
Matahari pagi menyongsong mengusik dua insan yang tidur di tempat berbeda namun masih dalam lingkup yang sama.
Rania mengerjapkan mata, untuk pertama kalinya dia tidur begitu nyenyak setelah sang ibunya meninggal.
Rania meregangkan otot-otot tubuhnya sambil melihat jam dinding, ternyata sudah pukul tujuh pagi.
Gadis itu menoleh ke kasur deluxe dimana Bastian masih meringkuk disana, masih belum menyadari hari sudah terang.
Kalau tidak karena liburan, ia tidak mungkin belum bangun sesiang ini, berhubung ini adalah liburan, ia memanfaatkan waktu sebaik mungkin, hingga tidak menyadari kalau dia tidak sendiri di ruangan ini.
Rania bangkit dari tempat tidurnya yaitu sofa, melipat selimut yang dipakai, lalu bergegas ke kamar mandi, ia harus bersiap sebelum Bastian bangun, agar setelah laki-laki itu bangun, dia hanya tinggal berpamitan dan mengucapkan terima kasih.
Lima belas menit kemudian, Rania keluar dari kamar mandi sudah terlihat segar, namun Bastian masih belum juga mengubah posisinya.
Rania tersenyum melihat wajah tampan yang sudah terlihat dewasa, nampak dingin tapi baik dan penuh perhatian. Bahkan Rania sama sekali tidak merasa was-was kepada laki-laki itu, meskipun tidak mengenalnya.
__ADS_1
Bastian memang terlihat sekali seperti laki-laki terhormat, oleh karena itu Rania tidak khawatir laki-laki ini akan mengambil kesempatan untuk berbuat buruk padanya.
Setengah jam sudah Rania menunggu Bastian bangun, namun hingga kini tidak sedikitpun Bastian terlihat akan bangun.
"Kenapa dia nggak bangun-bangun, sih? Apa aku pergi aja, ya?"
Rania bangkit lagi dari duduknya, ingin membangunkan Bastian, tangan yang sudah terulur ia tarik kembali, Rania takut jika ia membangunkan Bastian, akan mengganggu tidur pulas laki-laki itu.
Oleh sebab itu, Rania membuka laci nakas, siapa tahu ia bisa menemukan sesuatu untuk dia meninggalkan pesan kalau dirinya sudah pergi.
Namun nihil, tidak ada benda yang dicarinya disana, tiba-tiba Rania mengingat ponsel Bastian yang dipinjamkan laki-laki itu padanya.
Ia pun memasukkan bajunya kemarin, baju saat pertama kali dia datang, setelah selesai gadis itu menoleh sekali lagi melihat Bastian yang masih belum bangun juga.
Gadis itu mengulas senyum sambil bergumam mengucapkan terima kasih. Lalu, ia berlalu begitu saja. Memakai gaun selutut, kacamata hitam milik Bastian, juga syal yang ada di dalam paper bag tersebut.
__ADS_1
Ia memakai syal itu sebagai kerudung, kini penampilannya mirip anak orang kaya yang suka keliling dunia.
Mudah-mudahan dengan berpenampilan seperti ini, tidak ada yang mengenalinya, tujuannya saat ini adalah cari uang dulu, setelah dapat akan ia gunakan untuk ongkos pergi ke tempat lain.
Sepuluh menit setelah kepergian Rania, Bastian menggeliat lalu mengerjap, ia kaget saat melihat hari sudah terang.
Ia langsung mendudukkan diri mengedarkan pandangannya, sofa tempat Rania tidur sudah kosong, bastian berpikir gadis itu mungkin di kamar mandi.
Namun lima menit sudah, Bastian tidak mendengar sama sekali aktivitas di dalam sana, dengan malas Bastian menyibakkan selimutnya lalu bergegas untuk memeriksa.
"Hei, apa kau di dalam!" Teriak Bastian sambil mengetuk pintu kamar mandi.
Tidak ada sahutan, Bastian mengerutkan kening, kemana gadis itu pergi, bahkan ia tidak berpamitan padanya.
"Dasar, tidak tahu terima kasih, awas saja kalau ketemu lagi, nggak akan aku tolong lagi." Gerutu Bastian.
__ADS_1
Ia kembali ke kamar dan duduk di pinggiran tempat tidur, lalu meraih ponselnya, terdapat begitu banyak pesan dan juga panggilan dari Byakta.
Namun ada satu pesan yang membuat dia penasaran, yaitu pesan dari no ponselnya yang satu lagi dan membukanya terlebih dahulu.