Rahim Lima Miliar

Rahim Lima Miliar
RLM bab 40


__ADS_3

Indonesia / Jakarta



Satu tahun kemudian ….


Sungguh waktu berjalan begitu cepat, tak terasa satu tahun sudah berlalu meninggalkan kisah yang kini sudah menjadi masa lalu.


Bisa dikenang namun tak bisa dirasa karena memang benar-benar belum dimulai sama sekali.


Audrey mengusap peluhnya setelah selesai membersihkan begitu banyak ruangan di sebuah perusahaan ternama di daerah Jakarta.


Malam ini ia dapat jatah lembur bersama beberapa teman-temannya, semua bekerja di bagiannya masing-masing.


"Huh! Akhirnya selesai juga, sudah jam sembilan aku harus segera pulang," ucap Audrey pada dirinya sendiri.


Ia bergegas meninggalkan ruangan itu dengan membawa semua alat yang digunakan untuk membantu pekerjaannya.


Setelah berpamitan dengan teman-temannya juga kepada kepala kebersihan Audrey mengayuh sepedanya menyusuri jalanan Jakarta, menikmati desiran angin malam dan juga pemandangan malam di ibu kota.


Gadis itu berhenti sebentar ke sebuah stand makanan yang menjual martabak manis, setiap malam gadis itu selalu singgah untuk membeli sekotak martabak manis untuk bibi dan neneknya.

__ADS_1


"Mang, saya satu kotak, ya, kayak biasa," ucap Audrey pada penjual martabak itu.


"Ok, Neng. Tunggu sebentar, ya! Dua lagi, habis ini baru punya Neng Cantik Mamang buatkan,"


Audrey mengangguk atas ucapan Mamang martabak, ia pun mendudukkan dirinya di sebuah bangku yang terbuat dari kayu itu, untuk menunggu si Mamang martabak membuat pesanannya.


Kehidupan Audrey sudah lebih baik saat ini, setahun sudah berlalu, kini ia mampu berdamai dengan masa lalu, menata hidup lebih baik lagi, meski bekerja rendahan di sebuah perusahaan besar, itu sudah lebih dari cukup untuknya.


Tidak banyak yang ia inginkan saat ini, hidup damai, bekerja dengan baik, yang terpenting keluarga ibunya masih mau menerimanya untuk dia melanjutkan hidupnya disini.


Audrey menyunggingkan senyuman kala mengingat masa lalu, sudah tidak ada luka yang menyesakkan saat ini, hanya saja untuk dia kembali kebelakang ia sudah enggan.


"Neng, ini martabaknya! Mamang kasih bonus satu kotak, ya, buat Neng Cantik biar semangat," kata Mamang martabak tersenyum.


"Waaah, saya dapat bonus ini, Mang? Makasih banyak kalau gitu, laris manis, ya, Mang," ucap Audrey senang.


Setelah membayar, Audrey melanjutkan perjalanannya pulang, ia terus mengayuh sepedanya menyusuri jalanan ibu kota itu, hingga ia sampai ke sebuah komplek perumahan sederhana.


Seperti biasa saat sampai rumah ia akan di sambut sang nenek, mau selarut apapun ia pulang, pasti nenek akan selalu menyambutnya.


Wanita tua itu menyambutnya yang pertama karena sekotak martabak dan yang kedua karena ia sungguh menyayangi cucunya ini.

__ADS_1


Hanya ini kenangan dari anak dan menantunya, ia juga merasa kasihan saat Audrey menceritakan seperti apa gadis itu hidup saat di kampung halaman ayahnya.


Kejamnya ibu tiri dan kejamnya kehidupan di sana untuk anak perempuan sepertinya, membuat sang nenek dan bibinya ingin melakukan yang terbaik untuknya.


Tapi, Audrey Cantika bukanlah gadis lemah, ia sudah terbiasa hidup dengan keringatnya sendiri menjadi tidak mau terus-menerus menjadi beban nenek dan bibinya, untuk itu ia memutuskan mencari pekerjaan untuk memenuhi kebutuhannya.


Keluarga dari ibunya bukanlah orang yang sulit perekonomian, namun ketika berada di Milan ia tidak mau menyusahkan mereka, itulah sebabnya ia berusaha sendiri untuk menyelamatkan adiknya dari kanker.


"Harum martabak itu sudah tercium sebelum kamu masuk ke gerbang," ucap nenek saat Audrey membuka pintu dan masuk.


Ia mengulas senyum atas ucapan nenek yang sudah tidak sabar menikmati martabak manisnya itu.


"Ibu, pikirkan kesehatanmu, martabak akan menyakitimu, nanti," teriak bibi Wina dari dalam.


"Bilang saja kau takut aku tidak membaginya denganmu! Kau lihat sini, cucuku membelinya dua kotak, aku akan menyisakan untukmu setengah kotak saja, bersyukurlah," sahuti nenek ucapan bibi Wina.


Audrey menggelengkan kepala melihat tingkah neneknya yang terlihat masih energik di usia senjanya. Mengingatkannya akan sosok Bibi Lauren, Audrey menggelengkan kepalanya setiap kali mengingat orang2 di masa lalunya.


"Seharusnya ibu makan setengah kotak saja, ibu sudah tua, tidak baik terlalu banyak makan martabak, nanti jatuh cinta sama tukang martabaknya, kan , ribet."


Bibi Wina menghampiri nenek dan Audrey, ia langsung menyomot satu potong martabak diiringi lirikan mau dari nenek. Namun ia tak peduli, bibi Wina tetap menikmati martabaknya itu.

__ADS_1


__ADS_2