
Audrey yang sejak tadi diam di tangga kembali terisak mengingat janinnya yang baru tumbuh harus mengalami sakit yang teramat sangat hingga tidak bisa bertahan.
Meski di bibirnya menyalahkan Byakta dan yang lain, akan tetapi ia di dalam hatinya ia juga menyalahkan dirinya sendiri karena tidak bisa menjaganya.
Tapi, hari ini dia tahu, bukan ia tidak bisa menjaganya, tapi ada orang yang memang ingin merenggut nyawa janinnya, sesak kembali menghimpit hatinya.
Roland, laki-laki itu yang menyebabkan semuanya. Laki-laki yang ia kenal baik dan bersahaja ternyata tega melakukan ini padanya atas nama cinta.
Cih! Itu bukan cinta, tapi obsesi. Jika cinta bukan mencelakai tapi melindungi, jika cinta bukan menyakiti tapi menyayangi.
Tidak menyurutkan langkahnya, Audrey turun dengan membawa travel bagnya, ia berjalan melewati semua orang yang sedang dalam suasana tegang.
Hingga langkahnya terhenti saat Bibi Lauren menegurnya "Audrey, kamu mau kemana, Nak?"
Semua orang melihat ke arahnya, begitu juga Byakta yang terkesiap melihat istrinya membawa travel bagnya dan siap akan pergi.
__ADS_1
"Aku akan pergi, aku bukan siapa-siapa lagi disini dan aku juga sudah tidak punya alasan apapun untuk tetap disini," ucap Audrey dingin.
"Kau tidak bisa pergi kemana pun, aku tidak akan pernah mengizinkan kau pergi," tegas Byakta.
"Izin?" Audrey menyeringai "saya tidak perlu izin anda Tuan, karena semua sudah berakhir. Adik saya sudah tidak ada, oleh sebab itu tidak ada lagi alasan saya untuk melanjutkan perjanjian itu,"
"Lupakan perjanjian itu, tetaplah disini sebagai istriku,"
"Saya tidak tertarik dengan tawaran anda, Tuan. Lepaskan saya, saya tunggu dalam waktu satu bulan,"
"Jangan pergi! Tidakkah kau mendengarnya!" pekik Byakta
"Semua sudah berakhir, Tuan," sahut Audrey dingin.
Rasanya sakit, tapi ia harus kuat. Bohong jika dia tidak tahu selama ini Byakta mencoba mencari cela mendekatinya. Mencoba membuka hatinya dengan perlakuan lembutnya, walau kadang masih terkesan kasar dan arogan, tapi Audrey memaklumi itu karena bibi Lauren sudah memberi tahu masa lalu Byakta padanya.
__ADS_1
Namun, ia tidak bisa terus disini. Karena jika terus disini, ia akan terluka setiap harinya, karena terus mengingat semuanya. Ia ingin menata hatinya kembali, mencoba kehidupan di tempat baru, ia tidak perlu memikirkan perasaan Byakta, karena semua itu baru saja dimulai dan tidak akan terlalu menyakitkan jika harus di akhiri sekarang juga.
"Tidak! Aku tidak ingin kehilangan semuanya, maafkan aku, jangan tinggalkan aku, kumohon!" Byakta berlutut penuh harapan.
Audrey memalingkan wajahnya tak sanggup melihat laki-laki itu berlutut, ia melihat begitu banyak luka di matanya. Tapi kali ini ia tidak akan mengiba, ia menguatkan hati bahwa inilah yang terbaik untuk mereka.
"Aku mencintaimu, Audrey! Tetaplah bersamaku, ayo kita mulai semuanya dari awal, jangan tinggalkan aku,"
Hati Audrey tergugu mendengar pengakuan Byakta, ia tidak menyangka laki-laki yang dianggap angkuh bisa menyatakan perasaannya begitu saja.
Ada desir bahagia di hatinya, tapi ia harus menyimpan rapat semuanya, bukankah cinta tak harus memiliki, meski ia tak tahu bagaimana perasaannya terhadap laki-laki yang sedang berlutut itu, tapi ia cukup bahagia, masih ada di dunia ini orang yang mencintainya.
"Saya berada di sini bukan karena rasa cinta, saya disini karena nyawa. Tidak ada yang perlu diulang dari awal, karena pada dasarnya semua ini hanya sebuah perjanjian yang ada batas waktu yang sekarang sudah berakhir,"
Setelah mengatakan itu Audrey benar-benar pergi, meski tak tahu akan kemana, tidak menyurutkan langkahnya sama sekali.
__ADS_1
Selamat tinggal kisah yang bahkan belum dimulai, sungguh kau hebat bisa memberi banyak luka untuk orang yang terlibat di dalamnya.