Rahim Lima Miliar

Rahim Lima Miliar
RLM bab 56


__ADS_3

Nenek begitu antusias saat mendengar suara deru mobil yang sudah dia tahu siapa itu, bahkan Wina yang sudah penasaran akan sosok yang diceritakan nenek menjadi ikut-ikutan mengintip di jendela depan.


Mobil pun berhenti di halaman rumah nenek yang tidak begitu luas namun masih cukup untuk memarkirkan satu buah mobil dan juga satu buah sepeda motor.


Keduanya turun, terlihat oleh nenek dan Wina sosok Byakta yang tersenyum hangat pada Audrey.


"Bu dia tampan sekali," puji Wina tanpa sadar, lalu ia langsung menutup mulutnya sendiri.


Nenek hanya tersenyum bahagia melihat cucunya yang pulang dengan selamat dan diantar oleh bosnya itu.


"Tapi, Bu. Kelihatannya umur mereka beda jauh, deh," komentar Wina saat menyadari sosok Byakta yang begitu dewasa dibanding dengan keponakannya yang masih terlihat imut, ditambah tubuhnya yang mungil terlihat dia seperti anak remaja umur enam belas tahun.


"Justru yang lebih dewasa bisa menjaga dan mengayomi kesayangan kita, lihat saja senyuman dan tatapannya benar-benar penuh cinta. Aku jadi teringat dengan almarhum ayahmu, Win."


Wina mendadak mengernyitkan dahi "Bukannya ibu dan ayah selalu berperang?"


Seketika nenek langsung menimpuk kepala Wina dan membuatnya mengadu sakit.


"Aduh, sakit Bu!"


"Makanya jangan bicara sembarangan!" Hentak nenek sedikit kesal.

__ADS_1


Wina hanya mengangkat bahu acuh melihat nenek yang bersungut-sungut atas ucapan Wina.


"Padahalkan aku tidak salah, ibu dan ayah selalu memandang sengit, seperti tom & Jerry serial kartun itu, kenapa aku yang kena marah, coba?"


Nenek langsung menoleh menatap Wina, kali ini Wina yang dengan mendapat tatapan sengit itu, membuatnya bergidik ngeri.


"Kau pikir kami tidak pernah romantis? Kalau tidak pernah, tidak mungkin kau ada!"


Wina yang mendapati ibunya terus bersungut-sungut dan semakin menjadi, pergi begitu saja.


"Bisa sajakan aku anak pungut."


Nenek yang akan mengejar Wina dan ingin menjelaskan betapa ia dulu juga begitu romantis dengan suaminya, terhenti saat pintu terbuka menampilkan Audrey dan di belakangnya juga ada Byakta.


"Walaikumsalam," sahut nenek sambil tersenyum lebar.


Audrey sebenarnya sudah was-was kalau saja nenek memarahinya pulang hingga larut malam seperti ini, akan tetapi melihat nenek yang tersenyum ramah, membuatnya bisa bernafas lega.


Ini adalah kali pertama Audrey pulang hingga lewat pukul sembilan malam, karena waktu lembur pun tidak selarut ini, jam sebelas malam.


Audrey langsung menyalami dan mencium tangan nenek, padahal ia tak pernah melakukannya, yang biasa ia lakukan adalah langsung memberi sekotak martabak kesukaan nenek, kata nenek itu lebih dari cukup hanya untuk sekedar salaman.

__ADS_1


Byakta mengikuti apa yang dilakukan Audrey, membuat nenek semakin senang, ternyata Byakta adalah pemuda yang sopan, padahal ia berasal dari negara luar.


Setelah menyalami nenek, Byakta langsung menyodorkan sekotak martabak manis kesukaan nenek, hal itu membuat nenek semakin senang kepada Byakta.


Nenek langsung mempersilahkan Byakta duduk di sofa empuk rumahnya, lalu berteriak memanggil Wina anaknya untuk membuatkan tamu spesial mereka minuman.


"Nek, maaf karena mengantarkan Audrey terlalu malam," ucap Byakta sopan.


"Ah, tidak masalah! Yang penting dia pulang dalam keadaan selamat," kata nenek.


Wina pun datang membawa teh hangat dan beberapa cemilan dan langsung menghidangkan di meja.


"Perkenalkan, ini Wina bibinya Audrey,"


Wina langsung memberi senyuman beramah tamah kepada Byakta, begitu juga Byakta yang membalas senyum Wina tidak kalah ramah.


Ini adalah misinya, untuk mengambil hati keluarga Audrey, karena jika mereka tahu siapa Byakta sebenarnya, sudah pasti semua tidak akan semudah ia pesan tiket kembali ke Milan, sudah pasti akan sulit sekali.


"Oh iya, apakah Anda sudah tahu kalau Audrey kami ini adalah seorang janda?" tanya nenek.


Byakta mendadak gugup mendengar pertanyaan nenek, bagaimana kalau nenek sudah tahu siapa dirinya, batinnya ketakutan.

__ADS_1


"I-iya saya tahu, Audrey sudah menjelaskannya," jawab Byakta terbata.


Nenek mengulas senyum, ia hanya ingin mengetes Byakta saja, siapa tahu ia akan terkejut, tapi ternyata tidak sama sekali.


__ADS_2