
Byakta sedang melakukan panggilan video pada Audrey, hari ini ia tidak berangkat ke kantor, ia memutuskan libur hari ini, karena moodnya tiba-tiba terjun bebas, ia terus memikirkan dan membayangkan kata-kata nenek yang begitu menyeramkan baginya.
"Apa, sih! Kau seperti anak kecil yang merengek pada ibunya meminta mainan," ejek Audrey sambil tersenyum.
"Kau tidak tahu rasanya jadi aku, sayang! Bagaimana kalau nenek benar-benar memotong milikku? Dia menyeramkan sekali" ungkap Byakta yang benar-benar seperti bocah lima tahun.
Audrey kembali terbahak, nenek benar-benar membuat Byakta yang dingin, kaku dan arogan menjadi bocah laki-laki umur lima tahun yang terus merengek karena tidak dibelikan mainan baru oleh ibunya.
"Kau terus saja tertawa! Ayolah sayang, bantu aku, beritahu bagaimana caranya menjelaskan kepada nenek,"
"Kau bilang kemarin tidak perlu bantuanku, sekarang kau merengek seperti bocah, kau sangat tidak jelas tuan Arsena," cibir Audrey.
"Sudah, ah. Aku ingin mandi, aku matikan teleponnya, ya," ucap Audrey ingin mengerjai Byakta.
"Sayang kau tega sekali," masih saja merengek seperti bocah, membuat Audrey gemas sendiri.
"Sudah, ya!" tidak mengindahkan rengekan yang terus terdengar.
"Sayang, kenapa dulu kau sangat pendiam dan lugu?" tanya Byakta asal, ia begitu agar sambungan telepon tidak dimatikan oleh Audrey.
"Karena aku sangat takut padamu," jawab jujur Audrey.
Ya, memang dulu dia sangat takut dan juga tidak menyukai Byakta, selain sikapnya yang dingin, Byakta juga arogan dan menyebalkan.
__ADS_1
"Kalau sekarang kau masih takut atau tidak? Karena ku lihat kau banyak bicara sekarang," ungkap Byakta jujur.
Ia tidak menyangka Audrey gadis polos, pendiam dan penurut itu berubah menjadi gadis jutek dan cerewet.
"Sekarang sudah tidak takut, karena kaulah yang sekarang takut kehilangan aku, Tuan Arsena," Audrey tersenyum dan menaik turunkan alisnya.
Byakta berdecak mendengar kepercayaan diri gadis yang sangat dia cintai itu, kalau saja sedang berdua sudah pasti Audrey tidak akan ia lepaskan bahkan bergeser sesenti pun tidak akan ia biarkan.
"Sayang, datanglah kesini, kita mandi berdua saja," goda Byakta.
"Hei! Kau sudah lupa bagaimana nenek?" Ingatkan Audrey perkataan nenek pada Byakta.
Membuat laki-laki itu mengumpat dalam hati, baru saja sebentar melupakan kata-kata nenek, Audrey malah mengingatkannya kembali, membuatnya bergidik ngeri.
Tidak menunggu jawaban Audrey setuju atau tidak, Byakta langsung memutuskan panggilannya.
Ia mendesah, bagaimana caranya mengatakan yang sebenarnya pada nenek dan membuat nenek tidak syok dan berbuat seperti yang ia katakan kemarin.
Byakta kembali melihat layar ponselnya, mencari kontak Bastian, sudah sejak berangkat ke Milan, Bastian tidak pernah menghubunginya.
Panggilan masuk tapi tidak diangkat, hingga panggilan ketiga, terdengar sangat berisik di tempat Bastian.
"Hallo, ada apa? Aku sedang di tempat bermain anak," ucap Bastian terdengar samar karena memang begitu ramai.
__ADS_1
"Menepilah, aku ingin bicara sebentar." titah Byakta.
Bastian mengabari Melisa dulu, kalau dia akan ke toilet, supaya wanita itu tidak mencarinya. Dia juga mengatakan Byakta sedang menghubunginya, disini terlalu berisik jadi dia ingin menepi sebentar.
Bastian pun mencari toilet terdekat dan kembali menghubungi Byakta, karena panggilan diakhiri oleh bosnya itu.
"Kau dimana? Kau sudah lupa aku sendiri di negara orang!" Pekik Byakta pada Bastian.
Dia mendadak kesal mengingat dia yang susah payah menghadapi nenek, Bastian malah sedang bersenang-senang dengan Melisa juga anaknya.
Bukannya takut, Bastian malah tertawa mendengar pekikan Byakta, "kau masih membutuhkan ku? Bukanya kalau sudah bahagia sekarang?"
"Sialan, Kalau mengejekku! Cepat katakan kau di negara mana sekarang,"
"Aku masih di Indonesia, bagaimana keadaanmu, sudah bisa aku membawa Bibi menemui Audrey?"
"What! Kau di Indonesia tapi tidak pernah mengabariku? Sialan, kau Bastian!"
Bastian semakin tertawa, dia bisa menangkap kalau masih ada yang belum beres, pasti laki-laki itu sedang bingung menghadapinya, oleh karena itu dia menghubunginya.
Bastian menggeleng, beginilah Byakta, di balik sikap arogan, dingin dan kakunya, ada sifat manja dan paling tidak bisa mengerjakan apapun sendiri, sebab sudah biasa dimanja oleh Bibi sejak kecil.
Trauma masa lalu yang sering dialami Byakta membuat Bibi tidak ingin melihat Byakta tersakiti, tidak ingin melihatnya kesulitan sendiri, apalagi Bibi Lauren tidak memiliki anak sendiri, oleh sebab itu dia selalu menganggap Byakta adalah anaknya, yang harus di sayangi dan di kasihi, sehingga membentuk sifat manja pada diri Byakta.
__ADS_1