Rahim Lima Miliar

Rahim Lima Miliar
RLM bab 94


__ADS_3

Setelah beberapa hari di rawat di rumah sakit, hari ini Byakta sudah diperbolehkan pulang, dengan bantuan Bibi Lauren dan juga Melisa kini Byakta sudah berada di apartemen yang sempat ia sewa sebelum ia memutuskan untuk melakukan hal gila agar Neneknya Audrey mau memaafkannya.


Sementara Audrey tidak bisa mengantarkannya pulang, sebab Tante Wina menelpon jika nenek tiba-tiba sakit.


"Lain kali biarkan Bibi Lauren melakukannya, tidak perlu merepotkan diri mu seperti ini," ucap Byakta pada Melisa.


Melisa hanya mengangguk, karena ia tidak perlu menjawab atau berdebat dengan Byakta meskipun ia membantu laki-laki itu hanya sebagai sahabat saja, tidak lebih.


"Keluarlah, aku bisa melakukannya sendiri, urus saja Raihan dengan baik," ujar Byakta lagi.


Sungguh ia tidak bisa berbasa-basi pada wanita di hadapannya ini, begitu juga Melisa yang sudah biasa mendapat respon ketus setiap kali ia membantu Byakta.


Tidak ada sakit hati yang ia rasakan, ia menganggap itu adalah hal wajar, memang tidak sepantasnya ia terlalu dekat dengan Byakta, sebab ia juga tahu dengan jelas jika hubungan laki-laki itu dengan istrinya belum sepenuhnya membaik, terlebih lagi dia adalah mantan istrinya yang sudah seharusnya menjaga jarak.


Apalagi, masa lalu yang sangat tidak mengenakkan pernah terjadi antara mereka bertiga di sebabkan kebodohannya.

__ADS_1


"Hmm, baiklah. Jika kau butuh sesuatu, panggil saja perawat laki-laki yang akan menjaga mu selama kau dalam masa pemulihan," kata Melisa sambil meletakkan gelas berisi air putih di nakas dekat tempat tidur.


Byakta tidak menjawab, begitulah dia jika berbicara dengan lawan bicaranya, berbeda dengan Audrey, dia akan bersikap lemah lembut jika dengan wanita itu.


Tapi, dulu sebelum menyadari perasaannya terhadap gadis itu, Byakta juga bersikap ketus dan kasar pada gadis itu.


Bagaimana pun dia adalah Byakta Arsena, laki-laki dingin, arogan dan tidak mudah didekati oleh siapa pun.


Di tempat lain, Audrey terburu-buru turun dari taksi yang mengantarkannya pulang, sebab Tante Wina mengabarkan jika nenek sakit dan ingin ia segera pulang.


Setelah membayar ongkos taksi, Audrey langsung menerobos masuk ke dalam rumah, akan tetapi gerakannya mendadak berhenti saat melihat isi rumah yang berubah.


Bertangkai-tangkai Bunga berwarn putih menghiasi ruang tamu, seperti dekorasi pernikahan pada umumnya, semua di tatap sedemikian indahnya.


Audrey melangkah perhalan, celingukan seperti orang bodoh. Pendangan matanya mengedar keseluruh ruangan lalu berhenti di sebuah single sofa.

__ADS_1


Di sana ia melihat nenek duduk dengan santai tidak seperti orang sakit, bahkan nenek melempar senyum padanya.


Senyum yang seperti biasa menyambutnya, senyum yang sempat hilang setelah kehadiran Byakta.


Tidak menghiraukan orang-orang yang bekerja menata bunga-bunga itu, Audrey melangkah menghampiri nenek dengan seribu pertanyaan dihatinya.


"Nek, kata Tante Wina nenek sakit." Audrey menyentuh kening nenek khawatir.


Meskipun ia tidak melihat tanda-tanda nenek sedang sakit, tetap saja rasa khawatir itu besar di hatinya.


"Sayang, persiapkan dirimu untuk acara nanti, para make over sudah menunggu kedatangan mu,"


Bukannya menjawab Audrey, nenek malah mengalihkan pembicaraan dengan mengatakan hal itu.


"Make over? Acara? Ada acara apa nanti, Nek? Sepertinya semua orang sibuk mendekor rumah kita," tanya Audrey penasaran.

__ADS_1


Ia memang lebih penasaran dengan situasi ini di bandingkan nenek yang tidak terlihat sakit, padahal jelas-jelas tadi Tante Wina mengatakan penuh nada khawatir kalau nenek sedang sakit.


"Iya, make over, mereka akan meriasmu seperti pegangtin pada umumnya. Karena sudah saatnya nenek melakukan ini," jelas nenek tanpa memikirkan perasaan Audrey.


__ADS_2