Rahim Lima Miliar

Rahim Lima Miliar
Karya Baru


__ADS_3

Happy reading guys 🥳🥳🥳🥳🥳🥳


Sudah meluncur karya baru aku ya guys.


ini adalah judul baru ya.


Setelah ini, baru aku lanjut ke Rania & Bastian


Selamat membaca dan Semoga suka 🥰🥰🥰🥰



Membuka hati, berusaha menerima padahal hati tidak menginginkan adalah hal tersulit dalam hidup. Ketika kita harus berpura-pura dan berhenti menjadi diri sendiri, melupakan kebahagiaan sendiri demi membahagiakan orang lain.


Tidak mudah menjalani hidup seperti itu, ketika kita tidak ingin tersenyum, tapi keadaan mengharuskan kita untuk tersenyum.


Menutupi luka demi luka, mengobatinya sendiri, menahan jeritan dan Isak tangis sendiri, sungguh itu sakit yang teramat sakit, bahkan kata maaf mungkin tidak akan mampu menghapus bekasnya.


Pura-pura tidak sedih padahal setiap malam ia menahan isakan tangisnya dalam gelapnya malam. Menutupi sedih dengan senyum yang seakan tidak pernah hilang dari bibir indahnya.


Meredam amarahnya dengan tarikan nafas yang seolah-olah tinggal sedikit lagi akan putus dan meledak.


Masih jelas semua yang ia lihat tiga bulan lalu, meski kini hanya bayangan menjijikkan yang tak pernah hilang dalam benaknya.


Ia pikir laki-laki itu hanya kasar dan dingin saja padanya, ia tidak pernah berpikir bahwa laki-laki itu tidak akan mengkhianatinya.

__ADS_1


Namira memejamkan mata, meresapi rasa sakit itu, ia terus meyakinkan diri untuk mengakhiri semuanya.


Sebab hal itu membuat ia tidak mampu memejamkan mata untuk tidur meski lelah melanda. Bahkan ketika ia mulai tertidur semua hadir menjadi mimpi buruk yang membuat dia bangun dengan nafas yang tidak beraturan.


"Kapan kau akan menceraikan, Aku?" satu pertanyaan yang lolos begitu saja dari bibir ranum itu.


Memecah sepi di dalam kamar yang tidak pernah memperdengarkan suara cinta, yang tidak pernah memancarkan kehangatan.


Tutur lembut itu kini bercampur dengan nada sinis penuh kebencian. Membuat Johar terkejut dan langsung menatap Namira dengan tatapan yang yang lebih menyeramkan dari sebelumnya.


Alih-alih takut, Namira justru membalas tatapan Johar. Jika dulu ia akan langsung menunduk, tidak untuk sekarang dan seterusnya.


Sudah cukup semuanya, kini saatnya dia bangkit dan menyerang balik semua perbuatan suaminya, kakaknya dan juga orang tua yang terkadang membelanya, akan tetapi juga ikut menusuknya dari belakang.


Meski tidak tahu bahaya apa yang akan menimpanya, meski tidak tahu akan meminta bantuan pada siapa. Tidak menyurutkan tekadnya untuk lepas dari laki-laki di hadapannya ini.


Bahkan yang lebih kagetnya lagi, pagi ini Namira tidak hanya berucap ngelantur, akan tetapi ia juga menatap Johar penuh kebencian.


"Kenapa? Kau takut?"


Senyum sinis menghiasi wajah cantik Namira, sungguh ini adalah kali pertama ia berkata lantang di depan suaminya.


"Kau takut karena belum berhasil menguasai hartaku, tapi kebusukan mu sudah terbongkar semua, iya, kan?" Namira menyeringai saat mengucapkan kalimat itu.


"Tutup mulutmu, kau akan menyesal sudah membuatku tersinggung," ucap Johar penuh nada ancaman.

__ADS_1


Di dalam hatinya ia sudah ketar-ketir, sebenarnya apa yang di ketahui wanita di hadapannya ini, sehingga pagi ini ia menunjukkan wajah yang tidak pernah ia tampakkan selama mereka menikah.


"Johar … Johar …. Kau terlalu terlena dengan kelembutan ku, kau terlena dengan aku yang selalu mengalah, baik dan tidak pernah mempermasalahkan apapun yang kau lakukan," Namira terlihat tenang saat mengucapkan kata demi kata itu.


Ia tidak peduli meski semua itu sudah memancing amarah Johar, sudah waktunya dia membalikkan keadaan, selama ini dia hanya diam seperti orang yang tidak tahu apa-apa.


"Sampai kau pun lupa siapa dirimu dan siapa aku!" sambung Namira dengan raut yang meremehkan harga diri Johar.


Plak


Satu tamparan telak mendarat ke pipi Namira, membuat gadis itu limbung hingga terjatuh ke lantai.


"Jaga ucapanmu, sialan!" Pekik Johar emosi.


Ia merasa Namira baru saja menginjak harga dirinya yang memang bukan siapa-siapa, bahkan ia tahu itu.


Johar merendahkan dirinya agar sejajar dengan Namira yang masih tersungkur di lantai memegangi pipinya yang panas bercampur perih akibat tamparan yang dilayangkan Johar tadi.


Ia menjambak rambut Namira kuat dan membuat pandangan keduanya bertemu, tampak pipi mulus itu merah kebiruan dan juga mengalir darah segar dari ujung bibir Namira.


"Sudah ku ingatkan padamu, kau akan menyesal jika menyinggungku! Kau ingat ini baik-baik di dalam otakmu." Johar menunjuk kening Namira.


"Bukan aku yang menginginkan pernikahan ini, kau pikir aku sudi menikah dengan gadis bodoh sepertimu? Tidak! Tapi, nenekmu yang bodoh itu, yang merencanakan semua ini tanpa bertanya aku mau atau tidak, Kau mengerti? Jadi, kedepannya. Jaga ucapanmu dan jaga sikapmu, aku masih baik hanya menamparmu, jika sekali lagi kau menyinggungku dengan status, aku akan membuatmu tidak bernafas, camkan itu!"


Johar melepas kasar rambut Namira, membuat gadis itu kembali tersungkur di lantai.

__ADS_1


Ia bahkan terluka saat seseorang menyinggung statusnya, sedangkan ia tidak merasa telah mengkhianati seseorang dengan teganya.


__ADS_2