
"Kalo mau apartemen bagus tuh di sekitaran blok timur Chan."
"Emmm yang biasa aja gitu ada gak Nda? Yang gak usah bagus-bagus banget gitu. Yang penting mah nyaman. Soalnya budget gue juga pas-pasan hehehe..."
Wanda terlihat berpikir sebentar. Hingga tiba-tiba bos kita masuk ke dalam ruangan kerja kita. Sontak gue dan Wanda yang tadinya berkerumun di dekat jendela auto kembali ke meja masing-masing.
Kita segan. Kita kan bekerja disini, jadi harus tetap menghormati atasan.
Itu pak bos gak tau-taunya tiba-tiba masuk ke dalam ruangan kerja karyawan. Ada apa sih sebenarnya?
Aku melihat pak bos sekarang sedang berbicara dengan Wanda. Aku memang tidak bisa mendengar isi percakapan mereka karena jarakku yang lumayan jauh. Entahlah apa yang sedang mereka bicarakan di sana, mungkin saja pembicaraannya menyangkut tentang Wanda yang akan naik jabatan sebentar lagi.
Tidak ada yang tau.
Pak bos akhirnya telah keluar dari ruangan. Wanda kembali menghampiriku. Aku sebenarnya sangat tidak ingin membahas tentang yang baru saja, tapi entah kenapa mulutku tiba-tuba bertanya...
"Tadi bos ngomong apa Nda?"
"Emm nanti pulang kerja katanya ada rapat."
"Oh ya?" Sontak aku terkejut dong. Kalau akau pulang terlambat lantas bagaimana nasib Shan nanti?
"Tapi.... Rapatnya cuman beberapa karyawan aja, gak semua." ucap Wanda.
Ahh syukurlah. Tapi kenapa hanya beberapa karyawan saja? Kenapa tidak semua? Sangat jarang-jarang seperti itu? Emm entahlah aku tidak peduli. Itu bukan urusanku.
Yang kuinginkan sekarang adalah cepat pulang, dan menjemput Shan di tempat penitipan anak. Ya, Shan kini berada di tempat penitipan anak. Tadi pagi aku mengantarkannya kesana karena aku sangat bingung harus bagaimana kalau bocah kecil itu ku tinggal pergi bekerja.
Ditinggal di rumah susun sendirian? Ahh jangan ngaco!
Dia tidak bisa kubiarkan sendirian, apalagi di tempat baru dengan keamanan yang menurutku sangat tidak layak. Ya, pintu kamarku saja tidak bisa dikunci dengan sempurna. Rumah susun apaan itu? Bobrok!
Aku sangat meminta maaf sekali kepada Shan karena aku tidak menepati perkataanku yang akan membawanya untuk tinggal di apartemen. Aku bukannya berbohong, hanya saja tadi malam keadaannya benar-benar tidak dapat kuprediksi.
ATM ku terblokir, aku berkali-kali salah memencet pin ku itu dan akhirnya terblokir. Dan jadinya reservasi apartemennya batal, karena aku tidak bisa men-dp apartemen itu sama sekali. Sial memang. Aku akhirnya memilih banting setir dan tinggal di rumah susun sederhana yang berada tak jauh dari letak apartemen itu. Rusun yang gratis. Yang pembayarannya hanya tiap sebulan sekali.
Kasihan sekali Shan, dia semalaman terus terbangun karena digigit nyamuk yang sangat banyak sekali. Maafkan papa ya Shan, papa janji hari ini akan urus pembayaran apartemennya. Jadi malam ini kita tidak akan diusik lagi dengan keberadaan para nyamuk brengsek itu.
"Oiya Chan gue inget. Gue ada kenalan agen properti, nanti gue anterin ke tempat orang itu mau?"
"Oke Nda, gue mau!"
......***......
Sore hari akhirnya menjelang. Seperti yang direncanakan tadi di kantor, Wanda kini mengantarku ke tempat agen properti yang dibicarakannya itu. Eh tapi tidak lupa, jemput Shan dulu dari tempat penitipan anak.
"Shan..." panggilku. Bocah kecil itu berlari keluar menuju kearahku seraya memekik. "Papa!"
Dia langsung menghamburkan pelukannya, aku pun tidak segan-segan untuk membalas pelukannya itu dan langsung menaikkan tubuh kecilnya ke atas gendonganku.
Cup....
"Jadi gimana sayang? Enak gak disini? Banyak temennya ya? Tadi main apa aja hm?"
__ADS_1
Shan malah menampilkan ekspresi cemberutnya.
"Loh kenapa? Shan gak suka ya dititipin disini?" tanyaku.
"Suka sih pa, tante-tantenya baik-baik cuman..."
"Cuman apa Shan?"
"Temennya Shan pada masih bayi-bayi."
Aku seketika mengerutkan dahi. Benarkan begitu, Shan?
"Iya pa temennya Shan bayi-bayi semua. Belum bisa Shan ajak main cuma bisa ngedot sama oek-oek."
"Hahaha lucu dong Shan."
"Ih papa, Shan gak suka. Enakan di rumah, Shan ada temen mainnya. Kak Salsa sama kak Jimmy."
Aku akhirnya hanya bisa terdiam. Maafkan papa ya, Shan...
"Oiya Shan, papa mau ajakin kamu buat liat-liat apartemen. Kita hari ini pokoknya akan tinggal di apartemen beneran Shan."
"Te-terus terus rumah yang tadi bagaimana pa?"
"Biarin aja, kita pindah dari sana sayang, ke tempat yang lebih bagus lagi."
"Yahh sayang dong pa, padahal Shan udah mau suka sama rumah yang tadi."
"Emangnya Shan mau digigitin nyamuk terus hm? Enggak kan?"
"Shan duduk di belakang ya?" perintahku.
"Kenapa gak tante Anda aja yang pindah ke belakang? Di situ kan tempat kesukaannya Shan kalo duduk."
"Hei Shan—"
"Gak papa kok Chan, aku pindah ke belakang aja." ucap Wanda sembari mengulas senyumnya.
Ahh aku jadi sungkan dengan Wanda. Dia sudah duduk manis-manis kenapa harus pindah ke belakang sih? Aduhh Shan, kenapa kamu sangat tidak sopan dengan perempuan yang papa sukai ini???
Tidak, tidak, aku hanya bercanda....
...***...
"Stevan."
"Chandra."
"Chandra, Stevan ini loh agen properti yang gue maksud tadi. Dia kenalan gue dari kecil. Soalnya mama dia temen mama gue."
Tunggu-tunggu... Kenalan Wanda dari kecil? Mamanya temannya mama Wanda? Hmm sangat dekat sekali mereka.
Setelah bersalaman dengan laki-laki bernama Stevan itu, kini aku dan orang itu mulai berdiskusi. Aku ditawari banyak brosur apartemen olehnya, dan aku pun mulai bertanya-tanya banyak hal tentang kelebihan ataupun kekurangan dari berbagai apartemen yang ditawarkan itu.
__ADS_1
Shan kebetulan sudah asyik sendiri. Dia ku suruh untuk melihat tayangan kartun di youtube ponselnya saja agar tidak mengganggu aktivitasku ini.
Aku menyentuh putriku sebentar. "Shan kalo pengen pipis bilang ya, jangan ditahan." ucapku, mengingat Shan sejak tadi belum buang air kecil.
Shan yang masih fokus pada ponsel itu hanya mengangguk sekilas.
Baiklah.
Aku kembali lagi mendengarkan penjelasan Stevan, si agen properti. Penjelasannya ini lumayan jelas, dan sangat membantu sekali dalam memahami seluk beluk apartemen yang ditawarkannya. Stevan ini memang sepertinya sudah sangat profesional dalam menggeluti bidang pekerjaannya ini.
"Emm dari sekian ini kalo menurut lo mending gue ambil yang mana Nda?" bisik gue pada Wanda yang berada di sebelah kananku.
Jujur saja aku masih sedikit canggung dengan agen properti di hadapanku ini. Jadi ya aku berdiskusi juga bersama Wanda secara diam-diam seperti ini.
"Kalo yang murah mah ya yang di blok D itu Chan, tapi ya gitu... Menurut gue gak worth it sih. Maaf ya, menurut gue jelek. Xixixi."
Yang dibilang Wanda memang benar. Kini aku menjadi semakin bimbang dengan pilihanku.
"Yaudah aku ambil yang ini." ucapku sembari menunjuk brosur apartemen di blok C. Apartemen yang kelasnya tidak paling murah, tapi juga tidak yang paling mahal diantara yang lainnya. Pokoknya yang tengah-tengahlah. Inipun uangku kelihatannya juga ngepress sekali.
Tapi tidak apa-apalah. Aku akan semangat untuk cari uang lagi kedepannya.
"Oke deal yang blok C ya pak?" tanya Stevan.
"Iya deal."
"Sebentar saya ambilkan surat kontraknya."
"Iya."
Stevan pergi sebentar ke ruangan lain. Dia akhirnya kembali dengan sebuah map yang berisi lembaran kertas disana.
"Silahkan dibaca dulu surat-suratnya pak, setelah itu tanda tangan di sebelah sini."
"Iya."
Aku mengambil pulpen Stevan, lalu bersiap menandatangani kontraknya.
"Papa, papa, Shan pengen pipis." ucap Shan yang berada di sebelah kiriku.
Aku hanya menolehnya sekilas. "Belum ada 5 menit Shan, dari yang papa tanyain tadi."
"Tapi emang tadi Shan belum kerasa pengen pipis pa."
Aku seketika menghela napas. "Oke. Sebentar papa lagi tanda tangan ini. Tunggu ya sayang."
"Papa, Shan udah gak tahan lagi. Shan pengen pipis pa."
"Iya Shan sebentar." Aku mempercepat pergerakan tanganku dalam bertanda tangan. Dan ternyata berkas yang perlu ku
tandatangani itu tidak hanya satu ataupun dua, ada banyak!
"Pa!"
__ADS_1
"IYA SHAN PAPA BILANG BENTAR!"
~tbc...