
Shan menatap piala kebanggannya. Matanya tidak bisa lepas dari benda yang dia putuskan sendiri untuk di taruh di atas lemari kamar rawat. Shan benar-benar sangat menyukai pialanya itu. Sampai-sampai dia gak kedip selama berpuluh-puluh menit.
"Shan kalo pialanya papa buang gimana?"
"Ih papa."
"Gak gak, papa cuma bercanda. Hehehe..."
Shan kembali menatap pialanya dengan sorot mata yang berbinar. Hmm, sesuka itukah Shan?
Jam kini telah menunjukkan hampir 9 malam. Harusnya Shan sudah tidur, tapi entahlah mungkin karena euforia dapat piala jadi seperti inilah deh.
"Bobok sayang, pialanya gak usah dipelototin terus. Dia gak akan pergi kok, biar papa yang jaga..."
Shan lantas mengangguk kemudian merangkul leherku dengan kedua tangannya. Posisinya sudah menghadap, menempel pada tubuhku. Dia minta dikelonin.
"Papa beneran ya jaga pialanya Shan? Papa janji?"
"Iya sayang, papa janji."
Ahh besok Shan mau ku prank, pialanya ku umpetin aja gimana ya. Kelihatannya seru hahaha.
"Udahlah sayang merem yuk merem."
"Tapi Shan belom ngantuk—hoammm...."
Belum mengantuk tapi sudah menguap sangat lebar.
Shan masih saja mengajak mengobrol, padahal matanya udah sangat lengket tidak kuat melek loh. Emang cerewet banget nih anak.
"Papa besok kita bangun pagi... Sekolah..."
"Iya sayang."
"Papa besok Shan sarapannya apa?"
"Kamu maunya apa?"
"Telur..."
"Telur diapain Shan?"
"Errrh... Digodok." Shan sebenarnya sudah ngantuk tingkat akut, tapi dia masih berusaha menolaknya.
"Digodok? Oh direbus ya maksudnya Shan, iya-iya oke besok pagi papa buatin."
"Papa... Papa... Papa..." Shan memang tinggal setengah watt kesadarannya, tapi mulutnya masih tidak bisa diam. Entahlah dia terus memanggil-manggil namaku, padahal aku tengah bersamanya.
Aku yang tidak ada kerjaan, akhirnya terus menyahuti anak yang setengah ngelindur ini.
"Kenapa sih Shan sayang?"
Hening...
Aku sedikit tertawa dibuatnya karena sadar bahwa Shan telah tertidur lelap sekarang.
"Mama Shan kemana pa?"
Deg!
Tapi ternyata Shan belumlah tidur...
Aku kembali mati kutu dibuatnya, sama seperti saat di sekolah tadi. Entah sekarang aku harus memberikan jawaban apa, aku sudah tidak bisa menghindar lagi seperti saat di sekolah tadi yang ada Miming sang pengalih perhatian Shan. Sekarang tidak ada sang pengalih perhatian.
Hanya aku sendirian. Aku sendirian yang ditagih jawaban oleh Shan.
'Ya Tuhan semoga Shan tidur, Shan tidur... Shan lupa... Shan lupaa.... Shan tidak bertanya lagi...'
"Pa kok gak dijawab sih? Shan penasaran."
Aku benar-benar tercekat. Seluruh tubuhku seperti membeku seketika. Tidak ada yang bisa kulakukan. Hatiku terkoyak, karena pertanyaan yang dilontarkan Shan seolah membuka luka lama ku.
"Papa mau kemana?"
"Papa mau pipis Shan."
Shan menahan tanganku, aku benar-benar tidak tega untuk menepis tangan tidak berdosa itu. Tapi apa boleh buat, ini demi keamanan bersama.
"Kamu tidur sendiri ya sayang..." Aku akhirnya melepaskan genggamannya kemudian segera pergi menuju kamar mandi.
Aku mengunci diriku di tempat dingin dan lembab itu. Merenung sendiri dalam keadaan gelap tanpa penerangan. Hingga tanganku terarah menelusup masuk ke dalam saku celana jeans yang ku kenakan.
Aku mengeluarkan sebungkus rokok beserta korek apinya dari sana. Kedua benda ini memang kubawa kemana-mana karena untuk jaga-jaga jika kejadian seperti ini terjadi. Dan benar, sekarang telah terjadi.
Jadi inilah penawarnya...
Aku menyulut rokokku, menyesapnya hingga tidak sadar jika ini adalah batang ke-6 yang kunikmati.
Malam sudah semakin larut, sama seperti diriku yang juga semakin larut dalam aktifitas menenangkan diri. Sumpah, aku sampai benar-benar lupa waktu. Aku sampai lupa dengan Shan juga.
Bergegas aku membersihkan sisa puntung rokokku. Membuangnya ke dalam kloset dan menyiramnya hingga tidak bersisa.
Aku keluar melalui pintu dan pemandangan yang langsung kulihat adalah anak kecil yang meringkuk sendirian di atas bed.
Shan benar-benar sudah tertidur pulas.
Aku mendekat lalu ikut naik ke atas bed bersamanya. Selimut warna pink-nya aku rapikan sebentar, boneka teddy-nya pun tidak lupa ku letakkan di tengah-tengahnya untuk dia peluk.
"Pinter anak papa udah bisa bobok sendiri..." bisikku lirih.
Aku tersenyum sendiri melihat Shan yang terlelap dengan wajah damai itu. Menyadari Shan yang semakin hari semakin tumbuh besar membuatku terharu bahagia rasanya.
Dulu dia sekecil itu dan sekarang sudah sebesar ini. Papa senang sayang...
Aku selalu tidak pernah bosan-bosan memandangi wajahnya yang telah terlelap. Mengusap setiap detail wajahnya yang tentunya kelak akan mengalami perubahan jika nanti dia dewasa. Dan aku akan sangat menyayangkan akan hal itu.
Shan, teruslah kecil saja. Teruslah kecil seperti ini. Teruslah jadi putri kecil papa sayang...
Jujur aku memang takut jika nanti harus melihatnya dewasa. Takut dia akan mandiri dan tidak membutuhkan bantuanku lagi. Ketakutan terbesarku lagi adalah melupakanku.
Aku takut Shan akan melupakanku.
__ADS_1
Membayangkannya saja aku sudah sangat cemas.
"Huh..." Aku mendesah sebentar. Aku lalu beralih melihat ke arah jam dinding. Ternyata sudah pukul 2 dini hari, aku harusnya sudah tidur sekarang.
"Cup..." Aku mengecup kening Shan sebentar, kemudian beranjak menuju sofa. Aku akan tidur disana karena bed-nya sudah dipenuhi oleh Shan dan aku tidak bisa menggeser tubuhnya yang sudah berada di posisi ternyaman.
Maafkan papa ya sayang, harusnya kita berada di ruang VIP agar mendapat bed yang luas.
...***...
Keesokan harinya....
Aku menyikat gigiku dengan sangat berusaha. Padahal aku merokoknya tadi malam ya, tapi kenapa sampai sekarang bau rokoknya masih sangat menyengat. Shan saja sampai me-notice ku, 'Papa bau, hiii.', katanya tadi.
Tok... tok.. tokk...
"Chandra ada dokter Hans. Cepat keluarlah, beliau ingin menemuimu." seru mama dari luar pintu kamar mandi.
"Iya maa bentar!" Aku segera berkumur kemudian keluar.
Di abang pintu aku berpapasan dengan mama.
"Chandra kamu ngerokok ya??"
Aku mencoba untuk tidak menggubris mama dengan langsung berlalu melewatinya, namun mama dengan cekatan menahan tanganku.
"Sudah mama bilang berulangkali jangan—"
"Ma! Aku bukan anak SMA lagi!" Emosiku seketika meledak. Sangat lelah rasanya terus dikekang dan diatur seperti ini. Apa dipikirannya aku itu masih seorang bocah haa??
"Chandra..."
"Cukup ma, Chandra sekarang udah dewasa!"
"Papa."
Loh kok???
Alangkah terkejutnya aku mendapati Shan yang telah berdiri di depan pintu masuk kamar rawat. Dia bersama dengan dokter Hans. Dan sepertinya... Dia mendengar segalanya.
Aku melemparkan tatapan tajam ke arah mama sekilas. Ini semua gara-gara mama, ini semua karena mama Shan jadi tau kan kalo papanya abis merokok. Dan aku habis bentak-bentak mama dihadapan Shan juga.
Aku mencoba melupakan segalanya. Aku lalu menghampiri Shan dan dokter Hans.
"Loh Shan bukannya kamu sekolah?"
Shan terdiam.
"Gimana dokter? Dokter ingin bicara apa? Bicaranya disini atau di ruangan bapak?"
Dokter Hans pun juga terdiam.
"Dok?"
"Eh iya, ma—maaf saya datang disaat yang tidak tepat." Dokter Hans terlihat sangat canggung. Seharusnya bukan dia yang canggung, tapi aku.
"Mari ke ruangan saya."
"Shan sayang, Shan tadi dijemput dokter Hans ya?" tanyaku dengan suara pelan. Jarakku dengan dokter Hans yang terbentang beberapa langkah lebih belakang menjadikanku bisa menginterogasi Shan. Kenapa bocah ini tiba-tiba kembali dari sekolahnya, padahal baru beberapa saat lalu kuantarkan kesana.
"Shan?" Aku sampai menggoyang-goyangkan tangannya karena tidak sabar anak ini masihlah bungkam.
"Shan kamu kenapa sih? Papa tanya nak, jawab dong."
"Shan gak mau jawab. Papa jahat!"
Sontak dokter Hans langsung menoleh ke belakang. Rasa canggungku kini semakin diujung tanduk. Malu sekali aku rasanya.
"Papa kenapa sih marah-marah sama uti?! Kan Shan udah bilang jangan marah-marah sama uti! Shan gak suka papa marah-marah sama uti! Papa ini bener-bener jahat ya! Papa jahat! Papa jahat! Papa jahattt!!!"
Kini bukan hanya dokter Hans yang melihat kearahku, semua orang yang berada dikoridor rumah sakit pun juga. Aku menjadi pusat perhatian seketika karena Shan meneriakiku.
Aku harus apa sekarang??
"Hiks hiks hiks..." Dan Shan semakin memperburuk suasana dengan cara menangis sekarang.
Shan please...
Dokter Hans mendekat, dia langsung memeluk Shan ke dalam dekapannya.
"Tidak Shan, Shan tidak boleh menangis. Sudah, sudah, coba lihat sini. Lihat saya Shan."
Shan yang tadinya menangkup wajahnya dengan kedua tangan perlahan mau membukanya. Dia menampilkan linangan air matanya itu pada dokter Hans, dan dokter.... Dokter Hans dengan sangat sabar menyeka air mata-air mata itu.
"Heii, ingat janji yang kita buat waktu itu kan Shan?"
Shan mengangguk lemah.
"Lalu kenapa Shan menangis? Shan ingkar janji ya? Bukannya Shan yang bilang sendiri kalau ingkar janji itu dosa? Apa Shan tidak takut dosa ya?"
Shan menggeleng.
"Hah Shan tidak takut dosa?" Dokter Hans menampilkan ekspresi terkejut.
"Enggak enggak, maksudnya Shan takut dosa dokter huaaa..."
Senyum dokter Hans terulas. Dia bukan tersenyum karena melihat Shan menangis lagi, melainkan sepertinya niatnya berhasil. Dia berhasil membuat Shan disiplin.
"Ya sudah kalau Shan takut dosa, Shan harus tepati janji Shan. Cup, sudah jangan nangis."
Dan benar, tangisan Shan langsung berhenti sekarang.
Aku sebagai seorang papa jujur saja sangat terbantu dengan adanya dokter Hans ini. Dokter Hans seperti anugerah untukku. Dia juga menjadi guru yang sifatnya patut ku teladani. Caranya mendidik anak kecil, ramah tamahnya, sabarnya, dan selalu saja ada ide cerdik yang membuat Shan luluh. Dia benar-benar definisi dokter yang cerdas.
Terimakasih dokter Hans, anda sangat membantuku.
......***......
"M-maaf dok, ini benar-benar kesalahan saya tidak membaca pesan yang anda kirimkan semalam. Maaf saya teledor..."
Aku berulangkali meminta maaf. Ternyata semalam dokter Hans mengirim chat yang berisi pemberitahuan bahwa hari ini Shan ada pemeriksaan CT-Scan lagi untuk melihat perkembangan kankernya.
__ADS_1
Aduhh ini gara-gara diriku sendiri. Semalam apa yang aku lakukan sampai-sampai aku tidak mengecek informasi penting yang ada di ponselku haa.
Dasar Chandra bodoh!
"Tidak apa-apa pak Chandra, kita bisa lakukan pemeriksaannya sekarang kok, iya kan Shan?"
Shan mengangguki dokter Hans.
Astaga aku menjadi sungkan sekali. Shan tadi sampai dijemput sendiri oleh dokter Hans dari sekolahnya. Duhh Chandra bodoh, bodoh, bodoh!
"Mari ke ruangannya pak." ajak dokter Hans ke ruangan pemeriksaan yang dimaksud.
Shan selama diperjalanan ke sana minta digendong. Entahlah dia mungkin sedikit tegang.
"Gak papa Shan, cuma diperiksa kayak yang waktu itu loh. Pakek sinar."
Shan malah bergelayut di leherku. Dia gelisah sungguhan.
"Shan tau gak, itu sinarnya ajaib loh. Kayak sinarnya iron man, karakter marvel kesukaan ayah Shan. Kalo kamu sering kena sinar itu nanti pasti cepet sembuh."
Tidak ada perubahan, Shan masih saja cemberut.
Hoalah Shan, Shan... Padahal papamu ini kan mau menghiburmu. Kenapa sih giliran papa yang menghibur pakai cara papa sendiri gak langsung ceria, sedangkan kalo dokter Hans langsung ceria.
Kenapa sih Shan, hiks :(
Sesampainya di ruangan yang dituju Shan malah menangis dan merengek takut minta keluar. Aku yang sesuai prosedur hanya menunggu diluar cuma bisa ngeri mendengar tangisannya Shan yang menggelegar.
Ya maaf Shan papa gak bisa masuk sayang.
Hingga tiba-tiba dokter Hans keluar dan menyuruhku untuk ikut masuk. Sepertinya dokter Hans sudah kewalahan. Hahaha ternyata dia bisa kewalahan juga ya...
Saat Shan sudah melihatku dia langsung berhenti menangis. Aku lalu menggenggam tangannya. Tangan kecil itu tidak mau dilepaskan sebentar pun. Saat setengah tubuh Shan yang bagian atas dimasukkan ke dalam alat yang seperti kapsul-pun Shan tidak mau melepaskan tanganku. Pokoknya maunya Shan harus bergandengan.
Oke oke Shan, baiklah. Papa akan selalu menggenggam tanganmu. Papa akan selalu bersamamu sayang. Papa gak kemana-mana kok...
Pemeriksaan selesai. Kita kembali ke ruangan dokter Hans, hasil rontgen pun juga sudah keluar. Dokter Hans langsung mulai menjelaskan hasilnya.
Kata dokter Hans, masih belum ada perkembangan yang signifikan mengenai proses pengobatan yang dijalani Shan. Seminggu yang telah berlalu ini ternyata belum membuahkan hasil apa-apa.
Kemo pertama Shan hasilnya juga tidak terlihat, maklumlah masih pertama. Kata dokter Hans demikian.
Tapi yang membahagiakan, ukuran kankernya tidak membesar satu mili pun. Ukurannya masih sama. Ini berarti kankernya berhenti berkembang. Dan mungkin akan bisa cepat mengecil dengan segera melalui rangkaian pengobatan yang akan ditempuh kedepannya. Semakin cepat mengecil maka semakin cepat dapat dilakukannya operasi pengangkatan.
Aku sangat lega sekali mendengarnya.
Aku tidak henti-hentinya menciumi Shan karena sangking bahagianya mendengar hasil yang diumumkan dokter.
Shan, sebentar lagi kamu sembuh sayang...
Selesai berkonsultasi dengan dokter Hans aku dan Shan akhirnya pulang. Pulang dalam kutip kembali ke kamar rawat untuk beristirahat. Kita sudah menghabiskan waktu berjam-jam, bahkan hari sudah berganti menjadi sore. Sebenarnya sekarang ini waktunya Shan mandi.
Namun, aku tidak men-push Shan untuk terus beraktivitas. Dia harus beristirahat walaupun hanya sebentar.
"Bobok dulu bentar ya, setengah jam. Abis itu mandi, oke?" Aku menurunkan Shan di atas bed.
Bocah kecil yang masih aktif ini mengangguk. Dan minta dikeloni. Akupun langsung menuruti permintaannya. Lumayanlah sambil meluruskan punggungku juga yang rasanya pegal karena seharian duduk di ruangannya dokter Hans.
"Papa nanti abis mandi buatin Shan susu ya."
Aku mengangguki request nya itu.
"Emm... papa." panggil Shan, agak ragu.
"Iyaa? Gimana?"
"Shan boleh gak mik susunya di dot?"
Aku seketika melotot. Sebenarnya tidak mau marah, tapi ini refleks.
"Gak boleh dong sayang. Kan udah gede..." ucapku, mencoba untuk selembut mungkin.
"Di gelas aja ya, atau di tumbler Shan yang biasanya dibawa ke sekolah."
Shan diam. Dia kecewa karena permintaannya tidak kuturuti.
Aku akhirnya memberikan pemahaman untuknya.
"Heii Shan, Shan kan udah sekolah. Udan bukan waktunya lagi mik di dot. Dot itu cuma buat adek bayi Shan. Coba deh umur Shan sekarang berapa?"
"Tiga."
"Nahkan 3, kalo umurnya adek bayi berapa?"
"Satu... Dua."
"Nahhh. Kan tauuu. Udah pinter gitu Shan, terus kenapa masih kayak adek bayi padahal umurnya Shan udah 3 ha? Emang Shan mau kalo nanti temen-temen sekolahnya tau Shan masih mik di dot, Shan masih kayak adek bayi? Yang ada nanti temen-temennya Shan ngejek Shan. 'Yee yee yee Shan kayak adek bayi, hiii ayo Shan jangan ditemenin'. Emang Shan mau digituin?"
Shan menggeleng.
Bocah ini lalu memeluk leherku sangat erat. "Iya deh Shan gak minta mik di dot lagi."
"Nahh gitu dong. Baru anak pinter." Aku mengecup bibirnya sekilas. Lalu melingkarkan kedua tanganku untuk mendekap tubuh mungilnya.
"Udah yuk sekarang bobok."
"Bentar pa..."
"Apalagi sih Shan?"
"Emm papa lihat teman-temannya Shan kemarin?"
Aku seketika mengernyit. "Iya, papa lihat. Emangnya kenapa Shan?"
"Papa lihat mereka pakai penutup kepala ya. Kira-kira kenapa ya pa? Apa mereka gak punya rambut? Apa jangan-jangan nanti Shan juga kayak mereka paa?"
Aku terdiam beribu bahasa. Pertanyaan Shan seolah menamparku dengan keras.
Enggak Shan enggak! Gak akan, kamu gak akan kayak temen-temenmu! Kamu gak akan kehilangan rambut indahmu!
"Enggak sayang..."
__ADS_1
~tbc...