
Di tempat lain, di sebuah vila mewah, Bastian, Melisa, Bibi Lauren dan juga Raihan, mereka sedang bersantai menikmati liburan mereka.
Tampak Bibi Lauren sedang menemani Raihan bermain ayunan, lalu Bastian dan Melisa sedang duduk bersantai sambil menikmati jus buah.
Kini mereka sedang berada di tempat liburan yang paling terkenal se-Indonesia, yaitu Bali, tadinya mereka ingin pergi ke Paris, akan tetapi Bibi Lauren yang ingin sekali bertemu dengan Audrey membuat Bastian memberi usulan untuk ke Bali saja.
Akhirnya semua setuju, tapi Bastian mengatakan untuk tidak menemuinya pada waktu itu, sebab Bastian mengatakan kalau Audrey belum menerima kehadiran Byakta.
Sembari menunggu perkembangan akhirnya Bastian mengajak mereka semua ke Bali untuk liburan terlebih dahulu.
Satu notifikasi pesan masuk ke ponsel keduanya secara bersamaan, Melisa dan Bastian. Mereka pun sama-sama mengambil benda pipih itu untuk melihat notifikasi pesan dari siapa.
Bastian berdecak saat sudah membuka dan melihat isi pesan yang ternyata dari Byakta.
"Si tua itu." Bastian tersenyum melihat sebuah foto yang dikirim Byakta dan mengumpat lagi saat membaca caption-nya.
"Sepertinya dia berhasil tanpa bantuan mu," kelakar Melisa, membuat Bastian mengangguk dan tertawa.
__ADS_1
Bastian menghela nafas lega, "Dia tidak membutuhkanku lagi, sepertinya. Dia sudah bahagia sekarang,"
Ia ingat betul saat pertama kali mereka bertemu, Bastian yang saat itu diadopsi oleh Bibi Lauren dari sebuah panti asuhan.
Bibi Lauren membawanya ke rumah besar itu, saat di perjalanan Bibi Lauren tak henti bercerita betapa hebatnya anaknya itu, Bibi Lauren bilang dia adalah anak yang kuat, jadi Bibi Lauren juga meminta pada Bastian untuk menjadi anak yang kuat juga.
Saat tiba di rumah mereka mendapati Byakta dengan dalam keadaan yang tidak stabil, ia yang terlihat ketakutan dan sesekali menangis lalu menjerit.
Bastian saat itu belum mengerti jika Byakta mengalami gangguan pada mentalnya, hingga saat itu ia menilai bahwa Bibi hanya berkata omong kosong, nyatanya anak yang ia bilang kuat itu adalah seorang anak seumurannya yang cengeng.
"Sekarang giliranmu, untuk mencari kebahagiaanmu sendiri, kau juga membutuhkan pasangan dan hidup bahagia," ujar Melisa.
"Ya, kau benar. Tapi aku tidak akan mencari, aku akan menunggu Tuhan yang mengantarkannya di hadapanku, aku hanya akan berdoa, supaya Tuhan memberikan yang terbaik di antara yang baik," tutur Bastian.
"Kau juga, cepatlah suru pacarmu itu melamarmu, jika dia memang serius menerimamu apa adanya. Jika tidak, aku akan carikan calon terbaik untukmu dan juga Raihan," timpal Bastian sungguh-sungguh.
"Jangan pikirkan aku, aku pasti akan menikah." Melisa kembali menyesap tehnya.
__ADS_1
Lalu pandangannya mengarah ke ayunan yang digunakan Raihan, dia adalah anugerah terindah yang membuat Melisa bisa memilih jalan terbaiknya sekarang.
Flashback on ….
Setelah tidak ada yang bisa mencegah Audrey untuk pergi, semua orang marah besar kepada Melisa.
Ia tidak bisa berkutik setelah benar-benar berada di posisi yang menakutkan, ia sempat berpikir bahwa mereka akan membunuhnya saat itu juga.
Namun kebaikan Byakta padanya, membuat sebuah pandangan baru untuknya pada Byakta. Meskipun laki-laki itu marah padanya ia tetap memberinya kesempatan untuk hidup sampai ia melahirkan anak yang ada dalam kandungannya.
Tidak hanya itu, meski mereka marah dan mengutuknya sebagai wanita iblis yang membawa malapetaka untuk hubungan Byakta dan Audrey, tapi mereka tetap memperlakukannya dengan baik.
Mereka menyediakannya tempat tinggal yang layak, makanan yang cukup, segala macam jenis vitamin terbaik untuk ibu hamil juga mereka sediakan, bahkan Bibi Lauren sendiri yang menemani dan merawatnya saat itu.
Meski Byakta tidak pernah datang berkunjung, tapi dia tahu segala kebutuhannya laki-laki itu dan asistennya yang menyediakan.
Timbul sesal di hatinya jika teringat betapa jahatnya ia yang mau bekerja sama dengan laki-laki sialan seperti Roland, untuk membunuh anak yang ada di dalam kandungan Audrey saat itu.
__ADS_1