
*Om, maaf aku pergi tanpa membangunkan mu, aku lihat kau tidur begitu nyenyak, jadi aku tidak tega untuk membangunkan mu. Aku pergi om, terima kasih atas semua bantuannya, tempat bersembunyi, makanan dan juga pakaian. Oh, iya, satu lagi kacamata hitammu ku bawa juga untuk menyamar, hehehe. Semoga semua kebaikan mu di balas dengan Tuhan, selamat tinggal om*
Bastian berdecak kesal, gadis itu benar-benar sudah pergi, padahal Bastian sudah berencana akan memesan tiket pesawat untuk gadis itu pergi dari sini, terserah mau kemana, yang penting dia sudah memastikan kalau gadis itu memang sudah pergi dari kota ini.
Tempat ini tidak baik untuknya, apalagi ayah tiri dan juga anak buahnya juga masih disini, mereka pasti belum berhenti mencarinya.
Rasa kesal itu bercampur rasa khawatir, bagaimana jika ia tertangkap dan akan dijual? Bastian memijat pelipisnya.
"Harusnya dia menungguku bangun, apa dia tidak takut jika para bajingan itu bahkan masih berada di sekitar sini,"
Bastian melihat ponselnya lagi, membaca pesan-pesan yang dikirim Byakta padanya, laki-laki itu memintanya untuk segera terbang ke Jakarta bersama Melisa dan juga Bibi Lauren.
Bastian menghela nafas kasar, kalau saja Rania bisa menunggunya sebentar saja, mereka akan terbang bersama dengan tujuan yang berbeda.
Jika sudah seperti ini bagaimana, dia bahkan tidak punya waktu untuk mencari Rania yang entah kemana saat ini.
__ADS_1
Bastian mengetikkan satu pesan kepada Melisa untuk mengatur keberangkatan mereka hari ini juga, karena Byakta mengatakan ada masalah mendadak yang tidak bisa diselesaikan sendiri.
Setelah itu Bastian masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri, ia berniat cek out hari ini.
Setelah selesai, Bastian bersiap mengenakan pakaiannya lalu mengemasi barang-barangnya dan pergi meninggalkan kamar hotel tersebut.
Sambil berjalan menuju lantai dasar, di dalam lift, Bastian mengetikkan pesan kepada anak buahnya untuk mencari keberadaan Rania.
Entah atas dorongan apa dia begitu ingin membantu gadis itu pergi dari kota ini, Bastian tidak pernah membayangkan gadis malang itu akan dijadikan lahan dollar oleh ayah tirinya.
"Rania." Gumam Bastian lalu ia tersentak karena menyadari telah menyebut nama gadis itu untuk pertama kalinya.
"Nama yang jelek," ucapnya pada dirinya sendiri, namun sedetik kemudian dia tersenyum sendiri, mengingat gadis itu saat mengoceh menanyakan banyak hal padanya.
Denting lift berbunyi, setelah pintu kubikel itu terbuka, Bastian segera keluar dan langsung menunjuk resepsionis untuk melakukan cek out.
__ADS_1
Setelah itu ia langsung menuju mobilnya, lalu segera memacunya menuju vila, dalam perjalanan menuju villa Bastian melaju pelan sambil melihat jalanan berharap melihat Rania yang mungkin berjalan kaki.
Namun sampai dia di villa, Bastian tidak menemukan apapun, hatinya masih dirundung kecemasan, bertanya-tanya apakah gadis itu baik-baik saja atau sudah tertangkap oleh bajingan itu.
Dimana dia? Timbul dihatinya sebuah harapan kalau anak buahnya akan menemukan gadis itu dalam keadaan baik-baik saja.
Bastian turun dari mobil, lalu masuk kedalam villa, ia mendapati Bibi Lauren yang sudah menyeret kopernya dan beberapa barang bawaan lainnya.
"Anak nakal itu selalu memutuskan apapun sendirian, tidak berpikir orang dalam kondisi yang seperti apa, lihat saja sampai di sana akan aku tarik telinganya," omel bibi Lauren Byakta yang mendadak menyuruh mereka untuk berangkat hari ini juga.
Bastian hanya mengedikkan bahu mendengar omelan bibi Lauren, lalu duduk di sofa, ia meraih remote untuk menghidupkan televisi. Tidak lama kemudian Melisa nampak keluar dari kamarnya menyeret kopernya sambil menggendong Raihan.
Melisa tersenyum melihat Bastian, "Kau sudah datang, aku sudah memesan tiketnya, dua jam lagi pesawat akan berangkat, sebaiknya kita pergi dari sekarang," ucap Melisa pada Bastian.
Yang dijawab anggukan oleh Bastian, ia pun mematikan televisi, setelah itu bangkit dan mengambil alih koper Bibi Lauren dan juga Melisa menuju mobil.
__ADS_1
Tidak lupa ia memberikan kunci villa kepada seseorang laki-laki paruh baya yang ia percaya merawat villa miliknya itu.