Rahim Lima Miliar

Rahim Lima Miliar
RLM bab 75


__ADS_3

Byakta sudah selesai membeli satu unit apartemen siap huni, lega rasanya jika sudah menyelesaikan satu pekerjaan meski sepele. Namu, tidak dia belum lega karena masih ada hal besar yang belum ia selesaikan, yaitu restu nenek.


Byakta mengambil ponselnya di dalam saku jasnya, lalu mencoba menghubungi Audrey lewat panggilan video, ia bermaksud ingin menanyakan situasi di sana bagaimana, namun sampai panggilan kedua, kontak Audrey yang ia beri nama My Baby tidak aktif.


Rasa khawatir mendera di dalam hati, apakah sekarang nenek menutup aksesnya, supaya ia tidak bisa bertukar kabar dengan cucunya, Audrey.


Byakta menghela nafas panjang, jalan ini semakin sulit rasanya, apakah begini yang disebut menderita di dalam perjuangan? Byakta tidak tahu itu, yang dia tahu semua terasa mudah setelah hidup bersama bibi Lauren.


Laki-laki itu memijat keningnya sambil memikirkan cara apa yang akan digunakan untuk meluluhkan hati nenek.


Karena tidak ada satu cara pun terlintas di benaknya, laki-laki itu bangkit dari duduknya untuk pergi kerumah Audrey, ia ingin melihat sendiri apa yang terjadi disana.


Setelah menempuh perjalanan tiga puluh lima menit, Byakta pun sampai di kediaman keluarga Audrey, tampak gerbang terkunci dari dalam, satpam yang biasa berjaga di depan pun tidak ada.

__ADS_1


Baykta turun dari mobilnya untuk memastikan keadaan, saat masih celingukan di gerbang tampak Tante Wina sedang menyiram bunga.


Saat laki-laki itu ingin memanggilnya, ternyata Tante Wina terlebih dahulu mengetahui keberadaannya, Tante Wina pun bergegas menghampiri.


"Ada apa? Kenapa datang?" tanya Tante Wina sambil melihat keadaan rumah, ia takut nenek akan melihatnya bersama Byakta.


Keadaan belum membaik pikirnya, jika nenek mengetahui kedatangan Byakta bisa jadi keadaan akan tambah runyam.


Ia juga mengingat saat Audrey membanting ponselnya, ia tahu sebabnya pasti laki-laki ini.


Tante Wina menghela nafas, sungguh ini rumit, ia bingung harus berbuat bagaimana, hingga saat ini ia belum juga mampu membuat nenek mengerti.


"Audrey baik-baik saja, tapi nenek tidak begitu, dia masih mendiamkan semua orang di rumah, aku juga sudah membujuknya, namun belum mendapat hasil," jelas Tante Wina.

__ADS_1


"Ibu tidak pernah sekeras ini, aku tidak tahu apa yang menyebabkan dia menjadi seperti ini. Berusahalah lebih keras lagi dan jangan hubungi Audrey sebelum kau berhasil mendapat restu ibu," ujar Tante Wina.


Tante Wina tidak berniat melarang, berbohong atau apa pun itu, ia tahu Audrey tadi membanting ponselnya sampai rusak, namun ia tidak mungkin mengatakan itu, sebab dia tidak ingin menambah masalah baru.


"Aku ingin bertemu dengan nenek, aku ingin meminta maaf. Jika perlu, aku akan bersujud dan mencium kakinya, agar nenek memaafkan aku," tutur Byakta yang tidak ingin mengulur waktu lagi.


Ia merasa pasti sesuatu sedang terjadi, oleh sebab itu Audrey tidak bisa di hubungi. Ingin bertanya, tapi ia dapat melihat dari Tante Wina kalau ada sesuatu yang disembunyikan darinya.


Di saat keduanya masih berbicara di gerbang, tiba-tiba teriakan nenek dari depan pintu rumah mengudara, mengagetkan keduanya.


"Apa yang kau lakukan disana, Wina!" Pekik nenek dengan tatapan tajam yang menghujam Byakta.


Tante Wina seketika merinding melihat ibunya yang tak biasa, seumur hidup ia tidak pernah melihat nenek seperti sekarang.

__ADS_1


Nenek memang sering mengomel ria, tapi tidak pernah marah apalagi sampai semenakukan itu. Tante Wina langsung meninggalkan Byakta yang masih berdiri di gerbang, lewat pintu samping.


Ia sama sekali tidak berani mendekat pada ibunya, sungguh kali ini tamat riwayat Byakta, pikirnya.


__ADS_2