela sebentar. "Papa kok masih siang gini udah pulang?"
"Emm iya Shan." Aku lantas mendudukkan pantatku di tepi ranjang tempat Shan berada. Tapi Shan tiba-tiba menarik leherku, hingga akhirnya aku terjatuh dan terbaring tepat di sampingnya.
"Karena papa udah pulang jadi kita tidur siang aja bareng-bareng. Shan masih ngantuk, papa pun keliatannya juga ngantuk. Liat itu mata papa merah."
Aku hanya mengangguk sesaat. Hingga tanpa sadar, dengan bodohnya aku menyentuh sebilah pipi chubby itu menggunakan tanganku yang terluka.
"Aakh tangan papa kenapa berdarah?!" jerit Shan. Mendadak dia heboh bukan main. Rasa kantuknya kuyakin sekarang ini telah sirna dalam sekejap.
"Papa ini kenapa? Ini pasti sakit ya?"
Aku menggeleng perlahan.
Shan langsung turun dari ranjangnya. Aku tidak tau apa yang sebenarnya akan dilakukannya, tapi setelah aku melihat sepasang kaki kecilnya berjinjit, berusaha menjangkau sebuah kotak diatas lemari, seketika hatiku merasa terenyuh.
Gadis kecil itu berinisiatif mengambil kotak P3K.
"Awas Shan..." Aku akhirnya membantunya, mengambil kotak yang ditujunya dari tempat yang lumayan tinggi untuk posturnya itu.
Kotak telah berada di atas ranjang. Shan membukanya, mencari sesuatu dari dalam sana. Dan ternyata.... Dua buah plester dia dapatkan. Plester berwarna pink dengan motif dinosaurus-dinosaurus kecil.
__ADS_1
"Jadi ini kenapa pa? Apa papa jatuh dari sepeda juga ya kayak Shan?"
Seketika tawaku langsung lepas mendengar ucapan yang terlontar dari mulutnya itu. Di benar-benar sangat polos.
Baiklah, aku akan mengangguki saja pertanyaannya itu. Shan itu masihlah kecil, aku tidak akan menceritakan hal ini kepada Shan. Dia tidak perlu tau dengan apa yang sebenarnya terjadi....
Flashback on...
Pria tua yang masih terduduk di lantai itu meludah. Dan aku melihat dengan kedua mataku sendiri cairan yang baru saja dia keluarkan adalah berwarna merah. Itu darah.
Sial, aku dalam masalah besar sekarang!
Aku segera membantu pria tua itu berdiri. "Pak Hari saya mohon maaf sekali. Saya tidak bermaksud—Akh tidak! Saya akan cari buktinya kalau saya itu tidak melakukan kesalahan sedikitpun!" Pegangan tanganku kulepas, tubuh renta itu kembali mendarat dilantai lagi, dan dengan posisi terduduk lagi.
Aku tidak ada waktu untuk mengurusinya.
Kedua kakiku melangkah cepat keluar dari ruangan. Wanda menatapku dengan tatapan menganga. Tambah menganga lagi setelah melihat ke arah pintu yang terbuka bahwa pimpinan perusahaan kita telah terduduk dilantai dengan keadaaan kacau.
Lagi-lagi aku tidak peduli. Aku tidak ada waktu untuk mengurisi Wanda juga. Fokusku hanya satu... Mencari bukti.
Brakkk!
"Lo dibayar berapa buat ngejatuhin gue?!" teriakku.
Orang ini tidak menyahutiku sama sekali. Bahkan terkesan menyepelekanku. Kesabaranku benar-benar sudah habis. Aku menghampiri pria itu lalu menarik kerah seragam lusuhnya dengan sangat kencang. Aku mencengkeramnya. "Ngomong anjing! Kasih tau gue siapa dia!"
"Chandra cukup!" jerit Wanda dari arah belakang. Sial! Kenapa perempuan itu mengikutiku hingga ke ruangan bau ini?
"Chan bukan kayak gini caranya buat cari jalan keluar. Lepasin dia. Please..."
Seketika tanganku melonggar mendengar permohonan yang diucapkan Wanda itu. Aku kemudian berbalik, menatap Wanda dengan lekat-lekat. "Apa? Gimana cari jalan keluarnya hm?" tanyaku.
"Biar gue yang ngomong sama bos."
"Ngomong sama bos? Lo pikir gampang Nda? Pria tua itu mana mau dengerin lo! Kecuali kalo lo bersedia jadi jalangnya!"
"IYA GUE BERSEDIA! APA SIH YANG ENGGAK BUAT LO TUH CHAN!"
Deg...
__ADS_1
"Nda? L-lo... Lo jangan gila please..."
Detak jantungku semakin tidak karuan ketika melihat anggukan yang Wanda berikan. Dan bahkan, aku hampir kehilangan akal sehat saat kedua kaki perempuan itu mulai berbalik arah untuk pergi.
"Wanda jangan!" cegahku. Aku menggenggam pergelangan tangannya sangat erat. Dia tidak boleh pergi, dia tidak boleh ke tempat lelaki tua hidung belang itu.
Hingga akhirnya, kedua lenganku kuhamburkan. Aku merengkuh tubuhnya dari belakang.
"Please, jangan Nda..."
Hampir satu jam aku berdiam bersama Wanda di kantin. Memakai waktu istirahat makan siang kita sampai melewati batas hanya untuk memikirkan berbagai asumsi yang menurut kita berdua merupakan akar dari permasalahan yang terjadi, dan kini... Aku dan Wanda pun sepertinya telah menemukan titik terangnya.
"Iya bener, dia selalu nyuekin gue Nda. Kalo ketemu di lift tuh gak pernah nyapa sama sekali. Gak tau kenapa—Eh gue baru inget!" pekikku.
"Apa karena gue selalu tembus target tiap bulan ya, sedangkan dia kan enggak pernah, makanya dia gak suka sama gue Nda. Dia iri."
"Nahh iya, gue mikirnya juga gitu. Keliatan banget dari tatapan dia ke elo."
"Terus gimana sekarang? Apa mending kita samperin aja kasih pelajaran?"
"Jangan Chan, please jangan pakek kekerasan..." ucapan Wanda seolah hanya angin yang menerobos masuk ke telinga kananku kemudian langsung berlalu keluar dari telinga kiri.
Ya, aku tidak mampu menuruti nasehat Wanda itu. Aku tidak berhasil mengendalikan emosiku.
Tepat saat di dalam toilet laki-laki, aku langsung menghajar orang yang telah kubicarakan dengan Wanda itu secara brutal.... Sampai-sampai orang itu terkapar tidak sadarkan diri dan dilarikan ke rumah sakit. Tapi sebelum dia benar-benar kehilangan kesadaran, aku sudah merekam semua ucapannya melalui ponselku, bahwa benar... Dia lah orang sialan yang berani memanipulasi absen cek in ku selama 7 hari berturut-turut.
Aku akhirnya selamat tidak jadi dipecat. Karirku aman, namun ada satu hal yang tidak aman... Kedua punggung tanganku. Aku menjadikannya lecet-lecet karena menghajar orang sialan itu.
Flashback off...
Haha, Shan bilang luka ini karena terjatuh dari sepeda.
Shan... Sepeda macam apa yang telah papa naiki sebenarnya?
Dua buah plaster kini terpasang dengan sangat erat di atas punggung tanganku yang terluka. Walaupun Shan memasangnya miring dan nyaris tidak menutup seluruh lukaku tapi aku tidak memarahinya.
"Terimakasih Shan..." ucapku kemudian mengecup puncak kepalanya sekilas.
Shan hanya tersenyum kemudian naik ke atas ranjang kembali. Dia terlihat lesu, sepertinya dia mengantuk kembali. Baiklah, aku akan mengeloninya saja.
__ADS_1
~tbc...