
Satu jam setengah Bastian di dalam kamar mandi, berendam. Sebenarnya ia tidak pernah melakukannya, namun rasa kesal dan emosi yang membuncah di iringi rasa bersalah karena marah dan membuat gadis itu menangis, membuat Bastian melakukannya.
Setelah emosinya mereda Bastian menyudahi kegiatannya, ia mengguyur sekali lagi tubuhnya di bawah shower, setelah itu ia menyambar piyama handuk yang disediakan hotel.
Bastian keluar dari kamar mandi masih dengan rambut basah, terlihat dari air yang menetes.
Laki-laki itu berjalan santai menuju lemari penyimpanan pakaian, ia melirik sekilas gadis itu duduk di sofa sedang memperhatikan dirinya hingga tak berkedip. Bastian juga melirik sekitaran kamar, ternyata sudah bersih dan rapi kembali.
Namun Bastian tidak menghiraukan gadis itu, ia segera mengambil baju kaos dan celana pendeknya, lalu kembali ke kamar mandi untuk memakainya disana.
Gadis itu menjadi salah tingkah ketika menatap laki-laki yang menolongnya itu, untuk pertama kali dalam hidupnya melihat pemandangan indah dan nyata di hadapannya.
Setelah memakai pakaiannya Bastian keluar dari kamar mandi, mengusap rambutnya yang basah dengan handuk kecil, lalu ia duduk di pinggiran ranjang menatap gadis yang sedang duduk di sofa.
"Kapan kau akan pergi?" tanya Bastian tanpa basa-basi.
__ADS_1
Membuat gadis itu menatapnya sekilas dan kembali menunduk, ia juga tidak tahu akan pergi kapan dan akan pergi kemana, ia sama sekali tidak punya tujuan.
"Aku tidak akan lama disini, aku akan pulang ke negara ku setelah urusanku selesai di negara ini, jadi cepat putuskan, kapan kau akan pergi?" Jelas Bastian, supaya gadis itu tidak merasa tersinggung karena Bastian mengusirnya secara halus.
"Se-sebenarnya aku tidak tahu akan pergi kapan, dan akan pergi kemana, aku tidak punya tujuan dan aku tidak punya siapa-siapa lagi," ungkap gadis itu melemah.
Bastian benci ini, ia paling tidak bisa melihat wanita manapun bersedih di hadapannya, apalagi wajah gadis di hadapannya ini mendadak sendu.
Bastian menatap gadis itu lagi, hingga malam datang dia masih memakai baju yang sama saat pertama kali dia menerobos masuk ke dalam kamarnya.
Gadis itu menggeleng "pakaianku di penginapan tempat ayah tiriku berada, aku tidak bisa kembali untuk mengambilnya, karena mereka pasti akan menangkapku,"
Bastian tidak merespon lagi atas ucapan gadis itu, "Pergilah mandi, aku akan suruh orang untuk membeli pakaian untuk mu," titah Bastian.
"Om, kau sangat baik, aku tidak tahu bisa atau tidak membalas kebaikan mu, tapi aku berdo'a supaya Tuhan memberi jodoh yang baik untukmu," ucap gadis itu sungguh-sungguh.
__ADS_1
Hati Bastian mendadak menghangat mendengar ucapan baik keluar dari bibir mungil gadis itu.
"Cepatlah mandi, hari semakin malam, tidak baik mandi terlalu malam," alihkan Bastian suasana yang mendadak canggung.
Gadis itu mengangguk lalu bangkit dari duduknya dan akan pergi ke kamar mandi, namun langkahnya terhenti saat ia mengingat sesuatu yang sejak tadi ingin ia tanyakan pada laki-laki itu.
"Om, namaku Rania, boleh aku tahu namamu?"
Bastian menoleh pada gadis itu, wajahnya menampilkan senyuman yang mendadak membuat jantung Bastian berdegup kencang. Cepat-cepat ia mengalihkan pandangannya, sungguh gadis itu membuatnya mati gaya saat tersenyum, cantik sekali. Batin Bastian memuji.
"Panggil saja aku, Bas. Jangan panggil aku Om, aku tidak setua itu!" Ketus Bastian masih tidak ingin melihat gadis yang memperkenalkan namanya Rania tersebut.
"Kenapa? Kau memang lebih tua dari ku, bisa aku tebak umurmu pasti sudah kepala tiga, benarkan?" Gadis itu tidak jadi ke kamar mandi, dia malah mendudukkan dirinya di sebelah Bastian.
"Om, maafkan aku, karena menerobos masuk ke kamar mu dan mengganggu aktifitas mu, tapi sungguh aku tidak tahu akan kemana lagi, jadi jangan marah lagi padaku, ya!"
__ADS_1
Bastian hanya berdehem menanggapi ocehan gadis itu, semakin di respon gadis itu malah semakin tidak berhenti mengoceh ini dan itu, sesekali tertawa atau tersenyum menampakkan gigi gingsulnya yang membuatnya terlihat imut dan manis.