Rahim Lima Miliar

Rahim Lima Miliar
RLM bab 42


__ADS_3

"Cantik! Kamu tolong anterin minuman ini ke ruang meeting, ya. Aku lagi di panggil Bu Enda," pinta Ayu.


Hal paling tidak disukai Audrey adalah masuk ke ruang meeting atau mengantarkan kopi ke ruang bos, sudah pasti ia akan digoda.


"Hhmm, baiklah. Jangan lupa traktir aku makan siomay nanti, ya!"


"Ok! Goceng, tapi, ya?" Ayu nyengir melihat Audrey manyun.


Setelah itu ayu pergi menemui Bu Enda kepala kebersihan, lalu Audrey membawa minuman ke ruang meeting.


Wajah blasteran yang sangat mencolok itu mampu membuat siapa saja terpesona akan kecantikannya. Jika tidak bisa menggoda, mereka akan menunjukkan tatapan mendamba padanya dan itu membuat Audrey risih.


Banyak yang ingin menjadi pacarnya, namun Audrey tidak pernah merespon siapa pun yang mendekatinya.


Bukan hanya staf biasa, bahkan general manager juga pernah mengajaknya kencan, namun ia tidak pernah merespon sedikitpun. Ia malah risih dengan orang-orang yang terlalu agresif mendekatinya.


Tapi namanya ini adalah bagian dari pekerjaannya, mau tidak mau dia harus menjalankan tugas seperti yang diminta, tapi tidak untuk berkencan atau sekedar berbalas pesan dengan laki-laki manapun.

__ADS_1


Audrey menarik napas lalu membuangnya sebelum ia memasuki ruang meeting, pertama ia mengetuk pintu terlebih dahulu, lalu ketika sudah mendapat sahutan dari dalam baru ia membuka pintu dan masuk.


Seperti biasa Audrey enggan melihat pada orang-orang yang ada di ruangan itu, ia hanya fokus pada pekerjaannya saja, setelah meletakkan minuman kepada tiap-tiap orang, Audrey pun menunduk lalu pergi.


Sampai di luar, Audrey mengelus dada, lega. Karena terselamatkan dari godaan para staf yang berada di dalam ruang meeting karena adanya pimpinan di dalam.


'eh, kok aku nggak inget mau lihat mukanya pimpinan, ya? Ah sudahlah, terserah. Ntar juga lama-lama bakal tahu' Audrey berjalan sambil mengedikkan bahu tidak peduli.


Tanpa Audrey sadari sejak ia masuk ruangan meeting tersebut ada dua pasang mata yang terus menyorot padanya. Tatapan yang awalnya adalah tatapan terkejut kini berubah menjadi tatapan berbinar penuh bahagia.


Bastian yang sejak tadi diam memperhatikan Audrey, hingga gadis itu pergi, menjadi melamun membayangkan jika ia mengabari tentang ini pada Byakta, pasti semua akan berubah seperti semula.


Ia sengaja tidak menegur gadis itu, karena jika itu terjadi, bisa-bisa ia akan lari dan akan sulit untuk ditemukan lagi.


Mungkin bekerjanya Audrey di perusahaan ini adalah sebuah kebetulan, namun kedatangan Bastian ke negara Indonesia bukan hanya untuk melihat keadaan perusahaan saja, tapi juga untuk mencari alamat rumah keluarga Audrey yang di Indonesia.


Ibarat pepatah mengatakan, pucuk dicinta, ulam pun tiba. Tidak harus bersusah payah ternyata gadis yang ia cari sudah masuk dalam perangkapnya.

__ADS_1


Tidak berlama-lama dengan meetingnya, Bastian langsung menyudahinya dan akan berlanjut sebelum ia kembali ke Milan. Semua bubar dan kembali ke divisi masing-masing.


Sedangkan Bastian segera membuka gawainya dan menghubungi seseorang "ya, Bibi! Bagaimana keadaannya sekarang?"


"Masih seperti biasa, melamun dan menangis. Bagaimana keadaan disana? Apa semua baik? Kau sudah mulai melakukan pencarian?" tanya Bibi Lauren bertubi-tubi pada Bastian.


"Ah, tidak apa-apa Bibi, sebentar lagi dia akan berhenti melamun dan menangis. Aku juga tidak perlu melakukan pencarian, sungguh ini diluar ekspektasi ku," sahut Bastian di sambungan teleponnya.


"Apa! Kau sudah menemukannya? Apa dia baik-baik saja? Apa dia sehat? Jelaskan padaku,"


Bibi Lauren terisak membayangkan menantunya tidak hidup dengan layak karena tidak punya siapa-siapa lagi, meski berulang kali Bastian menjelaskan bahwa Audrey tinggal bersama keluarga dari ibunya, tetap saja wanita tua itu sangat takut jika ia diperlakukan buruk oleh keluarga ibunya.


"Dia baik, Bibi. Aku akan menghubungimu lagi nanti. Istirahat lah, jangan lupa minum obatmu, semua biar aku yang urus,"


Bastian memutuskan sambungan teleponnya, lalu melangkah pergi meninggalkan ruangan meeting menuju ruangannya.


Ia akan memastikan dulu dimana Audrey tinggal, baru ia akan membawa Byakta datang ke Indonesia. Ia akan membiarkan Byakta menemui istrinya sendiri, sungguh kasihan nasibnya.

__ADS_1


__ADS_2