
Saat ini mobil berhenti di lampu merah, tampak Audrey berkaca-kaca mendengar penjelasan Byakta.
"Aku tidak pernah menikahi wanita lain setelah kau pergi, aku juga tidak pernah menceraikanmu. Kau salah paham jika kau pikir aku menikahi Melisa karena dia mengandung anakku. Harusnya kau tahu itu hanya anak di luar nikah, dia hanya anak biologis ku saja, tidak ada ikatan nasab untuk aku dan anak itu, meski aku masih memberikan biaya hidup untuknya," jelas Byakta panjang lebar.
Dalam hukum Islam, anak yang lahir di luar pernikahan, baik dia ada dengan hubungan intim, atau ada karena proses lain, tetap tidak bisa menjadi anak kandung, ia hanya anak biologis saja, bahkan jika anak itu berjenis kelamin perempuan juga tidak bisa menikah berwalikan dengan ayah biologisnya, sebab anak yang lahir di luar nikah tidak bersambung nasabnya pada ayahnya, ia akan bernasab pada ibunya saja.
Byakta melajukan mobilnya kembali saat lampu berubah menjadi hijau, berjalan sedikit jauh dari lampu merah, Byakta berhenti di sebuah parkiran umum di depan sebuah supermarket.
Ia meraih jemari Audrey yang dari tadi hanya diam mencerna setiap penjelasan Byakta.
"Kembalilah padaku, aku membutuhkanmu, aku mencintaimu," ucap Byakta dengan tatapan sendu penuh harap.
Membuat Audrey salah tingkah dan gugup, "T-tapi aku sudah tidak butuh biaya untuk apapun—,"
Ucapan Audrey terhenti saat tiba-tiba Byakta menempelkan bibirnya ke bibir Audrey, membuat gadis itu membelalakan matanya.
__ADS_1
"Berhenti bicara, jika kau hanya ingin mengatakan hal gila itu dan berhenti berpikir kalau aku memintamu kembali hanya untuk melahirkan anak untukku dan membayar mu lima miliar. Audrey, aku mencintaimu, dengar aku mencintaimu, itu artinya kau tidak perlu melahirkan anak pun, aku akan tetap memintamu kembali bersama ku,"
Audrey berkaca-kaca mendengar penjelasan Byakta barusan, hatinya menghangat saat itu juga, ia tidak menyangka laki-laki ini benar-benar mencintainya, dulu ia berpikir tidak mungkin cinta datang secepat itu, oleh sebab itu meskipun ia tahu perlakukan Byakta yang sedikit berbeda ia abaikan, mungkin karena dalam keadaan hamil dan tidak mau juga terlalu percaya diri, sebab dari segi apapun mereka sangat berbeda jauh, ia hanya seorang gadis yatim piatu miskin yang mencoba peruntungan dengan menjual rahimnya untuk membiayai pengobatan adiknya.
Ia merasa tidak pantas bersanding, apalagi dulu ia dan Byakta hanya menikah siri saja, tentu membuat Audrey tidak ingin besar kepala, karena yang ia tahu makna dari pernikahan itu adalah simbiosis mutualisme dan tidak lebih daripada itu.
"Kau tidak bohong?" tanya Audrey polos.
Membuat Byakta mendesah frustasi, harus bagaimana lagi cara ia menjelaskan pada wanita keras kepala ini. "Untuk apa aku jauh-jauh datang kesini hanya untuk membohongimu, yang benar saja." Byakta memijat keningnya.
Ucapan Audrey seketika membuat Byakta menoleh dan melihat pada wajah cantik itu, tidak menimang lagi, Byakta langsung menarik Audrey kedalam pelukannya dan memberi ciuman bertubi-tubi di pucuk kepala Audrey.
"Terima kasih, terima kasih untuk semuanya." Masih terus mengecupi kepala Audrey.
Sedangkan gadis itu menangis dalam dekapan Byakta, ia tidak tahu mengapa bisa terharu seperti ini, tapi ia tidak bohong, ia memang ingin sekali dipeluk.
__ADS_1
Masih dengan suasana mengharu biru, Audrey sudah tidak menangis lagi, posisi mereka saat ini, Audrey sedang bersandar di bahu Byakta, sedangkan laki-laki itu terus mengusap pipi Audrey dengan satu tangannya yang disandari Audrey.
"Bagaimana kabar Bibi Lauren?" tanya Audrey setelah keheningan yang cukup lama.
Keduanya sedang sama-sama meresapi rasa rindu di hati, tidak dapat dipungkiri betapa bahagianya Byakta saat ini, bahkan dulu saja ia tidak sedekat ini dengan istrinya.
"Bibi sekarang sering sakit, mungkin karena sudah tua juga. Kembalilah, dia merindukanmu juga." Kecupnya kepala Audrey, membuat gadis itu mendongak melihat wajah Byakta.
Tidak menyia-nyiakan kesempatan, Byakta langsung menangkup pipi Audrey dengan tangan sebelahnya lagi, dan menyatukan bibir mereka berdua. Tidak hanya itu, Byakta juga ******* benda kenyal itu dan mengabsen tiap rongga mulut Audrey, karena gadis itu memberinya akses.
Byakta mengusap bibir mungil Audrey dengan ibu jarinya, membersihkan sisa dari aksinya tadi, lalu mengecup sekali lagi kening gadis itu cukup lama dan dalam.
"Kembali padaku, hemm?" pinta Byakta.
Audrey yang masih menetralkan debar jantungnya atas perlakukan Byakta padanya, hanya mengangguk saja atas permintaan Byakta padanya.
__ADS_1