Putri Kecil Papa

Putri Kecil Papa
Kehadiran Shan


__ADS_3

Minggu ke-45 terlewati. Kandungan Rosa telah kian membesar melebihi buah semangka. Rosa amat kesusahan menggerakkan tubuhnya, namun lembar soal Ujian Nasional yang berada di hadapannya tidak membuatnya goyah.


Rosa harus mengerjakan semua soal itu. Rosa harus lulus, dan kalau bisa harus mendapat nilai terbaik tingkat nasional seperti ambisinya sejak dahulu.


Rosa akan melakukan ini semua demi ayahnya. Ayahnya sudah menutupi semua skandal yang dilakukan Rosa. Menyembunyikan kebenaran bahwa Rosa tengah hamil tua. Ayahnya menyerahkan segalanya, uang dan harga dirinya. Ayahnya menekuk kedua lututnya di hadapan sang kepala sekolah. Bersujud dihadapannya agar Rosa bisa mengikuti UN dan menuntaskan pendidikannya.


Tidak ada yang tidak diberikan untuk Rosa, si putri semata wayang Widyatama.


Situasi berbanding terbalik, kehidupan Chandra tetap berjalan dengan mulus. Chandra masih tetap bisa sekolah, mengikuti semua pelajaran dan les di sekolah. Anak laki-laki itu dengan leluasa mengerjakan UN-nya di sekolah, berbeda dengan Rosa yang harus berpikir keras di kediamannya sendirian.


Chandra aman. Hidupnya tidak ada gangguan sama sekali karena belum ada satupun dari pihak sekolah yang mengetahui jika Chandra adalah ayah dari sang jabang bayi di rahim Rosa. Kabar kehamilan Rosa tidak terendus sedikitpun di permukaan, semuanya berkat kuasa ayah Rosa.


"Chandra, jadi temanmu itu kemana? Si Rosa? Apa dia tidak ikut UN?"


Chandra menelan air liurnya sendiri dengan susah payah. Setiap kali pertanyaan itu dilontarkan oleh siswa lain, Chandra mendadak tidak tenang.


"Ng-ngak tau. Aku udah gak pernah dengar kabar Rosa sejak—" Chandra tidak berhasil meneruskan perkataannya.


Anak laki-laki itu lalu berdiri. Membawa lembar jawabannya kemudian mengumpulkannya ke meja guru. Chandra memilih segera pergi.


Selama 9 bulan Rosa dilanda kekhawatiran, selama 9 bulan pula Chandra dirundung ketakutan. Bayi tidak berdosa dalam kandungan itu turut merasakan semua yang dirasakan kedua orang tuanya. Bayi itu akhirnya lahir di dunia dengan kondisi lemah.


Dewi menggigit bibir bagian bawah miliknya. Kedua telapak tangannya berkeringat sangat banyak tatkala jeritan panjang Rosa tidak diakhiri dengan suara tangisan bayi.


Apa yang terjadi di dalam sana? Apa yang terjadi di dalam ruangan tertutup itu?


Chandra muncul dari arah pintu. Anak laki-laki itu berjalan dengan gontai ke arah sang mama dan papanya.


Sorot mata yang ditampilkan Chandra seolah mengatakan segalanya.


"Bagus! Lebih baik dia tidak selamat! Bayi haram!" seru ayah Rosa seketika.


Air mata Chandra menetes begitu saja. Tubuh Chandra bergetar hebat menahan sesenggukannya.


Tidak ada pelukan, atau kata-kata penguat lain. Chandra sendirian. Walaupun ada tiga orang dewasa di hadapannya, Chandra tetap sendirian.


Tidak ada satupun yang membelanya.


Dewi berbalik badan, meninggalkan lokasi tanpa bersuara sedikitpun. Sedangkan papanya Chandra, dia hanya mengucapkan sepatah kata pamit pada ayah Rosa yang arogan itu.


Pukul 11 malam lebih, pintu rumah Dewi diketuk. Dewi yang belum tidur karena masih dalam kegelisahannya akhirnya membukakan pintu.


Benar dugaan, Chandra putranya akhirnya telah pulang. Namun... Dia tidak sendiri.


"Oek oek oekk..."

__ADS_1


"Ssttt sttt cup sayang, jangan nangis. Kita sudah sampai di rumah nak." lirih Chandra sembari menimang-nimang manusia kecil yang hanya terbalut dengan jaket dan didekap dengan sangat erat.


Dewi hendak menangis saat itu juga, tapi rasa kekecewaannya masih setinggi angkasa.


Bleng!


"Pergi! Bawa bayi itu pergi dari rumah ini! Mama gak mau bukain kamu pintu kalo masih ada bayi itu! Singkirin bayi itu Chandra!"


"Mama please... Bayi ini gak salah."


Sepanjang malam Chandra terkunci di luar. Bertahan bersama bayi kecil itu di tengah dinginnya udara malam yang menusuk.


Chandra terus memeluk erat putrinya. Putri yang belum pernah dia bayangkan sebelumnya. Putri yang Chandra langsung cintai ketika baru melihatnya pertama kali.


"Jangan takut sayang, papa disini. Papa gak akan ninggalin kamu, Shan-ku..."


Subuh menjelang, tepatnya pukul berapa tidak ada yang ingat. Chandra yang masih tertidur pulas tidak mendengar sedikitpun suara pintu dibuka.


Dewi memberikan selimut tebal lalu menyelimutkan dengan penuh kehati-hatian agar Chandra tidak terbangun dalam posisi tidur terduduknya. Akan tetapi, manusia kecil yang berada di dalam dada Chandra itu menggeliat.


Tangisan kecil tercipta. Tangisan yang sangat menyayat hati bagi siapapun yang mendengarnya. Tangisan lemah, tidak seperti tangisan bayi pada umumnya.


Dewi menyentuh jemari mungil yang masih berwarna kemerahan itu. Terlihat sangat rapuh dan tidak berdaya, namun jemari itu menggenggam telunjuk Dewi dengan erat, seolah meminta bantuan.


Chandra sangat benar, bayi ini tidaklah berdosa.


Dewi bangkit dari tempatnya berjongkok. Belum terlihat sang fajar yang muncul dipermukaan tetapi Dewi sudah pergi mencari ke setiap tempat. Barangkali sudah ada salah satu toko yang buka.


Dewi membelikan susu formula untuk bayinya Chandra. Untuk bayi yang sekarang diakuinya menjadi cucunya.


~FLASHBACK OFF


...***...


"Ayo Shan, sudah waktunya mandi nih." ucap Chandra dengan lembut pada Shan yang terbaring di atas bed.


Shan tidak tidur, dia terjaga. Tidurnya sudah dilakukan sejak menjelang siang tadi, dan sekarang sore ini anak kecil itu tidak mengantuk lagi.


Shan merentangkan kedua tangannya untuk meminta bantuan kepada sang papa.


"Pinternya anak papa." Chandra mengecup pipi Shan bergantian.


Pakaian kini telah terlucuti. Tubuh Shan terpampang jelas sekarang. Tubuh kurus kering namun bagian perutnya membuncit. Tulang-tulang Shan terlihat menonjol, rongga-rongga tulang rusuknya apa lagi. Siapapun yang melihatnya akan merasa teriris.


"Kak Rosa mana? Aku mau dimandiin sama kak Rosa juga pa."

__ADS_1


Chandra menoleh ke setiap penjuru, mencari-cari sosok Rosa tetapi dia tidak menemukannya.


"Maaf sayang, tapi papa gak tau kak Elsa dimana. Shan dimandiin sama papa aja ya? Gak papa kan Shan?"


Shan mengangguk lemah.


Kini memandikan Shan lumayan sulit. Shan akan terpeleset jika didudukkan sendiri di atas closet. Jika saja di kamar mandi ada bathup pasti anak lebih mudah.


Dewi mengikuti arah perginya Chandra yang menggendong Shan menuju kamar mandi.


"Uti bantuin ya." Dewi dengan telaten mengguyur dan menyabuni seluruh tubuh Shan yang dibertumpu pada pangkuan Chandra. Chandra memang akan habis basah kuyup, tapi tidak apa-apa. Toh ada banyak baju yang bisa Chandra pakai untuk berganti nanti. Yang penting Shan mandi dengan bersih dan nyaman.


"Loh pa, shmpo Shan mana? Shan udah lama banget gak dikeramasin? Rambut Shan udah bau banget nih."


Chandra seketika terkejut.


Ini Shan bicara ngaco atau gimana?


Chandra menampilkan senyum kepada Shan dan memberi pemahaman kepada anak kecil itu. "Shan lagi lupa ya?" ucapnya sembari mengusap lembut kepala Shan.


Shan dengan segera mengikuti pergerakan tangan papanya. Shan pun menyadarinya.


Sepertinya memang benar, Shan lupa akan rambutnya yang telah habis tidak tersisa.


Mandi akhirnya telah selesai. Chandra membungkus tubuh Shan menggunakan handuk lalu menggendongnya untuk keluar dari kamar mandi.


Chandra mendudukkan Shan di atas bed. Sembari menunggu Dewi menggeledah isi lemari untuk mencari pakaian Shan yang baru, Chandra mengoleskan seluruh tubuh Shan dengan minyak kayu putih agar hangat.


Chandra berhenti pada lingkaran pergelangan tangan Shan. Chandra menggenggam pergelangan tangan Shan itu sangat lama, seolah mengukurnya.


Tangan Shan sangat kecil sekarang.


Dewi yang menyaksikan dari kejauhan seketika teringat akan masa lalu.


"*Ma, tangannya lucu sekali ya. Bisa gendut gini. Gemesss..."


"Iya Chan, kalo bayi emang gitu. Apalagi kalo minumnya ASI eksklusif, bisa lebih gendut dan gemes dari itu. Eh maaf, mama gak bermaksud buat—"


"Hehehee iya ma gak papa kok. Jadi sekarang Chandra tau deh kalo ASI eksklusif memang lebih utama daripada sufor. Makasih ilmunya ma. Hmm andai aja Shan minum ASI. Aku sebenernya khawatir banget kalo Shan nanti gak seperti anak-anak yang lainnya karena cuma minum sufor."


"Enggak sayang. Shan pasti akan tetep sehat, Shan bahkan bisa lebih pinter dari pada anak-anak lainnya. Percaya deh sama mama*."


Dewi mengusap air matanya yang entah sudah menetes sejak kapan. Kenangan akan masa lalu benar-benar membuatnya tersiksa. Semuanya sangat disayangkan. Takdir Shan. Kenapa Shan memiliki jalan hidup yang begitu menyakitkan sejak dahulu? Apa salahnya Ya Tuhan?


~tbc...

__ADS_1


__ADS_2