Rahim Lima Miliar

Rahim Lima Miliar
RLM bab 38


__ADS_3

Hai guys, sebelum membaca mohon perhatiannya sebentar ya ☺️


saya sebagai penulis memang mengharapkan komentar anda semua untuk cerita saya ini. tapi, komentar yang membangun agar karya saya lebih baik lagi dan bisa selalu menghibur anda semua.


bijaklah dalam berkomentar, sekiranya cerita yang saya tulis tidak seru, tidak asik, alurnya ngawur, lebih baik langsung tinggalkan saja dan tidak perlu berkomentar.


maaf saya memang sedikit baper untuk itu, memang saya menulis atas keinginan saya sendiri, tapi saya tidak pernah memaksa siapa pun untuk membaca cerita saya.


tolong setidaknya kalau nggak bisa kasih hadiah atau vote, hargailah sedikit saja, karena saya nulis ini penuh perjuangan, nguras pikiran dan waktu, apalagi saya punya baby.


jadi, mohon sekali lagi, kalau nggak suka sama cerita saya, silahkan tinggalkan dan tidak perlu meninggalkan komentar yang buat saya down 🙏 terima kasih


🌺🌺🌺🌺🌺🌺


Di sebuah cafe nampak seorang laki-laki tengah duduk menikmati secangkir kopi sedang menunggu seseorang, ia terus melihat ke arah pintu masuk berharap orang itu akan muncul di sana.


Lima belas menit sudah ia menunggu, namun yang ditunggu tak kunjung datang, ia mengumpat kesal wanita itu.


Tidak lama kemudian, nampak seorang wanita dengan dress membentuk tubuhnya yang sedang berbadan dua. Ya, dia adalah Melisa, ia berjalan santai menuju meja laki-laki yang sudah menunggunya sejak tadi.


"Hai, kau sudah lama!" Sapa Melisa laki-laki itu.


Laki-laki itu berdecak kesal melihat Melisa yang tanpa merasa bersalah membuatnya menunggu sudah hampir setengah jam.


"Mati saja kau!" Umpatnya kesal.


"Kau marah? Aku hanya terlambat beberapa menit saja, begitu saja marah," cibir Melisa tak mau kalah.

__ADS_1


"Langsung saja, untuk apa kau mengajakku bertemu, kau tidak lihat semua sedang kacau? Semua akan berantakan jika ada yang melihat kita bersama,"


Melisa menyeringai melihat kegusaran laki-laki yang berada di hadapannya ini, "kau takut? Oh ayolah, semua sudah berjalan sesuai rencana kita, gadis itu sudah keguguran, sekarang kita hanya tinggal menyingkirkannya saja," jelas Melisa bangga.


"Apa rencanamu selanjutnya?" tanya laki-laki itu lagi.


"Tidak perlu rencana lagi, kita tunggu saja dalam waktu dekat ini ia pasti akan keluar dari rumah itu dengan sendirinya."


Malisa menjentikkan tangan untuk memanggil seorang pelayan, pelayan tersebut pun datang. Melisa memesan dua jenis cake dan satu gelas jus buah, setelah itu pelayan itu berlalu untuk menyiapkan pesanan Melisa.


"Kau yakin dia akan pergi dengan sendirinya?"


Melisa berdehem, menjawab pertanyaan laki-laki itu "kau tunggu saja, setelah dia keluar dari rumah itu, kau bisa dengan leluasa memilikinya,"


Laki-laki itu menyeringai mendengar penjelasan Melisa "Berapa kau membayar pelayan itu?"


Melisa gemetar saat mendengar isi percakapannya di dalam sebuah rekaman Video yang menampilkan dirinya dan seorang laki-laki di sebuah cafe.


Wajahnya merah padam, ingin rasanya ia melarikan diri sekarang juga. Bagaimana bisa semua kejahatannya terbongkar begitu saja sebelum dia menikmati hasilnya, sialan batin hatinya.


"K-kau mengikutiku?"


Bastian menyeringai "Kau pikir dengan datang dalam keadaan hamil aku percaya? Kau menyuruh pelayan itu untuk menghapus rekaman cctv di rumah ini, Aku tidak sebodoh itu, sekarang tanggung jawab atas perbuatan mu,"


Melisa semakin gemetar ketakutan melihat tatapan membunuh dari Byakta, "Aku hanya dibayar olehnya, kau tidak bisa menyalahkan ku, dia ingin mengambil cintanya kembali," elak Melisa.


"Apa maksudmu?" tanya Byakta penuh emosi.

__ADS_1


"L-laki-laki itu sudah menyukai istrimu sebelum kau menikah dengannya, dia bilang kau mengambil wanita itu saat dia sedang di luar negeri. Aku tidak tahu apa-apa, tolong lepaskan aku,"


Melisa mulai menangis ketakutan, ini bukan salahnya, laki-laki itu yang datang padanya saat ia tidak punya uang lagi. Dulu dia memang sering menggoda Byakta, tapi setelah perceraian terjadi, tidak ada sedikitpun niat untuk kembali.


"Katakan! Apakah anak yang kamu kandung benar-benar anak Byakta?" tanya bibi Lauren marah.


Melisa mengangguk pasti, "Benar, ini adalah anak tuan Byakta, karena dengan saya mengandung anak anda dan mencelakai wanita itu sampai keguguran, anda akan melepaskan wanita itu dan datang pada saya,"


Lalu Melisa pun menceritakan bagaimana ia dan Roland bertemu untuk yang pertama kali, laki-laki itu menawarkan kerja sama dengan bayaran yang sangat fantastis.


Sebagai seorang wanita yang memang suka uang, Melisa menyetujui kerjasama yang ditawarkan Roland padanya, yaitu menanamkan ****** milik Byakta ke rahimnya.


Cih


Byakta berdecak, tak menyangka Roland sahabatnya melakukan semua ini padanya, ia juga ingat saat Byakta memeriksakan diri untuk mengetahui ia mandul atau tidak.


Ternyata Roland memanfaatkannya saat itu, Byakta memberikan sample spermanya pada Roland, karena ia mengatakan itu adalah salah satu yang harus dilakukan untuk mengetahui ia subur atau tidak.


Hatinya memanas, bagaimana bisa sahabatnya melakukan ini? Audrey, ya, gadis itu yang membuat Roland melakukan ini, dari mana Roland mengenal istrinya, sejak kapan, tapi mengapa semua seperti sebuah kebetulan yang di buat-buat.


Tapi, setelah mengetahui sahabatnya ternyata sudah menyukai istrinya lebih dulu dari padanya, membuat Byakta semakin takut kehilangan istrinya.


"Bas, urus wanita ini, berikan fasilitas untuknya sampai ia melahirkan bayi itu, berikan dia tempat yang jauh, hingga aku tidak akan pernah melihatnya, ambil bayinya ketika sudah lahir nanti, Bibi Lauren yang akan mengurusnya," titah Byakta penuh emosi.


"Urus juga si brengsek itu, bunuh saja dia seperti dia membunuh calon anakku."


Nafasnya kembali bergemuruh saat mengingat bagaimana darah itu mengalir dari dua belah kaki istrinya. Sakit yang teramat dalam juga ia rasakan saat dokter mengatakan janin itu tidak bisa diselamatkan karena benturan yang begitu keras.

__ADS_1


Ia juga terluka, tapi saat melihat istrinya lebih terluka dari kejadian ini, ia mengenyampingkan rasa sakitnya kehilangan, karena ada hati yang lebih sakit karena kehilangan, oleh sebab itulah dia mengalah akan sikap Audrey yang menjauhinya.


__ADS_2