Putri Kecil Papa

Putri Kecil Papa
Kembali Ke Rumah


__ADS_3

"Aku sama Shan sementara tinggal disini, sampai punya pengasuh baru." ucapku dihadapan mama, Yola dan Ken.


Ya setelah polemik panjang dengan Joly tadi, malam ini juga aku langsung memutuskan untuk tinggal di kediaman mama saja. Mengingat pengasuh sialan itu telah resign, dan besok ataupun kedepannya aku pun harus bekerja. Shan kan tidak bisa ditinggal sendiri tanpa pengawasan.


Yola menampilkan tatapan tidak suka. Seperti biasa...


"Maaf ya Chandra, kamarmu belum sempat mama beresin, kemarin dipakai anak-anak."


Anak-anak siapa lagi kalo bukan anaknya si Yola!


"Gak papa ma, aku sama Shan tidur di kamar tamu aja." Aku lantas melenggang pergi menuju kamar yang ku maksud itu. Kamar yang berada dilantai pertama, dekat dengan ruang keluarga. Hufftt aku pasti tidak akan tidur nyenyak jika menempati kamar ini, pasalnya sangat sempit hanya ada single bed disini.


Semoga saja aku tidak jatuh karena tertendang oleh Shan saat tidur.


"Pa... papa... hikss..." Shan tiba-tiba berbicara dalam keadaan mata tertutup. Dia ngelindur.


"Heii kenapa? Papa disini sayang..." Aku membelai pipinya perlahan. Hingga tak berselang lama terdengar suara dengkuran halus yang keluar dari mulutnya. Bocah itu kembali tertidur lagi.


Aneh. Shan akhir-akhir ini sering ngelindur seperti ini. Dia itu kenapa? Apakah ada yang salah? Atau jangan-jangan karena sering diasuh oleh Joly jadi seperti ini? Tekanan batin kah?


Ah aku tidak boleh berprasangka buruk juga. Aku belum tahu apa kebenarannya.


Oiya aku baru teringat sesuatu setelah menggumamkan nama Joly. Gaji Joly. Aku harus menggajinya. Ya walaupun kerjanya tidak becus dan terhitung belum genap satu bulan tapi aku harus tetap memberinya hak gaji. Aku harus tetap bertindak bijaksana.


Biar dia merasa tertampar dengan ini.


Oke, aku besok akan pergi ke ATM untuk transfer.


Pagi menjelang....


Baru saja aku membuka mata, aku dikejutkan dengan tangisan Shan yang menggelegar.


"Hei Shan kenapa?" tanyaku sembari mencoba menenangkannya. Shan langsung terkejut, kedua matanya membulat dengan sempurna.


"Papa papa kita dimana???!" Tanyanya di tengah isakan.


"Shan kita lagi di rumah uti ini, kenapa kamu nangis hm?"


Shan seketika terdiam, lalu melihat ke sekelilingnya. Sepertinya dia tadi bingung tengah berada dimana. Memang kamar ini sangat asing bagi Shan.


Bocah kecil itu tiba-tiba melompat ke tubuhku. Dia memelukku sangat erat. Kini kita berdua seperti induk koala beserta bayinya.


"Ke-kenapa Shan? Ada apa??"


"Tadi tadi tadi Shan mimpi dibawa orang ke tempat yang menakutkan pa. Pokoknya tempatnya Shan gak suka."


"Hah?"


"Shan takut banget pa."


"Udah udah... Cup... Cup... Cup... Itu tadi cuma mimpi Shan. Gak papa."


Aku heran sekali, Shan ini dari tadi apa tidak melihat keberadaanku ya yang tertidur tepat di sebelahnya. Hmm entahlah...


...^^^***^^^...

__ADS_1


"Chandra kamu tadi dimana kok aku ke apartemenmu kamu gak ada?"


"Lahh... Kamu ke apartemenku Nda? Ngapain??"


"Hei jawab pertanyaanku, kok malah ganti nanya. Gimana sih kamu tuh?"


"Emm aku semalem nginep di rumah mama Nda."


"Bukannya kamu bilang kalo kamu gak suka ada disana? Kakakmu, iparmu, keponakanmu, semuanya annoying kan. Lalu kenapa kesana?"


"Lha terus kemana??? Kan kamu tau sendiri kalo pengasuhnya Shan baru aja pergi."


"Ya nginep di rumah aku aja. Ada bibik, dia bisa jagain Shan sebentar. Kenapa kamu harus pergi ke rumah mama mu ha? Rumahku juga bisa! Kayak gak ada tempat lain aja deh Chan. Kamu tuh anggep aku ini apa sebenarnya???"


Aku menarik napas dalam-dalam lalu menghembuskannya. "Okay, sorry. Aku gak kepikiran sama sekali."


Perempuan di hadapanku ini memalingkan wajahnya. Bermain ponselnya sendiri, mengacuhkanku. Aku tahu Wanda tengah marah sekarang.


Jam makan siang telah usai, waktunya kita berdua kembali bekerja. Aku mencoba meraih tangan Wanda untuk menggandengnya, tapi dengan cekatannya dia menepisku.


"Nda udah dong. Please ini masih di kantor, jangan ngajak berantem."


Lagi-lagi dia memutar kedua bola matanya dengan ekspresi menjengkelkan. Kini bukan hanya dia saja yang jengkel, tetapi aku juga!


"Dahlah terserah lo aja!" Aku langsung berjalan dengan cepat meninggalkan perempuan yang gampang marahan itu.


Aku pikir aku dan Wanda akan saling perang dingin dalam jangka waktu yang lama, namun ternyata tidak. Terhitung masih beberapa jam kejadian di kantin kantor berlalu kini Wanda telah berubah pikiran. Dia sudah tidak marah lagi. Lihatlah perempuan ini kini menempel erat pada tubuhku, seperti perangko.


"Nda, minggir... Aku gak bisa kerja kalo kamu kayak gini." kataku seraya menghindari kepalanya yang sedari tadi disandarkan pada pundakku.


Tenang saja, tidak akan ada yang melihat. Pintu ruanganku sudah ku kunci rapat. Dan kalaupun ketahuan, aku punya kartu AS disini, yaitu Wanda. Wanda akan dengan mudah meluluhkan hati bos nanti. Ingat, dia adalah karyawan yang penuh prestasi.


...***...


Author's POV


"Ayo suit! Yang menang bisa pilih jadi Elsa!" Salsa mengangkat tangannya ke udara.


"Ayo siapa takut! Pasti Shan yang menang!"


Mereka berdua berseru bersama. "Batu, gunting, kerrrrrrrr—tas!"


"YEAYYYYY Aku Elsa!" pekik Salsa dengan sangat amat bahagia.


Shan seketika menekuk wajahnya dalam-dalam. Dia ingin menangis saat ini juga, tapi itu tidak boleh. Dua keponakannga nanti akan mengolok-oloknya.


"Eh Shan mau kemana? Kita belum selesai ya! Cepet dorong kereta luncur saljuku."


"Shan gak mau!" Bocah paling kecil itu meninggalkan permainan. Memilih untuk mencari utinya yang entah sekarang ini berada dimana.


"Ti... Uti..." panggilnya sembari terus mencari.


"Ada apa sayang?" Sosok yang dicarinya itu ternyata ada di halaman belakang. Tengah berkebun di siang hari.


"Gak papa ti. Shan pengen sama uti aja."

__ADS_1


"Iya sayang, disini aja."


Shan akhirnya ikut bersama sang nenek. Terus membuntuti dibelakang, menyimak dengan seksama apa yang dilakukan perempuan paruh baya itu.


"Shan neduh aja, mataharinya lagi panas ini sayang." perintah sang nenek. Tetapi Shan menggeleng.


Dewi memutuskan untuk mempercepat kegiatannya karena kasihan jika Shan terus kepanasan seperti ini.


"Udah yuk Shan kita masuk, uti udah selesai nih." Ajak Dewi tatkala kegiatannya telah selesai. Dan karena tangannya saat ini sedang kotor karena tanah, Dewi tidak bisa meraih tangan Shan untuk digandeng.


"Shan ayo." ajak Dewi lagi.


Shan masih bengong di tempat. Entah sorot matanya itu mengarah kemana. Apa yang dia lihat sekarang, tatapan matanya seperti kosong.


"Shan?"


"Uti, Shan kok pusing ya—"


Glubukkk


"EH SHANNNN!!!"


...***...


.


Ponsel yang terus bergetar di atas nakas itu, tidak membuat kegiatan yang dilakukan Chandra dan Wanda berhenti sedikitpun.


Chandra sang pemilik ponsel bahkan tidak meliriknya sama sekali.


"Wanda tubuhmu sangat indah. Benar-benar candu."


"Terimakasih Chandra."


"Wanda ternyata banyak sekali buah stroberi yang lainnya disini. Cuph..."


"Yess, Chan..."


"Wanda I love you..."


"I love you too..."


Tepat pukul 9 malam akhirnya mereka berdua menyudahi permainan.


"Ah aku udah sangat terlambat buat pulang."


"Gak usah pulang sayang, disini aja." Wanda masih memeluk erat tubuh Chandra, seolah laki-laki itu hanya miliknya seutuhnya.


"Tapi anakku pasti udah nyariin."


"Dia udah aman Chandra, ada mamamu disana."


Chandra seperti mendapatkan sebuah motivasi. Dalam benaknya yang dipikirkan Wanda itu adalah benar.


"Oke, gimana kalo satu ronde lagi."

__ADS_1


"Setuju." ucap Wanda dengan sumringah.


~tbc....


__ADS_2