
Aku menghadang Joly tepat di ambang pintu apartemen. "Jangan masuk dulu!"
Wajah Joly terlihat kebingungan sebentar, hingga akhirnya dengan sok tanpa bersalah bersuara. "Emm ada apa ya mas?" tanyanya.
Berkali-kali aku menghela napas panjang, berusaha agar tidak emosi.
"Apa yang kamu lakukan kemarin Jol?"
Gelagat Joly seolah berpikir sebentar, dan tak lama kemudian dia menjentikkan jarinya. "Oh, itu buah dari saya. Gimana mas? Mas suka? Udah mas makan belom? Manis-manis kan mas?"
Belum selesai, perempuan ini pun masih melanjutkan bualannya.
"Iya saya sengaja banget ngasih buah ke mas, kebetulan ada banyak banget di rumah jadi saya kasih hehehe."
Joly mungkin sekarang perasaannya tidak enak, dia sudah sadar kalau aku ini sedang marah.
"Maksud kamu apa suap saya pakek buah-buahan?" tanyaku.
"Hahh? Eng-enggak kok mas. Sumpah saya gak ada niat buat nyuap-nyuapan. Suwer deh."
"Lalu kamu tinggalin anak saya padahal jam ngasuhnya belum selesai!"
Joly gemetar di tempat. Aku memang sangat sengaja sekali meninggikan suaraku. Biar dia tahu rasa, ini akibatnya karena melanggar kontrak yang telah disepakati sebelumnya.
"M-maaf..." Wajah Joly tertunduk dalam-dalam.
"Kak Joly." Hingga sebuah suara panggilan akhirnya berhasil membuat perempuan itu kembali berani mengangkat wajahnya kembali.
Ya, itu suara panggilan dari Shan.
"Kak Joly udah dateng?" Shan datang dari arah belakang, langsung meraih tangan Joly kemudian mengarahkannya untuk merangkul pundak kecilnya.
"Kak Joly ayo kesini, Shan mau tunjukin mainan baru Shan. Kemarin baru dibeliin sama papa loh. Ayo kak Jol, kak Joly buruan liat."
Oke Joly, beruntung sekali ada Shan yang menyelamatkanmu...
__ADS_1
Baik sekarang kita lupakan masalah Joly yang tidak konsisten dengan kontrak kerjanya itu. Aku sekarang ini mau menikmati hari weekend-ku dengan bermain game di ponsel.
Hari memang masih terlalu pagi jadi hanya kegiatan ini yang bisa aku lakukan. Ya, aku tidak seperti para pekerja atau karyawan umumnya yang bisa tidur sampai siang pada hari weekend dan bangun semaunya. Tidak bisa! Eh bukan tidak bisa, lebih tepatnya terpaksa tidak bisa. Ini karena aku punya Shan, si anak kecil rewel yang kalau setiap fajar muncul dipermukaan langsung minta sarapan. Hahh, untung aku sampai sekarang ini masih tetap waras dalam menghadapinya. Untung...
"No, Shan! Keluar ih, sana main diluar. Kenapa pindah kesini sih? Sana sama kak Joly, sana!"
Shan tiba-tiba ikut naik ke atas ranjang tempatku berada. Tentu ini sangat mengganggu konsentrasiku dalam bermain game di ponsel.
"Aduh Shan, papa jadi kalah kan!" Aku akhirnya memarahinya karena dia tidak bisa diam di tempat dan membuatku kalah dalam permainan.
"Kamu minta papa cubit ya?"
"Oii Shan! Spring bed kita bisa rusak kalo kamu terus loncat-loncat kaya gini! Kamu kira ini trampolin apa!"
"SHAN!"
Shan seketika menghentikan aksinya. Emang ini anak minta dibentak terus-terusan ya.
"Joly ini Shan-nya bawa keluar ih!"
"Oh iya iya maaf mas." Joly datang dan langsung membawa Shan keluar seperti permintaanku. Tapi tak lama kemudian Shan kembali masuk ke dalam kamar. Lagi.
Joly terlihat tertatih-tatih mengejar Shan. "Hei Shan ayo keluar. Kita main di luar aja." ucapnya seraya mencoba meraih tangan Shan.
"Gak mau, Shan sekarang ini lagi pengen sama papa."
"Hei Shan ayooo."
"Enggak kak."
"HEI SHANNN!!!" bentak Joly dengan sangat keras.
Seketika ruangan hening saat itu juga. Kaget, sumpah benar-benar kaget. Aku yang berada disitu pun hanya bisa melongo.
Tiba-tiba perasaanku sangat terluka. Bisa-bisanya Joly membentak Shan-ku seperti itu.
__ADS_1
Aku yang tidak terima langsung bangkit dari posisiku, lalu berjalan menghampiri dua orang itu yang berada di ambang pintu kamar.
"Berani-beraninya ya lo ngebentak anak gue!"
"Mas dia nakal mas. Dia susah diatur."
Entah tiba-tiba emosiku benar-benar tidak bisa terkontrol. Aku mendorong pundak Joly hingga tubuhnya mundur. Tidak hanya sekali tapi berkali-kali, sampai akhirnya tubuhnya mentok ke tembok. Sudah tidak ada ruang lagi untuknya.
Dengan kasar aku meraih rahangnya, mencengkeramnya sekuat tanganku. "Coba ulangi lagi apa yang barusan lo katakan. Ulangi lagi kalo berani!"
"GUE ROBEK MULUT LO!"
"PAPA CUKUPPPPP!!!" jerit Shan sangat keras. Seketika cengkeramanku mengendur. Aku beralih menatap Shan yang kini telah berlinang air mata. Anak itu menangis, dan entah sejak kapan dia seperti itu.
"Papa Shan takut hiks..."
Perasaanku langsung porak-poranda mendengar rintihan Shan. Ada rasa penyesalan yang teramat sangat setelah menatap kedua matanya yang menyiratkan penuh kekecewaan padaku.
Shan, papa seharusnya tidak mengambil cara seperti ini di hadapanmu. Papa sudah keterlaluan Shan...
Joly menepis tanganku yang masih berada pada rahangnya. Dengan cepat dia bergegas mengambil tasnya yang berada di atas sofa. Tanpa mengucapkan sepatah kata apapun, dia akhirnya pergi angkat kaki dari apartemen.
Kini di ruangan ini hanya menyisakan aku dan Shan.
"Shan..." Aku mencoba memanggil gadis kecil yang masih menangis sesenggukan itu.
Shan memalingkan wajahnya. Dia tidak mau melihatku sedikitpun.
"Shan, maafkan papa..."
Tangisan Shan malah terdengar semakin keras. Aku segera berlari untuk memeluknya. Aku merutuki diriku ribuan kali, mengumpat dalam batin untuk diriku sendiri yang sangat gagal menjadi contoh yang baik untuknya.
Aku memang lemah. Lemah dalam berpendirian. Lemah dalam menahan emosi. Dan sangat amat lemah jika sudah menyangkut Shan.
Shan, anakku...
__ADS_1
Tidak boleh ada yang mengusik anakku ini. Membentaknya? Tidak boleh...
*tbc...