Rahim Lima Miliar

Rahim Lima Miliar
RLM bab 66


__ADS_3

Hari berganti hari, Byakta sudah memutuskan kalau hari ini dia akan datang ke kediaman nenek Audrey, dia ingin mengatakan yang sesungguhnya terjadi.


Dia tidak bisa membiarkan ini berlarut-larut, apalagi sebab perihal ini ia tidak bisa bebas bersama istrinya, Audrey bahkan tidak mau disentuh walau hanya memegang tangannya saja, kalau dia belum meminta restu pada nenek.


Bukan Audrey egois, tapi ia ingin diperjuangkan, karena awal mereka menikah itu sangat buruk, meskipun sah tapi tetap saja pernikahan itu tanpa sepengetahuan keluarga Audrey.


Byakta kembali mematut dirinya di depan cermin, satu jam yang lalu dia sudah mengabari Audrey dia akan datang kerumah untuk menyelesaikan masalahnya hari ini juga.


Meski Audrey sempat mengejek dan menakut-nakuti, tapi keteguhan hati Byakta sudah tidak bisa dihentikan lagi, apapun yang terjadi nanti dia sudah siap.


"Sempurna," ucapnya yakin.


Dia sengaja berpenampilan maksimal, dia berharap penampilannya mampu membuat nenek sedikit meminimalisir kemarahannya nanti.


Byakta mengambil dompet dan ponselnya serta kunci mobil lalu segera meninggalkan unitnya menuju kediaman nenek Audrey.


Setengah jam berlalu, kini dia sudah berada di kediaman nenek Audrey, dia sedang duduk di hadapan nenek, Tante Wina dan juga orang yang menyebabkan dua harus melakukan ini.


Untuk pertama kalinya dia melakukan perihal penting tanpa didampingi oleh Bastian atau pun Bibi Lauren, nampak dia menautkan tangannya, jantungnya berdegup kencang.

__ADS_1


"Byakta ingin mengatakan apa? Kenapa jadi diam seperti ini?" tanya Tante Wina penasaran.


Sebab terlihat sekali kalau laki-laki dihadapannya ini sedang tegang, sebenarnya apa yang ingin disampaikan sehingga dia menjadi tegang seperti itu.


Bahkan Tante Wina berpikir kalau Byakta akan melamar Audrey, jadi dia gugup dan nervous begini.


"Iya Nak, katakan saja, jangan sungkan," ujar nenek tak sabar.


Seperti biasa, Audrey, gadis itu hanya diam santai, ia ingin melihat sebesar apa laki-laki ini ingin bersamanya, bukankah sebagai wanita ia harus melihat dulu perjuangan laki-laki yang katanya mencintainya itu.


Sampai disini dia yakin Byakta memang begitu ingin bersamanya, dia hanya ingin melihat setelah ini, apa yang akan dilakukan nenek pada mereka berdua.


"Pertama maafkan saya, jika apa yang akan saya ucapkan membuat nenek yang Tante terkejut dan tidak nyaman. Sejujurnya saya mencintai Audrey, entah sejak kapan, tapi yang saya tahu, saya tidak bisa tanpanya"


"Mungkin bagi semua orang waktu satu tahun adalah waktu yang sangat lama untuk berpisah, ya, itu juga yang saya rasakan dalam setahun ini"


"Jadi intinya?" tanya Tante Wina sedikit menegas.


Byakta melirik Audrey dan juga melirik nenek yang dari tadi diam mendengarkan, Byakta tidak bisa menebak apa yang dipikirkan nenek sekarang.

__ADS_1


"Intinya, saya lah laki-laki yang menikahi Audrey di Milan, yang meminta ia melahirkan anak dan membayarnya—,"


"KELUAR!"


Nenek memotong Byakta yang sedang menjelaskan perihal yang sangat tidak ingin didengar nenek, itu membuat dadanya sakit.


Byakta menciut melihat nenek yang wajahnya sudah memerah menahan amarah.


"Kau tuli? Tidak dengar aku bilang, KELUAR DARI RUMAHKU," teriak nenek.


"Nenek, jangan marah. Kita dengarkan dulu apa alasannya," bujuk Audrey yang juga terkejut atas reaksi nenek.


Dia pikir nenek akan seperti biasa, marah tapi menggemaskan. Tapi, saat ini berbeda, bahkan Audrey dan Wina tidak pernah melihat nenek marah hingga wajahnya berubah menjadi merah.


"Kau tahu bukan, dimana pintu keluar. Cepat pergi atau aku akan laporkan ke polisi sekarang juga," ujar nenek tanpa basa-basi.


Hatinya benar-benar panas, ia tidak menyangka jika ini terjadi, laki-laki yang ia pikir akan membahagiakan cucunya, ternyata adalah laki-laki brengsek yang tidak ingin dia jumpai.


"Nenek, kenapa diusir, dia ingin menjelaskan alasannya," Audrey mencoba memberi pengertian pada nenek.

__ADS_1


Tapi, wanita tua itu tetap tidak ingin mendengarkan siapapun.


__ADS_2