
"Om, apa kau sudah punya istri?" pertanyaan kesekian yang ditanyakan Rania pada Bastian, membuat laki-laki itu memasang muka datar kembali.
Padahal tadi Bastian sudah sedikit melunak karena sifat friendly gadis bernama Rania itu.
Bastian menggeleng sebagai jawaban atas pertanyaan Rania padanya, tidak berhenti disitu, Rania kembali bertanya.
"Kalau kekasih atau pacar, punya nggak?"
Sekali lagi Bastian hanya menggelengkan kepalanya sebagai jawaban, ia tidak ingin berbohong meski terkadang ia merasa malu.
"Jadi,kau jomblo, Om! Astaga, umurmu sudah tua, tapi kau masih jomblo." Rania terus tertawa riang.
"Hei, jomblo lebih baik, daripada menjalin hubungan tidak jelas," bela Bastian dirinya, agar harga dirinya tidak jatuh di depan bocah ingusan seperti Rania.
"Aaaa kau tidak perlu tersinggung, kita sama, aku juga jomblo. Ayo kita berteman." Rania mengulurkan tangannya untuk bersalaman dengan Bastian sebagai tanda kalau mereka sekarang sudah menjadi teman.
Namun Bastian tidak mau mengulurkan tangannya, ia merasa itu adalah hal konyol yang dilakukan anak-anak.
Tapi lihatlah, sekali lagi gadis itu membuat Bastian melakukan hal-hal yang belum pernah dilakukannya selama ini.
__ADS_1
"Itu kekanakan sekali, bocah! Sudah pergi mandi sana, pakaianmu akan sampai sebentar lagi." Bastian bangkit dari duduknya untuk menghindari tatapannya pada gadis itu, sungguh senyuman gadis itu mampu membuat jantung Bastian mendadak tidak normal sejak tadi.
Akhirnya Rania menurut, gadis itu mengangguk dan bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan diri, tidak lama, hanya lima belas menit ia pun selesai.
Seperti Bastian tadi, Rania juga memakai piyama handuk yang memang disediakan dua buah oleh pihak hotel.
Setelah itu Rania keluar dari kamar mandi menghampiri Bastian yang sedang serius menatap gawainya dan tangan satu lagi memegang secangkir teh hangat.
"Om, apa bajuku sudah sampai?" tanya gadis itu pada Bastian.
Seketika Bastian tersedak, Rania berdiri di hadapannya, terpampang jelas betis mulus itu di hadapan Bastian, tidak hanya itu, bagian dada Rania sedikit terbuka sebab memang seperti itu modelnya.
"Apa yang kau lakukan! Astaga, kau selalu membuat masalah," sungut Bastian untuk mengalihkan perasaan yang tiba-tiba merasakan hal aneh yang belum pernah kurasakan sebelumnya.
Tidak lama, terdengar pintu diketuk dari luar, untuk menghindari sesuatu yang ditakutkan terjadi, Bastian meminta Rania masuk ke dalam kamar mandi sebelum pintu terbuka.
Rania yang memang begitu takut, ia langsung menurut, ia pergi ke kamar mandi dan menguncinya.
Bastian membuka pintu setelah memastikan Rania masuk ke dalam kamar mandi. Pintu terbuka, benar saja dugaan Bastian, orang yang kemarin mencari Rania kembali datang.
__ADS_1
"Bisa kami bicara sebentar, Tuan?" tanya laki-laki paruh baya yang Rania bilang adalah ayah tirinya.
"Ya, silahkan, katakan saja!" sahut Bastian tenang.
"Kami bertanya pada pihak hotel tentang anda, mereka mengatakan anda tidak menyewa kamar untuk berdua, berarti seharusnya anda tidak bersama seorang wanita kemarin, bukan?"
Bastian benar-benar tidak menyangka, mereka sangat yakin jika Rania memang masuk ke kamarnya kemarin.
"Siapa bilang! Aku memang mengajak kekasih ke tempat ini, saat ini dia sedang kembali ke tempatnya," jelas Bastian yang menetralkan degup jantungnya.
Ia tidak bisa membayangkan jika mereka kembali memeriksa kamarnya, ia juga tidak tahu nasib apa yang akan menimpa Rania jika dia tertangkap hari ini.
"Bisa anda hubungi kekasih anda sekarang? Suruh dia datang kembali ketempat ini, jika memang tuan tidak berbohong," tatap curiga laki-laki paruh baya itu pada Bastian.
Bastian yang sudah kesal tapi tidak bisa berbuat apa-apa, ia harus menahan diri agar tidak tersulut, jika sedikit saja dia tersulut, sudah pasti Rania dalam masalah besar, jadi dia terus melakukan apa yang mereka mau, tidak akan membiarkan mereka membawa Rania walau hanya secuil bagian dari tubuhnya.
Sementara Rania yang berada di kamar mandi berusaha untuk tidak mengeluarkan atau membuat suara apa pun di tempat itu.
Gadis itu meremasi kedua bahunya, ia ketakutan, bagaimana jika mereka menemukannya di dalam sini, ia pun terisak tanpa suara, seandainya ibu masih ada.
__ADS_1