
Ceklek...
"Papa pulang sayang!" seruku sembari melangkah memasuki kamar. Aku langsung menghampiri Shan yang tengah duduk anteng di depan meja lipat kecilnya. Dia sepertinya tengah sibuk menggambar.
Aku berjongkok, melihat putriku yang telah harum bau bedak. Dia sudah mandi juga ternyata. 'Baru dimandiin sama uti ya Shan?'
"Cup." Aku menyematkan kecupan pada kepalanya sebentar. "Kok tumben Shan gak sambut papa pulang? Biasanya kan Shan berdiri di teras. Sambil loncat-loncat, jerit-jerit liat papa dateng. Tapi sekarang kok..."
Shan masih fokus pada kertas yang berada di atas meja lipatnya itu. Dia sepertinya tidak tertarik dengan perkataanku. Lihatlah, jarinya masih terus menorehkan krayon pada gambarannya.
"Shan lagi gambar apa sih?" tanyaku dan lagi-lagi tidak ada jawaban darinya. Bibir mungilnya terus terkatup rapat-rapat.
Dia kenapa? Apakah suasana hatinya sedang tidak baik-baik saja?
Aku menghela napas sekilas, lalu memilih untuk merebahkan tubuhku, masih di dekat tempatnya Shan. Lantai yang dingin seketika membuatku merasa lebih baik.
"Oke baiklah, papa gak digubris sama sekali. Oke, papa gak bakalan marah..." ucapku sembari memandang langit-langit plafon.
Dan entah kenapa, tanpa kuduga-duga Shan tiba-tiba langsung melemparkan krayonnya hingga membentur tembok. Aku kaget sekali dong. Aku langsung bangkit dari posisiku, lalu memarahinya.
"Kamu ini kenapa sih Shan?!"
"Apa itu tadi bagus ha ngelempar-ngelempar?! Kalo kena orang lain gimana?! Itu tuh sakit Shan kalo ngenain! Siapa sih yang ngajarin kamu ngelempar-ngelempar kayak gitu?! Siapa ha?!"
Shan menangkup kedua wajahnya menggunakan tangan, kemudian menangis di dalam sana.
Lagi-lagi aku hanya bisa menghela napas dengan kasar.
Tolong dong, aku sekarang ini telah sangat lelah karena pulang bekerja. Dan sekarang harus dihadapkan dengan situasi yang seperti ini. Aaarrrggghh aku sungguh sangat ingin berteriak!
Tapi itu tidak boleh...
Aku akhirnya mengulurkan kedua tanganku. "Ayo Shan sini..."
Shan perlahan membuka tangkupannya itu. Dia memperlihatkan wajahnya yang telah sangat memerah berhiaskan deraian air mata.
Aku benar-benar gak tega, sumpah...
Shan meraih uluranku. Perempuan kecil itu kini masuk ke dalam dekapanku. Aku memang belum mandi, masih sangat bau kecut karena berkeringat, tapi Shan malah terlihat nyaman tenggelam di dalam sana.
"Ksmakksj wus wusbjsjkakhwhi hat.."
"Hah apa Shan? Papa gak bisa denger kamu ngomong apa? Yang jelas Shan." Aku serius tidak bisa mendengarnya.
Shan lantas mendongakkan kepalanya. Dia memandangiku sekarang. "Kak Salsa sama Kak Jimmy jahat."
"Jahat kenapa sayang? Memangnya kamu baru aja diapain?"
"Shan... Shan gak boleh masuk ke sana. Mereka lagi nonton frozen terbaru pa. Shan padahal pengen nonton juga. Tapi Shan gak dibolehin. Shan sedih pa. Shan kecewa.... Shan... Hiksss. Huhuhu.." Shan tidak bisa melanjutkan mengadunya itu. Tangisannya pecah kembali.
__ADS_1
Aku melihat sorot mata yang penuh kekecewaan terpancar dari kedua matanya. Shan terlihat sangat tersakiti sekali.
Aku hanya bisa memeluknya sangat erat. Entahlah aku juga bingung harus bertindak apa untuknya. Memarahi bocah-bocah itu? Ahh jangan, mereka masih kecil, masih sama seperti Shan ini. Mungkin maksud mereka hanyalah bermain-main, tapi Shan menganggapnya serius dan akhirnya menyakiti hatinya. Sangat wajar sekali bukan dalam dunia anak-anak itu seperti ini?
"Gak papa Shan, besok kita nonton langsung aja. Di bioskop mau Shan? Atau papa beliin kasetnya, terus TV di lantai bawah papa gotong masuk kesini. Shan bisa nonton sendiri tanpa diganggu sama mereka. Gimana Shan? Shan mau?"
Shan mengangguk di tengah isakannya.
Perlahan tangisnya mulai mereda. Memang Shan ini kalau menangis seperti ini, tidak bisa langsung berhenti clep. Apalagi kalau penyebab menangisnya adalah karena perasaannya disakiti. Dia itu tipe perasa sekali, ya walaupun terkadang sering membuat orang-orang naik pitam tapi aslinya dalam hatinya itu sangat rapuh.
Kini Shan kududukkan di kursi meja makan. Jam telah menunjukkan pukul 6 malam tepat. Aku akan membuatkannya telur dadar yang enak. Aku memang belum mandi, tapi setelah ini akan mandi kok, tenang saja. Aku hanya ingin membuat suasana hati Shan menjadi membaik, agar dia tidak murung terus seperti ini.
"Shan mau garamnya dibanyakin apa enggak?"
Shan menggeleng dengan lesu.
"Oh oke, garamnya sedikit aja." kataku. "Terus terus nanti makannya dikasih kecap apa enggak Shan? Shan mau kecap? Kecap itu yang warnanya item itu loh, terus rasanya manis."
Shan mengangguk. Dia mau makan telurnya dengan menggunakan kecap.
Memang harus seperti ini. Anak yang murung harus terus diajak ngobrol. Ya tujuannya seperti tadi yang sudah ku sebutkan. Agar suasana hatinya lekas membaik.
"Tadaaaa telur dadar buat Shan udah jadi." Aku lalu meletakkan piring berisi nasi dan telur itu di atas meja, tepat di hadapannya Shan.
"Bentar papa ambilin kecapnya dulu."
"Currrrr..." Aku menuangkan kecap ke telur dadar itu dengan gaya. Shan masih tetap diam, tidak bersuara sama sekali. Padahal aku pikir aksiku ini akan mengundang tawanya, tapi ternyata tidak. Gadis kecil itu masih tetap mendung.
Aku mulai menyendokkan untuk suapan pertama. "Yuk akk..."
Shan membuka mulutnya dan sendok akhirnya masuk. Terlihat masih tidak ada tenaga sekali untuk mengunyah makanan itu. Shan ku ini kenapa? Kenapa rasa bapernya sampai membuatnya tidak nafsu makan seperti ini?
"Shan please..." lirihku dan tanpa kuduga-duga air matanya mulai mengalir kembali.
Dia menangis lagi dan lagi...
......***......
Mobilku berhenti tepat di depan pagar rumah bercat warna coklat yang menentramkan hati.
"Shan, kamu inget sama tante Anda yang main ke rumah kita kemarin lusa? Nah ini rumahnya tante Anda, Shan." ucapku, memberitahu Shan yang berada di kursi penumpang. Dibelakangku.
"Kita kenapa ke sini pa? Kata papa tadi kan kita mau ke bioskop?"
"Iya kita abis ini ke bioskop kok sayang. Tapi sama tante Anda juga, biar rame Shan..."
Sumpah aku bukan bermaksud apa-apa dengan mengajak Wanda untuk ikut ke bioskop bersama. Aku hanya.... Emm... Entahlah, ingin saja.
Sosok Wanda terlihat dari arah kejauhan. Dia tengah menutup pintu gerbangnya kemudian berjalan ke arah mobilku. Saat sampai tepat di depan pintu mobil, senyumnya langsung mengembang. Seperti biasa, senyumnya sangatlah indah. Dan aku sangat senang melihat senyumnya itu.
__ADS_1
Aku menurunkan kaca pintu mobilku sejenak untuk mengucapkan, "Halo Nda..."
"Halo Chan!" ucapnya dengan riang. "Eh ada Shan juga ya!" Wanda terlihat sedikit kaget setelah mengetahui keberadaan Shan di belakang.
Haha, aku memang tadi bilang hanya akan pergi berdua saja dengannya. Padahal sebenarnya aku telah membawa Shan di kursi penumpang. Maafkan aku ya Wanda!
Aku lantas menyuruh Wanda untuk segera masuk dan melanjutkan perjalanan. Sekarang ini telah pukul 7 lebih dan kita harus bergegas sebelum Shan terserang rasa kantuknya.
Akhirnya kita sampai di bioskop.
Shan mengeluh kakinya pegal dan baiklah aku memutuskan untuk menggendongnya saja daripada merengek.
"Papa, Shan ngantuk."
What??
Tapi ini masih pukul 8 Shan. Jam tidurmu biasanya pukul 9, kemarin saja bahkan dia bisa tidur sangat larut. Tapi kenapa sekarang...
"Pa, Shan gak tahan lagi. Ini udah ngantuk banget."
"Aduh Shan jangan ngantuk dulu. Ini bentar lagi kita mau nonton frozen loh. Sabar dulu ya. Tuh liat tante Anda lagi antri, bentar lagi giliran kita Shan."
"Tapi Shan udah ngantuk banget, hiksss...."
"Yaudah oke-oke. Shan boleh tidur, tapi nanti kalo udah masuk ke dalem papa bangunin langsung bangun ya, jangan rewel, oke?"
"Oke..." ucapnya dan tak berselang lama dia pun terlelap.
Wanda yang telah memesan karcis kini kembali menghampiri kita.
Tapi dia malah berbisik. "Chan, film frozen keluaran terbaru tuh gak ada anjir."
Seketika aku langsung kaget. "Hah yang bener?!"
"Iya, gak ada Chan. Aku udah nanya ke mbak-mbaknya. Sampek diketawain loh tadi. Udah firasat banget aku tuh, mana gak ada iklan frozen yang dipasang di depan."
"Terus gimana dong?"
Wanda mengedikkan kedua pundaknya. "Mungkin Shan-nya yang bohong Chan..."
"Lahh enggak." Tidak mungkin Shan berbohong, apalagi sampai menangis pilu seperti sore tadi. Atau yang sebenarnya berbohong adalah...
Anak-anak itu.
Seketika rahangku mengeras, "Jimmy, Salsa, kalian bener-bener jahat banget."
"Hah?" Wanda mengernyit, tidak mengerti dengan maksud ucapanku.
"Udah yuk pulang aja." Aku lalu menggandeng tangan Wanda untuk keluar dari gedung bioskop.
__ADS_1
~tbc....