
Nenek meninggalkan ruang tamu begitu saja menuju kamarnya, hatinya sakit sekali, nenek juga kesal pada Audrey lebih tepatnya kecewa, kenapa dari awal ia tidak memberitahu kalau dia adalah laki-laki itu.
Nenek membanting pintu kamar kuat, bahkan Byakta yang masih diambang pintu mendengar dan menoleh saat suara keras itu memenuhi rumah.
Dia tahu ini akan sulit, Bahkan lebih sulit dari yang ia bayangkan sebelumnya, rasa gusar tiba-tiba menyelimuti hatinya, bagaimana jika nenek tidak mau memaafkannya, atau yang paling buruk nenek akan menutup jalannya semakin sulit untuk bersama Audrey, ia mengutuk dirinya sendiri yang bodoh karena sudah mempermainkan sebuah pernikahan.
Seperti sebuah balasan takdir, kini ia merasa sedang dipermainkan takdir, ia datang bertubi-tubi, membuatnya terpuruk dan tertekan hampir gila, lalu sekejap menyanjungnya, begitu mudah ia mendapatkan kepercayaan Audrey kembali, kini ia bagai dihempas dari ketinggian, untuk lebih tahu diri.
Ia tidak tahu harus melakukan apa sekarang, apakah pergi dari sini adalah jalan terbaik, meninggalkan Audrey dan membiarkan dia bersama orang lain.
Tidak, bukan itu tujuannya datang ke Indonesia, dia datang untuk menjemput bukan menyapa lalu mengucapkan selamat tinggal. Lalu bagaimana dengan restu nenek, entahlah, dia buntu saat ini.
Wina bingung melihat situasi ini, ia bingung harus membela siapa, di sisi kanan ada ibu yang terluka sebagai seorang nenek yang mencintai cucunya, nenek berhak marah, orang tua mana yang tidak marah melihat cucunya yang sudah di permainkan dan di buang sekarang ingin diambil kembali hanya dengan sebuah kata maaf. Nenek tidak sebaik itu, dia hanya manusia biasa yang juga bisa merasakan sakit hati dan kecewa.
Lalu di sisi kiri ada Audrey dan Byakta, ia tahu laki-laki itu sedang memperjuangkan cintanya, ia tahu ini tidak mudah, mengakui secara jujur tentang perbuatannya. Tapi, apakah dengan mengusirnya adalah cara menghukumnya? Tidak, ini salah, tapi dia harus bagaimana, ia di posisi yang sangat sulit saat ini.
__ADS_1
Audrey mengejar Byakta yang akan pergi, awalnya mungkin dia enggan untuk kembali kepada laki-laki itu, namun saat ia tahu kata cerai itu tidak pernah ada di antara mereka, hatinya luluh, entah sejak kapan laki-laki itu duduk di hatinya, hingga dengan mudah dia menerima semuanya.
Kini ia semangkin merasa berharga saat laki-laki itu mengatakan akan meminta restu keluarganya agar bisa bersamanya.
"Kau akan pergi?" satu pertanyaan lolos dari bibir mungil itu.
Menghentikan langkah Byakta yang sudah akan membuka pintu mobil, ia berbalik dengan senyum menenangkan, menyiratkan kalau dia baik-baik saja.
Byakta menghampiri Audrey masih dengan senyumnya, "Aku akan pergi, karena nenekmu memintaku pergi." Byakta mengusap pucuk kepala Audrey.
Membuat gadis itu berkaca-kaca, "Kau tidak ingin mengajakku?" Luruh sudah air mata Audrey saat itu juga.
"Kau jahat! Jangan menyentuhku atau menenangkan ku, pergi sana! Kau tidak berguna!" Tangis Audrey semakin menjadi, tiba-tiba hatinya sangat takut jika Byakta benar-benar pergi dan tak kembali.
Byakta yang tidak menanggapi kata-kata Audrey langsung menarik tangan Audrey dan memeluknya.
__ADS_1
"Cengeng, bisamu hanya marah dan menangis," ejek Byakta.
"Kau dengarkan aku, aku tidak akan meninggalkanmu, aku pergi hanya untuk memberi nenek waktu, nanti setelah nenek tenang, aku akan kembali untuk memintamu padanya." Byakta menjarakkan tubuhnya.
Ia tersenyum melihat wajah Audrey yang basah karena air matanya, perlahan ia mengusap air mata gadis itu lalu mengecup kedua matanya.
"Jangan menangis, kau tahu aku sangat lemah melihatmu seperti ini. Jangan pernah ragukan aku, kau kenal tahu aku bagaimana, jika aku menginginkan sesuatu aku akan berusaha mendapatkannya, termasuk mendapatkanmu, mengerti?"
Audrey mengangguk sebagai jawaban, ia kembali memeluk Byakta, seperti tidak ingin terlepas gadis itu semakin mengeratkan kedua tangannya di punggung Byakta.
"Hei! Jangan seperti itu, aku jadi ingin membawamu lari dari sini jika kau seperti ini," canda Byakta.
Laki-laki itu kembali menjarakkan tubuhnya, "Sekarang kau masuk dan istirahat. Jangan bertengkar dengan nenek karena aku, ok,"
Audrey yang masih menangis hanya mengangguk saja, lalu ia meninggalkan Byakta di luar dengan hati tak rela.
__ADS_1
_______________________
nanti lagi ya 😁