
"Apa yang terjadi? Kenapa bisa seperti ini?" tanya bibi Lauren saat melihat Byakta yang terbaring lemah sama seperti setahun yang lalu.
Hatinya kembali pilu melihat Byakta yang seperti ini lagi, sebenarnya apa yang sudah terjadi, sampai penyakitnya harus kambuh lagi.
"Maaf," ucap Audrey lirih.
Bibi Lauren langsung melihat pada Audrey, bibi Lauren menebak pasti ini ada kaitannya dengan nenek Audrey.
"Nenek menjadi marah padanya saat tahu dia adalah Byakta, Bi. Nenek tidak menerima kedatangannya, hingga di memutuskan untuk menunggu di luar gerbang satu malaman. Tante Wina sudah menyuruhnya pulang, tapi dia tidak ingin dengar," jelas Audrey dengan suara bergetar menahan tangis.
Bibi Lauren sedikit kesal mendengar cerita Audrey, namun ia juga tahu diri, keluarga siapa yang akan terima jika salah satu keluarganya di sakiti, lalu orang yang menyakitinya tiba-tiba datang dan dengan mudahnya mengatakan bahwa ia menginginkannya lagi.
"Dia pantas mendapatkannya, mungkin ini adalah salah satu ujian dari Tuhan untuk mengujinya, dia akan bertahan atau tidak," tutur Bibi Lauren sambil mengelus kepala Byakta penuh kasih sayang.
Mendengar kata-kata Bibi Lauren, Audrey tidak mampu berkata apa-apa lagi, bibi Lauren benar, ini lah ujian cinta yang sebenarnya, semoga setelah ini mereka bisa hidup bahagia.
__ADS_1
ππππππππππππ
Bala bantuan yang dikirim Melisa sudah datang, membuat Joe dan anak buahnya sedikit heran. Namun, mereka tidak peduli selama masih membantu tidak masalah, mereka bisa bertanya nanti tentang siapa mereka.
Perkelahian tidak bisa dihindari, Joe sendiri sedang berhadapan dengan ayah tiri Rania yang ternyata jago bela diri.
Beberapa anak buah ayah tiri Rania sudah jatuh dan tak sadarkan diri, sedangkan yang lain masih bertahan dan ternyata mereka cukup kuat, hingga membuat Joe dan anak buahnya sedikit kewalahan.
Sedangkan di dalam mobil Bastian masih menggeram saat tahu ternyata gadis kecil di sampingnya ini mengalami trauma karena hampir dilecehkan oleh ayah tiri sialannya itu.
"Om, bisakah jangan membunuh dia? Aku ingin dia di penjara saja, aku ingin melihat dia menderita di penjara sama seperti yang ibu rasakan dulu," pinta Rania lirih.
Bastian langsung menoleh pada wajah kuyuh namun tak mengurangi sedikitpun kecantikannya. Lagi-lagi hati Bastian berdebar saat melihat bibir mungil itu saat berbicara.
Jiwa lelakinya mendorong untuk melakukan hal di luar nalarnya, Bastian mengalihkan lagi pandangannya ke arah lain, ia tidak ingin Rania beranggapan lain jika hal itu terjadi.
__ADS_1
"Kenapa ibumu bisa di penjara? Apa yang bajiingan itu lakukan?" tanya Byakta penuh nada kesal.
Rania menarik nafas dalam-dalam, lalu menghembuskan perlahan, "Dia memintaku pada ibu, untuk dijual kepada orang asing itu, tapi bukan orang yang sekarang.
Ibu tidak setuju, dia sudah membujuk ibu sedemikian cara, tapi ibu tetap tidak setuju. Lalu suatu hari seseorang yang tidak kami kenal datang kerumah bertamu, orang itu bilang mengenal bajiingan itu.
Tidak lama, hanya sebentar saja dia di rumah, ibu sempat mengobrol sebentar membahas perkara remeh, entah bagaimana jam tangan mahalnya bisa ada di lemari ibu.
Setelah saat itu, dia datang membawa polisi dengan tuduhan pencurian. Karena barang bukti di temukan di lemari ibu, polisi menetapkan ibu sebagai tersangka.
Alhasil ibu di penjara selama 2 bulan, di dalam sana ibu dipukuli sesama napi lain, ibu tersiksa. Pada saat itu, bajingan itu mengatakan itu adalah hukuman untuk ibu karena menolak keinginannya.
Ibu menyuruhku lari, karena ibu takut bajiingan itu akan menjualku di saat ibu lengah. Aku yakin kematian ibu juga ada sangkut pautnya dengan dia.
Sebab saat itu aku masih dalam pelarian hingga saat ini, aku tidak tahu dia dapat kabar dari mana hingga bisa menemukanku di kota ini. Om, aku hanya ingin hidup bebas dan dia dihukum.
__ADS_1
Jadi, bisakah anda membantuku? Aku tahu ini bukan kebetulan, om Bas sengaja datang ke villa itu untuk menyelamatkan ku, aku terharu saat mengetahuinya. Tapi, ku mohon sekali lagi, batu aku untuk menghukumnya, setelah ini, jika kau ingin menjadikan ku seorang budak pun aku rela." Rania menyatukan kedua tangannya memohon dengan air mata berderai.