
Mobil melaju membelah jalanan kota Jakarta, keduanya ingin singgah dulu untuk makan sesuatu sesuai dengan permintaan Audrey yaitu nasi goreng favoritnya selama di Indonesia, ia mendapat rekomendasi dari Bibinya, Wina.
"Mau aku beritahu bagaimana cara mengambil hati nenekku, tidak?"
"Tidak, aku tidak perlu itu, aku akan berusaha sendiri tanpa bantuan mu," sahut Byakta sombong.
'aaaaa manisnya dia' batin Audrey senang.
Audrey sedang melihat laki-laki tampan, mapan dan bertanggung jawab, betapa beruntungnya dia, bahkan laki-laki itu adalah suaminya.
"Tapi aku rasa kau sedikit butuh bantuan ku Tuan," ucap Audrey tak kalah sombong.
"Bisa tidak jangan panggil aku Tuan, sungguh panggilan itu sama sekali tidak romantis," keluh Byakta tidak suka.
Seketika Audrey terbahak mendengar seorang Byakta mengeluarkan kata romantis dari mulutnya sendiri.
"Hei! Apa yang lucu?" Sungut Byakta tak terima di tertawakan seperti itu.
"Wajahmu dan kata-katamu sungguh sesuatu yang tak bisa menyatu Tuan. Kau mengatakan romantis tapi wajahmu seperti wajah seorang mafia, menyeramkan."
Audrey semakin terbahak saat melihat Byakta semakin menekuk wajahnya, ah dia menggemaskan jika seperti itu.
"Apa aku tidak tampan? Kau mengataiku, sayang. Aku tersinggung,"
__ADS_1
Audrey langsung menghentikan tawanya saat mendengar ucapan Byakta, "Ah, maafkan aku, aku tidak bermaksud begitu,"
Gadis itu merasa bersalah, seharusnya dia tidak mengatakan itu. "Maaf," ucap Audrey lagi karena tidak mendapat respon dari laki-laki di sebelahnya.
Byakta tersenyum tipis hampir tidak kelihatan kalau dia tersenyum penuh kemenangan.
"Kau laki-laki paling tampan yang pernah kukenal, percayalah."
"Benarkah? Kau tidak berbohong kalau aku yang paling tampan?" Byakta kembali antusias, ada rasa bangga dihatinya ternyata dialah laki-laki beruntung yang bisa memiliki gadis cantik itu.
Audrey tertawa dalam hati, ternyata laki-laki di sebelahnya ini gampang sekali dibujuk kalau marah.
"Hmm, karena aku tidak mengenal yang lain selain dirimu," tutur Audrey sambil menyeringai.
"Mungkin, bisa jadi berbeda. Karena aku melihat mereka bukan dari parasnya saja, tapi hatinya juga. Kau pikir hanya kau laki-laki baik dan tampan di dunia ini?!" Jelas Audrey tanpa rasa bersalah.
Byakta yang tadinya sudah merasa bangga dan merasa paling beruntung seketika harga dirinya terjun bebas.
Tidak, ini tidak bisa dibiarkan, pokoknya jangan sampai Audrey mengenal laki-laki lain selain dirinya, dia harus jadi satu-satunya untuk Audrey, apapun yang terjadi.
"Kalau begitu jangan kenal yang lain selain aku, berhenti bekerja mulai besok, kau harus di rumah dan tidak boleh bertemu dengan siapa pun, apalagi kalau itu seorang laki-laki."
"Hei, apa yang kau katakan, aku tidak mau berhenti bekerja," ucap Audrey panik, ia tidak menyangka bercandanya berdampak seperti ini.
__ADS_1
"Terserah, jika kau tetap pergi, aku akan mengurungmu di ruanganku sampai waktu kerja habis dan satu lagi panggil aku hubby mulai sekarang, ayo katakan!" titah Byakta tidak ingin di tolak.
"Tidak mau, itu menggelikan,"
"Kalau begitu panggil sesuai yang kau inginkan, tapi jangan Tuan," ia sengaja menekan di kata tuan, agar Audrey berhenti memanggilnya seperti itu.
Saat Audrey akan menimpali ucapan Byakta tak jadi sebab Byakta yang bingung dengan tempat tujuan mereka.
"Sayang, benar ini tempatnya?"
Byakta heran, ia tidak melihat satu pun tempat makan seperti restoran dan sejenisnya. Ia hanya melihat sebuah tempat dengan atap tenda biru dan gerobak yang sepertinya memang menjual sesuatu, ia juga melihat banyak orang yang mengantri, terlihat juga tempat duduk dan meja yang disediakan penuh.
"Iya, itu tempatnya," jawab Audrey sambil melihat tempat itu ramai sekali.
"Kau yakin tidak salah tempat, sayang?" Byakta meyakinkan lagi kalau Audrey memang tidak salah tempat.
"Ah, seperti ramai sekali, aku jadi tidak yakin untuk membelinya, sebab akan lama menunggu," tidak mengindahkan ucapan Byakta, gadis tidak jadi turun.
"Kita ke tempat Mamang martabak aja deh, disana ada jual nasi goreng juga, ya walaupun tidak seenak disini, sih."
Byakta tidak berkata lagi, ia langsung melajukan kembali mobilnya meninggalkan tempat penjual nasi goreng tersebut.
Sepanjang perjalanan hati Byakta tiba-tiba menghangat, ia benar tidak salah pilih, Audrey adalah gadis sederhana dengan segala pesonanya, jika gadis lain mungkin akan memilih tempat makan yang mahal dan mewah, Audrey justru memilih makanan pinggir jalan.
__ADS_1
'Terima kasih Tuhan, engkau telah memberi penawar atas traumaku, dengan makhluk cantik jelita seperti dirinya. Tidak hanya cantik parasnya, tapi juga cantik hati dan perilakunya'