Putri Kecil Papa

Putri Kecil Papa
Shan Kenapa?


__ADS_3

Joly meremas jemarinya sendiri. Dalam hatinya masih diliputi rasa gelisah yang teramat sangat. Namun, sosok kecil yang sedang digelisahinya ternyata tidak menyadarinya sama sekali.


Beberapa saat lalu.... Aliran darah yang lumayan deras lalu.... Sosok kecil yang hidungnya berdarah lalu.... Kini sekarang keadaan telah aman tentram. Benar-benar aman tentram terkendali. Semuanya!


Shan seolah tidak telah terjadi apa-apa pada dirinya. Shan sekarang malah asyik bermain bersama bonekanya. Bercengkerama dengan riang bersama bonekanya seolah tidak pernah terjadi insiden berlumuran darah seperti beberapa saat lalu. Padahal Joly sendiri tadi itu rasanya sampai dingin dan memucat karena sangking paniknya melihat keadaan Shan.


"Shan, are you really okay?" Joly dengan tangan yang masih berkeringat dingin itu menyentuh kening Shan, mencoba memastikan.


Bocah yang berada dihadapannya itu memindahkan tangannya lalu kembali bermain bersama bonekanya.


Joly masih belum bisa bernapas lega. Perasaannya masih terasa sangat janggal. Sebenarnya ada apa. Apa itu tadi?


Haruskah dirinya membawa bocah kecil itu ke dokter untuk diperiksa? Atau biarkan saja?


Tanyakan papa dari anak itu saja dahulu apa baiknya!


Joly memutuskan untuk mencari ponselnya yang entah keberadaannya sekarang ini dimana. Karena panik tadi Joly bahkan asal menaruh benda yang baginya sangat berharga itu.


[Sayang kamu kemana? Kok chatku gak dibales?]


Satu notifikasi pesan yang tertera pada layar benda pipih itu seketika membuyarkan niat Joly. Perempuan itu kini mendudukkan pantatnya di sofa lalu membuka pesan dan seperti biasa melakukan chatting dengan kekasih virtualnya. Niatnya benar-benar menghilang begitu saja, niat untuk menghubungi Chandra lagi, bertanya kepada Chandra. Semuanya tidak terealisasikan.


......***......


"Ndah.... Kamu benar-benar sangat cantikhh..." bisik Chandra ditengah desahannya.


Tak terhitung itu pujian yang keberapa kalinya yang Chandra lontarkan. Intinya Chandra sedang puas, keinginannya telah tuntas sekarang.


Wanda menurunkan rok spannya. Merapikan kembali bawahannya itu seperti sedia kala sebelum ada orang lain yang memergoki aksinya bersama Chandra di dalam gudang ini.


"Chandra buruan lo balik duluan. Kita udah lama banget di dalem sini." perintah Wanda.


"Bentar lah, aku mau ngerokok dulu sayang..." Chandra sekarang seperti orang kehilangan akal. Lihatlah laki-laki itu mulai mengeluarkan satu bungkus benda beraroma tembakau dari kantongnya.


"Chandra lo gila, ini di dalem gudang anjir!"


"And then?" sahut Chandra dengan santai.


"Bisa kebakaran goblok!"


"Diem lo brisik!"


Keributan akhirnya terjadi. Suara keduanya yang sama-sama meninggi akhirnya mengundang seseorang untuk datang.


Tok tok tok...


"Halo apakah ada orang di dalem?"


Chandra dan Wanda mengumpat bersamaan.


Dengan cekatan Chandra menginjak putung rokoknya hingga padam, sedangkan Wanda... mencari tempat persembunyian yang aman.


Ceklek!


"Aduh pak Jono ngagetin aja." Chandra pura-pura menampilkan ekspresi terkejut. "Ada apa sih pak? Saya lagi sibuk cari berkas nih." ucapnya kembali sembari tangannya berkutat pada tumpukan berkas diatas rak.

__ADS_1


"Tadi—tadi ada su—suara cewek." kata pak Jono seorang OB perusahaan. Pak Jono mengatakannya penuh dengan keraguan. Mata pak Jono berkeliling, mencoba memeriksa ke berbagai sudut. Tapi Chandra, Chandra segera menghalangi.


"Suara cewek apaan sih? Dihh bapak kali yang salah denger. Orang disini saya cuman sendirian kok."


Pak Jono akhirnya mengangguk. "Iya kali ya, saya yang salah denger. Maaf maaf pak."


"Ya ya ya. Udah sana pergi. Saya gak bisa konsentrasi nih."


"Iya pak Chandra."


~


Chandra's POV


Duh gila, hampir saja aku dan Wanda ketahuan sama pak Jono. Dasar OB sialan, kepo banget sih manusia itu.


Wanda keluar dari tempat persembunyiannya. Dia keluar lalu langsung marah-marah. Ya otomatis aku ikut marah juga lah.


"Ya emang itu tadi cuman keinginan gue doang? Gak ya Nda! Lo juga mau tadi. Dahlah gak usah main nyalah-nyalahin. Lo tadi juga pengen kan, yaudah gue cuman nuruti lo."


"Nuruti gue apanya Chan. Orang jelas-jelas lo kok yang ngajak duluan."


"Ha? Gue yang ngajak duluan? Gak salah? Lo yang ngegoda gue duluan Nda!"


"Gue gak ngegoda lo Chan."


"Lo tadi ngegoda. Lo mah gak pernah mau ngakuin. Dahlah gausah munafik deh lo kalo sama-sama ngenikmatin."


"Yaudah deh iya iya." ucap Wanda sembari melipat kedua tangannya di atas dada.


"Nah gitu gak usah main salah-salahan. Lagipula kalo ketahuan gue juga bakal tanggung jawab kok atas ulah kita. Gausah takut gitu napa sih Nda. Mentingin karir banget."


Terserah deh, emang begitu semua wanita yang berada di dunia ini. ME-NYE-BAL-KAN.


......***......


"Halo Shan papa pulang!" seruku dari ambang pintu apartemen. Tapi sayangnya tidak ada jawaban dari bocah kecil itu.


Aku pun langsung masuk kedalam dan mencarinya. Mungkin dia sedang berada di kamar. Dan benarkan...


Ketika pertama kali menginjakkan kaki di dalam kamar, view yang pertama kulihat adalah Shan yang sedang menggambar di atas meja lipatnya. Hmm anakku, kira-kira kali ini apa ya yang sedang dia gambar.


Aku menghampirinya, berjongkok tepat di sebelah tubuhnya.


Kusematkan kecupan gemas pada pipi kanannya.


Shan seketika terlonjak. Dia sepertinya kaget karena keberadaanku.


"Loh papa udah pulang?"


"Kebiasaan ya, kalo udah seru menggambar papanya pulang gak disambut."


"Maaf Shan gak denger."


"It's okay." Aku lantas beralih ke arah selembar kertas yang berada dihadapannya. "Shan lagi gambar apa sih?"

__ADS_1


"Gambar buah-buahan pa." jawabnya kemudian meletakkan krayon yang berada dijemarinya sebentar. Shan berdiri lalu meraih tanganku, Shan sepertinya akan menunjukkan sesuatu.


Kita akhirnya sampai di ruangan dapur.


"Lohh siapa yang ngasih buah-buahan sebanyak ini Shan?" Aku terkejut mendapati banyak buah di atas meja makan.


"Kak Joly."


"Hah kak Joly?" Aku terheran-heran sebentar. Buah sebanyak ini? Joly bisa membelinya? Untuk kita lagi?


"Tadi tadi tadi itu... Ada kakak yang lain. Laki-laki kesini. Itu katanya pacarnya kak Joly. Namanya kakak laki-laki itu kak... emmm.... kak.... kak siapa ya Shan lupa. Pokoknya kakak itu dateng bawa buah-buahan ini. Lalu akhirnya kak Joly pulang."


"Hahh? Jadi setelah kakak laki-laki itu dateng kak Joly lalu ikut pulang?"


Shan mengangguk.


"Brarti Shan tadi gak ditemenin sampai jam 5 ya? Kak Joly pulang lebih awal dari biasanya ya?"


Shan mengangguk kembali.


"Wah wahh ini gak bisa dibiarkan Shan. Dia udah ngelanggar perjanjian kontrak. Enak aja kamu main ditinggal pulang duluan padahal jam kerjanya belum selesai."


"Tapi Shan gak papa kok pa ditinggal."


"Gak Shan, itu gak boleh."


"Tapi pa—"


"Sttt diem, papa lagi marah nih."


Aku benar-benar kesal sama Joly. Bisa-bisanya Shan ditinggal. Mana pakai ngasih buah sebegitu banyaknya lagi. Dipikir biar aku gak marah gitu ya makanya disuap pakai buah? Hmm awas aja ya Joly, kamu besok gak ada ampun.


Shan tiba-tiba meraih ujung kemejaku.


"Apaaaa?"


"Papa, Shan boleh minta tolong dikupasin buah?"


Aku menghela napas panjang lalu mencuci tangan untuk kemudian menuruti pintanya.


"Oke Shan mau dikupasin buah apa?"


"Mangga pa."


Aku menarik kursi untuk Shan duduk, lalu aku pun juga duduk di kursi meja makan di sebelahnya.


"Papa papa, kata kak Joly Shan harus banyak makan buah. Biar sehat, biar gak mi—"


"Iya iya berisik. Papa tau buah itu bikin sehat. Udah kamu jangan nyerocos mulu. Bikin papa pusing tau gak Shan."


"Oke, maaf pa."


Aku memusatkan fokusku, mengupas kulit mangga dengan teliti. Hingga akhirnya buah yang kukupas telah selesai. Aku memotongnya menjadi beberapa bagian kecil. Shan kemudian langsung melahapnya.


Hingga seketika perhatianku teralihkan saat membuang kulit-kulit buah ke dalam tempat sampah. Beberapa tisu bekas yang berada di sana. Tisu dengan tampilan tidak biasa. Tisu bekas dengan noda merah pekat. Objek itu seketika mengundang rasa penasaranku.

__ADS_1


Noda apa itu? Kok seperti darah? Darah siapa itu??


~Tbc


__ADS_2